Bismillahirrohmanirrohiim 

muqodimah 

Siapa yang tidak ingin mempunyai istri seorang bidadari? Siapapun laki-laki ketika ditanyakan kepadanya pastilah mereka menginginkan mendapatkan seorang istri yang akan mendamping hidupnya sampai akhir hayat masing-masing adalah seorang bidadari, namun bidadari adalah janji Allah Ta’ala bagi laki-laki yang sholih di surga kelak. Lalu bagaimanakah di dunia ini? Mampukah kita mendapatkan seorang bidadari, maksudnya adalah BAGAIMANAKAH KITA MENDAPATKAN SEORANG WANITA YANG SIFATNYA MIRIP DENGAN BIDADARI SURGA yang selalu kita impikan? Apakah memang ada? 

Seribu pertanyaan mungkin akan tetap menjadi sebuah pertanyaan kalau kita tidak mengetahuinya, atau menanyakan kepada orang yang memahami tentang sifat-sifat bidadari itu sebagaimana firman Allah Ta’ala : 

“…maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” [QS An Nahl : 43] 

Maka pelajari dan pahamilah bagaimana sifat-sifat bidadari itu, namun jangan engkau bayangkan kecantikan dan kesempurnaan bidadari, karena engkau tidak akan mampu membayangkannya, di bawah ini akan penulis jelaskan gambaran wanita yang menyerupai sifat-sifat bidadari surga, maka carilah dan tetapkanlah pilihan pada wanita sholihah 

Dari Anas bin Malik dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda,”Sungguh pergi pada waktu sore atau waktu pagi hari di jalan Allah lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya. Dan sungguh jarak ujung busur panah salah seorang dari kamu di surga atau cambuknya adalah lebih bagus daripada dunia dan seisinya. Dan sungguh seandainya seorang bidadari dari penghuni surga muncul ke penduduk bumi, niscaya ia akan menerangi cakrawala antara keduanya (langit dan bumi) dan bau wanginya memenuhi cakrawala itu, dan sungguh kerudung diatas kepalanya adalah lebih bagus daripada dunia dan seluruh isinya [HR. Bukhari 1245] 

“Mereka dipingit di kemah-kemah dalam keadaan putih bersih nan jelita. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman (artinya): "(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dipingit dalam kemah." [Ar Rahman: 72] 

Maqshuratun maksudnya adalah mahbusatun (yang ditahan). Abu Ubaidah berkata, ”Mereka dipingit di kemah-kemah.” Kata Abu Ubaidah lebih lanjut, “Selain itu, ada penafsiran yang lain bahwa bidadari-bidadari tersebut perhatiannya hanya akan terfokus pada suami-suami mereka di kemah-kemahnya, mereka tidak tertarik melihat pria-pria lain selain suami mereka. Ini adalah pendapat kelompok yang mengatakan bahwa bidadari-bidadari tersebut hanya tertarik melihat suami-suaminya dan tidak tertarik melihat pria-pria selain suami-suaminya sebagaimana dikatakan Farra’. 

Ibnu Qayyim mengatakan bahwa ini adalah penafsiran (juga) firman Allah Ta’ala, “bidadari-bidadari yang sopan, menundukkan pandangannya.” Artinya bahwa mereka membatasi pandangan (mata)nya. Firman Allah Ta’ala, “Di kemah-kemah.” Adalah ciri-ciri bidadari-bidadari surga yang bermata jelita bahwa mereka berada di kemah-kemah. Kata tersebut tidak bisa difungsikan pada Maqshuratun. [Hadil Arwaah ila Biladil Afraah, Ibn Qayyim al-Jauziyyah] 

Maka bidadari-bidadari di surga hanya akan memberikan perhatian, kasih sayang dan cintanya hanya kepada suami mereka saja, mereka enggan dan tidak mau untuk melihat pria-pria lain di surga karena yang demikian diperintahkan kepada para bidadari-bidadari itu. 

Sifat bidadari adalah sopan, menundukkan pandangan, dan menahan diri dari menyentuh yang bukan mahramnya, yang tidak suka keluar rumah. 

