Masjid 56
Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari Kiamat.
Hakikat Tawakkal
Ibnu Rojab al-Hambali rahimahullah mengatakan, “Tawakkal adalah benarnya penyandaran hati kepada Allah ‘Azza wa Jalla untuk meraih berbagai maslahat dan menghilangkan bahaya, baik dalam urusan dunia maupun Akhirat, yakni menyerahkan semua urusan hanya kepada Allah semata, dengan meyakini sebenar-benarnya bahwa tidak ada yang dapat memberi, menghalangi, mendatangkan bahaya, dan mendatangkan manfaat kecuali Allah semata.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal.567, hadits no. 49)
Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa tawakkal adalah menyerahkan segala urusan kepada Allah dengan penuh kepercayaan kepada-Nya dan mengambil sebab-sebab yang diijinkan secara syari’at. Tawakkal yang benar harus terpenuhi dua hal, yakni:
  1. Hati harus bersandar pada Allah.
  2. Mengambil sebab (melakukan usaha) yang diijinkan oleh syari’at. (al-Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, 2/87-88).
Tawakkal Bukanlah Sekedar Pasrah
Kaum muslimin yang kami muliakan, tawakkal bukanlah berarti meninggalkan usaha. Dan sungguh setiap muslim wajib berusaha dan bersungguh-sungguh untuk mendapatkan penghidupannya.
Sebagian orang memiliki kesalahan dalam memahami tawakkal. Mereka beranggapan bahwa tawakkal adalah sikap pasrah tanpa melakukan usaha sama sekali. Ini adalah kekeliruan yang besar. Beberapa pelajar yang keesokan harinya akan mengikuti ujian, pada malam harinya, tidak sibuk menyiapkan diri untuk menghadapi ujian, namun malah sibuk dengan main game atau hal yang tidak bermanfaat lainnya. Lalu mereka mengatakan, ”Saya pasrah saja, siapa tahu besok ada keajaiban.” Apakah semacam ini benar-benar disebut tawakkal?!
Marilah kita merenungi faedah yang agung dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini. Diriwayatkan dari ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ
لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُوْ خِمَاصاً وَتَرُوْحُ بِطَاناً

“Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Allah akan memberikan rizki kepada kalian sebagaimana Dia telah memberikan rizki kepada burung yang pergi pada pagi hari dalam keadaan perut kosong dan kembali pada sore hari dengan perut kenyang.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, no. 2344, dan beliau mengatakan, “Hadits ini hasan.” Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali dalam Bahjatun Nazhirin, hadits no. 79).
Kaum muslimin yang kami muliakan, dalam hadits yang mulia ini Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan contoh tawakkalnya seekor burung untuk memperoleh makanannya. Burung-burung itu tidak hanya duduk-duduk dan tiduran di sarangnya sambil menunggu makanan datang, akan tetapi mereka pergi jauh mencari makanan untuk dirinya dan anak-anaknya. Burung ini keluar dari sarangnya dan pergi mencari makanan berbekalkan tawakkal kepada Allah Ta’ala, dan Allah pun mencukupi kebutuhannya.
Maka demikianlah seharusnya cara kita bertawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keyakinannya kita bahwa rizki ada di Tangan Allah tidaklah menjadikan kita malas bekerja dan meninggalkan usaha. Apalagi kita telah diberikan kelebihan yang banyak dibandingkan seekor burung. Menempuh beberapa jalan dan berusaha mencari rizki merupakan salah satu bentuk kesungguhan kita dalam bertawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Hadits ini menunjukkan kepada kita bahwa tawakkal yang benar merupakan sumber rizki yang baik, yang disertai dengan usaha yang dibutuhkan. (Bahjatun Nazhirin, hal. 158).
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah menceritakan, “Ada seseorang berkata kepada Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, aku ikat untaku ini dan aku bertawakkal, ataukah aku lepas dan aku bertawakkal?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab (yang artinya): “Ikatlah (untamu) lalu bertawakkallah!” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, no. 2517 dan Ibnu Hibban, no. 731. Hadits ini dinilai hasan oleh syaikh al-Albani rahimahullah).
Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Jika engkau bertawakkal kepada Allah dengan benar, engkau harus melaksanakan sebab yang disyariatkan Allah bagimu. Yaitu mencari rizki secara halal, bisa dengan bertani, berdagang, menjadi pekerja pada pekerjaan apa saja yang dapat mendatangkan rizki. Carilah rizki dengan bergantung kepada Allah Ta’ala, niscaya Allah Ta’ala akan memudahkan rizki bagimu.” (Syarah Riyaadhush Shaalihiin, 2/520)
Contoh Tawakkal Ketika Berobat
Termasuk sunnatullah bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menentukan ujian dan cobaan bagi para hamba-Nya. Cobaan ini beragam bentuknya, kadangkala cobaan pada badan, harta, anak-anak atau yang lainnya.
Apabila anda sakit kemudian datang ke seorang dokter untuk berobat, maka apa yang anda lakukan sudah benar. Namun yang perlu kita yakini adalah bahwa kesembuhan hanyalah ada di Tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan dokter hanyalah mengobati sesuai dengan ilmu dan kemampuannya.
Sungguh benar apa yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ (80)

