Hati tidak akan sekonyong-konyong menjadi sakit tanpa adanya penyebab yang membuat hati menjadi sakit dan menderita. Ada dua musibah besar yang menjadi prahara bagi hati, yaitu musibah syahwat yang merusak niat dan iradah; dan musibah syubhat yang menggerogoti ilmu dan i’tiqad.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, artinya:
“Musibah (fitnah) itu masuk ke dalam hati seperti dianyamnya tikar, sehelai demi sehelai. Hati mana pun yang menerimanya akan tertitiklah padanya setitik noda hitam. Hati mana pun yang menolaknya akan tertitiklah padanya setitik cahaya putih. Akhirnya hati akan terbagi menjadi dua; hati yang hitam legam cekung seperti gayung yang terbalik tidak mengenal kebaikan, tidak pula mengingkari kemunkaran, selain yang dikehendaki oleh hawa nafsunya, dan hati putih bercahaya yang tidak akan tertimpat mudharat fitnah, selama langit dan bumi masih ada.” (Riwayat Muslim (al-Iman II/170), dengan lafadz yang berbeda.)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengelompokkan hati yang tertimpa musibah menjadi dua, yaitu:
Pertama,hati yang selalu menyerapnya seperti bunga karang yang selalu menyerap air. Maka tertitiklah padanya setitik noda hitam. Demikian seterusnya sehingga hati itu menjadi hitam dan terbalik. Inilah yang dimaksud tamsil beliau, “seperti gayung yang terbalik.” Dan jika hati telah berubah hitam dan terbalik maka akan datanglah dua penyakit yang sangat berbahaya dan akan menjerumuskannya pada jurang kehancuran dan kenistaan :
  1. Tercampur aduknya kebaikan dengan kemunkaran (syubhat), sehingga ia tidak mengenalinya lagi. Bahkan akan sangat mungkin ia dikuasai oleh penyakit ini, sehingga ia tidak akan sungkan-sungkan menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, juga menganggap sunnah itu sebagai bid’ah dan bid’ah itu sebagai sunnah.
  2. Menjadikan hawa nafsu sebagai penghulu amalnya, dan dia meninggalkan semua yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kedua, hati yang putih bercahaya dengan cahaya iman. Jika musibah fitnah datang, maka ia pun mengingkari dan menolaknya, sehingga dalam hatinya tertitik cahaya putih yang membeningkan hatinya.
Dan ketahuilah, setiap kemaksiatan adalah racun bagi hati. Ia menjadi penyebab lain sakit dan hancurnya hati, memalingkan iradahnya dari iradah Allah ‘Azza wa Jalla, dan memperburuk kesehatan hatinya.‘Abdullah bin Mubarak berkata ,
Kulihat dosa-dosa itu mematikan hati
Membiasakannya mengakibatkan kehinaan
Meninggalkannya adalah kehidupan bagi hati
Selalu menjauhinya adalah yang terbaik bagimuMaka barang siapa yang ingin hatinya selamat dan tetap hidup, hendaklah ia membersihkan hatinya dari pengaruh buruk dari racun-racun itu. Lalu menjaganya baik-baik, jangan sampai ada racun lain yang akan menggerogotinya dan menimbulkan sakit yang lebih parah.
Berikut adalah empat racun hati yang paling banyak tersebar dan paling berbahaya bagi kehidupan hati :
1. Banyak bicara
Seperti kata pepatah, “Lidah tidak bertulang”. Maka tidak jarang apa-apa yang keluar dari lidah akan membuat pemiliknya terjerumus ke dalam dosa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan ummatnya untuk menjaga lisannya. Karena lisan seorang manusia yang tidak terjaga akan membawanya ke dalam Neraka.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada Shahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, “Maukah kamu aku beritahukan kunci dari semua itu?” Aku (Mu’adz) menjawab, “Tentu wahai Rasulullah.” Lalu Rasulullah memegang lidahnya dan berkata, “Peliharalah ini!” Aku pun bertanya, “Wahai Nabi Allah, benarkah kita akan disiksa karena pembicaraan kita?” Rasul menjawab, “Ibumu kehilanganmu[1], Mu’adz! Bukankah manusia itu diseret ke Neraka pada wajah-wajah mereka atau hidung-hidung mereka hanya disebabkan oleh buah perkataan mereka?”[2]
