Surat Terbuka Untuk Para Suami, Abu Ihsan al-Atsari & Ummu Ihsan (dengan modifikasi).

Mungkin sudah sekian banyak buku-buku, blog atau website yang membahas permasalahan ini, tapi ada baiknya kita mengulangnya kembali supaya menjadi ilmu yang diamalkan dan bermanfaat bagi kita semua. Artikel ini semoga berguna bagi para pasangan suami-istri (pasutri) baik yang sudah lama menikah, maupun pengantin baru, ataupun calon pengantin tanpa membatasi yang masih single untuk mendapatkan ilmu dan manfaat darinya.

Shobat sekalian, demi meraih keberkahan dan kebahagiaan bersama diantara pasutri, marilah kita sama-sama perhatikan adab atau etika berhubungan suami istri (jima’) yang telah diatur dalam syari’at agama kita. Berikut merupakan adab-adab jima’ yang perlu kita perhatikan tersebut:
1. Persiapkan diri
2. Tidak ada yang melihat
3. Lakukan pemanasan dahulu
4. Berdo’a
5. Jima’ pada tempat yang diperbolehkan
6. Puaskanlah diri dan pasangan
7. Akhiri dengan penutupan
8. Jangan menyakiti fisik & melukai perasaan
9. Carilah waktu yang tepat
10. Selalu mesra di luar jima’
1. Persiapan Diri

Sebelum melakukan jima’, sangat di anjurkan bagi pasutri untuk memperelok penampilan, dalam keadaan bersih, rapi dan memakai wangi-wangian. Jangan sampai kita mengajak pasangan untuk melakukan hubungan intim sementara keadaaan kita kotor, awut-awutan dengan bau badan yang tidak sedap. Karena hal ini bisa merusak suasanan, menurunkan bahkan menghilangkan hasrat yang timbul.

Mari kita tanyakan kepada diri kita masing-masing. Bukankah kita suka kalau pasangan kita mempersiapkan diri sungguh-sungguh untuk menyambut kita ?!. Bukankah kita akan hilang selera dan enggan berhubungan bila mendapati pasangan kita dalam keadaan kotor dan bau ?!.

Jika kita menjawab, “Ya”. Maka ketahuilah, bahwa pasangan kita juga punya perasaan dan keinginan yang sama.

2. Tidak Ada Yang Melihat

Sebelum kita bermesraan dengan pasangan kita, yakinkan tidak ada seorangpun yang melihatnya, baik anak-anak kita sendiri apalagi selain mereka. Hal ini telah diantisipasi oleh syari’at Islam yang mengajarkan kita dan anak-anak kita untuk meminta ijin terlebih dahulu sebelum masuk ke kamar orang tua atau kamar kita sebagai orang tua, terlebih di waktu-waktu setelah sholat isyak dan setelah dhuhur.

3. Lakukan Pemanasan Dahulu

Kita hendaknya mengetahui adanya perbedaan yang jauh antara karakter lelaki dan perempuan dalam masalah ini, karenanya penting bagi pasutri untuk mengetahui perbedaan karakter masing-masing pasangannya. Karakter lelaki bisa diibaratkan seperti api, mudah tersulut dan mudah pula mati atau dingin kembali. Sedangkan karakter wanita adalah seperti air, dibutuhkan waktu untuk memanaskan dan mendinginkannya kembali. Karena itu sebelum melakukan hubungan, sebaiknya suami memulai dengan membisikkan kata-kata lembut di telinga pasangannya, disertai dengan sentuhan dan cumbu rayu.

Rangsangan ini tidak pelak akan dapat menyenangkan hati istri, membangkitkan gairahnya, dan menjadikannya siap untuk meraih kenikmatan yang lebih sempurna. Jangan kita sebagai suami melakukan hubungan, sementara istri kita dalam keadaan belum siap dan perasaannya masih dingin. Berilah rangsangan (warming-up) terlebih dahulu seperti senda gurau, rabaan, ciuman, dan dekapan, sehingga gairahnya bangkit dan jiwanya siap melakukan hubungan.

