Masjid 27
Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari Kiamat.
Mencari nafkah adalah kewajiban setiap kepala keluarga. Seorang kepala rumah tangga harus mencari nafkah yang halal untuk keluarganya. Ini adalah ibadah yang sangat agung.
Allah Ta’ala memerintahkan kepada para hamba-Nya untuk berusaha dan mencari rezeki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيْهَا مَعَايِشَ
قَلِيْلاً مَا تَشْكُرُوْنَ (10)

“Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 10)
Allah Ta’ala juga berfirman:

وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا (11)

“Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS. An-Naba’: 11)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Tidaklah seorang memakan suatu makanan yang lebih baik dari makanan hasil kerja kerasnya sendiri. Sungguh nabi Dawud ‘alaihis salam, beliau makan dari hasil jerih payah tangannya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 1966).
Para pendahulu kita dari kalangan Nabi dan Rasul ‘alaihimush sholatu was salam, mereka juga mencari rezeki dengan bekerja. ‘Abdullah Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Adalah Nabi Adam‘alaihis salam bertani, Nabi Nuh ‘alaihis salam sebagai tukang kayu, Nabi Idris ‘alaihis salam penjahit baju, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan Nabi Luth ‘alaihis salam bercocok tanam, Nabi Sholih ‘alaihis salamseorang pedagang, Nabi Dawud ‘alaihis salam pembuat baju besi, sedangkan Nabi Musa ‘alaihis salam, Syu’aib ‘alaihis salam, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam pengembala kambing.” (Mukhtashor Minhajil Qoshidin, hal. 108, Tahqiq Ali Hasan).
Kewajiban Mencari Rizki Yang Halal
Kaum muslimin yang kami muliakan, semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita. Sesungguhnya setiap harta yang kita kumpulkan di dunia ini akan ditanyakan di hari Kiamat kelak, dari manakah harta itu diperoleh dan kemanakah dibelanjakan.
Diriwayatkan dari Abu Barzah al-Aslami radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ:
عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ جَسَدِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ،
وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا وَضَعَهُ،
وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيْهِ

“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari Kiamat sehingga ditanya tentang empat perkara: Tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang jasadnya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya darimana ia mendapatkannya dan kemanakah ia membelanjakannya, dan tentang ilmunya, apakah yang telah ia amalkan.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan ad-Darimi. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shohiih al-Jaami’, no. 7300 dan as-Silsilah as-Shohiihah, no. 946).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada kita tentang pentingnya mencari rizki yang halal. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّهُ لَيْسَ شَيْءٌ يُقَرِّبُكُمْ إِلَى الْجَنَّةِ إِلاََّ قَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ،
وَلَيْسَ شَيْءٌ يُقَرِّبُكُمْ إِلَى النَّارِ إِلاَّ قَدْ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ،
إِنَّ رُوْحَ الْقُدْسِ نَفَثَ فِيْ رَوْعِيْ:
إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتُ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا،
فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ،
وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمُ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ تَطْلُبُوْهُ بِمَعَاصِيَ اللهَ،
فَإِنَّ اللهَ لاَ يُدْرِكُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ

“Tidak satupun amal yang mendekatkan kalian ke Surga melainkan telah aku perintahkan kalian kepadanya. Dan tidak satupun amal yang mendekatkan kalian ke Neraka melainkan aku telah melarang kalian darinya. Sesungguhnya malaikat Jibril telah mewahyukan ke dalam hatiku bahwa tidak ada seorang pun meninggal dunia melainkan setelah sempurna rezekinya. Hendaklah kalian bertakwa kepada Allah, carilah rezeki dengan cara yang baik. Jika ada yang merasa rezekinya terhambat maka janganlah ia mencari rezeki dengan cara maksiat, karena karunia Allah tidak dapat diraih dengan cara maksiat.”(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 7/97; al-Baihaqi dalam Syu’abul Iimaan, 7/277, dan dinilai shohih oleh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shohiihah, no. 2866)
Setiap muslim harus memeriksa setiap rezeki yang dia peroleh. Karena di Akhirat kelak, akan diajukan dua pertanyaan kepadanya: Dari manakah harta itu diperoleh dan kemanakah di belanjakan. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat sangat ketat dalam urusan rezeki. Mereka sungguh-sungguh memperhatikan apakah rezeki yang mereka peroleh itu halal dan baik, ataukah haram.
Kita juga wajib memperhatikan setiap rezeki yang kita peroleh. Apalagi di zaman sekarang ini sangat sedikit sekali manusia yang peduli dengan aturan-aturan Allah dalam perkara halal dan haram. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkannya:

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ
أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

