Pengaruh penolakan raja-raja di luar Jazirah Arab terhadap surat Rasul setelah para delegasinya kembali dari penyampaian dakwah (surat) membuat Rasul segera menyiapkan pasukan untuk jihad di luar Jazirah Arab. Beliau kemudian mendeteksi berita-berita tentang kerajaan Romawi dan Persi. Perbatasan Romawi menempel dengan batas wilayah Rasul. Karena itu, beliau menyelidiki kabar-kabar mereka. Beliau berpandangan bahwa dakwah Islam akan tersebar luas dan banyak ketika sudah keluar dari Jazirah Arab sehingga semua manusia dapat mengetahuinya. Karena itu, beliau juga melihat bahwa Syam adalah jendela pertama untuk jalan masuk dakwah.

Ketika Yaman sudah aman dengan ketundukan penguasa bawahan Kisra terhadap dakwah Islam, maka beliau mulai berpikir mengirim pasukan ke negeri Syam untuk memerangi mereka. Pada bulan Jumadil Ula tahun ke-8 setelah hijrah, yakni setelah perjanjian Hudaibiyyah dalam beberapa bulan, Rasul menyiapkan 3000 pasukan pejuang pilihan dari pahlawan-pahlawan Islam. Beliau mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai komandan pasukan. Pada waktu mengangkat Zaid, beliau berpesan, "Jika Zaid gugur, maka Ja'far bin Abi Thalib menggantikan posisinya. Jika Ja'far pun gugur, maka 'Abdullah bin Ruwaahah mengambil posisinya memimpin pasukan."

Pasukan berangkat dan Khalid bin Walid bersama mereka. Dia telah masuk Islam setelah perjanjian Hudaibiyyah. Rasul ikut mengantarkan mereka hingga tiba di luar Madinah dan sebelum pasukan berangkat, beliau berpesan lagi supaya mereka tidak memerangi wanita, tidak membunuh anak-anak, orang buta, bayi-bayi, tidak boleh merobohkan rumah-rumah, dan tidak menebang pohon-pohon. Kemudian wejangan-wejangan ditutup dengan doa bersama: "Semoga Allah selalu menemani kalian, mempertahankan kalian, dan mengembalikan kalian kepada kami dalam keadaan selamat."

Pasukan berangkat. Para komandannya menyusun strategi dengan menerapkan perang kilat, yaitu dengan membentuk sekelompok pasukan dari penduduk Syam di bawah seorang komandan dari kesatuan mereka. Cara ini mencontoh kebiasaan Nabi dalam beberapa peperangannya. Pasukan ini diberi tugas untuk menyerang musuh dengan cepat dan kembali menghilang. Mereka harus tetap berjalan di atas garis ini. Akan tetapi, ketika  tiba di Ma'an, pasukan Islam baru menyadari bahwa Malik bin Zafilah telah mengumpulkan 100.000 tentara dari kabilah-kabilah Arab, sementara Hiraqlius sendiri datang dengan 100.000 pasukan. Berita ini tentu mengejutkan pasukan Islam dan sempat tinggal di Ma'anselama dua malam untuk memikirkan persoalan ini. Mereka berpikir  langkah apa yang harus dilakukan dalam menghadapi  pasukan besar yang jumlah dan kekuatannya amat menggiriskan. Pendapat yang terkuat di antara mereka mengusulkan agar menulis surat kepada Rasul untuk mengabarkan  jumlah pasukan musuh yang begitu besar. Ada juga yang berpendapat agar segera meminta bantuan Rasul untuk menambah pasukan atau memerintahkan mereka dengan apa yang dilihat. Namun, Abdullah bin Ruwahah justru berpendapat lain. Dia maju lebih ke depan lalu berkata lantang di hadapan kaum muslimin, "Hai kaum, demi Allah, sesungguhnya yang kalian benci justru yang kalian cari, yaitu  syahid! Kita keluar tidak memerangi manusia karena jumlah pasukan [yang besar], jika tidak dengan kekuatan, dan tidak juga dengan pasukan yang banyak. Kita tidak berperang kecuali dengan agama yang Allah memuliakan kita dengannya. Marilah kita berangka!  Sesungguhnya di tengah kita akan ada satu di antara dua kebaikan:  menang atau mati syahid!"

