Pertanyaan:
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu
Kaifa haluk akhi? Semoga antum & keluarga senantiasa sehat meskipun diliputi oleh udara dingin di Dammam sekarang ini.
Akhi, melalui email ini ana ingin meminta nasihat dari antum sebagai saudara, sahabat, sekaligus orang yg lebih 'alim dari ana.
Begini akhi, belakangan ini ana mempunyai ketidakpuasan thd perusahaan tempat ana bekerja, berkaitan dg kebijakan2 perusahaan yg ana nilai kurang adil.
Nah, seperti antum selalu nasihatkan ke ana bahwa "hadapi semuanya dg ilmu", maka pd kesempatan kali ini ana meminta nasihat dari antum bagaimana cara mengaplikasikan dan memadukan antara sifat ikhlas, tawadhu, zuhud, qana'ah, sabar, & syukur didalam lingkup pekerjaan, agar pekerjaan ana dapat menjadi sarana bertaqwa kpd Allah dan ana senantiasa diliputi perasaan nyaman di dalam bekerja.
Demikian akhi, semoga Allah memberikah taufiq kpd antum agar dpt memberikan nasihat yg akan bermanfaat bagi ana, dan semoga nasihat itu nantinya dapat menambah tabungan amal saleh bagi antum di akhirat kelak. Amin.
Jazakumullahu khairan
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu
Afwan, tambahan, yg ana maksud dg "kebijakan perusahaan kurang adil" itu misalnya:
Kenaikan gaji yg rendah. Promosi jabatan tdk mempertimbangkan faktor kemampuan karyawan, tetapi lebih melihat ke "orang lama" atau "dekat dg boss" daripada memperhatikan kapabilitas (kemampuan) karyawan.
Jawaban:
Alhmadulillah baik, saudaraku…
Semoga yang berdoa mendapat yang lebih baik dari apa yang telah dia doakan, Allahumma amin.
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين, أما بعد:
Dengan Nama-nama Allah Yang Husna dan Sifat-sifat-Nya Yang 'Ula, saya berdoa:
« اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا ».
Artinya: "Ya Allah, berilah kami rasa takut kepada-Mu, yang menghalangi antara kami dan maksiat kepada-Mu, berilah kami keta'atan Kepada-Mu, yang menyampaikan kami kepada surga-Mu, berilah kami keyakinan, yang meringankan kami atas coban-cobaan dunia, berilah kami kenikmatan dengan pendengaran, penglihatan dan kekuatan kami selama Engkau menghidupkan kami, jadikanlah hal tersebut sebagai pewaris dari kami, jadikanlah pembalasan kami atas orang yang menzhalimi kami, berilah kami kemenangan atas orang yang memusuhi kami, janganlah jadikan bencana dalam agama kami dan janganlah jadikan dunia hasrat kami yang paling besar dan tujuan dari ilmu kami dan janganlah jadikan pemimpin kami orang yang tidak mengasihi kami".
Ini adalah doa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, sebagaimana dalam sebuah hadits hasan yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata: "Tidaklah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bangun dari tempat duduknya sampai berdoa untuk para shahabatnya dengan doa ini"[1].
Saudaraku seiman…
Sebelumnya ketahuilah, bahwa dunia dipandang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para shahabatnya adalah sebuah ujian dan sesuatu yang dihinakan, coba perhatikan hadits-hadits di bawah ini:
وعن عبد الله بن مسعود - رضي الله عنه - ، قَالَ : نَامَ رسول الله - صلى الله عليه وسلم - عَلَى حَصيرٍ ، فَقَامَ وَقَدْ أثَّرَ في جَنْبِهِ ، قُلْنَا : يَا رَسُولَ اللهِ ، لَوْ اتَّخَذْنَا لَكَ وِطَاءً . فَقَالَ : ((مَا لِي وَلِلدُّنْيَا ؟ مَا أَنَا في الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا))
Artinya: "Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidur di atas tikar, kemudian bangun dan tikar tersebut memberikan bekas di bagian tubuh beliau, kemudian kami mengatakan kepada beliau: "Jikalau kami boleh mengambilkan permadani yang bagus untukmu (maka akan lebih baik bagimu daripada engkau tidur di atas tikar ini)", kemudian beliu bersabda: "Ada hubungan apa aku dengan dunia, aku di dunia tidak lain kecuali seperti seorang musafir yang bernaung di bawah pohon kemudian pergi meninggalkannya"[2].