Sebagaimana firman Allah Ta’ala : 

“Dan di dalam Surga-Surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan, menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni Surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” [QS. Ar Rahman : 56] 

“Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” [QS. Ar Rahman : 58] 

Maka carilah wanita yang memiliki akhlak yang santun dan sopan, hormat kepada yang lebih tua dan menyanyangi kepada yang lebih muda, serta wanita yang selalu menahan lidahnya dari mencela, karena wanita yang menyerupai sifat bidadari adalah wanita yang sopan kepada siapapun tanpa mengurangi kehormatannya sendiri. 

Adalah sifat kesempurnaan bidadari yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa bidadari-bidadari tersebut selalu menundukkan pandangannya (pada yang bukan suami mereka) dan dipingit [Lihat QS. Ar Rahman : 56, Ar Rahman: 72], kedua sifat ini adalah termasuk sifat kesempurnaan wanita bagi yang mau memahaminya, bahwa : 

pertama termasuk sifat wanita shalihah adalah bertahan di rumahnya masing-masing dalam firman Allah Ta’ala : 

“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu…” [Al Ahzab : 33] 

Mereka (para wanita shalihah) tidaklah keluar dari rumahnya kecuali karena keperluan-keperluan yang sangat penting dan darurat. Tidak keluar rumah untuk mengumbar auratnya, pamer perhiasan, dan mencari perhatian laki-laki yang bukan suaminya. Wanita yang shalihah ibarat replika bidadari surga di bumi, yang mempelihara kehormatannya demi suaminya. 

Kedua termasuk sifat wanita shalihah adalah menundukkan pandangan dari yang bukan mahramnya mereka sebagaimana firman Allah Ta’ala : 

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” [QS An Nuur : 31] 

Maka para wanita yang shalihah yang menyerupai (sifat) bidadari surga adalah wanita yang memelihara pandangan matanya untuk tidak menatap laki-laki yang bukan mahramnya, sebagaimana para bidadari tidak menatap pria lain yang bukan suaminya. 
Secantik apapun wanita, sekaya apapun keluarganya, setinggi apapun jabatan bapaknya, maka tidak ada kebaikannya jika wanita ini gemar pacaran, tidak layak untuk dijadikan istri wanita yang gemar menatap laki-laki yang bukan mahramnya [biasanya wanita seperti ini adalah wanita yang suka mengidolakan artis, bintang sinetron, penyanyi atau laki-laki lain yang bukan mahramnya kemudian mengoleksi dan memajang fotonya di dinding-dinding rumah mereka, memandang wajah-wajah artis itu melalui layar televisi, koran, majalah atau selainnya]. Tidak akan mampu wanita yang demikian menjadi ibu rumah tangga yang baik, menyejukkan pandangan mata suaminya kelak dan menjadi guru yang baik bagi anak-anaknya, kalau sedari muda gemar mengumbar mata mencari pemuda-pemuda yang tampan. 

Dan yang lebih terpenting lagi, wanita yang shalihah adalah wanita yang berusaha untuk tidak pernah bersentuhan dengan laki-laki lain yang bukan mahramnya, baik dalam hal bersalaman tangan sekalipun, sebagaimana yang menjadi sifat bidadari surga, firman Allah Ta’ala, “tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni Surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” Maka adalah wanita shalihah yang menjadi dambaan seluruh pemuda Islam yang mengharapkan rumah tangga yang sakinah, mawadah, warrohmah untuk memilih gadis yang suka berada dalam rumahnya, menundukkan pandangannya dan menjauhkan diri dari laki-laki yang bukan mahramnya. 

Maka kita tanyakan kepada manusia, jika mereka memiliki harta yang sangat berharga, yakut dan marjan, apakah manusia akan menyimpannya ditempat yang aman yang terlindung dari orang lain atau malah memamerkannya dimana-mana? Maka fahamilah firman Allah Ta’ala, ““Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” Wanita yang sholihah dipingit dalam rumahnya, tidak akan keluar rumah kecuali karena perkara yang syar’i, dan keluarganya melindungi mereka dari pandangan orang lain, maksudnya adalah orang tua mereka membelikan pakaian yang baik, tebal lagi menutupi tubuhnya dengan baik, maka perhatikan pula kondisi orang tua wanita yang akan engkau pinang wahai para pemuda. 

