Wawancara Habib Ali Al Jufri dengan koran Al Masdar Yaman, 27 Mei 2008

Beban wacana agama dalam semua manifestasinya, sebagian besar diwariskan, adalah buah dari penurunan peradaban. Ini mengotori tujuan agama dalam kehidupan manusia mengubahnya menjadi hanya sebagai seorang pelayan untuk konflik dan agenda belaka, yang tidak melayani kehidupan manusia atau masyarakat sendiri. Menurut pendapat Anda, apa sebenarnya tujuan esensial dari agama dan apa cara untuk memurnikan wacana keagamaan dari hal-hal (yang tidak diinginkan) itu yang telah melekat padanya?

Segala puji bagi Allah dan semoga berkah dan keselamatan-Nya akan diberikan pada junjungan kami, Muhammad, dan keluarganya. Saya setuju dengan Anda pada beberapa hal yang disebutkan dalam pengantar sebelum mulai membahas yang terakhir: Ada beban diwariskan dalam wacana Islam hari ini. Ini adalah buah dari sebuah fase sekarang ini yang dapat kita kaitkan dengan kejatuhan kekhalifahan Utsmani dan peristiwa yang mengikuti kejatuhannya. Ada beberapa masalah sebelum kejadian ini yang mempengaruhi wacana Islam. Namun demikian, setelah fase ini, wacana Islam merupakan subyek terhadap dua isu problematik. Yang pertama adalah perubahan mekanisme pengkaderan orang-orang yang menyampaikan wacana Islam. Ini termasuk transformasi persiapan sebagai orang yang menyampaikan wacana Islam dari jalur penerimaan yang terkait dengan rantai transmisi [sanad], di mana kita menemukan rantai transmisi yang saling terhubung dengan rantai pengetahuan dan rantai pemurnian jiwa serta pendidikan, dan menggantinya dengan akademisi sebagai sarana mempelajari ilmu-ilmu suci. 

Akademisi sangat bermanfaat sebagai metodologi penelitian modern yang intelek manusia memiliki akses atasnya bila mengikuti metodologi asli (secara tradisional) yang diperoleh untuk mempersiapkan orang-orang yang menyampaikan wacana Islam. Di masa lalu tidak ada yang berani naik mimbar (mimbar di masjid mana imam, pemimpin doa, berdiri untuk memberikan khotbah Jumat) kecuali orang yang diberi wewenang untuk melakukannya oleh seorang ulama. Ulama ini sudah mengenal sepenuhnya orang yang ia berikan wewenang, pengetahuannya, kemampuannya untuk mengarahkan orang, moralitasnya, perilakunya, pemurnian hatinya selain kesungguhannya dalam bidang ini. Saat ini, situasi orang yang menyampaikan wacana Islam ketika berbicara agak kacau. 

Masalah kedua yang telah mempengaruhi wacana Islam adalah kecenderungan akut dan sangat cepat menyangkut metodologi yang membawa terminologi yang (mencoba) menyingkat pemahaman yang luas dari wacana Islam pada isi dan arti yang dibawanya. Penyingkatan ini disorot dengan cara yang membuat setiap satu orang, dari sekian banyak yang menyampaikan wacana Islam, merasa seolah-olah mereka adalah satu-satunya wakil Islam yang benar. Akibatnya kita telah melangkah menuju pengosongan isi dari wacana Islam yang nilainya sangat tinggi: nilai keanekaragaman dan penerimaan atas perbedaan pendapat dan perspektif. 

