Dalam kitab Shahih Muslim ada sebuah riwayat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengunjungi salah seorang sahabat yang sangat memprihatinkan kehidupannya dan ketika dikunjungi oleh Rasulullah sahabat itu sedang dalam keadaan sakit sehingga tubuhnya sangat kurus layaknya anak burung. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, "Apakah kamu berdoa kepada Allah atau kamu meminta sesuatu kepada-Nya?" "Betul, aku mohon pada-Nya," "Wahai Allah kalau aku mendapatkan hukuman di akhirat, maka cepatkanlah hukuman itu didunia saja,"jawabnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Maha suci Allah, engkau tidak akan bisa dan sanggup. Tidakkah kamu sebaiknya berdoa, "Rabbanaa aatinaa fiddun-yaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa ′adzaabannaar."(Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan didunia dan kebaikan diakhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka). (QS. Al-Baqarah (2): 201) Setelah itu, dia berdoa demikian kepada Allah dan akhirnya segala penderitaannya hilang dan sakit yang dideritannya pun sembuh.

Ummu Salamah pernah ditanya oleh para sahabat. "Doa apa yang sering di ucapkan oleh Rasulullah?" Ummu Salamah menjawab, "Rabbanaa aatinaa fiddun-yaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa ′adzaabannaar."

Ada tujuh kriteria kebahagian dunia yang nantinya akan menghasilkan kebahagiaan akhirat yang kita idam-idamkan kalau kita memilikinya:

1. JIWA SYUKUR DAN SABAR


Ada sebuah cerita yang mana cerita ini menceritakan sebuah keluarga yang dipimpin oleh suami yang kurang tampan (rupa jelek) yang mempunyai isteri yang cantik rupawan. Keluarga ini bisa dibilang keluarga yang saleh. Suatu hari sang suami berdoa kepada Allah sambil berurai air mata dan hal ini dilihat oleh isterinya.

"Kenapa abi menangis," tanya isterinya.

"Ummi, abi berdoa kepada Allah dan bersyukur kepada Allah karena abi diberi isteri yang cantik rupawan dan saleh," jawab suaminya.

Isterinya pun menimpali, "Abi, ummi juga berdoa kepada Allah semoga dikasih kesabaran mempunyai suami seperti abi ini."

Syukur dan sabar adalah dua hal yang saling berdampingan dalam kehidupan ini. Karena didalamnya ada anugerah dan ujian yang harus kita sikapi. Dan ini sudah menjadi sunatullah. Kadang hidup kita ini penuh dengan limpahan nikmat dan anugerah-Nya, yang harus kita sikapi dengan bersyukur kepada-Nya, sehingga kita tidak menjadi sombong. Begitupun ketika kita di uji oleh Allah dengan penderitaan, kemiskinan, sakit dan lain sebagainya. Maka, kita harus sabar menghadapinya dan bertawakal kepada-Nya, sehingga kita tidak kecewa dan putus asa.

Nikmat (anugerah) dan cobaan, ini merupakan ujian dari Allah SWT. Sampai dimana kita mampu menyikapinya dengan benar seperti yang telah dianjurkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Kalau kita mampu menyikapi semuanya maka kita akan termasuk orang-orang yang beruntung dan hidupnya pun akan bahagia.

Imam al-Ghazali mengatakan bahwa luas surga itu adalah seluas syukur dan sabar.

2. JODOH YANG SHALEH


Kalau kita suka membaca Al-Qur′an atau sirah-sirah nabawiyah kita akan mendapatkan gambaran keluarga, yang mana gambaran keluarga ini bisa saja terjadi di keluarga kita. Maka, apakah keluarga kita sama dengan keluarganya:

a... Nabi Nuh as., yang mana suaminya shaleh tapi mempunyai isteri yang tidak shaleh. b... Fir′aun, yang mempunyai isteri seorang mukminah yang shalehah benama Asiyah ra yang dijadikan contoh oleh Allah SWT bagi orang-orang yang beriman, sebagaimana firman-Nya:

"Allah telah menciptakan satu contoh bagi orang-orang yang beriman, yaitu perempuan (isteri) Fira′un ketika ia berdoa, "Wahai Tuhanku, bangunkanlah buatku sebuah rumah yang dekat dengan-Mu di surga dan selamatkanlah aku dari Fira′un dan perbuatannya, serta selamatkanlah aku dari orang-orang yang berbuat kezhaliman."(QS. At-Tahrim: 11)

Ia (Asiyah ra) disiksa karena keimanannya kepada Allah, dan hidupnya berakhir dengan kepulangannya ke haribaan-Nya, Akan tetapi Allah menjadikannya sebagai contoh dan panutan bagi setiap orang mukmin dan mukminah hingga datangnya hari kiamat. Allah pun memujinya dalam kitab suci, menorehkan namanya serta menyanjung amal perbuatannya. Sedangkan suaminya (Fir′aun), Allah mencela perbuatannya yang menyimpang dari jalan Allah dimuka bumi.

c... Imran, yang dipilih oleh Allah sebagai keluarga yang terbaik. Dan, sebagai penghargaan, Allah menamai satu surat dalam Al-Qur′an dengan nama keluarga ini (Ali Imran). Dan Allah menandaskan pilihan-Nya kepada keluarga ini, dengan firman-Nya,

"Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ′Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing),"(QS. Ali Imran (3): 33)

Inilah contoh keluarga yang shaleh. Dari suami, isteri dan anak semuanya shaleh. Coba kita perhatikan apa yang dikatakan isteri Imran kepada Allah, ketika dia sedang mengandung anaknya, yang mana perkataannya diabadikan oleh Allah dalam firman-Nya,

"Ingatlah), ketika isteri ′Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui"."(QS. Ali Imran (3): 35)

Kita bisa menilai dan memilih. Jodoh (pendamping hidup) yang bagaimana, yang kita inginkan?

3. ANAK-ANAK SHALEH
Mempunyai anak yang shaleh adalah sebuah impian semua keluarga. Sebab, sukses atau tidaknya orang tua dalam mengurus keluarganya, bisa dilihat dari anak-anaknya. Keshalehan menjadi sebuah ukuran, bukan jabatan, pangkat atau harta. Sebab, kalau yang menjadi ukuran keberhasilan kita adalah jabatan, pangkat ataupun harta. Maka, yang akan terjadi adalah kekecewaan, karena merasa selalu kurang, sehingga tidak jarang, untuk mendapatkannya dengan menghalalkan segala cara. Beda dengan orang tua yang menjadikan ukuran keberhasilannya keshalehan, biarpun punya jabatan ataupun tidak, punya pangkat ataupun tidak dan punya harta ataupun tidak, masyarakat tetap akan menilai dan memuji keluarga ini karena keshalehannya.

Maka, gerbang pertama dalam usaha menshalehkan (mendidik) anaknya ada pada orang tuanya terutama ibunya.

4. LINGKUNGAN SHALEH
Seperti halnya kita mau mendirikan rumah atau mau membeli rumah, yang perlu kita perhatikan adalah yang akan menjadi tetangga (lingkungan) kita. Sebab kalau tetangga kita tidak shaleh, ini akan berpengaruh kepada kebahagiaan hidup keluarga kita.

Dalam bukunya "Berlari Menuju Allah" Abu Dzar Al-Qalamuni mengatakan, "Janganlah mengganggu tetanggamu terutama dengan meninggikan volume suara radio, sebab ada orang yang berani menjual rumahnya dengan harga murah (jauh dibawah harga pasar) demi menghindari tetangganya yang suka mengganggu, dan jahat. Hal ini pernah diungkapkan oleh seseorang sewaktu akan menjual rumahnya:

