Dampak Buruk Makanan Haram bagi Seorang Muslim

21 Juni 2011 | Dibaca : 1222 kali

Era globalisasi banyak berpengaruh terhadap kehidupan manusia, tak terkecuali terhadap kaum muslimin. Karenanya, banyak orang yang mengatakan, "Yang haram saja susah, apalagi yang halal." Satu ungkapan yang menggambarkan rendahnya kondisi keimanan dan keyakinan terhadap rahmat dan rezeki Allah.
Padahal, Allah dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menegaskan bahwa Allah akan mencukupkan rezeki mereka. Sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya (yang artinya), "Dan betapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezeki sendiri. Allahlah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Q.S. Al-Ankabut:60)
Juga firman-Nya (yang artinya), "Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan." (Q.S. Adz-Dzariyat:57)
Dua ayat tersebut menegaskan bahwa Allah sebagai pemberi rezeki kepada semua makhluk. Lantas, Allah mengutus Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menghalalkan perkara yang baik dan mengharamkan perkara yang buruk bagi manusia. Sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya (yang artinya), "(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi, yang (namanya) mereka dapati tertulis dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari yang mungkar, menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk, juga membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka, orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Alquran), mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Q.S. Al-A'raf:157)
Makanlah yang halal dan yang baik saja
Setelah jelas semua yang dihalalkan dan yang diharamkan oleh Allah, apalagi yang menjadi halangan untuk menghindari hal yang haram dan hanya mengambil yang halal?
Seperti firman-Nya (yang artinya), "Wahai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari segala sesuatu yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan adalah musuh bagimu." (Q.S. Al-Baqarah:168)
Apalagi bila kita bersyukur atas segala nikmat, Allah akan menambah anugerah-Nya. Namun, jika kita ingkar dan melampaui batas maka kebinasaan ada di hadapan kita. Allah berfirman (yang artinya), "Makanlah rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barang siapa ditimpa kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia!" (Q.S. Thaha:81)
Pentingnya makanan yang halal dan bahaya makanan yang haram
Permasalahan halal dan haram sangat penting sebab hal ini juga terkait dengan amal saleh dan ibadah. Di dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Muslim dan yang lainnya, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya, Allah ta'ala itu baik, tidak menerima kecuali yang baik, dan bahwa Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin dengan perintah yang disampaikan-Nya kepada para rasul dalam firman-Nya, 'Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal saleh! Sesungguhnya, Aku Maha mengetahui segala perbuatan yang kamu kerjakan.' (Q.S. Al-Mu'minun:51)
Allah pun berfirman (yang artinya), 'Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu.' (Q.S. Al-Baqarah:172)
Kemudian, beliau menyebutkan seorang laki-laki kusut seperti debu yang mengulurkan kedua tangannya ke langit sambil berdoa, 'Wahai Rabbku, wahai Rabbku ....' Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, ia kenyang dengan makanan yang haram, maka bagaimana mungkin permohonan orang tersebut dikabulkan?" [1]
Hadis tersebut menjelaskan bahwa makanan yang dimakan seseorang mempengaruhi diterima dan tidaknya suatu amal saleh. Ibnu Rajab berkata, "Hadis ini menunjukkan bahwa amal tidak diterima dan tidak suci, kecuali dengan memakan makanan yang halal. Adapun memakan makanan yang haram, itu dapat merusak amal dan membuatnya tidak diterima." [2]
Allah juga berfirman (yang artinya), "Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu."
Lantas, bagaimana menghadapi syahwat dunia, terkait masa depan dunia?
Pertama, hendaknya kita berusaha menghilangkan penyebab yang membuat kita memperoleh penghasilan yang haram, yaitu dengan cara menumbuhkan rasa takut dan malu kepada Allah. Itu semua ditempuh dengan mempelajari agama Islam serta mengenal Allah dalam rububiyahuluhiyah, dan asma' wa shifat-Nya. Dengan kata lain, hendaknya, kita mengenal akidah tauhid yang benar, sehingga rasa takut dan malu kepada Allah pun tumbuh. Selain itu, akan tumbuh pula keyakinan bahwa Allah akan memberikan rezeki sesuai dengan yang Ia takdirkan.
Kedua, menghilangkan ketamakan dan menumbuhkan sifat qana'ah (bersyukur atas apa pun yang diberikan oleh Allah). Ini pun merupakan buah dari pengetahuan kita terhadap akidah tauhid yang benar. Kita juga mencoba memahamkan diri bahwa Allah ta'ala telah menetapkan rezeki kita, sehingga kita tidak akan mati sebelum nikmat rezeki tersebut sempurna.
Ketiga, mengenal bahaya usaha yang haram dengan belajar hukum-hukum Islam, belajar membedakan hal yang halal dan hal yang haram. Dengan ini semua, kita akan mampu berupaya menghindar dari usaha yang haram karena kita tahu bahwa rezeki kita telah diciptakan oleh Allah, tinggal bagaimana kita mencarinya dengan baik.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Carilah nikmat dunia dengan baik lagi cerdik." (H.R. Al-Bazaar, 9:169; dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 898) [3]
Perhatikan pula sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berikut, "Siapa saja hamba yang dagingnya tumbuh dari (makanan) haram maka neraka lebih pantas baginya."
Mudah-mudahan, hal ini membuat kita lebih berhati-hati. Wallahu Al-Muwaffiq.
Catatan kaki:
[1] Dikeluarkan oleh Muslim dalam "Az-Zakah"; no. 1015, At-Tirmidzi dalam "Tafsirul Qur'an"; no. 2989; Ahmad dalam "Baqi Musnad Al-Muktsirin, no. 1838; Ad-Darimi dalam "Ar-Riqaq", no. 2717.
[2] Jami'ul 'Ulum wal Hikam, 1:260.
[3] Bagian dari hadis yang dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dalam At-Targhib wa At-Tarhib, 3:17, awalnya, "Hai Sa'id, perbaikilah makananmu! Niscaya doamu diterima." Al-Haitsami menyebutkan, dalam Al-Mujama', 10:294, ia berkata, "Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani; pada sanadnya terdapat perawi yang belum saya kenal. Adapun tambahan ini, sahih dengan banyak penguatnya dari Jabir dan Ka'b bin 'Ujrah serta Abu Bakar Ash-Shiddiq, sebagaimana dalam Adh-Dha'ifah, 3:293, dan dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dengan sepertinya dalam Al-Jumu'ah, no. 614 dari Ka'b bin 'Ujrah pada sebagian hadis panjang, yang lafalnya, 'Sesungguhnya, tidak berkembang daging yang tumbuh dari makanan yang haram kecuali neraka yang lebih pantas baginya.'" Abu 'Isa berkata, "Hadis ini hasan gharib, dan disahkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, no. 501."
foto