Kedua isu bermasalah ini selanjutnya menyebabkan banyak masalah yang telah saya sebutkan sebelumnya dalam kesimpulan pada pertanyaan. Mengenai jawaban atas kesimpulan yang saya ilustrasikan dengan pendahuluan itu, terdiri dari fakta bahwa pertanyaan ini memerlukan penggabungan upaya-upaya serta tanggung jawab oleh setiap individu yang mewakili suatu pihak dalam isu ini. Para ulama memiliki bagian terbesar dari tanggung jawab bersama dengan para pemimpin, media di dunia Islam, laki-laki yang bekerja di keuangan, bisnis, ekonomi dan anggota komunitas akademik yang mengajar dan mempersiapkan generasi yang lebih muda. Kelima kelompok ini saya percaya memiliki tanggung jawab utama. Kemudian ada tanggung jawab sekunder yang akan kembali ke para pendengar yang menerima dan dipengaruhi oleh wacana. Namun, pendengar, jika ia meningkatkan kesadaran nya sedikit, mungkin dapat memberikan kontribusi dalam meluruskan wacana ini. Gagasan ini dapat diilustrasikan dengan contoh berikut. Jika pendengar mengamati bahwa orang yang menyampaikan wacana membawa nada represi atau memobilisasi satu kelompok terhadap kelompok yang lain dalam komunitas Muslim, maka pendengar harus membuat pembicara menyadari dengan cara yang sopan bahwa ini tidak dapat diterima dan pergi meninggalkan tanpa membuat keributan, berteriak atau menyebabkan masalah. Dengan cara ini, sejumlah koreksi telah dilakukan, dan orang yang mengekspresikan suatu wacana Islam merasa bahwa jika ia berbelok menjauh dari jalan ini, dia tidak akan menemukan orang yang mau mendengarkannya. Jadi kita perlu upaya pada kedua sisi pesan. Namun demikian, porsi tanggung jawab yang lebih besar jatuh pada para ulama yang harus memastikan orang-orang mengikuti ini. Dengan cara yang sama, Nabi, doa dan salam kepadanya, mengatakan: "Sesungguhnya, Allah tidak mencabut pengetahuan dari hamba-Nya. Dia mencabut pengetahuan dengan mencabut para ulama yang memilikinya. Jadi ketika tidak ada ulama yang tersisa, orang-orang berubah menjadi bodoh terhadap pemimpin-pemimpin mereka. Mereka memberikan fatwa (putusan) tanpa pengetahuan. Mereka akan  menyimpang dan menyimpangkan yang lainnya" Sahih Al-Bukhari, Kitab Pengetahuan, Nomor 100.

Indikator-indikator ini disebutkan oleh Nabi, doa dan salam atasnya dan keluarganya, membuat kita merasakan pentingnya melihat siapa sebenarnya yang menyampaikan wacana Islam. Ada juga isu lain: penciptaan kesadaran terhadap menghormati konsep "spesialisasi" dalam arena wacana Islam. Ahli dalam ilmu hadits, di masa lalu, tidak akan pernah berani memberikan fatwa dalam ilmu fikih, kecuali jika ahli dalam ilmu hadits menjadi spesialis dalam ilmu fikih. Lalu ia akan menjadi ahli di kedua ilmu hadits dan fiqh. Para ahli dalam "ilmu al-kalam" (ilmu teologi) dan "ilmu al-tauhid" (ilmu keunikan Allah) tidak akan berani mengubah hasil kesimpulan dalam keputusan yang akan diumumkan kepada orang-orang. Alasannya adalah bahwa ia melihat sudah ada spesialis di bidangnya yang bertanggung jawab untuk tugas ini. 

Saat ini, siapa saja yang menjadi spesialis dalam salah satu bidang mengatributkan kepada dirinya hak untuk berbicara seolah-olah ia juga seorang spesialis di semua bidang lainnya. Situasi ini telah menggerogoti penghormatan terhadap konsep spesialisasi dalam wacana Islam. Jadi, penting untuk menekankan bahwa kebangkitan jalan pemurnian spiritual dan menyalakan ketulusan dalam hati orang-orang yang melayani wacana ini akan memiliki dampak yang besar. Akhirnya, seluruh jawaban dapat dirangkum dalam dua poin. Poin pertama adalah untuk memberikan otoritas kepada mereka yang memilikinya. Poin kedua adalah untuk memperluas lapangan atas tindakan yang dilembagakan dalam memberikan wacana dan tidak mengambil keuntungan darinya.


Wacana keagamaan telah menodai fungsi agama dalam kehidupan manusia. Menurut pendapat Anda, apa fungsi agama dalam kehidupan orang-orang?

Fungsi agama berarti bahwa iman adalah lampu dalam kehidupan kita yang menerangi jalan bagi orang-orang. Ini juga merupakan faktor yang mendorong orang ke arah jalan ini. Agama memiliki dua fundamental. Yang pertama terhubung ke alasan, jalan klarifikasi melalui mana agama menjelaskan kepada orang-orang jalan hidup yang mereka ambil dan ke mana mereka akan kembali. Fundamental kedua adalah penciptaan motif dalam masyarakat untuk mendorong mereka untuk bertindak sesuai dengan wawasan yang disediakan oleh intelektualitas mereka. Intelektual mengarahkan hati, jiwa dan ego yang mengarahkan motif untuk tindakan dan kemajuan. Intelektual ini mengungkapkan kepada orang-orang jalan mereka dalam semua aspek kehidupan mereka.


Dapatkah kita mengatakan bahwa agama adalah sistem politik suatu bangsa?

Agama adalah lebih besar dari istilah "sistem politik suatu bangsa". Salah satu hal di mana kadang-kadang kita tidak sadari bahwa kita tidak adil dengan agama adalah ketika kita menguranginya menjadi konsep sistem politik. Kita takut untuk memisahkan agama dari politik sehingga kita telah mengubah agama menjadi bagian dari politik tanpa memahami bahwa seharusnya kita melakukan sebaliknya. 