وعن سهلِ بن سعد الساعدي - رضي الله عنه - ، قَالَ : قَالَ رسول الله - صلى الله عليه وسلم - : (( لَوْ كَانَت الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ الله جَنَاحَ بَعُوضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِراً مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ ))
Artinya: "Dari Sahl bin Sa'ad As Sa'idy radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jikalau dunia di sisi Allah senilai dengan satu sayap nyamuk maka Dia tidak akan menuangkan bagi seorang kafirpun satu tegukan air"[3].
وعن المُسْتَوْرِد بن شَدَّاد - رضي الله عنه -، قَالَ: قَالَ رسول الله - صلى الله عليه وسلم -: (( مَا الدُّنْيَا في الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ أُصْبُعَهُ في اليَمِّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ ! ))
Artinya: "Dari Al Mustawrid bin Syaddad radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kehidupan dunia tidak bisa dibandingkan dengan kehidupan akhirat kecuali seperti seseorang memasukkan satu jarinya ke dalam lautan maka lihatlah seberapa yang jatuh kembali dari jari tersebut"[4].
وعن جابر - رضي الله عنه - : أنَّ رسول الله - صلى الله عليه وسلم - مَرَّ بالسُّوقِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَيْهِ ، فَمَرَّ بِجَدْيٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ ، فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ ، ثُمَّ قَالَ : (( أَيُّكُم يُحِبُّ أنْ يَكُونَ هَذَا لَهُ بِدرْهَم ؟ )) فقالوا : مَا نُحِبُّ أنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ ؟ ثُمَّ قَالَ : (( أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ ؟ )) قَالُوا : وَاللهِ لَوْ كَانَ حَيّاً كَانَ عَيْباً ، إنَّهُ أسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ ميِّتٌ ! فقال : (( فوَاللهِ للدُّنْيَا أهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ )) رواه مسلم .7607
Artinya: "Dari Jabir radhiyallahu 'anhu: bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melewati sebuah pasar dan orang berada di samping beliau, kemudian beliau melewati bangkai kambing yang cacat telinganya, kemudian beliau mengambilnya lalu memegang telinganya, kemudian bersabda:"Siapakah diantara kalian yang menginginkan ini hanya dengan harga satu dirham?", mereka menjawab: "Kami tidak mau membelinya dengan apapun, apa yang bisa kami perbuat dengannya?", kemudian beliau bersabda: "Maukah ini diberikan sebagai hadiah untuk kalian?", mereka menjawab: "Demi Allah, jikalau saja ia hidup niscaya adalah aib, karena ia cacat, telingannya kecil, lalu bagiamanakah ia dalam keadaan bangkai!", beliau bersabda: "Demi Allah sungguh dunia untuk kalian lebih hina di sisi Allah daripada bangkai ini"[5].
وعن ابن عمر رضي الله عنهما ، قَالَ : أخذ رسول الله - صلى الله عليه وسلم - بِمَنْكِبَيَّ ، فقال : (( كُنْ في الدُّنْيَا كَأنَّكَ غَرِيبٌ ، أَو عَابِرُ سَبيلٍ )) . وَكَانَ ابن عُمَرَ رضي الله عنهما ، يقول : إِذَا أمْسَيتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ المَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ ..
Artinya: "Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memegang kedua pundakku, kemudia bersabda: "Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau musafir", dan Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma senantiasa berkata: "Jika kamu memasuki waktu sore maka janganlah tunggu waktu pagi dan Jika kamu memasuki waktu pagi maka janganlah tunggu waktu sore, pergunakanlah kesehatanmu untuk sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu"[6].
وعن كعب بن عياض - رضي الله عنه - ، قَالَ : سَمِعْتُ رسول الله - صلى الله عليه وسلم - ، يقول : (( إنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً ، وفِتْنَةُ أُمَّتِي : المَالُ ))
Artinya: "Dari Ka'ab bin 'Iyadh radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Aku telah mendengar Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah dan fitnah umatku adalah harta"[7].
