Fungsi hati yang demikian ajaib, bagi kebanyakan orang menjadi sirna. Hal ini dikarenakan hatinya terhijab dengan Allah Ta'ala.

Hati manusia dapat terhijab dari Allah Ta'ala disebabkan karena hal-hal sebagi berikut :

Pertama, selalu mempertuhankan atau merelakan dirinya untuk menjadi hamba dari hawa nafsu, sehingga ia menjadi orang yang melampaui batas.

Mereka itulah yang dikunci mati hati mcrcka oleh Allah dan mengikuti hawa najsu mereka. [QS. Muhammad (47) : 16]

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafiunya sebagai Ilahnya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya dari binatang ternak itu). [QS. Al Furqaan (25) : 43-44]



Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat) Maka mengapa kamu tidak mengambilpelajaran [QS. Al Jatsiyaat (45) : 23]



dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini, dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melampaui batas. [QS. Al Kahfi (18) : 28]



Ban tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampui batas lagi berdosa, yang apabila dibaeakan kepadanya ay at-ay at Kami, ia berkata: "Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu\ Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. [QS. Al Muthaffifiin (83) : 12-14]



Demikianlah Kami mengunci mati hati orang-orang yang melampaui batas. [QS. Yuunus (10) : 74]

Darijabir RA. Rasulullah SAWbersabda : Kita kembali dari jihad yang kecil kepada jihad yang besar yaitu melawan hawa najsu". (HR Al Baihaqy dengan sanad lemah)



Orang yang tidak mau mengendalikan dirinya dari pengaruh hawa nafsu dan syahwat berarti ia tidak mau melakukan peperangan (jihad) yang besar.



Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang, dan hati mereka telah dikunci mati, maka mereka tidak mengetahui. [QS. At Taubah (9) : 87 Referensi QS 9:93]



Kedua, karena selalu merelakan dirinya untuk diatur oleh hawa nafsu dan syahwatnya, tanpa disadari ia lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat.

Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaumyang kafir. Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikuncimati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai. [QS. An-Nahl (16) : 107-108]



Baik mempertuhankan hawa nafsu maupun terlalu mencintai kehidupan duniawi, termasuk perkara-perkara yang paling dibenci Allah Ta'ala. Dan segala sesuatu yang tidak disukai Allah Ta'ala adalah dosa. Jadi pada dasarnya, gelapnya hati seseorang tersebut karena dosa-dosa.



Imam Al Ghazaly mengatakan bahwa hal-hal tercela (dosa), seperti asap yang menggelapkan, yang mengotori kaca hati. Dan senantiasa bertambah tebal dengan terus menerus melakukan dosa. Sehingga hati itu hitam dan gelap. Dan secara keselurahan hati itu menjadi terdinding dengan Allah Ta'ala.

Apabila hati seorang manusia gelap gulita karena diliputi oleh dosa-dosa, didalamnya dipenuhi oleh berhala-berhala, tuhan-tuhan manusia selain Allah Ta'ala berupa syahwat dan hawa nafsu, maka hati tersebut menjadi mengeras lebih keras dari batu. Sulit untuk berserah diri kepada Allah Ta'ala. Dan jiwa yang seperti ini menjadi ajang permainan dan tipu daya syaithan.

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. [QS. Al Baqarah (2) : 74]



... bahkan hati mereka telah menjadi keras dan syaithanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apayang selalu mereka kerjakan. [QS. Al An'aam (6) : 43]



Dengan tertutupnya hati dari cahaya Allah, maka menyempitiah dadanya. Tertutuplah ia dari bimbingan Allah Ta'ala. Terlepaslah ia dari petunjuk-petunjuk Allah Ta'ala, dan terjatuh ke tangan syaithan yang akan membawanya kepada kesesatan.

Tidak ada pimpinan Allah Ta'ala bagi yang tidak memiliki cahaya iman.



Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orangyang tidak beriman. [QS. Al A'Raaf (7) : 27]



Dan syaithan pun membawa lari orang-orang yang tidak beriman semakin jauh dan tersesat dari shiraathal mustaqiim.

saya (Mis, syaithan) benar-benar akan (menghalangi-halangi) mereka dari shiraathal mustaqiim. [QS. Al A'Raaf (7) : 16]

Sedangkan pemimpin (pemberi petunjuk) orang-orang yang telah dianugerahi cahaya iman adalah Allah sendiri. Dipimpin untuk menuju shiraathal mustaqiim.

sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada shiraathal mustaqiim. [QS. Al Hajj (22) : 54]

Jika hati seseorang telah tertutup dinding, maka di dunianya menjadi gelap gulita, tidak bisa melihat shiraathal mustaqiim.

Jika kondisi kebutaan ini terbawa ke alam kubur ketika ajalnya, maka keberadaanya di alam kubur yang asing dalam kondisi buta, merupakan kegelapan diatas kegelapan. Jauh lebih tersesat jalannya. Lebih-lebih jika kondisi butanya terbawa ke alam akhirat.

Semoga Allah menjauhkan kita dari kondisi yang seperti ini.



Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat jalannya. [QS. Al Israa' (17) : 72]



Yang buta atau ditutup dalam ayat ini bukanlah mata jasmaniyah (mata inderawi). Sebab mata jasmaniyah orang tersebut melihat dunianya dan tidak ada sesuatupun yang menutupinya. Yang buta dan gelap gulita adalah mata hatinya.

Karma sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. [QS. Al Hajj (22) : 46]



Seorang mukmin mendapat petunjuk Allah Ta'ala sebab hatinya memang mampu menerima bimbingan-bimbingan-Nya. Tetapi seorang yang mata hatinya buta dan telinga hatinya tidak mendengar, maka ia akan menemui kesesatan dari jalan Allah, dikarenakan tidak memahami petunjuk-petunjuk-Nya.



Bagaimana mungkin dapat memberi petunjuk kepada orang lain, kalau dirinya sendiri buta dan tuli yang menyebabkan lisannya bisu dalam menyuarakan kebenaran.

Karena tidak bisa melihat dan mendengar, kelak di hari kiamat ia akan digiring ke Jahannam dengan cara di seret oleh malaikat.



Dan barangsiapa yang ditunjuki Allah, dialah yang mendapat petunjuk dan barangsiapa yangDia sesatkan maka sekali-kali kamu tidak akan mendapatpenolong-penolong bagi mereka selain dariDia. Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu dan pekak. Tempat kediaman mereka adalah neraka jahanam. Tiap-tiap kali nyala api jahanam itu akan padam, Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya. [QS. Al Israa' (17) : 97]



Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". Berkatalah ia: "Ta Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya seorangyang melihaf [QS. Thahaa (20) : 124-125]



Sebagian besar jin dan manusia akan memasuki jahanam, di dalamnya ada yang hanya singgah untuk melakukan penebusan atas dosa-dosanya, ada pula yang menjadi penghuni-penghuni tetapnya.



Orang yang hatinya telah mengeras, tidak ubahnya bagai binatang ternak, walaupun mata jasamaniyahnya melihat dan telinganya mendengar tetapi ternak-ternak tersebut tidak akan mengerti apa-apa seandainya mereka diberi pengajaran-pengajaran. Hidupnya hanya tercurah untuk memuaskan syahwatnya semata.



Kebanyakan manusia bagaikan binatang ternak, walaupun diberi akal lebih dibandingkan dengan binatang ternak, tetapi akalnya telah tumpul untulc menuju kepada kebaikan karena dosa-dosa. Potensi akal dan jasmani yang dianugerahkan Allah kepada seorang manusia, yang hidupnya bagaikan binatang ternak, malah semakin menurunkan derajat orang tersebut di sisi Allah Ta'ala menjadi lebih rendah daripada binatang ternak.

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi nereka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami, dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka itu sebagai binatang temak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orangyang lalai. [QS. Al A'raaf (7) : 179]

Itulah seburuk-buruk binatang dalam pandangan Allah.

Sesungguhnya binatang yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuliyang tidak mengerti apa-apapun. [QS. Al Anfal (8) : 22]

Jelaslah Allah tidak akan sudi bertemu dengan seseorang yang menempel pada dirinya dosa yang dikarenakan sesuatu yang tidak diskuai-Nya.