Agama adalah termasuk dalam isu-isu yang terkait dengan bangsa. Ia mengarahkan penguasa tentang bagaimana suatu negara harus bekerja. Namun, ia harus tidak ditransformasikan menjadi sarana melalui mana wewenang, atas nama agama, diimplementasikan untuk tujuan lain. 

Agama memiliki arah, pedoman dan instruksi terkait dengan perekonomian. Namun, agama harus tidak ditransformasikan menjadi sesuatu melalui transaksi yang dilakukan di arena ekonomi. Agama memiliki peran penting dalam mendorong seorang Muslim terhadap bidang ilmu pengetahuan, studi terapan dan eksperimental sementara itu menemukan simbol kehidupan dan dunia di mana kita tinggal. Meskipun demikian, agama itu sendiri tidak harus menjadi alat yang digunakan untuk tujuan ini. Sebaliknya, agama menjadi motif yang mendorong orang sehingga mereka belajar, memahami dan mengetahui hidup dalam suatu cara untuk menjadi bermanfaat bagi orang lain dan tidak merugikan. 

Agama adalah yang memberikan kita penemu ilmiah terbesar selama masa renaisans Islam. Ia melindungi orang-orang ini sehingga buah dari peradaban mereka tidak akan menjadi subjek mudah untuk mengasimilasi orang lain untuk mengubahnya menjadi sarana merusak bumi seperti yang kita saksikan dalam peradaban hari ini.






Sumber: Habib Ali Al Jufri website

Temukan artikel-artikel tentang Islam lainnya di Lintas Islam

0 komentar:

Agenda Harian

Semoga kita senantiasa terpacu untuk mengukir prestasi amal yang akan memperberat timbangan kebaikan di yaumil akhir, berikut rangkaian yang bisa dilakukan

1. Agenda pada sepertiga malam akhir

a. Menunaikan shalat tahajjud dengan memanjangkan waktu pada saat ruku’ dan sujud di dalamnya,

b. Menunaikan shalat witir

c. Duduk untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah hingga azan subuh

Rasulullah saw bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Sesungguhnya Allah SWT selalu turun pada setiap malam menuju langit dunia saat 1/3 malam terakhir, dan Dia berkata: “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku berikan, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni”. (HR. Bukhari Muslim)


2. Agenda Setelah Terbit Fajar

a. Menjawab seruan azan untuk shalat subuh

” الَّلهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِي وَعَدْتَهُ “

“Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini, shalat yang telah dikumandangkan, berikanlah kepada Nabi Muhammad wasilah dan karunia, dan bangkitkanlah dia pada tempat yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan. (Ditashih oleh Al-Albani)

b. Menunaikan shalat sunnah fajar di rumah dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Dua rakaat sunnah fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya”. (Muslim)

وَ قَدْ قَرَأَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِي رَكْعَتَي الْفَجْرِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدَ

“Nabi saw pada dua rakaat sunnah fajar membaca surat “Qul ya ayyuhal kafirun” dan “Qul huwallahu ahad”.

c. Menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid –khususnya- bagi laki-laki.

Rasulullah saw bersabda:

وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الْعَتْمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Sekiranya manusia tahu apa yang ada dalam kegelapan dan subuh maka mereka akan mendatanginya walau dalam keadaan tergopoh-gopoh” (Muttafaqun alaih)

بَشِّرِ الْمَشَّائِيْنَ فِي الظّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّوْرِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berikanlah kabar gembira kepada para pejalan di kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat”. (Tirmidzi dan ibnu Majah)

d. Menyibukkan diri dengan doa, dzikir atau tilawah Al-Quran hingga waktu iqamat shalat

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ

“Doa antara adzan dan iqamat tidak akan ditolak” (Ahmad dan Tirmidzi dan Abu Daud)

e. Duduk di masjid bagi laki-laki /mushalla bagi wanita untuk berdzikir dan membaca dzikir waktu pagi

Dalam hadits nabi disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إَذَا صَلَّى الْفَجْرَ تَرَبَّعَ فِي مَجْلِسِهِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ الْحَسَنَاءُ

” Nabi saw jika selesai shalat fajar duduk di tempat duduknya hingga terbit matahari yang ke kuning-kuningan”. (Muslim)

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya waktu fajar itu disaksikan (malaikat). (Al-Isra : 78) Dan memiliki komitmen sesuai kemampuannya untuk selalu:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah lebih banyak dari itu semua, maka akan menuai kebaikan berlimpah insya Allah.