Hikmah dari perlakuan ini sangat jelas, sebab apabila istri belum siap dan hubungan telah dimulai, seringkali akan berakhir dengan kondisi dimana suami merasa puas sedangkan istri belum mendapatkan apa-apa. Hal ini biasanya akan bisa menjadi pemicu ketidakharmonisan hubungan rumah tangga.

4. Berdoa

Ketika hendak melakukan hubungan intim, hendaknya suami memulai dengan basmallah dan meminta perindungan Allah Ta’ala dari syaithan seraya mengucapkan doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Bismillah, Allahumma jannibnasy syaithon, wa jannibisy syaithon maa rozaqtanaa“
“Dengan nama Allah, Ya Allah jauhkanlah kami dari syaithan dan jauhkanlah syaithan dari (anak) yang Engkau rejekikan kepada kami”.
Apabila dari hubungan tersebut ditaqdirkan lahirnya anak, niscaya syaithan tidak akan mencelakainya selamanya”. [1]

5. Jima’ Pada Tempat Yang Diperbolehkan

Hendaklah bersetubuh dilakukan pada kemaluan, haram menyetubuhi istri pada duburnya, sebagimana Allah Ta’ala telah berfirman:
“Maka campurilah mereka itu ditempat yang diperintahkan Allah kepadamu.” (Al-Baqarah: 222)
“Menyetubuhi kaum wanita pada dubur mereka adalah haram.” (Hadits An-Nasaa’i, dalam Isyratun Nisaa’ – Silsilah ash-Shahihah hal.873)
Diperbolehkan menyetubuhi istri dengan cara dan posisi apapun selama masih dalam kemaluan (farji) nya. Boleh melakukannya dengan posisi atas, bawah, miring, dari depan atau belakang, dalam keadaan berdiri maupun duduk. Ambillah cara-cara yang disepakati bersama dan tidak menimbulkan kebosanan. Sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman;
“Istri-istrimu adalah (seperti) lahan tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah lahan tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (Al-Baqarah: 223)
Demikian pula dilarang menyetubuhi istri ketika ia sedang haidh. Perilaku ini berbahaya, dan dapat mendatangkan kerusakan moral maupun medis bagi pasutri, sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman;
“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: ‘Haidh itu adalah kotoran’. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh, dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci.” (Al-Baqarah: 222)
Namun diperbolehkan untuk bercumbu rayu dan melakukan apa saja dengan istri yang sedang haidh selain berhubungan intim. Para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam menuturkan;
“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam menghendaki tubuh istrinya ketika haidh, beliau menutup farjinya dengan kain penutup, lalu melakukan apa saja yang dikehendaki.” (HR. Abu Dawud -272 dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud).
6. Puaskanlah Diri dan Pasangan

Perlu untuk diingat bahwa jima’ bukan merupakan aktivitas satu pihak, akan tetapi melibatkan kedua pasangan, suami-istri, yang mana keduanya memiliki kebutuhan dan kepentingan yang sama. Para suami hendaklah menyadari akan hal ini, tidak boleh egois dengan menyudahi jima’ sebelum sang istri terpenuhi kebutuhannya. Pastikan bahwa istri kita benar-benar telah meraih kepuasan, sehingga apabila hajat sang suami telah terpenuhi dengan keluarnya mani, hendaklah sang suami menahan dahulu dari menyudahi berhubungan hingga sang istri terpenuhi juga kebutuhannya. Karena menyudahi hubungan ketika sedang pada kondisi tersebut merupakan siksan bagi sang istri.

7. Akhiri Dengan Penutupan

Setelah selesai melakukan hubungan intim, hendaklah sang suami mengakhirinya dengan perbincangan ringan dan sentuhan-setuhan halus sebagai penutupan. Hal ini perlu untuk dilakukan demi kesempurnaan kebahagiaan sang istri, dan untuk mengantisipasi munculnya ganjalan perasaan usai berhubungan intim. Karakter seperti air yang dimiliki wanita, tentu tidak seperti laki-laki yang bisa padam seketika setelah terpancarnya mani. Sehingga usahakanlah untuk tidak langsung berpaling dengan membiarkan sang istri merana.