Padahal setiap ketertutupan dari Allah Ta'ala adalah kebinasaan. Seandainya kita datang menghadap Allah Ta'ala dengan membawa hanya sebutir dosa sekali pun, kita tidak akan selamat dari pembersihan jahanam.



Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Rabbnya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam. la tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup. Dan barangsiapa datang kepada Rabbnya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh beramal shalih, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia), [QS. Thahaa (20) : 74-75]



Dosa itu sendiri bertingkat-tingkat. Mulai dari dosa tingkat rasa, karsa (keinginan), eipta (pikiran), dan karya (amal). Sebagai contoh orang yang ujub (bangga diri), merasa lebih dari yang lain (dalam hal apa pun), maka hatinya menjadi berdosa pada tingkat rasa.

Bangga diri ini membawa seseorang kepada kesombongan hati, yang tiada seorang pun mengetahui kecuali Allah Ta'ala dan mereka yang diberi izin oleh-Nya untuk mengetahui.

Rasa sombong dan bangga diri adalah sesuatu yang tidak disukai Allah. Maka hal itu adalah dosa. Dan setiap dosa akan dilebur di Jahanam walaupun hanya sebesar dzarrah.

Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. [QS. Al Hadiid (59) : 23]



Dari Abdullah bin Mas'ud R.A, Rasulullah SAW bersabda : "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat rasa sombong walaupun hanya sebesar dzarrah* ... "Sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia". [Hadits Riwayat Muslim].

Demikian pula dosa akibat karsa (keinginan atau kemauan). Kemauan hams disesuaikan dengan kemampuan. Kemauan harus sesuai dengan kepantasan atau kelayakan dan situasi serta kondisi lingkungan. Mengutamakan yang perlu dan penting dalam setiap aktivitas.

Dosa akibat cipta (pilkiran) dapat terjadi karena tidak menggunakan akal pildran sesuai dengan porsinya dan tidak sia-sia.



Dalam karya (amal) dapat terjadi dosa karena tidak pandai menyesuaikan, menempatkan dan mengatur tingkah laku dan bicaranya. Dalam setiap karya harus dilakukan dengan perilaku dan bicara baik.

Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. [QS. Luqman (31) : 19]



Dari Jabir bin Abdullah RA. Bahwasannya Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya orang-orang yang aku cintai dan orang yang paling dekat duduknya dengan aku pada hari kiamat nanti, adalah orang-orang yang sangat baik budi pekertinya. Dan orang-orang yang sangat aku benci dan orang-orang yang jauh tempat duduknya dengan aku pada hari kiamat nanti, adalah orang-orang yang suka berbicara, orang-orang yang berlagak fasih dan orang-orang yang bermulut besar [HR Turmudzi].



Dosa-dosa itulah yang menghalangi seorang hamba untuk dapat diterima Allah Ta'ala. Padahal keselamatan itu hanyalah di sisi Allah dan bersama Allah. Seandainya ada sesuatu yang menghalangi diri kita dengan Allah Ta'ala, dan dengan Rahmat-Nya, maka tiada tempat lain kecuali kecelakaan yang besar.



barang siapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghui neraka, mereka kekaldidalamnya. [QS. Al Baqarah (2) : 81]

Sesungguhnyatiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa. [QS. Yunus (10) : 17]

Dan tidak ada seorangpun daripadamu, mclainkan mendatangi ncraka itu. Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu kemestian yang sudah ditctapkan. Kemudian Kami akan mcnydamatkan orang-orang yang bcrtaqwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam ncraka dalam keadaan berlutut. [QS. Maryam (19) : 71-72]



Kecelakan besar bagi orang-orang yang dzalim. Orang-orang yang mendzalimi dirinya sendiri, orang-orang yang tidak mau membersihkan diri dari dosa-dosanya (berat ataupun ringan). Orang-orang tidak mau bertaubat atas dosa-dosa maka itulah orang-orang yang dzalim.

