Wahai saudaraku, ketahuilah…!!!, Bahwa dalam berdo’a kepada Allah hendaknya berupaya memenuhi syarat-syarat dalam berdo’a, memperhatikan adab-adabnya, dan memperhatikan pula waktu-waktu yang mustajab. Insya Allah, dengan memperhatikan itu semua, do’anya akan dikabulkan oleh Allah
A. Syarat-Syarat Dalam Berdo’a
1. Meyakini bahwa hanyalah Allah saja yang mampu mengabulkannya
Allah berfirman (artinya):
“Dan siapakah yang mampu mengabulkan do’a orang yang kesulitan dan menghilangkan kesusahan bila ia berdo’a kepada-Nya ?” (An Naml: 62)
Rasulullah bersabda:
ادْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ بِالإِجَابَةِ
“Berdo’alah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin do’anya akan dikabulkan.” (HR. At Tirmidzi no. 3479, Shahihul Jami’ no. 245)
2. Mengikhlaskan do’a hanya kepada-Nya
Allah berfirman (artinya): “Dan berdo’alah kepada Allah dengan mengikhlaskan ibadah (do’a) kepada-Nya.” (Al A’raf: 29)
3. Berdo’a untuk kebaikan dan tidak tergesa-gesa
Rasulullah bersabda:
لاَ يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيْعَةِ رَحْمٍ مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ قِيْلَ يَارَسُولَ اللهِ ! مَا الاِسْتِعْجَالُ ؟ يَقُولَ : قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ أرَ يَسْتَجِيْبُ لِي فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ
“Senantiasa akan dikabulkan do’a seorang hamba, selama tidak untuk berbuat dosa, tidak untuk memutuskan silaturahmi dan tidak pula (memiliki sikap) tergesa-gesa (isti’jal). Wahai Rasulullah , apa yang dimaksud dengan isti’jal? Beliau menjawab: “Padahal aku telah berdo’a, padahal aku telah berdo’a, namun masih saja belum dikabulkan. Sehingga ia berhenti dan meninggalkan dari berdo’a (kepada Allah).” (HR. Muslim no. 2735)
4. Berprasangka baik kepada Allah
Rasulullah bersabda:
يَقُولُ اللهُ : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ حَيْثُ يَذْكُرُنِي
“Allah berfirman (artinya): “Aku menyikapi (hamba-Ku) berdasarkan prasangka dia kepada-Ku. Dan Aku bersamanya selama dia mengingat-Ku.” (HR. Al Bukhari no. 7405 dan Muslim no. 2675)
Berprasangka baik kepada Allah dengan meyakini apa yang telah diputuskan oleh Allah adalah jalan yang terbaik bagi hamba. Karena hamba itu lemah untuk mengetahui hakekat kebaikan bagi dirinya. Semisal anak kecil, sangat bahaya bila ia diberi mainan yang ber-api. Walaupun pada dasarnya api itu sangat bermanfaat sekali.
Allah berfirman (artinya): “Bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal itu adalah amat baik bagi kalian, bisa jadi pula kalian menyukai sesuatu padahal itu adalah amat buruk bagi kalian. Allah Yang Mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahuinya.” (Al Baqarah: 216)
5. Menjauhi perkara-perkara yang haram
Allah berfirman (artinya):
“Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertaqwa.” (Al Maidah: 24)
Dari Abu Hurairah meriwayatkan hadits dari Rasulullah , beliau bersabda (artinya): “Sesungguhnya Allah tidak menerima kecuali yang baik. Lalu beliau menyebutkan seseorang yang lama bersafar (bepergian), rambutnya kusut, berdebu, kemudian ia menengadahkan kedua tangannya seraya berdo’a, wahai Rabbi, wahai Rabbi. Tetapi makanan, minuman, dan pakaiannya berasal dari yang haram, maka bagaimana mungkin akan dikabulkan do’anya?.” (HR. Muslim no. 105)
5. Tidak melalaikan perkara-perkara yang wajib
Seperti shalat lima waktu, bila waktu shalat telah datang dan adzan telah dikumandangkan, maka seharusnya segera menjawab adzan, menunaikan shalat berjama’ah dan tidak selayaknya menunda-nunda/mengakhirkan atau bahkan meninggalkannya.
Wahai saudaraku ketahuilah…!!! Sesungguhnya menunaikan ibadah-ibadah yang wajib dan ibadah-ibadah yang sunnah (seperti shadaqah/infaq atau lainnya), justru itu sebagai wasilah (perantara) terbesar untuk dikabulkannya do’a. Sebaliknya meninggalkan ibadah-ibadah yang wajib itu sebagai penghalang terbesar dikabulkannya do’a.
