
Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari Kiamat.
Mencari nafkah adalah kewajiban setiap kepala keluarga. Seorang kepala rumah tangga harus mencari nafkah yang halal untuk keluarganya. Ini adalah ibadah yang sangat agung.
Allah Ta’ala memerintahkan kepada para hamba-Nya untuk berusaha dan mencari rezeki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيْهَا مَعَايِشَ
قَلِيْلاً مَا تَشْكُرُوْنَ (10)
“Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 10)
Allah Ta’ala juga berfirman:
وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا (11)
“Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS. An-Naba’: 11)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
“Tidaklah seorang memakan suatu makanan yang lebih baik dari makanan hasil kerja kerasnya sendiri. Sungguh nabi Dawud ‘alaihis salam, beliau makan dari hasil jerih payah tangannya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 1966).
Para pendahulu kita dari kalangan Nabi dan Rasul ‘alaihimush sholatu was salam, mereka juga mencari rezeki dengan bekerja. ‘Abdullah Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Adalah Nabi Adam‘alaihis salam bertani, Nabi Nuh ‘alaihis salam sebagai tukang kayu, Nabi Idris ‘alaihis salam penjahit baju, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan Nabi Luth ‘alaihis salam bercocok tanam, Nabi Sholih ‘alaihis salamseorang pedagang, Nabi Dawud ‘alaihis salam pembuat baju besi, sedangkan Nabi Musa ‘alaihis salam, Syu’aib ‘alaihis salam, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam pengembala kambing.” (Mukhtashor Minhajil Qoshidin, hal. 108, Tahqiq Ali Hasan).
Kewajiban Mencari Rizki Yang Halal
Kaum muslimin yang kami muliakan, semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita. Sesungguhnya setiap harta yang kita kumpulkan di dunia ini akan ditanyakan di hari Kiamat kelak, dari manakah harta itu diperoleh dan kemanakah dibelanjakan.
Diriwayatkan dari Abu Barzah al-Aslami radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:
لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ:
عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ جَسَدِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ،
وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا وَضَعَهُ،
وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيْهِ
“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari Kiamat sehingga ditanya tentang empat perkara: Tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang jasadnya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya darimana ia mendapatkannya dan kemanakah ia membelanjakannya, dan tentang ilmunya, apakah yang telah ia amalkan.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan ad-Darimi. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shohiih al-Jaami’, no. 7300 dan as-Silsilah as-Shohiihah, no. 946).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada kita tentang pentingnya mencari rizki yang halal. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّهُ لَيْسَ شَيْءٌ يُقَرِّبُكُمْ إِلَى الْجَنَّةِ إِلاََّ قَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ،
وَلَيْسَ شَيْءٌ يُقَرِّبُكُمْ إِلَى النَّارِ إِلاَّ قَدْ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ،
إِنَّ رُوْحَ الْقُدْسِ نَفَثَ فِيْ رَوْعِيْ:
إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتُ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا،
فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ،
وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمُ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ تَطْلُبُوْهُ بِمَعَاصِيَ اللهَ،
فَإِنَّ اللهَ لاَ يُدْرِكُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ
“Tidak satupun amal yang mendekatkan kalian ke Surga melainkan telah aku perintahkan kalian kepadanya. Dan tidak satupun amal yang mendekatkan kalian ke Neraka melainkan aku telah melarang kalian darinya. Sesungguhnya malaikat Jibril telah mewahyukan ke dalam hatiku bahwa tidak ada seorang pun meninggal dunia melainkan setelah sempurna rezekinya. Hendaklah kalian bertakwa kepada Allah, carilah rezeki dengan cara yang baik. Jika ada yang merasa rezekinya terhambat maka janganlah ia mencari rezeki dengan cara maksiat, karena karunia Allah tidak dapat diraih dengan cara maksiat.”(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 7/97; al-Baihaqi dalam Syu’abul Iimaan, 7/277, dan dinilai shohih oleh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shohiihah, no. 2866)
Setiap muslim harus memeriksa setiap rezeki yang dia peroleh. Karena di Akhirat kelak, akan diajukan dua pertanyaan kepadanya: Dari manakah harta itu diperoleh dan kemanakah di belanjakan. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat sangat ketat dalam urusan rezeki. Mereka sungguh-sungguh memperhatikan apakah rezeki yang mereka peroleh itu halal dan baik, ataukah haram.