... dan barangsiapayang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim. [QS. Al Hujuraat (49) : 11]



Tidak ada yang selamat kecuali orang-orang yang bertaqwa kepada Allah Ta'ala, dengan ikhlas, dengan hati yang bersih, selamat dari pengotoran dosa-dosa, tiada setitik dosapun yang menghalangi dirinya dengan Allah Ta'ala.

kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (selamat). [QS. Asy Syu'araa' (26) : 89]



Jika hati kita sudah gelap gulita karena tertutup dosa-dosa, maka yang berwenang dan mampu membersihkan dan membuka kembali hati kita hanya Allah Ta'ala.

Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah ilah selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamuT [QS. Al An'aam (6) : 46]



Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih Sebenamya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikitpun. [QS. An-Nisaa' (4) : 49]



> Tasawuf for Beginner

Imam Suhadi








0 komentar:

Agenda Harian

Semoga kita senantiasa terpacu untuk mengukir prestasi amal yang akan memperberat timbangan kebaikan di yaumil akhir, berikut rangkaian yang bisa dilakukan

1. Agenda pada sepertiga malam akhir

a. Menunaikan shalat tahajjud dengan memanjangkan waktu pada saat ruku’ dan sujud di dalamnya,

b. Menunaikan shalat witir

c. Duduk untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah hingga azan subuh

Rasulullah saw bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Sesungguhnya Allah SWT selalu turun pada setiap malam menuju langit dunia saat 1/3 malam terakhir, dan Dia berkata: “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku berikan, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni”. (HR. Bukhari Muslim)


2. Agenda Setelah Terbit Fajar

a. Menjawab seruan azan untuk shalat subuh

” الَّلهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِي وَعَدْتَهُ “

“Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini, shalat yang telah dikumandangkan, berikanlah kepada Nabi Muhammad wasilah dan karunia, dan bangkitkanlah dia pada tempat yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan. (Ditashih oleh Al-Albani)

b. Menunaikan shalat sunnah fajar di rumah dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Dua rakaat sunnah fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya”. (Muslim)

وَ قَدْ قَرَأَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِي رَكْعَتَي الْفَجْرِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدَ

“Nabi saw pada dua rakaat sunnah fajar membaca surat “Qul ya ayyuhal kafirun” dan “Qul huwallahu ahad”.

c. Menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid –khususnya- bagi laki-laki.

Rasulullah saw bersabda:

وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الْعَتْمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Sekiranya manusia tahu apa yang ada dalam kegelapan dan subuh maka mereka akan mendatanginya walau dalam keadaan tergopoh-gopoh” (Muttafaqun alaih)

بَشِّرِ الْمَشَّائِيْنَ فِي الظّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّوْرِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berikanlah kabar gembira kepada para pejalan di kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat”. (Tirmidzi dan ibnu Majah)

d. Menyibukkan diri dengan doa, dzikir atau tilawah Al-Quran hingga waktu iqamat shalat

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ

“Doa antara adzan dan iqamat tidak akan ditolak” (Ahmad dan Tirmidzi dan Abu Daud)

e. Duduk di masjid bagi laki-laki /mushalla bagi wanita untuk berdzikir dan membaca dzikir waktu pagi

Dalam hadits nabi disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إَذَا صَلَّى الْفَجْرَ تَرَبَّعَ فِي مَجْلِسِهِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ الْحَسَنَاءُ

” Nabi saw jika selesai shalat fajar duduk di tempat duduknya hingga terbit matahari yang ke kuning-kuningan”. (Muslim)

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya waktu fajar itu disaksikan (malaikat). (Al-Isra : 78) Dan memiliki komitmen sesuai kemampuannya untuk selalu:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah lebih banyak dari itu semua, maka akan menuai kebaikan berlimpah insya Allah.