Mereka menyalahkan diriku karena menjual rumah dengan harga yang murah Tanpa mereka tahu bahwa disana ada tetangga yang kurang ajar Aku ingatkan mereka supaya tidak menyalahkan diriku Karena mahal dan murahnya rumah tergantung tetangga (disampingnya)

l-Madaini mengisahkan bahwa Fairus punya seorang tetangga yang akan menjual rumahnya dengan harga empat ribu dirham. Lalu datang kepadanya seorang yang ingin membeli rumahnya. Si penjual berkata: "Ini empat ribu dirham, adalah harga rumahku. Lalu mana harga tetanggaku?" Si pembeli bertanya keheranan: "Tetanggamu ada harganya?" ESi penjual berkata: "Pokoknya harga tetanggaku tidak kurang dari empat ribu dirham." Hal ini didengar oleh Fairus. Lalu ia memberinya delapan ribu dirham seraya berkata: "Ini harga rumah plus tetanggamu." Untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat, maka, alangkah baiknya kalau mau membeli rumah atau mau membangun rumah terlebih dahulu dengan memperhatikan tetangga (lingkungan) ditempat rumah yang akan kita beli atau kita bangun.

5. HARTA YANG HALAL
Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah berfirman: "Semua harta Kami akan kembali kepada kita. Dengan harta orang bisa berbahagia. Dengan harta orang bisa celaka." Diantara faedah harta benda adalah sebagai pilar ibadah dan ketaatan kepada Allah. Dengan harta, anda bisa menunaikan haji dan berjihad dijalan Allah. Dengan harta anda bisa menginfakkannya pada infak yang wajib atau sunnah. Dengan harta, anda bisa memerdekakan budak, wakaf, membangun mesjid dan lain sebagainya. Dengan harta, anda bisa juga menikah yang lebih baik daripada bersepi-sepi untuk mengerjakan ibadah sunnah.

Dengannya, akan tampak jelas sifat pemurah dan dermawan. Dengannya, harga diri bisa terjungjung tinggi. Dengannya anda bisa mencari teman dan saudara. Dngannya, orang-orang budiman bisa mencapai derajat puncak dan menuai kenikmatan dari Allah secara langsung. Harta bisa menjadi tangga yang mengantarkan pada kamar-kamar surga. Tetapi harta juga bisa menggelincirkan orang ke derajat paling rendah.

Para ulama salaf mengatakan: "Tidak ada keagungan tanpa adanya amal dan tidak ada amal tanpa adanya harta."Sebagian ulama ada yang berdoa: "Wahai Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu yang tidak akan baik kecuali dengan kekayaan." Harta bisa mmenjadi sarana untuk menggapai ridha Allah sebagaimana juga bisa menjadi lantaran kemurkaan-Nya.

6. MEMILIKI SEMANGAT UNTUK MEMPELAJARI AGAMA
Orang yang memiliki semangat untuk mempelajari agama, akan lebih banyak tahu tentang permasalahan agama dan pemahamanya akan lebih baik lagi dibanding dengan orang yang tidak memiliki semangat untuk mempelajari agama. Mereka, yang tidak memiliki semangat untuk mempelajari agama akan mengalami krisis pemahaman. Bisa jadi pemahaman tentang agamanya dangkal sekali, sehingga gampang dipengaruhi.

Maka patut kita renungkan firman Allah yang artinya, "Adakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?"(QS. Az-Zumar (39): 90). Pasti kita dapat memahaminya. Maka, oleh sebab itu, galilah ilmu sedalam mungkin dan amalkanlah, sehingga menjadi cahaya bagi diri kita dan orang lain. Dan perlu kita ketahui bahwa, "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat."(QS. Al-Mujadilah (58): 11)

7. UMUR YANG BARAKAH
Dalam sebuah hadits hasan Riwayat Imam Turmudzi, disebutkan sabda Rasulullah SAW. "Usia umatku berkisar anatara 60 sampai 70 tahun." Ibnu Hajar Al-Asqalani yang mensyarah hadits Rasulullah tersebut mengatakan "Allah memberi toleransi kepada seseorang untuk menunda ajalnya sampai berusia 60 tahun."(fathul bari 10/108)

Tak seorang pun tahu bagaimana dan kapan tempo hidupnya berakhir. Tak ada yang tahu bagaimana dan kapan tubuh menjadi payah oleh sakit. Saat ia tidak bisa lagi secara optimal melakukan ketaatan dan amal-amal saleh

Abdullah bin Mas′ud r.a. sahabat dekat Rasul pernah menangis saat menderita sakit di detik-detik akhir hayatnya. "Aku menangis karena aku justru sakit pada saat amal ibadahku berkurang, bukan pada saat aku semangat." Umar bin Khaththab r.a. mengatakan, ′Hasibuu anfusakum qabla antuhasabuu"(berhitunglah pada dirimu sendiri, sebelum engkau dihitung di hari akhir). ′Kafa bi syaibi wa izan′(cukuplah uban di kepala itu menjadi peringatan).