Ust Kholid Syamhudi, Lc.

Lulusan Fakultas Hadits, Universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Saat ini beliau menjadi Pembina Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia, Staf Ahli Syariah Majalah Pengusaha Muslim, dan Pimpinan Pondok Pesantren Ibnu Abbas, Sragen.

0 komentar:

Agenda Harian

Semoga kita senantiasa terpacu untuk mengukir prestasi amal yang akan memperberat timbangan kebaikan di yaumil akhir, berikut rangkaian yang bisa dilakukan

1. Agenda pada sepertiga malam akhir

a. Menunaikan shalat tahajjud dengan memanjangkan waktu pada saat ruku’ dan sujud di dalamnya,

b. Menunaikan shalat witir

c. Duduk untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah hingga azan subuh

Rasulullah saw bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Sesungguhnya Allah SWT selalu turun pada setiap malam menuju langit dunia saat 1/3 malam terakhir, dan Dia berkata: “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku berikan, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni”. (HR. Bukhari Muslim)


2. Agenda Setelah Terbit Fajar

a. Menjawab seruan azan untuk shalat subuh

” الَّلهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِي وَعَدْتَهُ “

“Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini, shalat yang telah dikumandangkan, berikanlah kepada Nabi Muhammad wasilah dan karunia, dan bangkitkanlah dia pada tempat yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan. (Ditashih oleh Al-Albani)

b. Menunaikan shalat sunnah fajar di rumah dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Dua rakaat sunnah fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya”. (Muslim)

وَ قَدْ قَرَأَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِي رَكْعَتَي الْفَجْرِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدَ

“Nabi saw pada dua rakaat sunnah fajar membaca surat “Qul ya ayyuhal kafirun” dan “Qul huwallahu ahad”.

c. Menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid –khususnya- bagi laki-laki.

Rasulullah saw bersabda:

وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الْعَتْمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Sekiranya manusia tahu apa yang ada dalam kegelapan dan subuh maka mereka akan mendatanginya walau dalam keadaan tergopoh-gopoh” (Muttafaqun alaih)

بَشِّرِ الْمَشَّائِيْنَ فِي الظّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّوْرِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berikanlah kabar gembira kepada para pejalan di kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat”. (Tirmidzi dan ibnu Majah)

d. Menyibukkan diri dengan doa, dzikir atau tilawah Al-Quran hingga waktu iqamat shalat

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ

“Doa antara adzan dan iqamat tidak akan ditolak” (Ahmad dan Tirmidzi dan Abu Daud)

e. Duduk di masjid bagi laki-laki /mushalla bagi wanita untuk berdzikir dan membaca dzikir waktu pagi

Dalam hadits nabi disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إَذَا صَلَّى الْفَجْرَ تَرَبَّعَ فِي مَجْلِسِهِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ الْحَسَنَاءُ

” Nabi saw jika selesai shalat fajar duduk di tempat duduknya hingga terbit matahari yang ke kuning-kuningan”. (Muslim)

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya waktu fajar itu disaksikan (malaikat). (Al-Isra : 78) Dan memiliki komitmen sesuai kemampuannya untuk selalu:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah lebih banyak dari itu semua, maka akan menuai kebaikan berlimpah insya Allah.