Yang dimaksud dengan buah perkataan dalam hadits di atas adalah balasan atas perkataan yang haram dan berbagai akibatnya. Dengan berbicara dan beramal seseorang telah menanam kebaikan atau keburukan. Dan di hari Kiamat nanti, ia akan menuai buah hasil dari perkataan dan perbuatannya di dunia. Barang siapa menanam kebaikan maka ia akan menuai karomah. Dan barang siapa menanam keburukan maka ia akan menuai penyesalan.
Shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, artinya:
“Yang paling banyak menjerumuskan manusia ke Neraka adalah dua lubang; mulut dan farji’ (kemaluan).”[3]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:
“Sesungguhnya ada seseorang yang mengucapkan kalimat yang tidak jelas tetapi karenanya ia terjerembab di Neraka, lebih jauh dari jarak Timur hingga Barat.”[4]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah bersabda, artinya:
“Barang siapa yang memberi jaminan untuk menjaga apa yang ada di antara kedua jenggotnya (lisan) dan dua paha (farji’) aku jamin baginya Surga.”[5]
Dan sabdanya juga, yang artinya:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”[6]
Hadits ini memuat perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berbicara yang baik-baik saja dan diam dari selainnya. Khitab (pembicaraan) itu hanya ada dua; yang setiap hamba diperintahkan untuknya, dan selainnya, yang setiap hamba diperintahkan diam darinya.
Bencana lisan yang paling sedikit mudharatnya adalah berbicara tentang sesuatu yang tidak berfaidah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, artinya:
“Merupakan tanda baiknya keislaman seseorang jika ia meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.”[7]
Apa yang telah disebutkan di atas adalah bencana lisan terkecil mudharatnya. Lalu bagaimana dengan ghibah, namimah, kata-kata yang bathil dan keji, kata-kata yang mengandung dua makna, perdebatan, pengaduan, nyanyian, kedustaan, menyanjung-nyanjung, mengolok-olok, penghinaan, kekeliruan dalam pembicaraan dan yang lainnya, yang semuanya adalah bencana yang menimpa lisan seorang hamba untuk seterusnya merusak hatinya, dan juga menghilangkan kebahagiaan dan kesenangan yang ia rasakan di dunia dan menghilangkan keberuntungan dan kemenangan di akhirat. Allahul musta’an.
2. Banyak makan
Sedikit makan dapat melembutkan hati, menguatkan daya fikir, membuka diri, serta melemahkan hawa nafsu dan sifat marah. Sedangkan banyak makan akan mengakibatkan hal yang sebaliknya.
Miqdam bin Ma’d Yakrib berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, artinya:
“Tidak ada bejana yang diisi oleh anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak bisa, maka sepertiga dari perutnya hendaknya diisi untuk makannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga untuk nafasnya.”[8]
Berlebihan dalam makan akan mengakibatkan banyak hal buruk. Ia akan menggerakkan anggota badan untuk melakukan berbagai kemaksiatan serta menjadikannya merasa berat untuk beribadah. Dan dua hal ini sudah merupakan hal yang akan membawa kepada keburukan. Berapa banyak kemaksiatan yang bermula dari keadaan kenyang dan berlebihan dalam makan. Berapa banyak pula keta’atan dalam keadaan sebaliknya. Barang siapa dapat menjaga keburukan dari perutnya, maka ia telah menjaga diri dari keburukan yang besar.
Ibrahim bin Adham berkata[9], “Barang siapa memelihara perutnya akan terpelihara dirinya. Barang siapa mampu menguasai rasa laparnya akan memiliki akhlaq yang baik. Sesungguhnya kemaksiatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla itu jauh dari seorang yang lapar dan dekat dari seorang yang kenyang.”
3. Banyak bergaul
Bergaul secara berlebihan akan membawa kerugian di dunia dan akhirat. Apabila tata cara dan tata krama dalam pergaulan tidak diperhatikan lagi, maka ia akan dapat menuai berbagai permusuhan. Di dalamnya akan tersimpan berbagai penyakit berbahaya yang jika dibiarkan maka ia akan dapat mematikan pada suatu saat.