B. Adab-Adab Dalam Berdo’a
Di antaranya:
1. Memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi
Rasulullah bersabda:
إَذَا صَلَّيْتَ فَقَعَدْتَ فَاحْمَدِ اللهَ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ وَصَلِّ عَلَيَّ ثُمَّ ادعُهُ
“Jika kamu telah selesai shalat lalu kamu duduk, maka pujilah Allah dengan apa yang pantas bagi-Nya dan bershalawatlah kapadaku, kemudian barulah kamu berdo’a.” (HR. At Tirmidzi no. 3467, Shahihul Jami’ no. 3988)
كُلُّ دُعَاءٍ مَحْجُوْبٍ حَتَّى يُصَلِّيَ عَلَى النَّبِي
“Setiap do’a itu terhalang hingga ia bershalawat kepada Nabi .” (HR. At Tirmidzi no. 486, Shahihul Jami’ no. 4523)
2. Bertawassul dengan Al Asmaul Husna (nama-nama Allah yang mulia)
Allah berfirman (artinya):
“Dan Allah memiliki Al Asmaul Husna (nama-nama yang baik), maka berdo’alah kepada Allah dengan menyebut nama-nama tersebut.” (Al A’raf: 180)
Sebagai contohnya: Ya Razzaq (Wahai Yang Maha Pemberi rizqi) berikanlah/lapangkanlah kepadaku rizqi, Ya Ghaffar (Wahai Yang Maha Pengampun) ampunilah aku, Ya Rahim (Wahai Yang Maha Pemberi rahmat) limpahkanlah kepadaku rahmat-Mu, … dst.
3. Mengakui dosa dan kesalahan
Allah berfirman (artinya):
“Wahai Rabb-kami, kami adalah orang-orang yang berbuat zhalim pada diri-diri kami, kalau sekiranya Engkau tidak mengampuni (dosa-dosa) dan merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Al A’raf: 23)
Demikian juga konteks do’a yang dikenal dengan sayyidul istighfar termasuk konteks do’a yang paling sempurna. Diantara sebab kesempurnaannya, karena terkandung pengakuan dosa dan kesalahan. Sebagaimana hadits Syaddad bin Aus , bahwa Nabi bersabda:
سَيِّدُ الإِسْتِغْفَارِ أَنْ يَقُوْلَ الْعَبْدُ : اللهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَ أَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَاسْتَطَعْتُ ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ وَأَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَليَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
“Pemimpin istighfar yaitu do’anya seorang hamba: “Ya Allah, Engkau adalah Rabb-ku, tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Engkau. Engkau yang menciptakanku, aku adalah hamba-Mu, dan aku di atas ikatan dan janji-Mu sesuai kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelakan yang pernah aku kerjakan. Aku mengakui semua nikmat-Mu kepadaku, dan aku mengakui semua dosa-dosaku, maka ampunilah aku karena tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.”
“Barangsiapa mengucapkan do’a tersebut pada siang hari dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum sore hari, maka ia termasuk penghuni Al Jannah. Barangsiapa mengucapkannya pada malam hari dengan penuh keyakinan lalu dia meninggal sebelum pagi, maka ia termasuk penghuni Al Jannah. (HR. Al Bukhari no. 6306)
4. Khusyu’ dan menghadirkan hati
Allah berfirman (artinya): “Sesungguhnya mereka (para nabi) selalu bersegera di dalam kebaikan, dan selalu bersegera berdo’a dengan penuh harap dan cemas, serta mereka (berdo’a) dalam keadaan khusyu’.” (Al Anbiya’: 90)
Rasulullah bersabda:
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ لاَيَسْتَجِيْبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ لاَهٍ
“Ketahuilah, bahwasanya Allah tidak akan mengabulkan suatu do’a dari hati yang lalai.” (HR. At Tirmidzi no. 3479, lihat Shahihul Jami’ no. 245)
5. Mantap dan bersungguh-sungguh dalam berdo’a
Rasulullah bersabda:
لاَيَقُولَُ أَحَدُكُمْ اللهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ اللهُمَّ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ لِيَعزِمَ الْمَسْئَلَةَ فَإِنَّ اللهَ لاَمُسْتَكْرِهَ لَهُ
“Janganlah salah seorang di antara kalian mengatakan: “Ya, Allah ampunilah aku jika engkau kehendaki, rahmatilah aku jika Engkau kehendaki. Tetapi hendak dia mantap (bersungguh-sungguh) di dalam memohon, sesungguhnya Allah tidak ada yang memaksa-Nya.” (HR. Al Bukhari no. 6339 dan Muslim no. 2678)