Begitulah filosofi para salafushalih untuk mengingat dekatnya waktu "panggilan"Allah SWT., sehingga umurnya menjadi berbarakah.

Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang berbahagia di dunia dan di akhirat kelak. Amin.

"Rabbanaa aatinaa fiddun-yaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa ′adzaabannaar."

Wallahu A′lam

sumber:rhobie99.multiply.com

0 komentar:

Agenda Harian

Semoga kita senantiasa terpacu untuk mengukir prestasi amal yang akan memperberat timbangan kebaikan di yaumil akhir, berikut rangkaian yang bisa dilakukan

1. Agenda pada sepertiga malam akhir

a. Menunaikan shalat tahajjud dengan memanjangkan waktu pada saat ruku’ dan sujud di dalamnya,

b. Menunaikan shalat witir

c. Duduk untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah hingga azan subuh

Rasulullah saw bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Sesungguhnya Allah SWT selalu turun pada setiap malam menuju langit dunia saat 1/3 malam terakhir, dan Dia berkata: “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku berikan, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni”. (HR. Bukhari Muslim)


2. Agenda Setelah Terbit Fajar

a. Menjawab seruan azan untuk shalat subuh

” الَّلهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِي وَعَدْتَهُ “

“Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini, shalat yang telah dikumandangkan, berikanlah kepada Nabi Muhammad wasilah dan karunia, dan bangkitkanlah dia pada tempat yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan. (Ditashih oleh Al-Albani)

b. Menunaikan shalat sunnah fajar di rumah dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Dua rakaat sunnah fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya”. (Muslim)

وَ قَدْ قَرَأَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِي رَكْعَتَي الْفَجْرِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدَ

“Nabi saw pada dua rakaat sunnah fajar membaca surat “Qul ya ayyuhal kafirun” dan “Qul huwallahu ahad”.

c. Menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid –khususnya- bagi laki-laki.

Rasulullah saw bersabda:

وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الْعَتْمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Sekiranya manusia tahu apa yang ada dalam kegelapan dan subuh maka mereka akan mendatanginya walau dalam keadaan tergopoh-gopoh” (Muttafaqun alaih)

بَشِّرِ الْمَشَّائِيْنَ فِي الظّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّوْرِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berikanlah kabar gembira kepada para pejalan di kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat”. (Tirmidzi dan ibnu Majah)

d. Menyibukkan diri dengan doa, dzikir atau tilawah Al-Quran hingga waktu iqamat shalat

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ

“Doa antara adzan dan iqamat tidak akan ditolak” (Ahmad dan Tirmidzi dan Abu Daud)

e. Duduk di masjid bagi laki-laki /mushalla bagi wanita untuk berdzikir dan membaca dzikir waktu pagi

Dalam hadits nabi disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إَذَا صَلَّى الْفَجْرَ تَرَبَّعَ فِي مَجْلِسِهِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ الْحَسَنَاءُ

” Nabi saw jika selesai shalat fajar duduk di tempat duduknya hingga terbit matahari yang ke kuning-kuningan”. (Muslim)

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya waktu fajar itu disaksikan (malaikat). (Al-Isra : 78) Dan memiliki komitmen sesuai kemampuannya untuk selalu:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah lebih banyak dari itu semua, maka akan menuai kebaikan berlimpah insya Allah.