“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’ara’: 80).
Salah satu kesalahan yang besar dalam berobat adalah meyakini bahwa kesembuhan ada di tangan dokter, sehingga mereka pun menyandarkan hatinya kepada seorang dokter. Sesungguhnya obat yang diberikan dokter akan memberikan manfaat dengan ijin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demikian pula sebaliknya, obat yang diberikan tidak akan memberikan manfaat sama sekali jika Allah Subhanahu wa Ta’ala menghalanginya.
Salah satu do’a yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang hendaknya kita baca setelah salam ketika sholat adalah membaca:

اَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ

“Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, I/255 dan Muslim, I/414).
Sungguh, tidak ada yang dapat mencegah kesembuhan jika Allah Subhanahu wa Ta’ala berkenan untuk memberikan kesembuhan kepada hamba-Nya. Dan tidak ada yang dapat memberikan kesembuhan jika Allah mencegahnya meskipun berbagai macam obat telah diberikan.
Penutup
Kaum muslimin yang kami muliakan, sebagai penutup pembahasan kali ini, kami sampaikan salah satu faedah yang agung dari tawakkal. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala berikut ini:

وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2)
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ (3)

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Tholaaq: 2-3).
Imam Al-Qurtubi rahimahullah dalam kitab Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an mengatakan, “Barangsiapa menyerahkan urusannya sepenuhnya kepada Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membacakan ayat ini kepada Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya (yang artinya): “Seandainya semua manusia mengambil nasehat ini, sungguh hal ini akan mencukupi mereka.” Yaitu seandainya manusia betul-betul bertakwa dan bertawakkal, maka sungguh Allah akan mencukupi urusan dunia dan agama mereka. (Jami’ul Ulum wal Hikam, penjelasan hadits no. 49).
Hanya Allah-lah yang mencukupi segala urusan kami, tidak ada ilah yang berhak disembah dengan hak kecuali Dia. Kepada Allah-lah kami bertawakkal dan Dia-lah Rabb ‘Arsy yang agung.
Muroja’ah : Ust. Ammi Nur Baits
Sumber : Buletin at-Taubah edisi ke-13
Nas alullaaha wal 'aafiyah.

0 komentar:

Agenda Harian

Semoga kita senantiasa terpacu untuk mengukir prestasi amal yang akan memperberat timbangan kebaikan di yaumil akhir, berikut rangkaian yang bisa dilakukan

1. Agenda pada sepertiga malam akhir

a. Menunaikan shalat tahajjud dengan memanjangkan waktu pada saat ruku’ dan sujud di dalamnya,

b. Menunaikan shalat witir

c. Duduk untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah hingga azan subuh

Rasulullah saw bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Sesungguhnya Allah SWT selalu turun pada setiap malam menuju langit dunia saat 1/3 malam terakhir, dan Dia berkata: “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku berikan, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni”. (HR. Bukhari Muslim)


2. Agenda Setelah Terbit Fajar

a. Menjawab seruan azan untuk shalat subuh

” الَّلهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِي وَعَدْتَهُ “

“Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini, shalat yang telah dikumandangkan, berikanlah kepada Nabi Muhammad wasilah dan karunia, dan bangkitkanlah dia pada tempat yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan. (Ditashih oleh Al-Albani)

b. Menunaikan shalat sunnah fajar di rumah dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Dua rakaat sunnah fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya”. (Muslim)

وَ قَدْ قَرَأَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِي رَكْعَتَي الْفَجْرِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدَ

“Nabi saw pada dua rakaat sunnah fajar membaca surat “Qul ya ayyuhal kafirun” dan “Qul huwallahu ahad”.

c. Menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid –khususnya- bagi laki-laki.

Rasulullah saw bersabda:

وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الْعَتْمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Sekiranya manusia tahu apa yang ada dalam kegelapan dan subuh maka mereka akan mendatanginya walau dalam keadaan tergopoh-gopoh” (Muttafaqun alaih)

بَشِّرِ الْمَشَّائِيْنَ فِي الظّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّوْرِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berikanlah kabar gembira kepada para pejalan di kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat”. (Tirmidzi dan ibnu Majah)

d. Menyibukkan diri dengan doa, dzikir atau tilawah Al-Quran hingga waktu iqamat shalat

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ

“Doa antara adzan dan iqamat tidak akan ditolak” (Ahmad dan Tirmidzi dan Abu Daud)

e. Duduk di masjid bagi laki-laki /mushalla bagi wanita untuk berdzikir dan membaca dzikir waktu pagi

Dalam hadits nabi disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إَذَا صَلَّى الْفَجْرَ تَرَبَّعَ فِي مَجْلِسِهِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ الْحَسَنَاءُ

” Nabi saw jika selesai shalat fajar duduk di tempat duduknya hingga terbit matahari yang ke kuning-kuningan”. (Muslim)

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya waktu fajar itu disaksikan (malaikat). (Al-Isra : 78) Dan memiliki komitmen sesuai kemampuannya untuk selalu:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah lebih banyak dari itu semua, maka akan menuai kebaikan berlimpah insya Allah.