وعن خَبابِ بن الأَرَتِّ - رضي الله عنه - ، قَالَ : هَاجَرْنَا مَعَ رسول الله - صلى الله عليه وسلم - نَلْتَمِسُ وَجْهَ اللهِ تَعَالَى ، فَوَقَعَ أجْرُنَا عَلَى اللهِ ، فَمِنَّا مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَأكُل منْ أجْرِهِ شَيْئاً ، مِنْهُمْ : مُصْعَبُ بن عُمَيْرٍ - رضي الله عنه - ، قُتِلَ يَوْمَ أُحُد ، وَتَرَكَ نَمِرَةً ، فَكُنَّا إِذَا غَطَّيْنَا بِهَا رَأْسَهُ ، بَدَتْ رِجْلاَهُ ، وَإِذَا غَطَّيْنَا بِهَا رِجْلَيْهِ ، بَدَا رَأسُهُ ، فَأمَرَنَا رسول الله - صلى الله عليه وسلم - ، أنْ نُغَطِّي رَأسَهُ ، وَنَجْعَل عَلَى رِجْلَيْهِ شَيْئاً مِنَ الإذْخِرِ، وَمِنَّا مَنْ أيْنَعَتْ لَهُ ثَمَرَتُهُ ، فَهُوَ يَهْدِبُهَا . متفقٌ عَلَيْهِ .
Artinya: "Dari Khabbab bin Al Arat radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Kami berhijrah bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mencari wajah Allah Ta'ala, maka pahalanya kami serahkan kepada Allah, diantara kami ada yang meninggal dan belum memakan apapun dari pahalanya, seperti Mus'ab bin Umair radhiyallahu 'anhu, beliau terbunuh di peperangan Uhud dan hanya meninggalkan satu kain bergaris putih dan hitam, jika kami tutup dengannya kepalanya terlihat kedua kakinya dan jika kami tutup dengannya kedua kakinya terlihat kepalanya, lalu Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kami untuk menutup kepalanya dan menutup kedua kakinya dengan daun pohon idzkhir[8] dan diantara kami ada yang buahnya sudah matang dan ia memetiknya"[9]
Masuk ke jawaban dari pertanyaan antum, maka saya katakan:
Diperhatikan dalam menghadapi permasalahan antum ini, ada beberapa hal yang harus dikerjakan dan bukan berarti selama ini antum belum mengerjakannya, akan tetapi ini hanya sebagai nasehat bagi saya sebelumnya kemudian antum;
- Jujur (ini yang mungkin antum maksudkan dengan ikhlash). Dan ada beberapa perkara yang mendorong kita untuk selalu berlaku jujur:
- Meminta pertolongan kepada Allah Ta'ala agar selalu bersikap jujur
- Selalu merasa diawasi oleh Allah Ta'ala
- Membiasakan diri untuk jujur
- Berteman dengan orang-orang yang jujur
- Sering membaca Al Quran dan mentadabburi maknanya, karena Al Quran memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus.
- Ingatlah selalu sabda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا...
Artinya: "Hendaklah kalian selalu jujur karena sesungguhnya jujur menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan menunjukkan kepada surga, masih saja seseorang jujur dan selalu berusaha jujur sehingga di tulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur…"[10].
- Amanah, karena inilah wasiat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam kepada Abu Musaradhiyallahu 'anhu:
أَدِّ الأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ وَلاَ تَخُنْ مَنْ خَانَكَ
Artinya: "Tunaikanlah amanat kepada yang memberikan amanat kepada anda dan janganlah kamu khianati orang yang mengkhianatimu"[11].
Dan ketahuilah bahwa amanat itu di bagi menjadi dua:
- Hak-hak Allah terhadap hambanya
- Hak-hak yang berada diantara para manusia dan hamba Allah Ta'ala
- Sabar, termasuk dari taufik Allah Ta'ala dan tanda kebaikan seseorang ketika mendapatkan kesusahan lalu ia bersabar.
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ} [آل عمران: 200]
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung"[12].
Dan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
وَمَا أُعْطِىَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
Artinya: "Dan tidak ada seseorang diberikan sebuah pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran"[13].
Dan ketahuilah, seorang hamba pasti selalu membutuhkan sifat sabar dalam setiap keadaannya, karena apa saja yang ditemui oleh seorang hamba tidak lebih dari dua keadaan:
Pertama, perkara-perkara yang sesuai dengan keinginan dan hawa nafsunya yaitu berupa kesehatan, keselamatan, harta, pangkat, banyaknya pengikut dan seluruh kesenangan dunia. Untuk menghadapi akan perkara-perkara ini sudah pasti seorang hamba sangat membutuhkan sifat sabar agar tidak tergelincir dalam hal-hal maksiat disebabkan nikmat-nikmat tersebut, Allah Ta'ala berfirman:
{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ} [المنافقون: 9]
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi"[14].