“Akan datang suatu zaman atas manusia, dimana mereka tidak lagi peduli dengan cara apa mendapatkan harta, dengan cara yang halal ataukah dengan cara yang haram.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 1977)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah menyampaikan ancaman yang keras bagi orang-orang yang memakan harta yang haram. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّهُ لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Sesungguhnya tidak akan masuk Surga daging yang tumbuh dari harta yang haram. Neraka lebih pantas untuknya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, no. 13919 dan ad-Darimi, no. 2776. Hadits ini dinilai shohih oleh al-Albani dalam Shohiih at-Targhiib, no. 1728).
Sebaik-Baik Bekal Adalah Takwa
Takwa adalah sebaik-baik bekal bagi setiap muslim. Setiap pedagang, pegawai dan yang lainnya harus memiliki ketakwaan. Betapa banyaknya pedagang yang tidak bertakwa sehingga tidak mengindahkan aturan-aturan  Islam dan melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti bersumpah palsu untuk melariskan barang dagangannya, menipu, khianat dan curang dalam aktivitas jual belinya.
Oleh karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji pedagang yang jujur lagi bertakwa:

التَّاجِرُ الصَّدُوْقُ الأَمِيْنُ مَعَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ

“Pedagang yang jujur lagi terpercaya akan bersama para Nabi, kaum shiddiq dan para Syuhada.”(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, no. 1130; ad-Daruquthni, no. 18; dan ad-Darimi, no. 2539. Hadits ini dinilai shohih oleh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shohiihah, no. 3453).
Kejujuran dan amanah merupakan buah dari ketakwaan. Oleh karena itu, para pegawai harus berbekal takwa. Tingginya kasus korupsi dan suap-menyuap merupakan akibat dari hilangnya ketakwaan.
Bersedekah Dengan Harta Haram?
Mungkin di antara kita ada yang tidak peduli dengan pendapatan yang haram dengan anggapan bahwa harta kita nanti bisa dibersihkan dengan sedekah. Atau mungkin ada yang mencari harta sebanyak-banyaknya walaupun dengan cara yang haram seperti korupsi, penipuan dan suap, dengan alasan supaya nanti bisa bersedekah dengan uang yang banyak.
Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik saja. Abu Hurairahradhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ جَمَعَ مَالاً حَرَامًا ثُمَّ تَصَدَّقَ بِهِ،
لَمْ يَكُنْ لَهُ فِيْهِ أَجْرٌ وَكَانَ إِصْرُهُ عَلَيْهِ

“Barangsiapa mengumpulkan harta haram kemudian ia menyedekahkannya, maka ia tidak memperoleh pahala dari sedekahnya itu dan dosanya tetap terbeban atas dirinya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, no. 3367 dan Ibnu Khuzaimah, no. 2471. Hadits ini dinilai shohih oleh al-Albani dalam Shohiih at-Targhiib, no. 880)
Amal sedekah itu tidak bernilai sama sekali di sisi Allah, bahkan ia tetap terbebani dosa karena mengumpulkan harta dengan cara yang haram. Dan bahkan dagingnya yang ditumbuhkan dengan makanan hasil usaha yang haram itu, Neraka lebih pantas baginya.

Sumber : Buletin at-Taubah edisi ke-51

0 komentar:

Agenda Harian

Semoga kita senantiasa terpacu untuk mengukir prestasi amal yang akan memperberat timbangan kebaikan di yaumil akhir, berikut rangkaian yang bisa dilakukan

1. Agenda pada sepertiga malam akhir

a. Menunaikan shalat tahajjud dengan memanjangkan waktu pada saat ruku’ dan sujud di dalamnya,

b. Menunaikan shalat witir

c. Duduk untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah hingga azan subuh

Rasulullah saw bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Sesungguhnya Allah SWT selalu turun pada setiap malam menuju langit dunia saat 1/3 malam terakhir, dan Dia berkata: “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku berikan, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni”. (HR. Bukhari Muslim)


2. Agenda Setelah Terbit Fajar

a. Menjawab seruan azan untuk shalat subuh

” الَّلهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِي وَعَدْتَهُ “

“Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini, shalat yang telah dikumandangkan, berikanlah kepada Nabi Muhammad wasilah dan karunia, dan bangkitkanlah dia pada tempat yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan. (Ditashih oleh Al-Albani)

b. Menunaikan shalat sunnah fajar di rumah dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Dua rakaat sunnah fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya”. (Muslim)

وَ قَدْ قَرَأَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِي رَكْعَتَي الْفَجْرِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدَ

“Nabi saw pada dua rakaat sunnah fajar membaca surat “Qul ya ayyuhal kafirun” dan “Qul huwallahu ahad”.

c. Menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid –khususnya- bagi laki-laki.

Rasulullah saw bersabda:

وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الْعَتْمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Sekiranya manusia tahu apa yang ada dalam kegelapan dan subuh maka mereka akan mendatanginya walau dalam keadaan tergopoh-gopoh” (Muttafaqun alaih)

بَشِّرِ الْمَشَّائِيْنَ فِي الظّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّوْرِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berikanlah kabar gembira kepada para pejalan di kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat”. (Tirmidzi dan ibnu Majah)

d. Menyibukkan diri dengan doa, dzikir atau tilawah Al-Quran hingga waktu iqamat shalat

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ

“Doa antara adzan dan iqamat tidak akan ditolak” (Ahmad dan Tirmidzi dan Abu Daud)

e. Duduk di masjid bagi laki-laki /mushalla bagi wanita untuk berdzikir dan membaca dzikir waktu pagi

Dalam hadits nabi disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إَذَا صَلَّى الْفَجْرَ تَرَبَّعَ فِي مَجْلِسِهِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ الْحَسَنَاءُ

” Nabi saw jika selesai shalat fajar duduk di tempat duduknya hingga terbit matahari yang ke kuning-kuningan”. (Muslim)

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya waktu fajar itu disaksikan (malaikat). (Al-Isra : 78) Dan memiliki komitmen sesuai kemampuannya untuk selalu:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah lebih banyak dari itu semua, maka akan menuai kebaikan berlimpah insya Allah.