Mereka (para bidadari) memiliki akhlak yang bagus nan indah sebagaimana kecantikan pesona wajah-wajah mereka. Allah subhanahu wata'ala berfirman (artinya): "Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang (berakhlak) baik-baik lagi cantik-cantik." [Ar Rahman: 70] 

Khairaatun adalah jamak dari khairatun dari kata khayyiratun seperti pada kata sayyidatun dan layyidatun. Hisan adalah jamak dari kata hasanatun. Maksudnya bidadari-bidadari tersebut baik akhlaknya dan cantik wajahnya. 

Waki’ berkata bahwa berkata kepada kami Sufyan dari Jabir dari Qasim dari Abu Bazzah dari Abu Ubaidah dari Masruq dari Abdullah yang berkata, “Setiap orang mukmin mempunyai istri pilihan. Setiap istri pilihan mempunyai kemah. Setiap kemah mempunyai empat pintu. Dalam setiap hari, hidangan, hadiah dan kemuliaan yang tidak pernah diberikan sebelumnya dimasukkan kepada mereka melalui setiap pintu tersebut. Ketiga-tiganya tidak ada campurannya, tidak busuk, tidak basi dan tidak menjijikkan. [Hadil Arwaah ila Biladil Afraah, Ibn Qayyim al-Jauziyyah] 

Maksudnya kondisi para bidadari tersebut adalah selalu bertambah baik setiap saat dan membuat suaminya bahagia setiap bertemu dengannya, tidak seperti kondisi wanita di dunia yang semakin bertambah tua dan enggan untuk merawat diri ketika usia pernikahan semakin beranjak tua. 

Mereka para bidadari berusia sebaya, yaitu dalam kondisi muda semuanya, selalu tampil dalam keadaan perawan, penuh pesona dan cinta. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (artinya): "Dan Kami jadikan bidadari-bidadari itu perawan. Penuh cinta kasih lagi sebaya umurnya. Kami ciptakan mereka untuk golongan kanan." [Al Waqi'ah: 36-38] 

Maka carilah wanita yang menyerupai bidadari surga, yaitu wanita yang penuh cinta kasih, perhatian kepada keluarganya lagi penyayang, karena kelak dia akan menjadi istri yang menyenangkan jika dipandang, tidak membuat bosan dan akan menjadi ibu yang menyenangkan bagi anak-anaknya, mampu mendidik dan tidak suka kejam kepada anak-anaknya. Mereka memandang dengan pandangan mata yang penuh kasih sayang, dengan pandangan yang membuat hati yang gelisah menjadi tenteram, serta pandangan yang menjadi pelipur lara. 

Jika engkau menghendaki carilah wanita yang masih muda, subur lagi menyejukkan pandangan, yang bisa mencandaimu dan engkau pun bisa bercanda dengannya, kecuali ada suatu hal yang engkau harapkan pada wanita yang janda. Sebagaimana hadits dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : 

Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma ketika memberitakan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa ia telah menikah dengan seorang janda, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : “Mengapa engkau tidak menikah dengan gadis hingga engkau bisa mengajaknya bercanda dan dia bisa mencandaimu?!” Namun ketika Jabir mengemukakan alasannya, bahwa ia memiliki banyak saudara perempuan yang masih belia, sehingga ia enggan mendatangkan di tengah mereka perempuan yang sama mudanya dengan mereka sehingga tak bisa mengurusi mereka, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memujinya, “Benar apa yang engkau lakukan.” (HR. Al-Bukhari no. 5080, 4052 dan Muslim no. 3622, 3624) 

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 

“Hendaklah kalian menikah dengan para gadis karena mereka lebih segar mulutnya, lebih banyak anaknya, dan lebih ridha dengan yang sedikit.” (HR. Ibnu Majah no. 1861, dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 623) 