Kedua, Perkara-perkara yang tidak sesuai dengan hawa nafsu, seperti; keta'atan, musibah maka hal ini sangat diperlukan kesabaran yang lebih dengan menjauhinya.
Dan ketauhilah, kalau ingin menerapkan sifat sabar yang hakiki maka harus mengerjakan beberapa hal berikut ini:
- Bersabar ketika mendapatkan musibah pertama kali[15]
- Beristirja' ketika mendapatkan musibah, dengan mengucapkan:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا
Artinya: "Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kita akan kembali kepada-Nya, Ya Allah berikanlah aku ganjaran di dalam musibahku ini dan gantilah bagiku yang lebih baik darinya"[16].
- Tenangnya lisan dan anggota tubuh
- Tidak memperlihatkan bekas musibah
- Tawakkal, yaitu penyandaran hati kepada Al Wakil (salah satu dari Nama Allah Ta'ala), dan seorang muslim tidak memandang bertawakkal kepada Allah Ta'ala di setiap perbuatannya sebagai kewajiban akhlaq saja akan tetapi hal ini adalah kewajiban beragama dan termasuk keyakinan islam, hal ini berdasarkan perintah Allah Ta'ala:
{ وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ} [المائدة: 23]
Artinya: "Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman"[17].
Dan seorang muslim harus mengetahui bahwa Allah Ta'ala Dialah Yang Maha Pemberi Rizqi atas segala sesuatu, karena tidak ada satu kebaikanpun yang dirasakan oleh seluruh makhluq kecuali itu berasal dari Allah Ta'ala:
{وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ} [هود: 6]
Artinya: "Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz)"[18].
Dan termasuk kebaikan tawakkal seorang manusia kepada Allah Ta'ala adalah tidak mencari keridhaan manusia dengan menggunakan kemurkaan Allah Ta'ala, berdasarkan sebuah hadits:
مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ
Artinya: "Barangsiapa yang mencari keridhaan Allah dengan kemurkaan manusia maka Allah akan mencukupkan baginya keperluan terhadap manusia dan barangsiapa yang mencari keridhaan manusia dengan kemurkaan Allah maka Allah akan menyerahkan urusannya kepada manusia"[19].
- Qana'ah (selalu merasa puas), saudaraku… mari kita perhatikan hadits-hadits di bawah ini, semoga kita memahami benar-benar apa yang dimaksudkan dengan sifat qana'ah:
عن أَبي هريرة - رضي الله عنه - ، عن النبي - صلى الله عليه وسلم - ، قَالَ : لَيْسَ الغِنَى عَن كَثرَةِ العَرَض ، وَلكِنَّ الغِنَى غِنَى النَّفْسِ
Artinya: "Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bukanlah kekayaan dengan banyaknya harta akan tetapi kekayaan adalah kayanya jiwa"[20].
وعن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما : أنَّ رسول الله - صلى الله عليه وسلم - ، قَالَ : (( قَدْ أفْلَحَ مَنْ أسْلَمَ ، وَرُزِقَ كَفَافاً ، وقَنَّعَهُ الله بِمَا آتَاهُ )) رواه مسلم
Artinya: "Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Telah beruntung orang yang menyerahkan diri dan diberikan sifat kafaf[21] serta dipuaskan dirinya oleh Allah terhadap apa yang telah Dia bagikan untuknya"[22].
وعن حكيم بن حزام - رضي الله عنه - ، قَالَ : سألتُ رسول الله - صلى الله عليه وسلم - فَأعْطَانِي ، ثُمَّ سَألْتُهُ فَأَعْطَانِي ، ثُمَّ سَألْتُهُ فَأعْطَانِي ، ثُمَّ قَالَ : (( يَا حَكِيم ، إنَّ هَذَا المَالَ خَضِرٌ حُلْوٌ ، فَمَنْ أخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ ، وَمَنْ أخَذَهُ بإشرافِ نَفسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ ، وَكَانَ كَالَّذِي يَأكُلُ وَلاَ يَشْبَعُ ، وَاليَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ اليَدِ السُّفْلَى )) قَالَ حكيم : فقلتُ : يَا رسول الله ، وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالحَقِّ لاَ أرْزَأُ أحَداً بَعْدَكَ شَيْئاً حَتَّى أُفَارِقَ الدُّنْيَا ، فَكَانَ أَبُو بَكْرٍ - رضي الله عنه - يَدْعُو حَكيماً لِيُعْطِيَه العَطَاء ، فَيَأبَى أنْ يَقْبَلَ مِنْهُ شَيْئاً ، ثُمَّ إنَّ عُمَرَ - رضي الله عنه - دَعَاهُ لِيُعْطِيَه فَأَبَى أنْ يَقْبَلَهُ . فقالَ : يَا مَعْشَرَ المُسْلِمِينَ ، أُشْهِدُكُمْ عَلَى حَكيمٍ أنّي أعْرِضُ عَلَيْهِ حَقَّهُ الَّذِي قَسَمَهُ اللهُ لَهُ في هَذَا الفَيء فَيَأبَى أنْ يَأخُذَهُ . فَلَمْ يَرْزَأْ حَكيمٌ أحَداً مِنَ النَّاسِ بَعْدَ النبي - صلى الله عليه وسلم - حَتَّى تُوُفِّي . متفقٌ عَلَيْهِ .