6. Mengangkat kedua tangannya
Rasulullah bersabda:
إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَ تَعَالَى حَيِيٌّ كَرِيْمٌ يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا
“Sesungguhnya Rabb-kalian تَبَارَكَ وَ تَعَالَى adalah Dzat Maha Pemalu dan Maha Pengasih, Dia malu kepada hamba-Nya yang menengadakan kedua tangannya kepada-Nya, lalu Dia mengembalikan kedua tangannya tanpa membawa hasil.” (HR. Abu Dawud no. 1488)
7. Berwudhu’ sebelum berdo’a
Berdasarkan hadits Abu Musa Al Asy’ari ketika Nabi selesai dari perang Hunain. Abu Musa berkata: “Beliau meminta air lalu berwudhu’, kemudian beliau menengadahkan kedua tangannya seraya berdo’a: “Ya Allah, ampunilah Ubaid bin Amir! Dan aku dapat melihat putihnya kedua ketiak beliau (saat beliau mengangkat kedua tangannya).” (HR. Al Bukhari no. 4323 dan Muslim no. 2498)
8. Berdo’a pada setiap keadaan
Yaitu berdo’a di saat lapang atau susah, suka ataupun duka. Biasanya, orang itu lebih cenderung sungguh-sungguh dan memperbanyak do’a manakala datang padanya kesulitan dan kesusahan, namun bila ia dalam keadaan lapang, cenderung lalai dan kurang sungguh-sungguh dalam berdo’a. Hal ini kurang tepat, karena Allah akan lebih mengabulkan do’a seorang hamba di saat sulit dan susah bila ia memperbanyak do’a di saat lapang.
Berdasarkan hadits Abu Hurairah , bahwa Rasulullah bersabda:
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِيْبَ اللهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَالْكَرْبِ فَلْيُكْثِرْ مِنَ الدُّعَاءِ فِي الرَّخَاءِ
“Barangsiapa yang senang Allah mengabulkan do’anya di saat kondisi-kondisi sulit dan susah, maka hendaknya dia memperbanyak do’a di saat lapang.” (HR. At Tirmidzi no. 3382, Ash Shahihah no. 593)
9. Mendo’akan kebaikan untuk saudara-saudaranya yang beriman
Di dalam berdo’a, di samping untuk dirinya sendiri, maka jangan lupa mendo’akan saudaranya yang seiman. Allah berfirman (artinya):
“Mohonlah ampun bagi dosamu, dan bagi dosa-dosa orang-orang mukminin dan mukminat.” (Muhammad: 19)
Rasulullah bersabda:
مَامِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لأَخِيْهِ بِظَهْرِالْغَيْبِ إِلاَّ قَالَ المَلَكُ : وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Tidaklah seorang muslim yang mendo’akan kebaikan bagi saudaranya tanpa sepengetahuannya, kecuali Malaikat akan berkata: “Dan semoga engkau akan mendapatkan semisal do’amu itu.” (HR. Muslim no. 2732)
C. Waktu-Waktu Mustajabah
Di antaranya:
1. Malam Lailatul Qadar.
2. Pertengahan malam dan di waktu sahur. (Lihat Adz Dzariyat: 18 dan HR. Al Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758, dari Abu Hurairah )
4. Antara adzan dan iqamah. (Lihat HR. Abu Dawud no. 521, At Tirmidzi no. 2121, Ahmad 3/155, Shahihul Jami’ no. 3408, dari Anas bin Malik )
5. Pada hari Jum’at (terkhusus setelah shalat Ashar). (Lihat HR Al Bukhari no. 953 dan Muslim no. 852)
6. Pada bulan Ramadhan. (Lihat HR. Al Bazzar no. 926, Shahih At Targhib wat Tarhib 1/419)
7. Pada hari Arafah. (Lihat HR. At Tirmidzi no. 3585, Shahihul Jami’ no. 3274)
8. Ketika safar (bepergian). (Lihat Shahih Al Adabul Mufrad no. 372)
9. Ketika puasa. (Lihat HR. Shahihul Jami’ no. 2032 dan Ash Shahihah no. 1797)
10. Do’a orang tua untuk kebaikan anaknya. (Lihat H.R. Al Baihaqi 3/485, Jami’ush Shahih no. 2032, dan Ash Shahihah no. 1797)
11. Do’a anak untuk kebaikan orang tuanya. (lihat H.R. Muslim no. 1631, dari Abu Hurairah )
12. Do’a di sisi orang yang sakit. (Lihat H.R. Muslim no. 919, dari Ummu Salamah)
13. Ketika sujud.
(Lihat HR. Muslim no. 482)
Demikianlah tulisan yang sangat ringkas ini, semoga dapat menambah keteguhan do’a kita kepada Allah Amiin, Ya Rabbal alamiin.
sumber: http://www.assalafy.org/mahad/?p=128