Sesungguhnya istri-istri penduduk Surga akan memanggil suami-suami mereka dengan suara yang merdu yang tidak pernah didengarkan oleh seorangpun. Diantara yang didendangkan oleh mereka : “Kami adalah wanita-wanita pilihan yang terbaik. Istri-istri kaum yang termulia. Mereka memandang dengan mata yang menyejukkan.” Dan mereka juga mendendangkan : “Kami adalah wanita-wanita yang kekal, tidak akan mati. Kami adalah wanita-wanita yang aman, tidak akan takut. Kami adalah wanita-wanita yang tinggal, tidak akan pergi.” [Shahih Al Jami’ nomor 1557] 

“Dan (di dalam Surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli laksana mutiara yang tersimpan baik.” [QS. Al Waqiah : 22-23] 

Maka mendapatkan istri yang memiliki sifat seperti bidadari adalah sebuah kebahagiaan yang teramat besar, lebih besar daripada engkau mendapatkan harta sebesar apapun di dunia ini, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam,”Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah istri yang sholihah.” [HR. Muslim no. 1467, kitab Ar-Radha’ bab Khairu Mata’id Dunya Al-Mar`atush Shalihah] 

Maka katakanlah wahai para pemuda muslim, istri seperti apa yang engkau inginkan, bukankah engkau mengharapkan kehidupan rumah tangga yang indah, istri yang sholihah akan membantumu mewujudkan keinginan ini dengan izin Allah Ta’ala. Mereka (para wanita sholihah) laksana mutiara yang tersimpan baik, tersembunyi di balik dinding-dinding rumahnya, tersembunyi di balik tebalnya gamis dan niqob-nya, wanita yang jarang engkau dengarkan suaranya kecuali telah sah dia menjadi istrimu, bukan wanita-wanita yang suka kelayapan kemana-mana mengumbar aurat dan suaranya, bukan wanita yang membenci pakaian taqwa, bukan wanita yang engkau temui di jalan-jalan, demi Alloh, wanita-wanita pengumbar aurat itu akan menyengsarakan hidupmu, di dunia dan akhirat. Firman Allah Ta’ala : 

“Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya, seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik. [QS. Ash Shaffat : 48-49] 

Maka carilah pendamping hidupmu dengan sangat teliti wahai para pemuda yang mengharapkan rahmat dari Allah, ketahuilah dan tetapkan ciri-ciri dari apa yang telah engkau pelajari dari firman Allah dalam Al Qur’an, serta sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian jika engkau menemukannya cepat-cepatlah engkau meng-khitbah-nya, karena dia akan membahagiakan hidupmu di dunia dan di akhirat Insya Allah. 

Pilihah wanita dengan beberapa ketetapan di bawah ini : 

1. Wanita itu shalihah, karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Wanita itu (menurut kebiasaan yang ada, pent.) dinikahi karena empat perkara, bisa jadi karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang memiliki agama. Bila tidak, engkau celaka.” (HR. Al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 3620 dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu) 

2. Wanita itu subur rahimnya. Tentunya bisa diketahui dengan melihat ibu atau saudara perempuannya yang telah menikah. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda: “Nikahilah oleh kalian wanita yang penyayang lagi subur, karena aku berbangga-bangga di hadapan umat yang lain pada kiamat dengan banyaknya jumlah kalian.” (HR. An-Nasa`i no. 3227, Abu Dawud no. 1789, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Irwa`ul Ghalil no. 1784) 

3. Wanita tersebut masih gadis [Namun bukan berarti janda terlarang baginya, karena dari keterangan di atas Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memperkenankan Jabir radhiyallahu 'anhuma memperistri seorang janda. Juga, semua istri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dinikahi dalam keadaan janda, kecuali Aisyah radhiyallahu 'anha.], yang dengannya akan dicapai kedekatan yang sempurna sebagaimana hadits dari Jabir radhiyallahu 'anhuma di atas. 

