Betapa kusamnya wajah kita, kering, tak bercahaya, jika tak kena wudhu minimal 5X sehari.

Hai orang-orang beriman, apabila kamu hendak mendirikan shalat, maka cucilah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku dan usaplah kepalamu dan cucilah kakimu sampai kedua mata kaki.

Dan jika kamu junub maka mandilah dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik, usaplah wajahmu dan tanganmu dari tanah itu. Allah tidak ingin menyulitkanmu, akan tetapi Dia hendak mensucikan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu supaya kamu bersyukur.” [Al-Ma'idah: 6]

Al-Imam Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’uud Al-Baghawi rahimahullah menerangkan, “Lahiriyah ayat ini menunjukkan wajibnya berwudhu setiap kali hendak mendirikan shalat. Namun As-Sunnah menjelaskan dan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam menerangkan lebih lanjut bahwa yang dimaksud ayat tersebut ialah jika kamu hendak mendirikan shalat dan kamu dalam keadaan tidak suci (maka cucilah mukamu dan tanganmu sampai siku dst, -pent), sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam, “Allah tidak menerima shalat salah seorang dari kalian yang berhadats hingga ia berwudhu’.” [1] [Ma'aalimut Tanzil 3/20]

Al-Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menerangkan ‘Al-Wudhuu’ atau ‘At-Thuhuur’ adalah perbuatannya (yakni berwudhu’ atau bersuci), sedangkan ‘Al-Wadhuu’ atau ‘At-Thahuur’ adalah air yang digunakan untuk bersuci. Al-Wudhuu’ berasal dari kata ‘Al-Wadhaa’ah’ yang berarti elok dan bersih, sehingga orang yang berwudhu menjadi elok dan bersih.

Dengan demikian syari’at wudhu’ merupakan nikmat Allah yang sangat agung bagi umat ini. Allah hendak mensucikan hamba-hamba-Nya dengan berwudhu’ sehingga mereka bersih dari berbagai hadats kecil, bersih dengan mandi ketika junub dan bertayammum ketika sulit mendapatkan air. Maka jasad-jasad kaum muslimin menjadi bersih dan suci dari dosa-dosa oleh sebab wudhu’nya itu. [Lihat Tafsir Ibnu Jariir At-Thabari].

Sementara anggota tubuhnya yang paling mudah dan sering terjatuh dalam kemaksiatan ialah anggota tubuh yang terkena air wudhu. Demikian sesungguhnya syari’at Allah yang penuh hikmah dan bijaksana atas segenap hamba-Nya. [Lihat Miftaah Daaris Sa'aadah 251-252 – Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah]

Syaikh Abdullah Al-Iryaani hafidzhahullah dalam kitab beliau “Sifat Wudhu’in Nabi” menghimpun riwayat-riwayat yang berkenaan dengan keutamaan wudhu’. Menariknya kitab beliau ini juga diberi pengantar oleh As-Syaikh Al-Muhaddits Yahya bin ‘Ali Al-Hajuuri hafidzhahullah yang menunjukkan bobot dan kualitas keilmuan penulisnya.

Berikut kami sarikan keutamaan-keutamaan wudhu’ yang akan kami bahas pada kesempatan kali ini:

Berwudhu’ Termasuk Sebab Kecintaan Allah kepada Hamba-Nya

Allah ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang banyak bertaubat dan mencintai orang-orang yang suka bersuci.” [Al-Baqarah: 222]

Ibnu Jariir At-Thabari dalam tafsir beliau menerangkan, “Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang banyak bertaubat dari dosa, dan mencintai hamba-hamba-Nya yang suka bersuci dengan air guna mendirikan shalat.”