3. Menunaikan shalat Dhuha walau hanya dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

“Setiap ruas tulang tubuh manusia wajib dikeluarkan sedekahnya, setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah, menolong orang dengan membantunya menaiki kendaraan atau mengangkat kan barang ke atas kendaraannya adalah sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, tiap-tiap langkahmu untuk mengerjakan shalat adalah sedekah, dan membersihkan rintangan dari jalan adalah sedekah”. (Bukhari dan Muslim)

4. Berangkat kerja atau belajar dengan berharap karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمِلِ يَدِهِ، وَكَانَ دَاوُدُ لا يَأْكُلُ إِلا مِنْ عَمِلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan makanan, lebih baik dari yang didapat oleh tangannya sendiri, dan bahwa nabi Daud makan dari hasil tangannya sendiri”. (Bukhari)

Dalam hadits lainnya nabi juga bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang berjalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. (Muslim)

d. Menyibukkan diri dengan dzikir sepanjang hari

Allah berfirman :

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah maka hati akan menjadi tenang” (Ra’ad : 28)

Rasulullah saw bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهَ أَنْ تَمُوْتَ ولسانُك رَطْبٌ من ذِكْرِ الله

“Sebaik-baik perbuatan kepada Allah adalah saat engkau mati sementara lidahmu basah dari berdzikir kepada Allah” (Thabrani dan Ibnu Hibban) .

5. Agenda saat shalat Zhuhur

a. Menjawab azan untuk shalat Zhuhur, lalu menunaikan shalat Zhuhur berjamaah di Masjid khususnya bagi laki-laki

b. Menunaikan sunnah rawatib sebelum Zhuhur 4 rakaat dan 2 rakaat setelah Zhuhur

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang shalat 12 rakaat pada siang dan malam hari maka Allah akan membangunkan baginya dengannya rumah di surga”. (Muslim).

6. Agenda saat dan setelah shalat Ashar

a. Menjawab azan untuk shalat Ashar, kemudian dilanjutkan dengan menunaikan shalat Ashar secara berjamaah di masjid

b. Mendengarkan nasihat di masjid (jika ada)

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ

“Barangsiapa yang pergi ke masjid tidak menginginkan yang lain kecuali belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya ganjaran haji secara sempurna”. (Thabrani – hasan shahih)

c. Istirahat sejenak dengan niat yang karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

وَإِنَّ لِبَدَنِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ

“Sesungguhnya bagi setiap tubuh atasmu ada haknya”.

Agenda prioritas:

Membaca Al-Quran dan berkomitmen semampunya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan, maka akan menuai kebaikan yang berlimpah insya Allah.

7. Agenda sebelum Maghrib

a. Memperhatikan urusan rumah tangga – melakukan mudzakarah – Menghafal Al-Quran

b. Mendengarkan ceramah, nasihat, khutbah, untaian hikmah atau dakwah melalui media

c. Menyibukkan diri dengan doa

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah”

8. Agenda setelah terbenam matahari

a. Menjawab azan untuk shalat Maghrib

b. Menunaikan shalat Maghrib secara berjamaah di masjid (khususnya bagi laki-laki)

c. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Maghrib – 2 rakaat

d. Membaca dzikir sore

e. Mempersiapkan diri untuk shalat Isya lalu melangkahkan kaki menuju masjid

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa yang bersuci/berwudhu kemudian berjalan menuju salah satu dari rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban dari kewajiban Allah, maka langkah-langkahnya akan menggugurkan kesalahan dan yang lainnya mengangkat derajatnya”. (Muslim)

9. Agenda pada waktu shalat Isya

a. Menjawab azan untuk shalat Isya kemudian menunaikan shalat Isya secara jamaah di masjid

b. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Isya – 2 rakaat

c. Duduk bersama keluarga/melakukan silaturahim

d. Mendengarkan ceramah, nasihat dan untaian hikmah di Masjid

e. Dakwah melalui media atau lainnya

f. Melakukan mudzakarah

g. Menghafal Al-Quran

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran dengan berkomitmen sesuai dengan kemampuannya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan bacaan maka telah menuai kebaikan berlimpah insya Allah.


Apa yang kita jelaskan di sini merupakan contoh, sehingga tidak harus sama persis dengan yang kami sampaikan, kondisional tergantung masing-masing individu. Semoga ikhtiar ini bisa memandu kita untuk optimalisasi ibadah insya Allah. Allahu a’lam

Jazaakillah

Sedikit revisi dari : http://www.al-ikhwan.net/agenda-harian-ramadhan-menuju-bahagia-di-bulan-ramadhan-2989/

Isi Blog

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.