0 komentar:

Agenda Harian

Semoga kita senantiasa terpacu untuk mengukir prestasi amal yang akan memperberat timbangan kebaikan di yaumil akhir, berikut rangkaian yang bisa dilakukan

1. Agenda pada sepertiga malam akhir

a. Menunaikan shalat tahajjud dengan memanjangkan waktu pada saat ruku’ dan sujud di dalamnya,

b. Menunaikan shalat witir

c. Duduk untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah hingga azan subuh

Rasulullah saw bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Sesungguhnya Allah SWT selalu turun pada setiap malam menuju langit dunia saat 1/3 malam terakhir, dan Dia berkata: “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku berikan, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni”. (HR. Bukhari Muslim)


2. Agenda Setelah Terbit Fajar

a. Menjawab seruan azan untuk shalat subuh

” الَّلهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِي وَعَدْتَهُ “

“Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini, shalat yang telah dikumandangkan, berikanlah kepada Nabi Muhammad wasilah dan karunia, dan bangkitkanlah dia pada tempat yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan. (Ditashih oleh Al-Albani)

b. Menunaikan shalat sunnah fajar di rumah dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Dua rakaat sunnah fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya”. (Muslim)

وَ قَدْ قَرَأَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِي رَكْعَتَي الْفَجْرِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدَ

“Nabi saw pada dua rakaat sunnah fajar membaca surat “Qul ya ayyuhal kafirun” dan “Qul huwallahu ahad”.

c. Menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid –khususnya- bagi laki-laki.

Rasulullah saw bersabda:

وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الْعَتْمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Sekiranya manusia tahu apa yang ada dalam kegelapan dan subuh maka mereka akan mendatanginya walau dalam keadaan tergopoh-gopoh” (Muttafaqun alaih)

بَشِّرِ الْمَشَّائِيْنَ فِي الظّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّوْرِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berikanlah kabar gembira kepada para pejalan di kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat”. (Tirmidzi dan ibnu Majah)

d. Menyibukkan diri dengan doa, dzikir atau tilawah Al-Quran hingga waktu iqamat shalat

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ

“Doa antara adzan dan iqamat tidak akan ditolak” (Ahmad dan Tirmidzi dan Abu Daud)

e. Duduk di masjid bagi laki-laki /mushalla bagi wanita untuk berdzikir dan membaca dzikir waktu pagi

Dalam hadits nabi disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إَذَا صَلَّى الْفَجْرَ تَرَبَّعَ فِي مَجْلِسِهِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ الْحَسَنَاءُ

” Nabi saw jika selesai shalat fajar duduk di tempat duduknya hingga terbit matahari yang ke kuning-kuningan”. (Muslim)

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya waktu fajar itu disaksikan (malaikat). (Al-Isra : 78) Dan memiliki komitmen sesuai kemampuannya untuk selalu:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah lebih banyak dari itu semua, maka akan menuai kebaikan berlimpah insya Allah.