Berwudhu’ adalah Separuh Iman

Dari Abu Maalik Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam bersabda, “Bersuci itu separuh iman….” [HR. Muslim 223 dengan sanad Munqathi', An-Nasaa'i 2394, Ibnu Maajah 280 secara Maushul] [2]

Al-Imam An-Nawawi dalam ‘Syarh Muslim’ menerangkan, “Para Ulama berselisih pendapat dalam memaknai hadits di atas…………………dan pendapat yang paling mendekati kebenaran ialah bahwa Thahaarah merupakan syarat sahnya shalat, maka keadaannya seperti separuh bagian, namun tidak melazimkan pengertian separuhnya itu secara hakiki.”

Berwudhu’ dengan Baik mendatangkan Ampunan Allah

“Tidaklah seorang muslim berwudhu’ kemudian memperbagus wudhu’nya dan ia shalat, melainkan Allah akan ampuni dosanya ketika itu hingga shalat berikutnya.” [HR. Al-Bukhari 155 dan Muslim 333]

Berwudhu’ Mengeluarkan Dosa-Dosa

Dari ‘Utsmaan bin ‘Affaan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang berwudhu’ dan memperbagus wudhu’nya, maka akan keluar dosa-dosa dari tubuhnya hingga keluar dari ujung kukunya.” [HR. Muslim 245]

Menyempurnakan Wudhu’ Di saat tidak Menyukainya Menjadi Sebab Gugurnya Dosa dan Meninggikan Derajat

Dari Abu Hurairah radhiyallahu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam bersabda, “Maukah aku tunjukkan kepada kalian suatu amalan yang dengannya Allah akan menghapus dosa dan mengangkat beberapat derajat?” Para shahabat Nabi mengatakan, “Tentu ya Rasulullah.” Beliau bersabda, “Menyempurnakan wudhu’ di saat-saat engkau tidak menyukainya (seperti cuaca dingin ,-pent)……” [HR. Muslim 251]

Keutamaan Menjaga Wudhu’

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam bertanya kepada Bilaal seusai shalat fajar, “Wahai Bilaal ceritakan kepadaku amalan apa yang paling bermanfaat yang engkau lakukan setelah memeluk Islam? Karena sesungguhnya aku telah mendengar bunyi kedua terompahmu di Surga.” Bilaal menjawab, “Tidaklah aku mengamalkan satu amalan setelah memeluk Islam yang paling bermanfaat selain berwudhu’ dengan sempurna pada setiap malam atau siang kemudian aku tegakkan shalat sunnah sebanyak yang Allah kehendaki.” [HR. Al-Bukhari 1149]

Dan masih banyak lagi keutamaan-keutamaan yang tidak disebutkan di sini secara rinci, seperti berwudhu akan melepaskan ikatan syaithan, menjadi sebab masuknya seseorang ke dalam Surga, orang yang berwudhu akan datang di hari kiamat dengan anggota tubuh yang bercahaya karena bekas air wudhu’nya dan lain sebagainya.

————————————————————
Footnote:

1. HR. Al-Bukhari dan Muslim

2. Imam Muslim (223) meriwayatkan dari jalan Yahya bin Abi Katsiir dari Zaid bin Sallaam dari Abu Sallaam dari Abu Maalik Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu.

Mu’aawiyah bin Sallaam menyelisihi Yahya bin Abi Katsiir sebagaimana dalam riwayat An-Nasaa’i dan Ibnu Maajah dan Abu ‘Awaanah. Bahwa Mu’aawiyah meriwayatkan dari saudaranya yakni Zaid bin Sallaam dan ia mengabarkan dari kakeknya yakni Abu Sallaam dari ‘Abdurrahman bin Ghanam bahwa Abu Maalik Al-Asy’ari menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam bersabda (Menyempurnakan wudhu’ adalah separuh iman…….) Al-Hadits.