Dalam bergaul, hendaknya kita dapat mengklasifikasi manusia menjadi empat kriteria. Ketidakmampuan kita dalam membedakan masing-masing kriteria dapat membawa kepada kerugian di dunia dan akhirat.
  1. Kelompok pertama adalah orang-orang yang setia kepada Allah ‘Azza wa Jalla, kitab-Nya, Rasul-Nya, dan seluruh kaum muslimin. Bergaul dengan mereka adalah keuntungan yang besar.
  2. Kelompok yang bergaul dengan mereka seperti mengkonsumsi obat. Ia dibutuhkan di kala sakit. Selama kondisi sehat, tidak akan ada yang bergaul dengan mereka. Mereka adalah para ahli dalam urusan mu’amalat, bisnis dan yang semisalnya. Anda harus bergaul dengan mereka, jika Anda ingin urusan ma’isyah Anda lancar.
  3. Kelompok yang bergaul dengan mereka berarti mengkonsumsi bakteri dan virus-virus penyakit. Ada yang menimbulkan penyakit ganas dan memakan waktu yang lama untuk dapat disembuhkan. Mereka adalah orang-orang yang tidak membawa keuntungan dan manfaat dunia dan akhirat. Mereka hanya membawa kerugian dan kemudharatan, sehingga jika Anda bergaul dengannya, maka dia bisa membunuh Anda dengan bakteri dan virus-virus mematikan yang dia bawa. Tapi ada juga penyakit yang lebih ringan. Mereka adalah orang-orang yang tidak baik bicaranya dan tidak pula memberi manfaat. Mereka hanya bisa mengambil manfaat dari orang lain. Ketika mereka berbicara, kata-kata yang keluar dari lisannya ibarat sembilu yang mengiris hati orang-orang yang mendengarnya. Namun, ia tetap bangga dengan ucapannya. Ia berlaku demikian terhadap siapa saja yang bergaul dengannya dan menyangka ia sedang menebar minyak wangi dengan ucapannya. Ia ibarat sebongkah batu besar yang tidak ada seorang pun yang mampu mengangkatnya dan tidak juga merubah keadaannya.
  4. Kelompok yang bergaul dengan mereka adalah kebinasaan total. Mereka ibarat bisa ular dan racun berbahaya lagi mematikan urat saraf. Jika seseorang memakannya dengan tidak sengaja, maka ia telah menelan sebuah kerugian. Mereka adalah ahli bid’ah dan ahlul hawa’. Mereka adalah orang-orang yang berada dalam garis depan penghalang sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka senantiasa menyeru kepada kesesatan, fitnah-fitnah bathil dan berbagai syubhat yang telah mereka bungkus dengan kata-kata yang indah lagi merayu-rayu. Mereka melabel bid’ah sebagai sunnah dan mengganti label sunnah dengan bid’ah. Sehingga tidaklah patut bagi orang-orang yang memiliki akal-akal yang sehat untuk ikut bergaul dengan mereka. Karena mereka tidak akan membawa sesuatu kecuali kesesatan dan kebinasaan.
4. Banyak memandang
Mata seringkali disebut sebagai jendela hati. Karena apa-apa yang indah dipandang mata, maka hati pun akan ikut mengaguminya. Tetapi, mata yang diciptakan untuk melihat sekalipun, tetap harus memiliki batasan-batasan dalam memandang. Janganlah sekali-kali kita membiarkan pandangan kita lepas dan berkeliaran di luar kendali, karena itu akan berakibat buruk.
1. Pandangan adalah panah iblis.
Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman dalam sebuah ayat di kitab-Nya yang mulia, yang artinya:
“Katakanlah kepada orang-orang yang beriman agar mereka menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. an-Nuur: 30)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, artinya:
“Wahai ‘Ali, janganlah pandangan pertama kau ikuti dengan pandangan berikutnya. Untukmu pandangan pertama, tetapi bukan untuk berikutnya.”[10]
Diriwayatkan pula dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, artinya:
“Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang memandang tanpa sengaja, maka beliau memerintahkanku untuk memalingkan pandanganku.”[11]
2. Syaithan akan menjadikan objek pandangan sebagai berhala dalam hati.