Artinya: "Dari Hakim bin Hizam radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Aku meminta kepada Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam lalu beliau memberiku kemudian aku minta lagi kepada beliau kemudian beliau memberiku kemudian aku minta lagi kepada beliau kemudian beliau memberiku, kemudian beliau bersabda: "Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini adalah hijau dan manis, barangsiapa yang mengambilnya dengan kerendahan hati maka akan diberikan berkah kepadanya di dalam harta tersebut, dan barangsiapa yang mengambilnya dengan ketamakan jiwa maka tidak akan diberikan berkah kepadanya di dalam harta tersebut, seperti orang yang makan dan tidak pernah merasa kenyang dan tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah", Hakim berkata: "Aku berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:"Wahai Rasulullah, demi Yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan pernah minta kepada seseorang apapun selain engkau setelah ini sampai aku berpisah dengan dunia", maka (di masa) Abu Bakar radhiyallahu 'anhu memanggil Hakim untuk memberinya hadiah, beliau (Hakim) menolak untuk menerima hadiah tersebut, kemudian (di masa) Umar radhiyallahu 'anhu, beliau memanggilnya untuk memberi pemberian akan tetapi beliau menolaknya, lalu Umarpun berkata: "Wahai kaum muslimin, Aku bersaksi di hadapan kalian akan Hakim, bahwasanya aku menawarkan kepadanya haknya yang telah dibagikan oleh Allah kepadanya di dalam fa-i ini, lalu Hakim menolak pemberian tersebut", Hakim tidak pernah meminta kepada seorangpun dari manusia setelah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sampai beliau meninggal"[23].
Sedangkan masalah tawadhu' maka mungkin mengaplikasikannya dalam kehidupan kantor, mari lihat tulisan di bawah ini, akan tetapi lebih menjurus kepada bagaimana sebenarnya kunci-kunci bermua'malah (berinteraksi) dengan orang lain.
Saudaraku… kebanyakan manusia tidak menyukai akan hal-hal berikut:
- Dinasehati di depan umum atau diketahui orang banyak.
- Mendapatkan perintah secara langsung.
- Tidak pernah lupa kepada kesalahan selalu mengungkit-ungkit, serta sikap ini bertentangan dengan firman Allah Ta'ala:
{ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ } [آل عمران: 134]
Artinya: "Dan orang-orang memaafkan (kesalahan) orang"[24].
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
Artinya: "Dan barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim maka niscaya Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat"[25].
- Tergesa-gesa untuk menjelekkan atau merendahkan seseorang.
- Menisbatkan seluruh kebaikan kepada dirinya.
Dan kebalikan dari hal-hal diatas, kebanyakan manusia menyukai akan hal-hal berikut:
Pertama, menyukai orang yang memperlihatkan perhatian terhadapnya, khususnya dalam permasalahan akhirat. Lihat sabda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam:
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا.
Artinya: "Orang-orang yang paling dicintai oleh Allah Ta'ala adalah yang paling bermanfa'at bagi manusia, perbuatan yang paling disukai oleh Allah Ta'ala adalah kebahagiaan yang kamu masukkan ke dalam diri seorang muslim atau sebuah kesulitan yang kamu jauhkan darinya atau membayarkan hutangnya atau menghilangkan lapar darinya dan sungguh aku berjalan dengan seorang saudara dalam sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri'itikaf di dalam Masjid ini yaitu Masjid Nabawi selam sebulan"[26].
Kedua, Menyukai orang yang mendengar akan perkataannya.
Ketiga, Menyukai orang yang membuka baginya kesempatan untuk memperlihatkan apa yang ia mampu atau yang ia bisa kerjakan.