3. Menunaikan shalat Dhuha walau hanya dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

“Setiap ruas tulang tubuh manusia wajib dikeluarkan sedekahnya, setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah, menolong orang dengan membantunya menaiki kendaraan atau mengangkat kan barang ke atas kendaraannya adalah sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, tiap-tiap langkahmu untuk mengerjakan shalat adalah sedekah, dan membersihkan rintangan dari jalan adalah sedekah”. (Bukhari dan Muslim)

4. Berangkat kerja atau belajar dengan berharap karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمِلِ يَدِهِ، وَكَانَ دَاوُدُ لا يَأْكُلُ إِلا مِنْ عَمِلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan makanan, lebih baik dari yang didapat oleh tangannya sendiri, dan bahwa nabi Daud makan dari hasil tangannya sendiri”. (Bukhari)

Dalam hadits lainnya nabi juga bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang berjalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. (Muslim)

d. Menyibukkan diri dengan dzikir sepanjang hari

Allah berfirman :

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah maka hati akan menjadi tenang” (Ra’ad : 28)

Rasulullah saw bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهَ أَنْ تَمُوْتَ ولسانُك رَطْبٌ من ذِكْرِ الله

“Sebaik-baik perbuatan kepada Allah adalah saat engkau mati sementara lidahmu basah dari berdzikir kepada Allah” (Thabrani dan Ibnu Hibban) .

5. Agenda saat shalat Zhuhur

a. Menjawab azan untuk shalat Zhuhur, lalu menunaikan shalat Zhuhur berjamaah di Masjid khususnya bagi laki-laki

b. Menunaikan sunnah rawatib sebelum Zhuhur 4 rakaat dan 2 rakaat setelah Zhuhur

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang shalat 12 rakaat pada siang dan malam hari maka Allah akan membangunkan baginya dengannya rumah di surga”. (Muslim).

6. Agenda saat dan setelah shalat Ashar

a. Menjawab azan untuk shalat Ashar, kemudian dilanjutkan dengan menunaikan shalat Ashar secara berjamaah di masjid

b. Mendengarkan nasihat di masjid (jika ada)

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ

“Barangsiapa yang pergi ke masjid tidak menginginkan yang lain kecuali belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya ganjaran haji secara sempurna”. (Thabrani – hasan shahih)

c. Istirahat sejenak dengan niat yang karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

وَإِنَّ لِبَدَنِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ

“Sesungguhnya bagi setiap tubuh atasmu ada haknya”.

Agenda prioritas:

Membaca Al-Quran dan berkomitmen semampunya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan, maka akan menuai kebaikan yang berlimpah insya Allah.

7. Agenda sebelum Maghrib

a. Memperhatikan urusan rumah tangga – melakukan mudzakarah – Menghafal Al-Quran

b. Mendengarkan ceramah, nasihat, khutbah, untaian hikmah atau dakwah melalui media

c. Menyibukkan diri dengan doa

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah”

8. Agenda setelah terbenam matahari

a. Menjawab azan untuk shalat Maghrib

b. Menunaikan shalat Maghrib secara berjamaah di masjid (khususnya bagi laki-laki)

c. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Maghrib – 2 rakaat

d. Membaca dzikir sore

e. Mempersiapkan diri untuk shalat Isya lalu melangkahkan kaki menuju masjid

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa yang bersuci/berwudhu kemudian berjalan menuju salah satu dari rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban dari kewajiban Allah, maka langkah-langkahnya akan menggugurkan kesalahan dan yang lainnya mengangkat derajatnya”. (Muslim)

9. Agenda pada waktu shalat Isya

a. Menjawab azan untuk shalat Isya kemudian menunaikan shalat Isya secara jamaah di masjid

b. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Isya – 2 rakaat

c. Duduk bersama keluarga/melakukan silaturahim

d. Mendengarkan ceramah, nasihat dan untaian hikmah di Masjid

e. Dakwah melalui media atau lainnya

f. Melakukan mudzakarah

g. Menghafal Al-Quran

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran dengan berkomitmen sesuai dengan kemampuannya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan bacaan maka telah menuai kebaikan berlimpah insya Allah.


Apa yang kita jelaskan di sini merupakan contoh, sehingga tidak harus sama persis dengan yang kami sampaikan, kondisional tergantung masing-masing individu. Semoga ikhtiar ini bisa memandu kita untuk optimalisasi ibadah insya Allah. Allahu a’lam

Jazaakillah

Sedikit revisi dari : http://www.al-ikhwan.net/agenda-harian-ramadhan-menuju-bahagia-di-bulan-ramadhan-2989/

Isi Blog

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.