Syaithan memasukkan pengaruh buruknya ke dalam diri seseorang melalui pandangan mata dan sesungguhnya masuknya syaithan dari jalan ini melebihi kecepatan aliran udara masuk ke dalam ruang hampa. Syaithan akan memperindah wujud yang dipandang dan menjadikannya berhala tautan hati. Kemudian, ia mengobral janji dan angan-angan. Setelah itu ia nyalakan api syahwat dan dilemparkannya kayu bakar maksiat, sehingga seseorang itu jatuh ke dalam lubang dosa.
3. Pandangan itu menyibukkan hati.
Terlalu banyak memandang akan menjadikan hatinya tertawan dengan hal-hal yang dipandangnya. Sehingga akan membuatnya lupa dari urusan-urusan yang bermanfaat. Dia menjadi lalai dan senantiasa mengikuti hawa nafsunya, sehingga urusannya menjadi kacau dan tidak terkendali. Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman, yang artinya:
“Dan janganlah kamu ta’at kepada orang yang telah Kami lalaikan hatinya dari dzikir kepada Kami dan mengikuti hawa nafsunya serta urusannya menjadi kacau balau.” (QS. al-Kahfi: 28)
Demikianlah bahwa melepaskan pandangan secara liar akan mengakibatkan tiga bencana ini. Sementara menjaganya akan membawa keuntungan di dunia dan akhirat.
Para pakar akhlaq bertutur, “Antara mata dan hati memiliki kaitan yang erat. Bila mata telah rusak dan hancur, maka hati pun akan ikut rusak dan hancur. Hati seperti ini ibarat tempat sampah yang berisikan segala najis, kotoran dan sisa-sisa yang menjijikkan. Ia tidak layak dihuni oleh ma’rifatullah, mahabbatullah, inabah kepada-Nya, ketundukan kepada-Nya dan kegembiraan ketika merasa dekat dengan-Nya. Penghuninya adalah hal-hal yang menjadi kebalikan dari itu semua.”
Melepaskan pandangan pun akan menjadikan hati buta, tidak dapat membedakan antara yang haq dan yang bathil, antara yang sunnah dan yang bid’ah, dan antara kebaikan dan keburukan. Tunduknya pandangan karena Allah akan membuahkan firasat yang benar yang dapat menjadi pembeda. Barang siapa menundukkan pandangannya dari hal-hal yang diharamkan Allah ‘Azza wa Jalla, niscaya Allah akan mencemerlangkan cahaya bashirahnya.
Itulah racun-racun mematikan bagi hati. Maka sudah menjadi tugas harian bagi kita untuk membuat hati kita terhindar dari racun-racun tersebut. Karena bila hati telah bersinar, maka berbagai amal kebaikan akan berdatangan dari berbagai penjuru untuk dilaksanakan. Sebagaimana bila ia berada dalam kegelapan maka berbagai bencana dan keburukan pun akan berdatangan dari berbagai tempat.
Yaa Muqollibal qulub, tsabit qulubana ‘ala diniik.
Yaa Mushorifal qulub, shorif qulubana ‘ala tho’atik.
Wallahu a’lam bish showab.
Catatan kaki:
[1] Kalimat yang biasa digunakan untuk menekankan suatu masalah.
[2] Riwayat at-Tirmidzi (al-Iman VII/362) dan al-Hakim dalam al-Mustadrak fi at-Tafsir (VI/142), shahih sesuai dengan syarat Bukhari-Muslim.
[3] Riwayat at-Tirmidzi (al-Birr wash Shilah VI/142). Beliau berkata, “Hadits ini shahih gharib.” Juga al-Hakim dalam al-Mustadrak fi Raqa’iq (IV.324).
[4] Riwayat Bukhari (ar-Raqa’iq XI/308) dan Muslim (az-Zuhd XVIII/117).
[5] Riwayat Bukhari (ar-Raqa’iq XI/308 dan al-Hudud XII/113) dari Sahl bin Sa’d.
[6] Riwayat Bukhari (ar-Raqa’iq XI/308) dan Muslim (al-Iman II/18).
[7] Hadits Shahih, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (az-Zuhd VI/607), Ahmad (al-Musnad I/201). Dalam tahqiq Musnad, Syaikh Ahmad Syakir mengatakan, isnadnya shahih.
[8] Hadits shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad (IV/132), at-Tirmidzi (az-Zuhd VII/51) dengan sedikit perbedaan redaksi. Al-Hakim mengatakan, “Hadits ini isnadnya shahih. Hanya saja Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya.” Adz-Dzahabi sepakat dengan al-Hakim (IV/331).
[9] Tazkiyatun Nafs, Ibnu Qayyim al-Jauziyah.[10]Riwayat Abu Dawud (an-Nikah VI/186), at-Tirmidzi (al-Adab VIII/61), dinyatakan shahih oleh al-Hakim sesuai dengan syarat Muslim, dan disepakati oleh adz-Dzahabi (II/194).
[11]Riwayat Muslim (al-Adab XIV/138).