8. Jangan menyakiti fisik & melukai perasaan

Hendaklah sang suami selalu menjaga perasaan sang istri, tidak melukainya ataupun melakukan hal-hal yang tidak istri kehendaki demi kepuasaan suami semata. Demikian juga jangan sampai suami memperlakukannya secara tidak hormat, hingga sang istri merasa dirinya hanyalah sebagai pemuas nafsu belaka. Sebaiknya segala aktifitas jima’ itu dilakukan atas dasar suka sama suka.

Hendaklah dihindari melakukan hal-hal yang juga bisa menyakitinya seperti menyumbat nafasnya, atau menindihnya dengan serampangan, terlebih jika suami memiliki tubuh yang berat sementara istri berbadan kecil dan lemah. Jadikanlah hubungan jima’ sebagai suatu sarana membahagiakan istri, bukan malah sebaliknya.

9. Carilah waktu yang tepat

Pasutri hendaknya pandai memilih waktu yang tepat untuk berjima’, sehingga semakin sempurna kenikmatan dan kebahagiaan mereka. Di antara waktu yang bagus-tepat tersebut adalah:

a. Saat pulang berpergian
Hendaklah suami melakukan jima’ setelah pulang dari berpergian jauh-lama, sebagai ganti perasaan sepi sang istri dan derita penantian yang menjemukan. Perasaan rindu dapat menjadi penghangat suasana hingga menjadikannya saat yang paling membahagiakan melebihi suasana malam pertama. Hal ini sebagaimana yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam;
“Apabila engkau datang dari berpergian pada malam hari, janganlah langsung menemui istrimu, supaya ia dapat mencukur rambut kemaluannya dan merapikan dandanannya”. Rasulullah berkata, “Jangan lupa lakukanlah jima’, lakukanlah jima‘…” [muttafaqun 'alaihi/ Hadits Bukhari-Muslim].
b. Malam-malam bahagia
Manfaatkanlah malam-malam bahagia, seperti malam walimah kerabat dan handai taulan. Karena malam-malam seperti ini biasanya membangkitkan kenangan indah dan rasa suka-cita sehingga siap untuk melakukan jima’ dalam rangka mendapatkan kebahagiaan.

c. Damai setelah bertikai
Kadang, perselisihan terjadi diantara pasutri, sehingga mengeruhkan suasana dan merenggangkan jalinan cinta. Dengan anugerah Allah Ta’ala, beberapa saat kemudian perselisihanpun reda dan suasana menjadi kembali segar dan pikiran kembali jernih. Maka alangkah baiknya kalau menghiasi malamnya dengan senda-gurau, canda-tawa dan lakukanlah jima’ untuk menyempurnakan keindahannnya. Kikis habislah sisa-sisa luka yang masih ada, bukalah lembaran baru dengan hari-hari yang penuh indah dan lupakanlah kenangan pahit saat-saat bertikai.

d. Saat meraih kesuksesan
Ketika salah satu pasutri berhasil meraih kesuksesan, dalam pekerjaan atau studi misalnya, sempurnakanlah kegembiraan tersebut dengan melakukan jima’. Sebab ketika kebahagiaan sedang meliputi, jiwapun terasa lapang, dan siap untuk meneguk madu kenikmatan dan kebahagiaan.