3. Menunaikan shalat Dhuha walau hanya dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

“Setiap ruas tulang tubuh manusia wajib dikeluarkan sedekahnya, setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah, menolong orang dengan membantunya menaiki kendaraan atau mengangkat kan barang ke atas kendaraannya adalah sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, tiap-tiap langkahmu untuk mengerjakan shalat adalah sedekah, dan membersihkan rintangan dari jalan adalah sedekah”. (Bukhari dan Muslim)

4. Berangkat kerja atau belajar dengan berharap karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمِلِ يَدِهِ، وَكَانَ دَاوُدُ لا يَأْكُلُ إِلا مِنْ عَمِلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan makanan, lebih baik dari yang didapat oleh tangannya sendiri, dan bahwa nabi Daud makan dari hasil tangannya sendiri”. (Bukhari)

Dalam hadits lainnya nabi juga bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang berjalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. (Muslim)

d. Menyibukkan diri dengan dzikir sepanjang hari

Allah berfirman :

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah maka hati akan menjadi tenang” (Ra’ad : 28)

Rasulullah saw bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهَ أَنْ تَمُوْتَ ولسانُك رَطْبٌ من ذِكْرِ الله

“Sebaik-baik perbuatan kepada Allah adalah saat engkau mati sementara lidahmu basah dari berdzikir kepada Allah” (Thabrani dan Ibnu Hibban) .

5. Agenda saat shalat Zhuhur

a. Menjawab azan untuk shalat Zhuhur, lalu menunaikan shalat Zhuhur berjamaah di Masjid khususnya bagi laki-laki

b. Menunaikan sunnah rawatib sebelum Zhuhur 4 rakaat dan 2 rakaat setelah Zhuhur

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang shalat 12 rakaat pada siang dan malam hari maka Allah akan membangunkan baginya dengannya rumah di surga”. (Muslim).

6. Agenda saat dan setelah shalat Ashar

a. Menjawab azan untuk shalat Ashar, kemudian dilanjutkan dengan menunaikan shalat Ashar secara berjamaah di masjid

b. Mendengarkan nasihat di masjid (jika ada)

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ

“Barangsiapa yang pergi ke masjid tidak menginginkan yang lain kecuali belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya ganjaran haji secara sempurna”. (Thabrani – hasan shahih)

c. Istirahat sejenak dengan niat yang karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

وَإِنَّ لِبَدَنِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ

“Sesungguhnya bagi setiap tubuh atasmu ada haknya”.

Agenda prioritas:

Membaca Al-Quran dan berkomitmen semampunya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan, maka akan menuai kebaikan yang berlimpah insya Allah.

7. Agenda sebelum Maghrib

a. Memperhatikan urusan rumah tangga – melakukan mudzakarah – Menghafal Al-Quran

b. Mendengarkan ceramah, nasihat, khutbah, untaian hikmah atau dakwah melalui media

c. Menyibukkan diri dengan doa

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah”

8. Agenda setelah terbenam matahari

a. Menjawab azan untuk shalat Maghrib

b. Menunaikan shalat Maghrib secara berjamaah di masjid (khususnya bagi laki-laki)

c. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Maghrib – 2 rakaat

d. Membaca dzikir sore

e. Mempersiapkan diri untuk shalat Isya lalu melangkahkan kaki menuju masjid

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa yang bersuci/berwudhu kemudian berjalan menuju salah satu dari rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban dari kewajiban Allah, maka langkah-langkahnya akan menggugurkan kesalahan dan yang lainnya mengangkat derajatnya”. (Muslim)

9. Agenda pada waktu shalat Isya

a. Menjawab azan untuk shalat Isya kemudian menunaikan shalat Isya secara jamaah di masjid

b. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Isya – 2 rakaat

c. Duduk bersama keluarga/melakukan silaturahim

d. Mendengarkan ceramah, nasihat dan untaian hikmah di Masjid

e. Dakwah melalui media atau lainnya

f. Melakukan mudzakarah

g. Menghafal Al-Quran

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran dengan berkomitmen sesuai dengan kemampuannya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan bacaan maka telah menuai kebaikan berlimpah insya Allah.


Apa yang kita jelaskan di sini merupakan contoh, sehingga tidak harus sama persis dengan yang kami sampaikan, kondisional tergantung masing-masing individu. Semoga ikhtiar ini bisa memandu kita untuk optimalisasi ibadah insya Allah. Allahu a’lam

Jazaakillah

Sedikit revisi dari : http://www.al-ikhwan.net/agenda-harian-ramadhan-menuju-bahagia-di-bulan-ramadhan-2989/

Isi Blog

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.