0 komentar:

Agenda Harian

Semoga kita senantiasa terpacu untuk mengukir prestasi amal yang akan memperberat timbangan kebaikan di yaumil akhir, berikut rangkaian yang bisa dilakukan

1. Agenda pada sepertiga malam akhir

a. Menunaikan shalat tahajjud dengan memanjangkan waktu pada saat ruku’ dan sujud di dalamnya,

b. Menunaikan shalat witir

c. Duduk untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah hingga azan subuh

Rasulullah saw bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Sesungguhnya Allah SWT selalu turun pada setiap malam menuju langit dunia saat 1/3 malam terakhir, dan Dia berkata: “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku berikan, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni”. (HR. Bukhari Muslim)


2. Agenda Setelah Terbit Fajar

a. Menjawab seruan azan untuk shalat subuh

” الَّلهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِي وَعَدْتَهُ “

“Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini, shalat yang telah dikumandangkan, berikanlah kepada Nabi Muhammad wasilah dan karunia, dan bangkitkanlah dia pada tempat yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan. (Ditashih oleh Al-Albani)

b. Menunaikan shalat sunnah fajar di rumah dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Dua rakaat sunnah fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya”. (Muslim)

وَ قَدْ قَرَأَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِي رَكْعَتَي الْفَجْرِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدَ

“Nabi saw pada dua rakaat sunnah fajar membaca surat “Qul ya ayyuhal kafirun” dan “Qul huwallahu ahad”.

c. Menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid –khususnya- bagi laki-laki.

Rasulullah saw bersabda:

وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الْعَتْمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Sekiranya manusia tahu apa yang ada dalam kegelapan dan subuh maka mereka akan mendatanginya walau dalam keadaan tergopoh-gopoh” (Muttafaqun alaih)

بَشِّرِ الْمَشَّائِيْنَ فِي الظّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّوْرِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berikanlah kabar gembira kepada para pejalan di kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat”. (Tirmidzi dan ibnu Majah)

d. Menyibukkan diri dengan doa, dzikir atau tilawah Al-Quran hingga waktu iqamat shalat

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ

“Doa antara adzan dan iqamat tidak akan ditolak” (Ahmad dan Tirmidzi dan Abu Daud)

e. Duduk di masjid bagi laki-laki /mushalla bagi wanita untuk berdzikir dan membaca dzikir waktu pagi

Dalam hadits nabi disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إَذَا صَلَّى الْفَجْرَ تَرَبَّعَ فِي مَجْلِسِهِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ الْحَسَنَاءُ

” Nabi saw jika selesai shalat fajar duduk di tempat duduknya hingga terbit matahari yang ke kuning-kuningan”. (Muslim)

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya waktu fajar itu disaksikan (malaikat). (Al-Isra : 78) Dan memiliki komitmen sesuai kemampuannya untuk selalu:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah lebih banyak dari itu semua, maka akan menuai kebaikan berlimpah insya Allah.