Kata-kata ini membakar semangat pasukan Islam. Kekuatan iman yang mendorong bertempur menjalar dan menembus jantung pasukan, sehingga mereka dipacu untuk melanjutkan perjalanan hingga tiba di Desa Masyarif. Di tempat ini,  pasukan gabungan Romawi bertemu mereka, lalu mereka menyingkir dari Masyarif dan turun ke Mu'tah. Di tempat ini, pasukan Islam membuat pertahanan. Di tempat ini pula (Mu'tah) peperangan yang paling dahsyat dan menakutkan mulai terjadi. Pasukan Islam dan  Romawi bertempur untuk saling mengalahkan. Maut mengangakan  mulutnya yang merah. 3000 pasukan Islam yang mencari syahid harus bertempur mati-matian melawan  100.000 atau 200.000 pasukan kafir yang bersatu untuk membinasakan pasukan kaum muslimin. Api peperangan  bergelombang dan bergulung-gulung seperti gulungan tungku api. Zaid bin Haritsah, komanda tempur pasukan Islam, membawa bendera Nabi dan bergerak maju ke jantung pertahanan musuh. Dia melihat maut membayang di hadapannya, namun dia tidak takut karena dia memang mencari syahid di jalan Allah. Zaid terus merangsek ke tengah pertahanan musuh dengan keberanian yang melampaui batas gambaran khayalan karena dia bertempur dengan  mencari syahid. Hingga akhirnya, sebatang tombak musuh berhasil merobek tubuhnya. Zaid tersungkur dan bendera segera diambil Ja'far bin Abi Thalib. Dia seorang pemuda tampan dan pemberani. Umurnya masih 33 tahun. Hidupnya sudah dipasrahkan pada Allah. Laki-laki gagah, adik Ali bin Abi Thalib ini berperang dengan  mencari syahid. Ketika  musuh telah mengepung kudanya dan melukai tubuhnya,  Ja'far justru semakin maju ke tengah musuh dengan memukulkan pedangnya memutar. Tiba-tiba seorang tentara Romawi menyerang dan memukulnya dari arah samping. Pukulan itu berhasil membelah tubuhnya menjadi dua dan Ja'far gugur. Lalu bendera disambar 'Abdullah bin Ruwahah, kemudian membawanya maju dengan menunggang kuda. Namun, untuk beberapa saat, 'Abdullah sempat ragu dan  maju-mundur, akan tetapi akhirnya dia melesat ke depan dan berperang hingga akhirnya terbunuh juga di pedang musuh. Bendera diambil Tsabit bin Aqram seraya berteriak lantang, "Hai kaum muslimin, pilihlah seorang komandan yang patut di antara kalian!" Tidak berapa lama, mereka memilih Khalid bin Walid.

Khalid memegang bendera dan bergerak memutar  sehingga berhasil merapatkan barisan pasukannya, kemudian  membawanya berhenti untuk bertahan hingga memasuki malam. Pada waktu itu dua pasukan saling menahan diri untuk tidak  berbenturan hingga waktu subuh. Di tengah malam, setelah melihat pasukan musuh yang sangat besar dan pasukannya yang semakin menyusut dan lemah, Khalid mengambil keputusan untuk menarik  mundur pasukannya dengan tanpa berperang. Dengan pertimbangan ini, Khalid membagi-bagi pasukannya dalam beberapa kesatuan kecil dan memerintahkan mereka membuat asap (kepulan debu) dan keributan di waktu subuh yang sekiranya akan menimbulkan gambaran pada musuh bahwa pasukan Islam telah mendatangkan pasukan bantuan dari Nabi saw. Ketika taktik ini dilakukan, musuh benar-benar cemas dan mereka segera mengurungkan niat menyerang kaum muslimin. Pasukan Islam bergembira karena  tanpa Khalid melanjutkan serangan,   musuh sudah mengambil keputusan mundur, dan perang yang tidak berimbang tidak terjadi. Kemudian diputuskan pasukan kaum muslimin kembali ke Madinah meninggalkan medan dengan selamat berkat garis kebijakan yang diletakkan Khalid. Dengan demikian, mereka kembali dengan tanpa dikalahkan dan dihancurkan. Akan tetapi, dalam peperangan ini, mereka mendapat cobaan yang mengandung pelajaran yang baik.

Telah diketahui bahwa para komandan dan pasukan perang ini adalah pahlawan-pahlawan sejati. Mereka maju perang menyongsong maut. Bahkan, maut yang dilihat di depannya malah diterjang. Mereka terjun ke medan perang dan siap terbunuh, dan memang terbunuh. Mereka berani melakukan demikian karena Islam memerintah tiap muslim berperang di jalan-Nya sehingga mereka berhasil membunuh atau dibunuh. Sesungguhnya perang adalah perdagangan yang menguntungkan karena perang adalah jihad di jalan Allah. "Sesungguhnya Allah telah  membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga unuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh aau erbunuh. (Itu elah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar"  (QS At-Taubah: 111).  Karena itu, mereka berperang meski maut menjemput mereka. Semua muslim  berperang hanya ketika harus berperang dengan tanpa melihat apakah maut akan menjadi mengakhirinya ataukah tidak? Dalam peperangan dan jihad semua perkara tidak bisa diukur dengan jumlah musuh, banyak dan sedikitnya. Akan tetapi, hanya diukur dengan hasil-hasil yang dihasilkan darinya dengan tanpa melihat tuntutan-tuntutan mengenai berbagai pengorbanan dan  kesuksesan apapun yang menjadi harapan perang. Kaum muslimin berperng dengan pasukan Romawi di Mu'tah yang memang wajib bagi kaum muslimin untuk berperang, wajib bagi komandan-komandan pasukan untuk terjun ke medan perang yang mereka datang memang karenanya, meski maut merah sedang jongkok di hadapan mereka.

