Mengetahui Makna
Syahadatain Dengan Benar
Dinukil oleh : Abu Abdirrahman al-Fadani
dari Buku (yang terjemahannya) Kitab Tauhid 1 hal 58-59; karya Syeikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan hafizhahullah, Penerbit : Darul Haq, Jakarta
Beberapa saat (sekitar satu jam) sebelum tulisan ini saya buat, telah terjadi sebuah perbincangan antara saya dengan seorang teman.
Perbincangan kami yakni menyangkut seputar makna Syahadat Laa ilaha illallah. Yang mana saya merasa perlu menerangkan makna yang benar dari syahadat Laa ilaha illallah kepada teman saya itu (khususnya dan kaum Muslimin yang belum mengetahuinya, secara umum), karena saya melihat pemahamannya masih salah akan makna Laa ilaha illallah. Yang mana dia (dan sebagian kaum Muslimin) memahami makna syahadat Laa ilaha illallah dengan “Tidak ada tuhan selain Allah”. Dan menurut syara' sebagaimana keterangan dari para salaf dan muhaqqiq (ulama peneliti), pemahaman akan makna syahadat seperti itu adalah tidak tepat.
Oleh sebab itu melihat perlunya pemahaman yang keliru untuk diluruskan, maka insya Allah, pada kesempatan kali ini saya akan nukilkan kepada kaum Muslimin seluruhnya dan segenap umat dakwah di bumi Allah Subhanahu wa Ta'ala ini, apa dan bagaimanakah keagungan dan kedalaman makna yang benar dari syahadatain. Sesungguhnya hanya Allah Yang Memberikan kita taufiq.
A. MAKNA SYAHADAT LAA ILAHA ILLALLAH
Yaitu beri'tikad (berkeyakinan, ed.) dan berikrar bahwasanya tidak ada yang berhak disembah dan menerima ibadah, kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala, menaati hal tersebut dan mengamalkannya. Laa ilaha menafikan hak penyembahan dari selain Allah, siapa pun orangnya. Illallah adalah penetapan hak Allah semata untuk disembah.
Jadi, makna kalimat ini secara ijmal (global) adalah, “Tidak ada sesembahan yang hak selain Allah”. Khabar laa harus ditaqdirkan bihaqqi (yang hak), tidak boleh ditaqdirkan dengan maujuud (ada). Karena ini menyalahi kenyataan yang ada, sebab (faktanya, ed.) tuhan yang disembah selain Allah banyak sekali. Hal itu akan berarti bahwa menyembah tuhan-tuhan tersebut adalah ibadah pula untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ini tentu kebatilan yang nyata.
Kalimat Laa ilaaha illallah telah ditafsiri dengan beberapa penafsiran yang batil (salah, ed.), antara lain:
1. Laa ilaaha illallah diartikan: “Tidak ada sesembahan kecuali Allah”. Ini adalah batil, karena (kalau begitu, ed.) maknanya (akan menjadi, ed.) : Sesungguhnya setiap yang disembah, baik yang hak maupun yang batil, itu adalah Allah.
2. Laa ilaaha illallah diartikan: “Tidak ada pencipta selain Allah”. Ini adalah sebagian dari arti kalimat tersebut. Akan tetapi bukan ini yang dimaksud, karena arti ini hanya mengakui tauhid rububiyah (1) saja, dan itu belum cukup.
3. Laa ilaaha illallah diartikan: “Tidak ada hakim (penentu hukum) selain Allah”. Ini juga sebagian dari makna kalimat Laa ilaaha illallah. Tapi bukan itu yang dimaksud, karena makna tersebut belum cukup.
Semua (ketiga poin, ed.) tafsiran di atas adalah batil atau kurang. Kami (Syaikh Shalih al-Fauzan, ed.) peringatkan di sini karena tafsir-tafsir itu ada dalam kitab-kitab yang banyak beredar. Sedangkan tafsir yang benar menurut salaf dan para muhaqqiq (ulama peneliti) Laa ma'buuda bihaqqi illallah (tidak ada sesembahan yang hak selain Allah, seperti tersebut (pada penjelasan awal, ed.) di atas.
B. MAKNA SYAHADAT MUHAMMADUN RASUULULLAH
Yaitu mengakui secara lahir batin bahwa Muhammad adalah hamba Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya yang diutus kepada manusia secara keseluruhan, serta mengamalkan konsekuensinya (yakni, ed.) : menaati perintahnya, membenarkan ucapannya, menjauhi larangannya, dan tidak menyembah Allah Subhanahu wa Ta'ala kecuali dengan apa yang disyariatkan (dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, ed.).
--------------------------------------------------------------------------------------------
Ad.1
Tauhid adalah meyakini keesaan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam rububiyah, ikhlas beribadah kepada-Nya, serta menetapkan bagi-Nya nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Dengan demikian, tauhid ada 3 (tiga) macam, yang mana dari ketiga macam tauhid itu memiliki makna yang harus dijelaskan agar menjadi terang perbedaan antara ketiganya.
Pertama : Tauhid Rububiyah
yaitu mengesakan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam segala perbuatan-Nya, dengan meyakini bahwa Dia sendiri yang menciptakan segenap makhluk. Bahwasanya Dia adalah Pemberi rizki bagi setiap manusia, binatang, dan makhluk lainnya. Bahwasanya Dia adalah Penguasa alam dan Pengatur semesta, Dia yang mengangkat dan menurunkan, Dia Yang Memuliakan dan Menghinakan, Maha Kuasa atas segala sesuatu. Pengatur rotasi siang dan malam, Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan (hal.19-24)
Kedua : Tauhid Uluhiyah
yaitu mengesakan Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan perbuatan para hamba berdasarkan niat taqarrub yang disyariatkan seperti doa, nadzar, kurban, raja' (pengharapan), takut, tawakal, raghbah (senang), rahbah (takut), dan inabah (kembali/ taubat). Juga disebut “tauhid ibadah”. (hal 53-57)
Ketiga : Tauhid Asma' wa Sifat
yaitu beriman kepada nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya, sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam, tanpa ta'wil (memalingkan dari makna yang sebenarnya, ed.) dan ta'thil (menghilangkan makna atau sifat Allah, pent.), tanpa takyif (mempersoalkan hakikat asma' dan sifat Allah dengan bertanya “bagaimana”, pent.), dan tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, pent.). (hal.97-100)
pent. = penterjemah buku rujukan tulisan ini, yakni al-Ustadz Agus Hasan Bashori, Lc.
[Saya menganjurkan insya Allah merupakan hal yang baik kiranya bagi para pembaca untuk membaca dengan teliti dan khidmat buku rujukan saya, Tauhid 1, dan lebih baik lagi dengan lanjutannya Tauhid 2, dan Tauhid 3, yang ketiganya karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan hafizhahullah]
Wallahu a'lam.
0 komentar:
Posting Komentar