10. Selalu mesra di luar jima’
Sebagian suami kurang memahami bahwa setiap wanita membutuhkan hal ini. Sebagian mereka hanya mau berlaku mesra dengan istrinya ketika menghendaki hubungan intim saja. Padahal boleh jadi seorang wanita lebih merasakan kebahagiaan dengan sentuhan-sentuhan hangat seperti ini daripada hubungan intim itu sendiri. Sebagai contohnya adalah seperti; berbisik manja, membelai rambut, menggenggam tangan, mencium kening, merebahkan kepala di dada istri dan lain sebagainya. Hal ini perlu dijadikan ‘kamus’ agar hubungan pasutri semakin intim dan mesra, makin berwarna dan berasa. Amiiin….
——————————–
Surat Terbuka Untuk Para Suami, Abu Ihsan al-Atsari & Ummu Ihsan (dengan modifikasi).

dari postingan teman di fb

0 komentar:

Agenda Harian

Semoga kita senantiasa terpacu untuk mengukir prestasi amal yang akan memperberat timbangan kebaikan di yaumil akhir, berikut rangkaian yang bisa dilakukan

1. Agenda pada sepertiga malam akhir

a. Menunaikan shalat tahajjud dengan memanjangkan waktu pada saat ruku’ dan sujud di dalamnya,

b. Menunaikan shalat witir

c. Duduk untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah hingga azan subuh

Rasulullah saw bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Sesungguhnya Allah SWT selalu turun pada setiap malam menuju langit dunia saat 1/3 malam terakhir, dan Dia berkata: “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku berikan, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni”. (HR. Bukhari Muslim)


2. Agenda Setelah Terbit Fajar

a. Menjawab seruan azan untuk shalat subuh

” الَّلهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِي وَعَدْتَهُ “

“Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini, shalat yang telah dikumandangkan, berikanlah kepada Nabi Muhammad wasilah dan karunia, dan bangkitkanlah dia pada tempat yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan. (Ditashih oleh Al-Albani)

b. Menunaikan shalat sunnah fajar di rumah dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Dua rakaat sunnah fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya”. (Muslim)

وَ قَدْ قَرَأَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِي رَكْعَتَي الْفَجْرِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدَ

“Nabi saw pada dua rakaat sunnah fajar membaca surat “Qul ya ayyuhal kafirun” dan “Qul huwallahu ahad”.

c. Menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid –khususnya- bagi laki-laki.

Rasulullah saw bersabda:

وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الْعَتْمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Sekiranya manusia tahu apa yang ada dalam kegelapan dan subuh maka mereka akan mendatanginya walau dalam keadaan tergopoh-gopoh” (Muttafaqun alaih)

بَشِّرِ الْمَشَّائِيْنَ فِي الظّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّوْرِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berikanlah kabar gembira kepada para pejalan di kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat”. (Tirmidzi dan ibnu Majah)

d. Menyibukkan diri dengan doa, dzikir atau tilawah Al-Quran hingga waktu iqamat shalat

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ

“Doa antara adzan dan iqamat tidak akan ditolak” (Ahmad dan Tirmidzi dan Abu Daud)

e. Duduk di masjid bagi laki-laki /mushalla bagi wanita untuk berdzikir dan membaca dzikir waktu pagi

Dalam hadits nabi disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إَذَا صَلَّى الْفَجْرَ تَرَبَّعَ فِي مَجْلِسِهِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ الْحَسَنَاءُ

” Nabi saw jika selesai shalat fajar duduk di tempat duduknya hingga terbit matahari yang ke kuning-kuningan”. (Muslim)

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya waktu fajar itu disaksikan (malaikat). (Al-Isra : 78) Dan memiliki komitmen sesuai kemampuannya untuk selalu:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah lebih banyak dari itu semua, maka akan menuai kebaikan berlimpah insya Allah.

3. Menunaikan shalat Dhuha walau hanya dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

“Setiap ruas tulang tubuh manusia wajib dikeluarkan sedekahnya, setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah, menolong orang dengan membantunya menaiki kendaraan atau mengangkat kan barang ke atas kendaraannya adalah sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, tiap-tiap langkahmu untuk mengerjakan shalat adalah sedekah, dan membersihkan rintangan dari jalan adalah sedekah”. (Bukhari dan Muslim)

4. Berangkat kerja atau belajar dengan berharap karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمِلِ يَدِهِ، وَكَانَ دَاوُدُ لا يَأْكُلُ إِلا مِنْ عَمِلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan makanan, lebih baik dari yang didapat oleh tangannya sendiri, dan bahwa nabi Daud makan dari hasil tangannya sendiri”. (Bukhari)