Karena itu, wajib bagi setiap muslim untuk tidak takut mati dan tidak harus bagi mereka memperhitungkannya dengan satu perhitungan karena adanya sesuatu di jalan Allah. Rasulullah mengetahui bahwa pengiriman pasukannya ke Negara Romawi berada dalam keterbatasan-keterbatasan yang tentu mengkhawatirkan dan penuh bahaya. Akan tetapi, kekhawatiran dan bahaya ini harus menimbulkan rasa takut pada pasukan Romawi ketika mereka melihat semangat tempur pasukan kaum muslimin dan kegilaan mereka mencari mati, meski jumlah mereka sedikit. Kekhawatiran ini harus mampu merumuskan (menciptakan) jalan bagi kaum muslimin untuk menyebarkan Islam dan menerapkannya di negara-negara yang hendak dimasukinya. Kekhawatiran atau bahaya ini justru menguntungkan kaum muslimin karena menjadi jalan pembuka perang Tabuk dan untuk selanjutnya berhasil memukul Romawi yang membawa akibat ketakutan mereka dalam menghadapi kaum muslimin, sehingga Syam dapat ditaklukkan Negara Islam.

Di salin dan diterjemahkan dari buku al-Daulah al-Islaamiyyah karangan Taqiyyuddin al-Nabhani

0 komentar:

Agenda Harian

Semoga kita senantiasa terpacu untuk mengukir prestasi amal yang akan memperberat timbangan kebaikan di yaumil akhir, berikut rangkaian yang bisa dilakukan

1. Agenda pada sepertiga malam akhir

a. Menunaikan shalat tahajjud dengan memanjangkan waktu pada saat ruku’ dan sujud di dalamnya,

b. Menunaikan shalat witir

c. Duduk untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah hingga azan subuh

Rasulullah saw bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Sesungguhnya Allah SWT selalu turun pada setiap malam menuju langit dunia saat 1/3 malam terakhir, dan Dia berkata: “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku berikan, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni”. (HR. Bukhari Muslim)


2. Agenda Setelah Terbit Fajar

a. Menjawab seruan azan untuk shalat subuh

” الَّلهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِي وَعَدْتَهُ “

“Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini, shalat yang telah dikumandangkan, berikanlah kepada Nabi Muhammad wasilah dan karunia, dan bangkitkanlah dia pada tempat yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan. (Ditashih oleh Al-Albani)

b. Menunaikan shalat sunnah fajar di rumah dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Dua rakaat sunnah fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya”. (Muslim)

وَ قَدْ قَرَأَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِي رَكْعَتَي الْفَجْرِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدَ

“Nabi saw pada dua rakaat sunnah fajar membaca surat “Qul ya ayyuhal kafirun” dan “Qul huwallahu ahad”.

c. Menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid –khususnya- bagi laki-laki.

Rasulullah saw bersabda:

وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الْعَتْمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Sekiranya manusia tahu apa yang ada dalam kegelapan dan subuh maka mereka akan mendatanginya walau dalam keadaan tergopoh-gopoh” (Muttafaqun alaih)

بَشِّرِ الْمَشَّائِيْنَ فِي الظّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّوْرِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berikanlah kabar gembira kepada para pejalan di kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat”. (Tirmidzi dan ibnu Majah)

d. Menyibukkan diri dengan doa, dzikir atau tilawah Al-Quran hingga waktu iqamat shalat

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ

“Doa antara adzan dan iqamat tidak akan ditolak” (Ahmad dan Tirmidzi dan Abu Daud)

e. Duduk di masjid bagi laki-laki /mushalla bagi wanita untuk berdzikir dan membaca dzikir waktu pagi

Dalam hadits nabi disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إَذَا صَلَّى الْفَجْرَ تَرَبَّعَ فِي مَجْلِسِهِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ الْحَسَنَاءُ

” Nabi saw jika selesai shalat fajar duduk di tempat duduknya hingga terbit matahari yang ke kuning-kuningan”. (Muslim)

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya waktu fajar itu disaksikan (malaikat). (Al-Isra : 78) Dan memiliki komitmen sesuai kemampuannya untuk selalu:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah lebih banyak dari itu semua, maka akan menuai kebaikan berlimpah insya Allah.