3. Menunaikan shalat Dhuha walau hanya dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

“Setiap ruas tulang tubuh manusia wajib dikeluarkan sedekahnya, setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah, menolong orang dengan membantunya menaiki kendaraan atau mengangkat kan barang ke atas kendaraannya adalah sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, tiap-tiap langkahmu untuk mengerjakan shalat adalah sedekah, dan membersihkan rintangan dari jalan adalah sedekah”. (Bukhari dan Muslim)

4. Berangkat kerja atau belajar dengan berharap karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمِلِ يَدِهِ، وَكَانَ دَاوُدُ لا يَأْكُلُ إِلا مِنْ عَمِلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan makanan, lebih baik dari yang didapat oleh tangannya sendiri, dan bahwa nabi Daud makan dari hasil tangannya sendiri”. (Bukhari)

Dalam hadits lainnya nabi juga bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang berjalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. (Muslim)

d. Menyibukkan diri dengan dzikir sepanjang hari

Allah berfirman :

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah maka hati akan menjadi tenang” (Ra’ad : 28)

Rasulullah saw bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهَ أَنْ تَمُوْتَ ولسانُك رَطْبٌ من ذِكْرِ الله

“Sebaik-baik perbuatan kepada Allah adalah saat engkau mati sementara lidahmu basah dari berdzikir kepada Allah” (Thabrani dan Ibnu Hibban) .

5. Agenda saat shalat Zhuhur

a. Menjawab azan untuk shalat Zhuhur, lalu menunaikan shalat Zhuhur berjamaah di Masjid khususnya bagi laki-laki

b. Menunaikan sunnah rawatib sebelum Zhuhur 4 rakaat dan 2 rakaat setelah Zhuhur

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang shalat 12 rakaat pada siang dan malam hari maka Allah akan membangunkan baginya dengannya rumah di surga”. (Muslim).

6. Agenda saat dan setelah shalat Ashar

a. Menjawab azan untuk shalat Ashar, kemudian dilanjutkan dengan menunaikan shalat Ashar secara berjamaah di masjid

b. Mendengarkan nasihat di masjid (jika ada)

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ

“Barangsiapa yang pergi ke masjid tidak menginginkan yang lain kecuali belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya ganjaran haji secara sempurna”. (Thabrani – hasan shahih)

c. Istirahat sejenak dengan niat yang karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

وَإِنَّ لِبَدَنِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ

“Sesungguhnya bagi setiap tubuh atasmu ada haknya”.

Agenda prioritas:

Membaca Al-Quran dan berkomitmen semampunya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan, maka akan menuai kebaikan yang berlimpah insya Allah.

7. Agenda sebelum Maghrib

a. Memperhatikan urusan rumah tangga – melakukan mudzakarah – Menghafal Al-Quran

b. Mendengarkan ceramah, nasihat, khutbah, untaian hikmah atau dakwah melalui media

c. Menyibukkan diri dengan doa

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah”

8. Agenda setelah terbenam matahari

a. Menjawab azan untuk shalat Maghrib

b. Menunaikan shalat Maghrib secara berjamaah di masjid (khususnya bagi laki-laki)

c. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Maghrib – 2 rakaat

d. Membaca dzikir sore

e. Mempersiapkan diri untuk shalat Isya lalu melangkahkan kaki menuju masjid

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa yang bersuci/berwudhu kemudian berjalan menuju salah satu dari rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban dari kewajiban Allah, maka langkah-langkahnya akan menggugurkan kesalahan dan yang lainnya mengangkat derajatnya”. (Muslim)

9. Agenda pada waktu shalat Isya

a. Menjawab azan untuk shalat Isya kemudian menunaikan shalat Isya secara jamaah di masjid

b. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Isya – 2 rakaat

c. Duduk bersama keluarga/melakukan silaturahim

d. Mendengarkan ceramah, nasihat dan untaian hikmah di Masjid

e. Dakwah melalui media atau lainnya

f. Melakukan mudzakarah

g. Menghafal Al-Quran

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran dengan berkomitmen sesuai dengan kemampuannya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan bacaan maka telah menuai kebaikan berlimpah insya Allah.


Apa yang kita jelaskan di sini merupakan contoh, sehingga tidak harus sama persis dengan yang kami sampaikan, kondisional tergantung masing-masing individu. Semoga ikhtiar ini bisa memandu kita untuk optimalisasi ibadah insya Allah. Allahu a’lam

Jazaakillah

Sedikit revisi dari : http://www.al-ikhwan.net/agenda-harian-ramadhan-menuju-bahagia-di-bulan-ramadhan-2989/

Isi Blog

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.