Berhubung Abu Sallaam tidak bertemu dengan Abu Maalik Al-Asy’ari maka sanad riwayat Muslim ‘Munqathi’ (terputus), akan tetapi hadits ini dinilai ‘Shahih lighairih’ berdasarkan sanad lain dan syawaahidnya, sebagaimana telah dijelaskan oleh Syaikh Rabii’ bin Haadi Al-Madkhali hafidzhahullah dalam kitab beliau “Bainal Imaamain Muslim Wad Daaruquthni” no. 9 [Syaikh 'Abdullah Al-Iryaani]

0 komentar:

Agenda Harian

Semoga kita senantiasa terpacu untuk mengukir prestasi amal yang akan memperberat timbangan kebaikan di yaumil akhir, berikut rangkaian yang bisa dilakukan

1. Agenda pada sepertiga malam akhir

a. Menunaikan shalat tahajjud dengan memanjangkan waktu pada saat ruku’ dan sujud di dalamnya,

b. Menunaikan shalat witir

c. Duduk untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah hingga azan subuh

Rasulullah saw bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Sesungguhnya Allah SWT selalu turun pada setiap malam menuju langit dunia saat 1/3 malam terakhir, dan Dia berkata: “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku berikan, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni”. (HR. Bukhari Muslim)


2. Agenda Setelah Terbit Fajar

a. Menjawab seruan azan untuk shalat subuh

” الَّلهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِي وَعَدْتَهُ “

“Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini, shalat yang telah dikumandangkan, berikanlah kepada Nabi Muhammad wasilah dan karunia, dan bangkitkanlah dia pada tempat yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan. (Ditashih oleh Al-Albani)

b. Menunaikan shalat sunnah fajar di rumah dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Dua rakaat sunnah fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya”. (Muslim)

وَ قَدْ قَرَأَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِي رَكْعَتَي الْفَجْرِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدَ

“Nabi saw pada dua rakaat sunnah fajar membaca surat “Qul ya ayyuhal kafirun” dan “Qul huwallahu ahad”.

c. Menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid –khususnya- bagi laki-laki.

Rasulullah saw bersabda:

وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الْعَتْمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Sekiranya manusia tahu apa yang ada dalam kegelapan dan subuh maka mereka akan mendatanginya walau dalam keadaan tergopoh-gopoh” (Muttafaqun alaih)

بَشِّرِ الْمَشَّائِيْنَ فِي الظّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّوْرِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berikanlah kabar gembira kepada para pejalan di kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat”. (Tirmidzi dan ibnu Majah)

d. Menyibukkan diri dengan doa, dzikir atau tilawah Al-Quran hingga waktu iqamat shalat

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ

“Doa antara adzan dan iqamat tidak akan ditolak” (Ahmad dan Tirmidzi dan Abu Daud)

e. Duduk di masjid bagi laki-laki /mushalla bagi wanita untuk berdzikir dan membaca dzikir waktu pagi

Dalam hadits nabi disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إَذَا صَلَّى الْفَجْرَ تَرَبَّعَ فِي مَجْلِسِهِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ الْحَسَنَاءُ

” Nabi saw jika selesai shalat fajar duduk di tempat duduknya hingga terbit matahari yang ke kuning-kuningan”. (Muslim)

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya waktu fajar itu disaksikan (malaikat). (Al-Isra : 78) Dan memiliki komitmen sesuai kemampuannya untuk selalu:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah lebih banyak dari itu semua, maka akan menuai kebaikan berlimpah insya Allah.

3. Menunaikan shalat Dhuha walau hanya dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

“Setiap ruas tulang tubuh manusia wajib dikeluarkan sedekahnya, setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah, menolong orang dengan membantunya menaiki kendaraan atau mengangkat kan barang ke atas kendaraannya adalah sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, tiap-tiap langkahmu untuk mengerjakan shalat adalah sedekah, dan membersihkan rintangan dari jalan adalah sedekah”. (Bukhari dan Muslim)

4. Berangkat kerja atau belajar dengan berharap karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمِلِ يَدِهِ، وَكَانَ دَاوُدُ لا يَأْكُلُ إِلا مِنْ عَمِلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan makanan, lebih baik dari yang didapat oleh tangannya sendiri, dan bahwa nabi Daud makan dari hasil tangannya sendiri”. (Bukhari)