3. Menunaikan shalat Dhuha walau hanya dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

“Setiap ruas tulang tubuh manusia wajib dikeluarkan sedekahnya, setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah, menolong orang dengan membantunya menaiki kendaraan atau mengangkat kan barang ke atas kendaraannya adalah sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, tiap-tiap langkahmu untuk mengerjakan shalat adalah sedekah, dan membersihkan rintangan dari jalan adalah sedekah”. (Bukhari dan Muslim)

4. Berangkat kerja atau belajar dengan berharap karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمِلِ يَدِهِ، وَكَانَ دَاوُدُ لا يَأْكُلُ إِلا مِنْ عَمِلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan makanan, lebih baik dari yang didapat oleh tangannya sendiri, dan bahwa nabi Daud makan dari hasil tangannya sendiri”. (Bukhari)

Dalam hadits lainnya nabi juga bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang berjalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. (Muslim)

d. Menyibukkan diri dengan dzikir sepanjang hari

Allah berfirman :

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah maka hati akan menjadi tenang” (Ra’ad : 28)

Rasulullah saw bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهَ أَنْ تَمُوْتَ ولسانُك رَطْبٌ من ذِكْرِ الله

“Sebaik-baik perbuatan kepada Allah adalah saat engkau mati sementara lidahmu basah dari berdzikir kepada Allah” (Thabrani dan Ibnu Hibban) .

5. Agenda saat shalat Zhuhur

a. Menjawab azan untuk shalat Zhuhur, lalu menunaikan shalat Zhuhur berjamaah di Masjid khususnya bagi laki-laki

b. Menunaikan sunnah rawatib sebelum Zhuhur 4 rakaat dan 2 rakaat setelah Zhuhur

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang shalat 12 rakaat pada siang dan malam hari maka Allah akan membangunkan baginya dengannya rumah di surga”. (Muslim).

6. Agenda saat dan setelah shalat Ashar

a. Menjawab azan untuk shalat Ashar, kemudian dilanjutkan dengan menunaikan shalat Ashar secara berjamaah di masjid

b. Mendengarkan nasihat di masjid (jika ada)

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ

“Barangsiapa yang pergi ke masjid tidak menginginkan yang lain kecuali belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya ganjaran haji secara sempurna”. (Thabrani – hasan shahih)

c. Istirahat sejenak dengan niat yang karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

وَإِنَّ لِبَدَنِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ

“Sesungguhnya bagi setiap tubuh atasmu ada haknya”.

Agenda prioritas:

Membaca Al-Quran dan berkomitmen semampunya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan, maka akan menuai kebaikan yang berlimpah insya Allah.

7. Agenda sebelum Maghrib

a. Memperhatikan urusan rumah tangga – melakukan mudzakarah – Menghafal Al-Quran

b. Mendengarkan ceramah, nasihat, khutbah, untaian hikmah atau dakwah melalui media

c. Menyibukkan diri dengan doa

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah”

8. Agenda setelah terbenam matahari

a. Menjawab azan untuk shalat Maghrib

b. Menunaikan shalat Maghrib secara berjamaah di masjid (khususnya bagi laki-laki)

c. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Maghrib – 2 rakaat

d. Membaca dzikir sore

e. Mempersiapkan diri untuk shalat Isya lalu melangkahkan kaki menuju masjid

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa yang bersuci/berwudhu kemudian berjalan menuju salah satu dari rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban dari kewajiban Allah, maka langkah-langkahnya akan menggugurkan kesalahan dan yang lainnya mengangkat derajatnya”. (Muslim)

9. Agenda pada waktu shalat Isya

a. Menjawab azan untuk shalat Isya kemudian menunaikan shalat Isya secara jamaah di masjid

b. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Isya – 2 rakaat

c. Duduk bersama keluarga/melakukan silaturahim

d. Mendengarkan ceramah, nasihat dan untaian hikmah di Masjid

e. Dakwah melalui media atau lainnya

f. Melakukan mudzakarah

g. Menghafal Al-Quran

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran dengan berkomitmen sesuai dengan kemampuannya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan bacaan maka telah menuai kebaikan berlimpah insya Allah.


Apa yang kita jelaskan di sini merupakan contoh, sehingga tidak harus sama persis dengan yang kami sampaikan, kondisional tergantung masing-masing individu. Semoga ikhtiar ini bisa memandu kita untuk optimalisasi ibadah insya Allah. Allahu a’lam

Jazaakillah

Sedikit revisi dari : http://www.al-ikhwan.net/agenda-harian-ramadhan-menuju-bahagia-di-bulan-ramadhan-2989/

Isi Blog

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.