3. Menunaikan shalat Dhuha walau hanya dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

“Setiap ruas tulang tubuh manusia wajib dikeluarkan sedekahnya, setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah, menolong orang dengan membantunya menaiki kendaraan atau mengangkat kan barang ke atas kendaraannya adalah sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, tiap-tiap langkahmu untuk mengerjakan shalat adalah sedekah, dan membersihkan rintangan dari jalan adalah sedekah”. (Bukhari dan Muslim)

4. Berangkat kerja atau belajar dengan berharap karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمِلِ يَدِهِ، وَكَانَ دَاوُدُ لا يَأْكُلُ إِلا مِنْ عَمِلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan makanan, lebih baik dari yang didapat oleh tangannya sendiri, dan bahwa nabi Daud makan dari hasil tangannya sendiri”. (Bukhari)

Dalam hadits lainnya nabi juga bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang berjalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. (Muslim)

d. Menyibukkan diri dengan dzikir sepanjang hari

Allah berfirman :

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah maka hati akan menjadi tenang” (Ra’ad : 28)

Rasulullah saw bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهَ أَنْ تَمُوْتَ ولسانُك رَطْبٌ من ذِكْرِ الله

“Sebaik-baik perbuatan kepada Allah adalah saat engkau mati sementara lidahmu basah dari berdzikir kepada Allah” (Thabrani dan Ibnu Hibban) .

5. Agenda saat shalat Zhuhur

a. Menjawab azan untuk shalat Zhuhur, lalu menunaikan shalat Zhuhur berjamaah di Masjid khususnya bagi laki-laki

b. Menunaikan sunnah rawatib sebelum Zhuhur 4 rakaat dan 2 rakaat setelah Zhuhur

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang shalat 12 rakaat pada siang dan malam hari maka Allah akan membangunkan baginya dengannya rumah di surga”. (Muslim).

6. Agenda saat dan setelah shalat Ashar

a. Menjawab azan untuk shalat Ashar, kemudian dilanjutkan dengan menunaikan shalat Ashar secara berjamaah di masjid

b. Mendengarkan nasihat di masjid (jika ada)

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ

“Barangsiapa yang pergi ke masjid tidak menginginkan yang lain kecuali belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya ganjaran haji secara sempurna”. (Thabrani – hasan shahih)

c. Istirahat sejenak dengan niat yang karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

وَإِنَّ لِبَدَنِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ

“Sesungguhnya bagi setiap tubuh atasmu ada haknya”.

Agenda prioritas:

Membaca Al-Quran dan berkomitmen semampunya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan, maka akan menuai kebaikan yang berlimpah insya Allah.

7. Agenda sebelum Maghrib

a. Memperhatikan urusan rumah tangga – melakukan mudzakarah – Menghafal Al-Quran

b. Mendengarkan ceramah, nasihat, khutbah, untaian hikmah atau dakwah melalui media

c. Menyibukkan diri dengan doa

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah”

8. Agenda setelah terbenam matahari

a. Menjawab azan untuk shalat Maghrib

b. Menunaikan shalat Maghrib secara berjamaah di masjid (khususnya bagi laki-laki)

c. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Maghrib – 2 rakaat

d. Membaca dzikir sore

e. Mempersiapkan diri untuk shalat Isya lalu melangkahkan kaki menuju masjid

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa yang bersuci/berwudhu kemudian berjalan menuju salah satu dari rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban dari kewajiban Allah, maka langkah-langkahnya akan menggugurkan kesalahan dan yang lainnya mengangkat derajatnya”. (Muslim)

9. Agenda pada waktu shalat Isya

a. Menjawab azan untuk shalat Isya kemudian menunaikan shalat Isya secara jamaah di masjid

b. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Isya – 2 rakaat

c. Duduk bersama keluarga/melakukan silaturahim

d. Mendengarkan ceramah, nasihat dan untaian hikmah di Masjid

e. Dakwah melalui media atau lainnya

f. Melakukan mudzakarah

g. Menghafal Al-Quran

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran dengan berkomitmen sesuai dengan kemampuannya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan bacaan maka telah menuai kebaikan berlimpah insya Allah.


Apa yang kita jelaskan di sini merupakan contoh, sehingga tidak harus sama persis dengan yang kami sampaikan, kondisional tergantung masing-masing individu. Semoga ikhtiar ini bisa memandu kita untuk optimalisasi ibadah insya Allah. Allahu a’lam

Jazaakillah

Sedikit revisi dari : http://www.al-ikhwan.net/agenda-harian-ramadhan-menuju-bahagia-di-bulan-ramadhan-2989/

Isi Blog

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.