Khatimah 

Maka dari apa yang kita pelajari bersama di atas ada ciri-ciri yang mudah dikenali pada wanita yang mempunyai kemiripan sifat dengan bidadari surga, yaitu : 
1. Wanita yang sopan (dalam berpakaian, sikap, lisan dan tingkah laku) [QS. Ar Rahman : 56] 
2. Wanita yang berakhlak baik [Ar Rahman: 70] [Shahih Al Jami’ nomor 1557] 
3. Wanita yang tidak suka keluar rumah [memingit dirinya sendiri] [Ar Rahman: 72] [QS. Al Waqiah : 22-23] 
4. Wanita yang menundukkan pandangannya [QS. Ar Rahman : 56] 
5. Wanita yang tidak liar pandangan matanya [QS. Ash Shaffat : 48-49] 
6. Wanita yang tidak pernah menyentuh laki-laki yang bukan mahramnya [QS. Ar Rahman : 56] 
7. Wanita yang penuh cinta [Al Waqi'ah: 36-38] 
8. Wanita yang ketika dinikahi masih perawan (kecuali janda) [Al Waqi'ah: 36-38] 

Oleh Andi Abu Najwa 

0 komentar:

Agenda Harian

Semoga kita senantiasa terpacu untuk mengukir prestasi amal yang akan memperberat timbangan kebaikan di yaumil akhir, berikut rangkaian yang bisa dilakukan

1. Agenda pada sepertiga malam akhir

a. Menunaikan shalat tahajjud dengan memanjangkan waktu pada saat ruku’ dan sujud di dalamnya,

b. Menunaikan shalat witir

c. Duduk untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah hingga azan subuh

Rasulullah saw bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Sesungguhnya Allah SWT selalu turun pada setiap malam menuju langit dunia saat 1/3 malam terakhir, dan Dia berkata: “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku berikan, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni”. (HR. Bukhari Muslim)


2. Agenda Setelah Terbit Fajar

a. Menjawab seruan azan untuk shalat subuh

” الَّلهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِي وَعَدْتَهُ “

“Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini, shalat yang telah dikumandangkan, berikanlah kepada Nabi Muhammad wasilah dan karunia, dan bangkitkanlah dia pada tempat yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan. (Ditashih oleh Al-Albani)

b. Menunaikan shalat sunnah fajar di rumah dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Dua rakaat sunnah fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya”. (Muslim)

وَ قَدْ قَرَأَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِي رَكْعَتَي الْفَجْرِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدَ

“Nabi saw pada dua rakaat sunnah fajar membaca surat “Qul ya ayyuhal kafirun” dan “Qul huwallahu ahad”.

c. Menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid –khususnya- bagi laki-laki.

Rasulullah saw bersabda:

وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الْعَتْمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Sekiranya manusia tahu apa yang ada dalam kegelapan dan subuh maka mereka akan mendatanginya walau dalam keadaan tergopoh-gopoh” (Muttafaqun alaih)

بَشِّرِ الْمَشَّائِيْنَ فِي الظّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّوْرِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berikanlah kabar gembira kepada para pejalan di kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat”. (Tirmidzi dan ibnu Majah)

d. Menyibukkan diri dengan doa, dzikir atau tilawah Al-Quran hingga waktu iqamat shalat

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ

“Doa antara adzan dan iqamat tidak akan ditolak” (Ahmad dan Tirmidzi dan Abu Daud)

e. Duduk di masjid bagi laki-laki /mushalla bagi wanita untuk berdzikir dan membaca dzikir waktu pagi

Dalam hadits nabi disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إَذَا صَلَّى الْفَجْرَ تَرَبَّعَ فِي مَجْلِسِهِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ الْحَسَنَاءُ

” Nabi saw jika selesai shalat fajar duduk di tempat duduknya hingga terbit matahari yang ke kuning-kuningan”. (Muslim)

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya waktu fajar itu disaksikan (malaikat). (Al-Isra : 78) Dan memiliki komitmen sesuai kemampuannya untuk selalu:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah lebih banyak dari itu semua, maka akan menuai kebaikan berlimpah insya Allah.