Dalam hadits lainnya nabi juga bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang berjalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. (Muslim)

d. Menyibukkan diri dengan dzikir sepanjang hari

Allah berfirman :

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah maka hati akan menjadi tenang” (Ra’ad : 28)

Rasulullah saw bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهَ أَنْ تَمُوْتَ ولسانُك رَطْبٌ من ذِكْرِ الله

“Sebaik-baik perbuatan kepada Allah adalah saat engkau mati sementara lidahmu basah dari berdzikir kepada Allah” (Thabrani dan Ibnu Hibban) .

5. Agenda saat shalat Zhuhur

a. Menjawab azan untuk shalat Zhuhur, lalu menunaikan shalat Zhuhur berjamaah di Masjid khususnya bagi laki-laki

b. Menunaikan sunnah rawatib sebelum Zhuhur 4 rakaat dan 2 rakaat setelah Zhuhur

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang shalat 12 rakaat pada siang dan malam hari maka Allah akan membangunkan baginya dengannya rumah di surga”. (Muslim).

6. Agenda saat dan setelah shalat Ashar

a. Menjawab azan untuk shalat Ashar, kemudian dilanjutkan dengan menunaikan shalat Ashar secara berjamaah di masjid

b. Mendengarkan nasihat di masjid (jika ada)

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ

“Barangsiapa yang pergi ke masjid tidak menginginkan yang lain kecuali belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya ganjaran haji secara sempurna”. (Thabrani – hasan shahih)

c. Istirahat sejenak dengan niat yang karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

وَإِنَّ لِبَدَنِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ

“Sesungguhnya bagi setiap tubuh atasmu ada haknya”.

Agenda prioritas:

Membaca Al-Quran dan berkomitmen semampunya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan, maka akan menuai kebaikan yang berlimpah insya Allah.

7. Agenda sebelum Maghrib

a. Memperhatikan urusan rumah tangga – melakukan mudzakarah – Menghafal Al-Quran

b. Mendengarkan ceramah, nasihat, khutbah, untaian hikmah atau dakwah melalui media

c. Menyibukkan diri dengan doa

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah”

8. Agenda setelah terbenam matahari

a. Menjawab azan untuk shalat Maghrib

b. Menunaikan shalat Maghrib secara berjamaah di masjid (khususnya bagi laki-laki)

c. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Maghrib – 2 rakaat

d. Membaca dzikir sore

e. Mempersiapkan diri untuk shalat Isya lalu melangkahkan kaki menuju masjid

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa yang bersuci/berwudhu kemudian berjalan menuju salah satu dari rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban dari kewajiban Allah, maka langkah-langkahnya akan menggugurkan kesalahan dan yang lainnya mengangkat derajatnya”. (Muslim)

9. Agenda pada waktu shalat Isya

a. Menjawab azan untuk shalat Isya kemudian menunaikan shalat Isya secara jamaah di masjid

b. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Isya – 2 rakaat

c. Duduk bersama keluarga/melakukan silaturahim

d. Mendengarkan ceramah, nasihat dan untaian hikmah di Masjid

e. Dakwah melalui media atau lainnya

f. Melakukan mudzakarah

g. Menghafal Al-Quran

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran dengan berkomitmen sesuai dengan kemampuannya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan bacaan maka telah menuai kebaikan berlimpah insya Allah.


Apa yang kita jelaskan di sini merupakan contoh, sehingga tidak harus sama persis dengan yang kami sampaikan, kondisional tergantung masing-masing individu. Semoga ikhtiar ini bisa memandu kita untuk optimalisasi ibadah insya Allah. Allahu a’lam

Jazaakillah

Sedikit revisi dari : http://www.al-ikhwan.net/agenda-harian-ramadhan-menuju-bahagia-di-bulan-ramadhan-2989/

Isi Blog

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.