Dalam hadits lainnya nabi juga bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang berjalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. (Muslim)

d. Menyibukkan diri dengan dzikir sepanjang hari

Allah berfirman :

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah maka hati akan menjadi tenang” (Ra’ad : 28)

Rasulullah saw bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهَ أَنْ تَمُوْتَ ولسانُك رَطْبٌ من ذِكْرِ الله

“Sebaik-baik perbuatan kepada Allah adalah saat engkau mati sementara lidahmu basah dari berdzikir kepada Allah” (Thabrani dan Ibnu Hibban) .

5. Agenda saat shalat Zhuhur

a. Menjawab azan untuk shalat Zhuhur, lalu menunaikan shalat Zhuhur berjamaah di Masjid khususnya bagi laki-laki

b. Menunaikan sunnah rawatib sebelum Zhuhur 4 rakaat dan 2 rakaat setelah Zhuhur

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang shalat 12 rakaat pada siang dan malam hari maka Allah akan membangunkan baginya dengannya rumah di surga”. (Muslim).

6. Agenda saat dan setelah shalat Ashar

a. Menjawab azan untuk shalat Ashar, kemudian dilanjutkan dengan menunaikan shalat Ashar secara berjamaah di masjid

b. Mendengarkan nasihat di masjid (jika ada)

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ

“Barangsiapa yang pergi ke masjid tidak menginginkan yang lain kecuali belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya ganjaran haji secara sempurna”. (Thabrani – hasan shahih)

c. Istirahat sejenak dengan niat yang karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

وَإِنَّ لِبَدَنِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ

“Sesungguhnya bagi setiap tubuh atasmu ada haknya”.

Agenda prioritas:

Membaca Al-Quran dan berkomitmen semampunya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan, maka akan menuai kebaikan yang berlimpah insya Allah.

7. Agenda sebelum Maghrib

a. Memperhatikan urusan rumah tangga – melakukan mudzakarah – Menghafal Al-Quran

b. Mendengarkan ceramah, nasihat, khutbah, untaian hikmah atau dakwah melalui media

c. Menyibukkan diri dengan doa

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah”

8. Agenda setelah terbenam matahari

a. Menjawab azan untuk shalat Maghrib

b. Menunaikan shalat Maghrib secara berjamaah di masjid (khususnya bagi laki-laki)

c. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Maghrib – 2 rakaat

d. Membaca dzikir sore

e. Mempersiapkan diri untuk shalat Isya lalu melangkahkan kaki menuju masjid

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa yang bersuci/berwudhu kemudian berjalan menuju salah satu dari rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban dari kewajiban Allah, maka langkah-langkahnya akan menggugurkan kesalahan dan yang lainnya mengangkat derajatnya”. (Muslim)

9. Agenda pada waktu shalat Isya

a. Menjawab azan untuk shalat Isya kemudian menunaikan shalat Isya secara jamaah di masjid

b. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Isya – 2 rakaat

c. Duduk bersama keluarga/melakukan silaturahim

d. Mendengarkan ceramah, nasihat dan untaian hikmah di Masjid

e. Dakwah melalui media atau lainnya

f. Melakukan mudzakarah

g. Menghafal Al-Quran

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran dengan berkomitmen sesuai dengan kemampuannya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan bacaan maka telah menuai kebaikan berlimpah insya Allah.


Apa yang kita jelaskan di sini merupakan contoh, sehingga tidak harus sama persis dengan yang kami sampaikan, kondisional tergantung masing-masing individu. Semoga ikhtiar ini bisa memandu kita untuk optimalisasi ibadah insya Allah. Allahu a’lam

Jazaakillah

Sedikit revisi dari : http://www.al-ikhwan.net/agenda-harian-ramadhan-menuju-bahagia-di-bulan-ramadhan-2989/

Isi Blog

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.