3. Menunaikan shalat Dhuha walau hanya dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

“Setiap ruas tulang tubuh manusia wajib dikeluarkan sedekahnya, setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah, menolong orang dengan membantunya menaiki kendaraan atau mengangkat kan barang ke atas kendaraannya adalah sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, tiap-tiap langkahmu untuk mengerjakan shalat adalah sedekah, dan membersihkan rintangan dari jalan adalah sedekah”. (Bukhari dan Muslim)

4. Berangkat kerja atau belajar dengan berharap karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمِلِ يَدِهِ، وَكَانَ دَاوُدُ لا يَأْكُلُ إِلا مِنْ عَمِلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan makanan, lebih baik dari yang didapat oleh tangannya sendiri, dan bahwa nabi Daud makan dari hasil tangannya sendiri”. (Bukhari)

Dalam hadits lainnya nabi juga bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang berjalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. (Muslim)

d. Menyibukkan diri dengan dzikir sepanjang hari

Allah berfirman :

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah maka hati akan menjadi tenang” (Ra’ad : 28)

Rasulullah saw bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهَ أَنْ تَمُوْتَ ولسانُك رَطْبٌ من ذِكْرِ الله

“Sebaik-baik perbuatan kepada Allah adalah saat engkau mati sementara lidahmu basah dari berdzikir kepada Allah” (Thabrani dan Ibnu Hibban) .

5. Agenda saat shalat Zhuhur

a. Menjawab azan untuk shalat Zhuhur, lalu menunaikan shalat Zhuhur berjamaah di Masjid khususnya bagi laki-laki

b. Menunaikan sunnah rawatib sebelum Zhuhur 4 rakaat dan 2 rakaat setelah Zhuhur

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang shalat 12 rakaat pada siang dan malam hari maka Allah akan membangunkan baginya dengannya rumah di surga”. (Muslim).

6. Agenda saat dan setelah shalat Ashar

a. Menjawab azan untuk shalat Ashar, kemudian dilanjutkan dengan menunaikan shalat Ashar secara berjamaah di masjid

b. Mendengarkan nasihat di masjid (jika ada)

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ

“Barangsiapa yang pergi ke masjid tidak menginginkan yang lain kecuali belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya ganjaran haji secara sempurna”. (Thabrani – hasan shahih)

c. Istirahat sejenak dengan niat yang karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

وَإِنَّ لِبَدَنِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ

“Sesungguhnya bagi setiap tubuh atasmu ada haknya”.

Agenda prioritas:

Membaca Al-Quran dan berkomitmen semampunya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan, maka akan menuai kebaikan yang berlimpah insya Allah.

7. Agenda sebelum Maghrib

a. Memperhatikan urusan rumah tangga – melakukan mudzakarah – Menghafal Al-Quran

b. Mendengarkan ceramah, nasihat, khutbah, untaian hikmah atau dakwah melalui media

c. Menyibukkan diri dengan doa

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah”

8. Agenda setelah terbenam matahari

a. Menjawab azan untuk shalat Maghrib

b. Menunaikan shalat Maghrib secara berjamaah di masjid (khususnya bagi laki-laki)

c. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Maghrib – 2 rakaat

d. Membaca dzikir sore

e. Mempersiapkan diri untuk shalat Isya lalu melangkahkan kaki menuju masjid

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa yang bersuci/berwudhu kemudian berjalan menuju salah satu dari rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban dari kewajiban Allah, maka langkah-langkahnya akan menggugurkan kesalahan dan yang lainnya mengangkat derajatnya”. (Muslim)

9. Agenda pada waktu shalat Isya

a. Menjawab azan untuk shalat Isya kemudian menunaikan shalat Isya secara jamaah di masjid

b. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Isya – 2 rakaat

c. Duduk bersama keluarga/melakukan silaturahim

d. Mendengarkan ceramah, nasihat dan untaian hikmah di Masjid

e. Dakwah melalui media atau lainnya

f. Melakukan mudzakarah

g. Menghafal Al-Quran

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran dengan berkomitmen sesuai dengan kemampuannya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan bacaan maka telah menuai kebaikan berlimpah insya Allah.


Apa yang kita jelaskan di sini merupakan contoh, sehingga tidak harus sama persis dengan yang kami sampaikan, kondisional tergantung masing-masing individu. Semoga ikhtiar ini bisa memandu kita untuk optimalisasi ibadah insya Allah. Allahu a’lam

Jazaakillah

Sedikit revisi dari : http://www.al-ikhwan.net/agenda-harian-ramadhan-menuju-bahagia-di-bulan-ramadhan-2989/

Isi Blog

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.