3. Menunaikan shalat Dhuha walau hanya dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

“Setiap ruas tulang tubuh manusia wajib dikeluarkan sedekahnya, setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah, menolong orang dengan membantunya menaiki kendaraan atau mengangkat kan barang ke atas kendaraannya adalah sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, tiap-tiap langkahmu untuk mengerjakan shalat adalah sedekah, dan membersihkan rintangan dari jalan adalah sedekah”. (Bukhari dan Muslim)

4. Berangkat kerja atau belajar dengan berharap karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمِلِ يَدِهِ، وَكَانَ دَاوُدُ لا يَأْكُلُ إِلا مِنْ عَمِلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan makanan, lebih baik dari yang didapat oleh tangannya sendiri, dan bahwa nabi Daud makan dari hasil tangannya sendiri”. (Bukhari)

Dalam hadits lainnya nabi juga bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang berjalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. (Muslim)

d. Menyibukkan diri dengan dzikir sepanjang hari

Allah berfirman :

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah maka hati akan menjadi tenang” (Ra’ad : 28)

Rasulullah saw bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهَ أَنْ تَمُوْتَ ولسانُك رَطْبٌ من ذِكْرِ الله

“Sebaik-baik perbuatan kepada Allah adalah saat engkau mati sementara lidahmu basah dari berdzikir kepada Allah” (Thabrani dan Ibnu Hibban) .

5. Agenda saat shalat Zhuhur

a. Menjawab azan untuk shalat Zhuhur, lalu menunaikan shalat Zhuhur berjamaah di Masjid khususnya bagi laki-laki

b. Menunaikan sunnah rawatib sebelum Zhuhur 4 rakaat dan 2 rakaat setelah Zhuhur

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang shalat 12 rakaat pada siang dan malam hari maka Allah akan membangunkan baginya dengannya rumah di surga”. (Muslim).

6. Agenda saat dan setelah shalat Ashar

a. Menjawab azan untuk shalat Ashar, kemudian dilanjutkan dengan menunaikan shalat Ashar secara berjamaah di masjid

b. Mendengarkan nasihat di masjid (jika ada)

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ

“Barangsiapa yang pergi ke masjid tidak menginginkan yang lain kecuali belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya ganjaran haji secara sempurna”. (Thabrani – hasan shahih)

c. Istirahat sejenak dengan niat yang karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

وَإِنَّ لِبَدَنِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ

“Sesungguhnya bagi setiap tubuh atasmu ada haknya”.

Agenda prioritas:

Membaca Al-Quran dan berkomitmen semampunya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan, maka akan menuai kebaikan yang berlimpah insya Allah.

7. Agenda sebelum Maghrib

a. Memperhatikan urusan rumah tangga – melakukan mudzakarah – Menghafal Al-Quran

b. Mendengarkan ceramah, nasihat, khutbah, untaian hikmah atau dakwah melalui media

c. Menyibukkan diri dengan doa

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah”

8. Agenda setelah terbenam matahari

a. Menjawab azan untuk shalat Maghrib

b. Menunaikan shalat Maghrib secara berjamaah di masjid (khususnya bagi laki-laki)

c. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Maghrib – 2 rakaat

d. Membaca dzikir sore

e. Mempersiapkan diri untuk shalat Isya lalu melangkahkan kaki menuju masjid

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa yang bersuci/berwudhu kemudian berjalan menuju salah satu dari rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban dari kewajiban Allah, maka langkah-langkahnya akan menggugurkan kesalahan dan yang lainnya mengangkat derajatnya”. (Muslim)

9. Agenda pada waktu shalat Isya

a. Menjawab azan untuk shalat Isya kemudian menunaikan shalat Isya secara jamaah di masjid

b. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Isya – 2 rakaat

c. Duduk bersama keluarga/melakukan silaturahim

d. Mendengarkan ceramah, nasihat dan untaian hikmah di Masjid

e. Dakwah melalui media atau lainnya

f. Melakukan mudzakarah

g. Menghafal Al-Quran

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran dengan berkomitmen sesuai dengan kemampuannya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan bacaan maka telah menuai kebaikan berlimpah insya Allah.


Apa yang kita jelaskan di sini merupakan contoh, sehingga tidak harus sama persis dengan yang kami sampaikan, kondisional tergantung masing-masing individu. Semoga ikhtiar ini bisa memandu kita untuk optimalisasi ibadah insya Allah. Allahu a’lam

Jazaakillah

Sedikit revisi dari : http://www.al-ikhwan.net/agenda-harian-ramadhan-menuju-bahagia-di-bulan-ramadhan-2989/

Isi Blog

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.