Kita juga wajib memperhatikan setiap rezeki yang kita peroleh. Apalagi di zaman sekarang ini sangat sedikit sekali manusia yang peduli dengan aturan-aturan Allah dalam perkara halal dan haram. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkannya:
لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ
أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ
“Akan datang suatu zaman atas manusia, dimana mereka tidak lagi peduli dengan cara apa mendapatkan harta, dengan cara yang halal ataukah dengan cara yang haram.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 1977)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah menyampaikan ancaman yang keras bagi orang-orang yang memakan harta yang haram. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّهُ لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ النَّارُ أَوْلَى بِهِ
“Sesungguhnya tidak akan masuk Surga daging yang tumbuh dari harta yang haram. Neraka lebih pantas untuknya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, no. 13919 dan ad-Darimi, no. 2776. Hadits ini dinilai shohih oleh al-Albani dalam Shohiih at-Targhiib, no. 1728).
Sebaik-Baik Bekal Adalah Takwa
Takwa adalah sebaik-baik bekal bagi setiap muslim. Setiap pedagang, pegawai dan yang lainnya harus memiliki ketakwaan. Betapa banyaknya pedagang yang tidak bertakwa sehingga tidak mengindahkan aturan-aturan Islam dan melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti bersumpah palsu untuk melariskan barang dagangannya, menipu, khianat dan curang dalam aktivitas jual belinya.
Oleh karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji pedagang yang jujur lagi bertakwa:
التَّاجِرُ الصَّدُوْقُ الأَمِيْنُ مَعَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ
“Pedagang yang jujur lagi terpercaya akan bersama para Nabi, kaum shiddiq dan para Syuhada.”(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, no. 1130; ad-Daruquthni, no. 18; dan ad-Darimi, no. 2539. Hadits ini dinilai shohih oleh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shohiihah, no. 3453).
Kejujuran dan amanah merupakan buah dari ketakwaan. Oleh karena itu, para pegawai harus berbekal takwa. Tingginya kasus korupsi dan suap-menyuap merupakan akibat dari hilangnya ketakwaan.
Bersedekah Dengan Harta Haram?
Mungkin di antara kita ada yang tidak peduli dengan pendapatan yang haram dengan anggapan bahwa harta kita nanti bisa dibersihkan dengan sedekah. Atau mungkin ada yang mencari harta sebanyak-banyaknya walaupun dengan cara yang haram seperti korupsi, penipuan dan suap, dengan alasan supaya nanti bisa bersedekah dengan uang yang banyak.
Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik saja. Abu Hurairahradhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ جَمَعَ مَالاً حَرَامًا ثُمَّ تَصَدَّقَ بِهِ،
لَمْ يَكُنْ لَهُ فِيْهِ أَجْرٌ وَكَانَ إِصْرُهُ عَلَيْهِ
“Barangsiapa mengumpulkan harta haram kemudian ia menyedekahkannya, maka ia tidak memperoleh pahala dari sedekahnya itu dan dosanya tetap terbeban atas dirinya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, no. 3367 dan Ibnu Khuzaimah, no. 2471. Hadits ini dinilai shohih oleh al-Albani dalam Shohiih at-Targhiib, no. 880)
Amal sedekah itu tidak bernilai sama sekali di sisi Allah, bahkan ia tetap terbebani dosa karena mengumpulkan harta dengan cara yang haram. Dan bahkan dagingnya yang ditumbuhkan dengan makanan hasil usaha yang haram itu, Neraka lebih pantas baginya.
Sumber : Buletin at-Taubah edisi ke-51
0 komentar:
Posting Komentar