3. Menunaikan shalat Dhuha walau hanya dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

“Setiap ruas tulang tubuh manusia wajib dikeluarkan sedekahnya, setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah, menolong orang dengan membantunya menaiki kendaraan atau mengangkat kan barang ke atas kendaraannya adalah sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, tiap-tiap langkahmu untuk mengerjakan shalat adalah sedekah, dan membersihkan rintangan dari jalan adalah sedekah”. (Bukhari dan Muslim)

4. Berangkat kerja atau belajar dengan berharap karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمِلِ يَدِهِ، وَكَانَ دَاوُدُ لا يَأْكُلُ إِلا مِنْ عَمِلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan makanan, lebih baik dari yang didapat oleh tangannya sendiri, dan bahwa nabi Daud makan dari hasil tangannya sendiri”. (Bukhari)

Dalam hadits lainnya nabi juga bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang berjalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. (Muslim)

d. Menyibukkan diri dengan dzikir sepanjang hari

Allah berfirman :

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah maka hati akan menjadi tenang” (Ra’ad : 28)

Rasulullah saw bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهَ أَنْ تَمُوْتَ ولسانُك رَطْبٌ من ذِكْرِ الله

“Sebaik-baik perbuatan kepada Allah adalah saat engkau mati sementara lidahmu basah dari berdzikir kepada Allah” (Thabrani dan Ibnu Hibban) .

5. Agenda saat shalat Zhuhur

a. Menjawab azan untuk shalat Zhuhur, lalu menunaikan shalat Zhuhur berjamaah di Masjid khususnya bagi laki-laki

b. Menunaikan sunnah rawatib sebelum Zhuhur 4 rakaat dan 2 rakaat setelah Zhuhur

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang shalat 12 rakaat pada siang dan malam hari maka Allah akan membangunkan baginya dengannya rumah di surga”. (Muslim).

6. Agenda saat dan setelah shalat Ashar

a. Menjawab azan untuk shalat Ashar, kemudian dilanjutkan dengan menunaikan shalat Ashar secara berjamaah di masjid

b. Mendengarkan nasihat di masjid (jika ada)

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ

“Barangsiapa yang pergi ke masjid tidak menginginkan yang lain kecuali belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya ganjaran haji secara sempurna”. (Thabrani – hasan shahih)

c. Istirahat sejenak dengan niat yang karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

وَإِنَّ لِبَدَنِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ

“Sesungguhnya bagi setiap tubuh atasmu ada haknya”.

Agenda prioritas:

Membaca Al-Quran dan berkomitmen semampunya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan, maka akan menuai kebaikan yang berlimpah insya Allah.

7. Agenda sebelum Maghrib

a. Memperhatikan urusan rumah tangga – melakukan mudzakarah – Menghafal Al-Quran

b. Mendengarkan ceramah, nasihat, khutbah, untaian hikmah atau dakwah melalui media

c. Menyibukkan diri dengan doa

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah”

8. Agenda setelah terbenam matahari

a. Menjawab azan untuk shalat Maghrib

b. Menunaikan shalat Maghrib secara berjamaah di masjid (khususnya bagi laki-laki)

c. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Maghrib – 2 rakaat

d. Membaca dzikir sore

e. Mempersiapkan diri untuk shalat Isya lalu melangkahkan kaki menuju masjid

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa yang bersuci/berwudhu kemudian berjalan menuju salah satu dari rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban dari kewajiban Allah, maka langkah-langkahnya akan menggugurkan kesalahan dan yang lainnya mengangkat derajatnya”. (Muslim)

9. Agenda pada waktu shalat Isya

a. Menjawab azan untuk shalat Isya kemudian menunaikan shalat Isya secara jamaah di masjid

b. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Isya – 2 rakaat

c. Duduk bersama keluarga/melakukan silaturahim

d. Mendengarkan ceramah, nasihat dan untaian hikmah di Masjid

e. Dakwah melalui media atau lainnya

f. Melakukan mudzakarah

g. Menghafal Al-Quran

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran dengan berkomitmen sesuai dengan kemampuannya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan bacaan maka telah menuai kebaikan berlimpah insya Allah.


Apa yang kita jelaskan di sini merupakan contoh, sehingga tidak harus sama persis dengan yang kami sampaikan, kondisional tergantung masing-masing individu. Semoga ikhtiar ini bisa memandu kita untuk optimalisasi ibadah insya Allah. Allahu a’lam

Jazaakillah

Sedikit revisi dari : http://www.al-ikhwan.net/agenda-harian-ramadhan-menuju-bahagia-di-bulan-ramadhan-2989/

Isi Blog

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.