3. Menunaikan shalat Dhuha walau hanya dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

“Setiap ruas tulang tubuh manusia wajib dikeluarkan sedekahnya, setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah, menolong orang dengan membantunya menaiki kendaraan atau mengangkat kan barang ke atas kendaraannya adalah sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, tiap-tiap langkahmu untuk mengerjakan shalat adalah sedekah, dan membersihkan rintangan dari jalan adalah sedekah”. (Bukhari dan Muslim)

4. Berangkat kerja atau belajar dengan berharap karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمِلِ يَدِهِ، وَكَانَ دَاوُدُ لا يَأْكُلُ إِلا مِنْ عَمِلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan makanan, lebih baik dari yang didapat oleh tangannya sendiri, dan bahwa nabi Daud makan dari hasil tangannya sendiri”. (Bukhari)

Dalam hadits lainnya nabi juga bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang berjalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. (Muslim)

d. Menyibukkan diri dengan dzikir sepanjang hari

Allah berfirman :

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah maka hati akan menjadi tenang” (Ra’ad : 28)

Rasulullah saw bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهَ أَنْ تَمُوْتَ ولسانُك رَطْبٌ من ذِكْرِ الله

“Sebaik-baik perbuatan kepada Allah adalah saat engkau mati sementara lidahmu basah dari berdzikir kepada Allah” (Thabrani dan Ibnu Hibban) .

5. Agenda saat shalat Zhuhur

a. Menjawab azan untuk shalat Zhuhur, lalu menunaikan shalat Zhuhur berjamaah di Masjid khususnya bagi laki-laki

b. Menunaikan sunnah rawatib sebelum Zhuhur 4 rakaat dan 2 rakaat setelah Zhuhur

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang shalat 12 rakaat pada siang dan malam hari maka Allah akan membangunkan baginya dengannya rumah di surga”. (Muslim).

6. Agenda saat dan setelah shalat Ashar

a. Menjawab azan untuk shalat Ashar, kemudian dilanjutkan dengan menunaikan shalat Ashar secara berjamaah di masjid

b. Mendengarkan nasihat di masjid (jika ada)

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ

“Barangsiapa yang pergi ke masjid tidak menginginkan yang lain kecuali belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya ganjaran haji secara sempurna”. (Thabrani – hasan shahih)

c. Istirahat sejenak dengan niat yang karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

وَإِنَّ لِبَدَنِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ

“Sesungguhnya bagi setiap tubuh atasmu ada haknya”.

Agenda prioritas:

Membaca Al-Quran dan berkomitmen semampunya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan, maka akan menuai kebaikan yang berlimpah insya Allah.

7. Agenda sebelum Maghrib

a. Memperhatikan urusan rumah tangga – melakukan mudzakarah – Menghafal Al-Quran

b. Mendengarkan ceramah, nasihat, khutbah, untaian hikmah atau dakwah melalui media

c. Menyibukkan diri dengan doa

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah”

8. Agenda setelah terbenam matahari

a. Menjawab azan untuk shalat Maghrib

b. Menunaikan shalat Maghrib secara berjamaah di masjid (khususnya bagi laki-laki)

c. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Maghrib – 2 rakaat

d. Membaca dzikir sore

e. Mempersiapkan diri untuk shalat Isya lalu melangkahkan kaki menuju masjid

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa yang bersuci/berwudhu kemudian berjalan menuju salah satu dari rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban dari kewajiban Allah, maka langkah-langkahnya akan menggugurkan kesalahan dan yang lainnya mengangkat derajatnya”. (Muslim)

9. Agenda pada waktu shalat Isya

a. Menjawab azan untuk shalat Isya kemudian menunaikan shalat Isya secara jamaah di masjid

b. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Isya – 2 rakaat

c. Duduk bersama keluarga/melakukan silaturahim

d. Mendengarkan ceramah, nasihat dan untaian hikmah di Masjid

e. Dakwah melalui media atau lainnya

f. Melakukan mudzakarah

g. Menghafal Al-Quran

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran dengan berkomitmen sesuai dengan kemampuannya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan bacaan maka telah menuai kebaikan berlimpah insya Allah.


Apa yang kita jelaskan di sini merupakan contoh, sehingga tidak harus sama persis dengan yang kami sampaikan, kondisional tergantung masing-masing individu. Semoga ikhtiar ini bisa memandu kita untuk optimalisasi ibadah insya Allah. Allahu a’lam

Jazaakillah

Sedikit revisi dari : http://www.al-ikhwan.net/agenda-harian-ramadhan-menuju-bahagia-di-bulan-ramadhan-2989/

Isi Blog

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.