Keempat, Menyukai penghargaan dan motivasi, meskipun yang dicari adalah keridhaan Allah Ta'ala dan tidak menunggu pujian manusia, akan tetapi berterima kasih kepada manusia tidak mengapa menurut syari'at, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ
Artinya: "Barangsiapa yang tidak mensyukuri manusia maka ia tidak bersyukur kepada Allah Ta'ala"[27].
Akan tetapi perlu diingat bahwa memuji manusia dengan suatu pujian yang tidak berhak akan menjadi manusia tersebut tertipu dan terlena, hal tersebut dilarang oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
إِذَا رَأَيْتُمُ الْمَدَّاحِينَ فَاحْثُوا فِى وُجُوهِهِمُ التُّرَابَ
Artinya: "Jika kamu melihat orang-orang yang suka memuji maka lemparkan debu ke wajah mereka"[28].
Kelima, menyukai seseorang yang membenarkan kesalahannya tanpa melukai perasaannya.
Keenam, menyukai orang yang memanggilnya dengan nama yang paling sukai. Sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memanggil para shahabatnya dengan nama yang mereka sukai, seperti:
يَا عَائِشَ ، هَذَا جِبْرِيلُ يُقْرِئُكِ السَّلاَمَ
Terakhir…, dengan Nama-nama Allah Yang Husna dan Sifat-sifat-Nya Yang 'Ula, ana berdoa semoga kita dan seluruh kaum muslimin diberikan petunjuk, lindungan dan kemenangan oleh Allah Ta'ala atas musuh-musuh Islam dan kaum muslimin dan khususnya bagi kaum muslimin yang berjuang menegakkan kalimat لا إله إلا الله di manapun mereka berada, semoga yang meninggal dari mereka diterima oleh Allah sebagai para syahid, yang luka dari mereka diberikan kesabaran dan kesembuhan, yang berjuang di Jalan Allah Ta'ala disatukan hati dan jiwa mereka untuk tunduk kepada hukum-hukum Allah dan Rasul-Nya. Allahumma amin.
الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات, و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
Selesai ditulis oleh: Abu Abdillah Ahmad Zainuddin, Dammam, KSA
[1]Hadits riwayat Tirmidzi (no. 3841) dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih At Tirmidzi (no. 3502).
[2] Hadits riwayat Timidzi (no. 2551) dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah (no. 438).
[3] Hadits riwayat Tirmidzi (no. 2490) dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab ASilsilah Al Ahadits Ash Shahihah (no. 686).
[4] Hadits riwayat Muslim (no. 7376) .
[5] Hadits riwayat Muslim (no. 7607).
[6] Hadits riwayat Bukhari (no. 6416).
[7] Hadits riwayat Tirmidzi (no. 2507) dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah (no. 592)
[8] Tanaman yang harum baunya.
[9] Hadits riwayat Bukhari (no. 3897) dan Muslim (no. 2220).
[10] Hadits riwayat Muslim (no. 6805)
[11] Hadits riwayat Tirmidzi (no. 1265), Abu Daud (no. 3534) dan Ahmad (no. 14998).
[12] QS. Ali Imran: 200.
[13] Hadits riwayat Bukhari (no. 1400) dan Muslim (no. 1053).
[14] QS. Al Munafiqun: 9.
[15] Hadits riwayat Bukhari.
[16] Hadits riwayat Muslim (no. 918).
[17] QS. Al Ma-idah: 23.
[18] QS. Hud: 6.
[19] Hadits riwayat Tirmidzi (no. 2420).
[20] Hadits riwayat Bukhari (no. 6446) dan Muslim (no. 2467).
[21] Sifat untuk tidak meminta-minta.
[22] Hadits riwayat Muslim (no. 2473).
[23] Hadits riwayat Bukhari (no. 2750) dan Muslim (no. 2434)
[24] QS. Ali Imran: 134
[25] Hadits riwayat Muslim: 2699
[26] Hadits riwayat Ath Thabarani di dalam Al Mu'jamul Kabir (2/209/2) dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah (no. 906).
[27] Hadits riwayat Ahmad (no. 10887) dan Tirmidzi (no. 1960) serta dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah (no. 416).
[28] Hadits riwayat Muslim (no. 3002).
[29] Hadits riwayat Bukhari (no. 3768).
[30] Disarikan dari kitab Risalatun Ila Muawazhzhaf, karya: Abdurrahman bin Sa'ad Adh Dharmani.
0 komentar:
Posting Komentar