"Qarun berkata, 'Sesungguhnya aku diberi harta ini hanya karena ilmu yang aku miliki.'" (QS Al-Qashash: 78)
Dalam menanamkan sebuah nilai, Al-Qur'an sering menggunakan kisah-kisah masa lalu, baik kisah seorang tokoh yang shalih maupun yang jahat. Tujuan diceritakannya kembali peristiwa itu adalah untuk ibrah, pelajaran bagi mereka yang mau mengaktifkan alah fikirannya.
Di antara tokoh jahat yang paling banyak diulang-ulang dalam al-Qur'an adalah Fir'aun. Dia adalah seorang tiran, yang menindas rakyatnya dengan sangat kejam. Dia bahkan mengaku sebagai Tuhan.
Tentu saja aksi Fir'aun ini tidak dilakukan seorang diri. Tanpa pembantu-pembantunya, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena mendapat dukungan penuh dari segenap kabinetnya, begitu juga penasehat ahli dan mayoritas anggota parlemen, maka kekuasaan Fir'aun tegak berdiri, kuat sekali.
Salah seorang penopang tiran Fir'aun adalah Qarun, seorang teknokrat andalan yang menjadi tulang punggung ekonomi. Selain cerdas, ia sendiri seorang bisnisman yang sukses. Bahkan pada masanya, ia tergolong konglomerat. Saking kesohornya nama Qarun sebagai orang kaya sampai-sampai barang temuan pada masa kini disebut harta karun.
Sebagai pembantu dekat Fir'aun, tentu tabiatnya tak jauh berbeda dengan bosnya. Ia adalah seorang yang sombong lagi membanggakan diri. Ketika dianjurkan untuk bersedekah, membantu pengusaha lemah atau golongan miskin, maka ia berkata sebagaimana ayat di atas, "Tidak lain, kekayaanku ini adalah karena ilmu (kepintaran)-ku."
Ilmu Dan Kekayaan
Sebelum menciptakan Nabi Adam, moyang pertama manusia, terlebih dahulu Allah menciptakan Bumi. Di planet bumi itulah manusia hidup, berketurunan, sambung-menyambung hingga sekarang. Bumi telah disiapkan Allah untuk manusia sebagai tempat tinggal sekaligus tempat mencari ma'isyah, penghidupan.

Semua kebutuhan manusia tersedia di bumi, mulai dari pangan, papan dan sandangnya. Berbagai fasilitas hidup telah ada, tinggal mendayagunakannya. Di sinilah persoalan muncul, sebab mendayagunakan alam ini haruslah berdasarkan ilmu. Tanpa ilmu seorang manusia tidak akan mampu mengenali hukum-hukumnya. Tanpa mengenali hukum alam, seorang tidak bisa mengendalikan dan memanfaatkan alam.

Orang awam ketika melihat ombak besar di laut akan merasa ketakutan. Akan tetapi seorang ilmuwan akan berfikir bagaimana cara memanfaatkan ombak besar itu menjadi energi. Sesuatu yang menakutkan ternyata bisa bermanfaat besar bagi yang mengerti.
Berikut ini contoh yang sedikit ekstrem. Bagi orang kebanyakan, perang itu menakutkan, akan tetapi sebaliknya bagi pialang senjata. Jika perlu perang terus dikobarkan, agar senjata semakin laris tanpa berkesudahan. Pialang senjata tentu orang yang sangat mengerti seluk-beluk perang dan memahami psikologi perang.
Antara ilmu dan kekayaan itu memang dekat hubungannya. Tentu saja yang dimaksud di sini adalah ilmu 'keduniaan'. Dengan ilmu itu misteri alam bisa diungkap. Dengan pengetahuan itu pula alam dieksploitasi sesuai dengan kebutuhan.
Meskipun demikian ilmu pengetahuan bukan satu-satunya jalan seseorang bisa mendapatkan kekayaan. Masih banyak faktor lagi yang menentukan penguasaan kekayaan. Di antaranya adalah kesempatan. Tapi faktor yang paling menentukan semua itu adalah Allah swt. Banyak orang pintar yang hidupnya berkekurangan, sementara banyak orang yang tidak pandai, tapi kaya raya. Orang bilang faktor "nasib", tapi yang benar sesungguhnya adalah faktor Allah swt. Barangkali inilah yang tidak dimengerti atau setidak-tidaknya tidak diakui oleh Qarun.

Ilmu Dan Kesombongan

Qarun dan orang-orang kafir sejenisnya seringkali menjadikan ilmu pengetahuan sebagai kebanggaan. Mereka menjadi besar kepala ketika mendapat karunia ilmu, apalagi jika sudah menyandang beberapa gelar, baik di depan maupun belakang namanya. Mereka lupa bahwa ilmu itu merupakan karunia Allah swt yang mestinya disyukuri.

Al-Qur'an menggambarkan orang-orang di atas sebagai kelompok mereka yang tidak tahu diri. Allah berfirman:
"Maka apabila manusia ditimpa bahaya, ia menyeru Kami. Kemudian jika Kami berikan kepadanya nikmat, ia berkata, 'Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.' Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (QS. Az-Zumar: 49)
Beberapa dasawarsa yang lalu, Edmond Leech dengan sombong mengatakan bahwa tugas Tuhan sudah waktunya diambil alih oleh para ilmuwan. Telah beribu-ribu tahun dunia ini diperintah dan dikuasai oleh Tuhan. Sudah saatnya kini Tuhan turun tahta, menyerahkan pengurusan dunia kepada para ilmuwan.

Menurutnya, selama ini dunia ini hanya diatur secara amatiran. Karenanya berbagai gejolak terjadi di mana-mana. Kejahatan dan kriminalitas, kekerasan bahkan peperangan, di samping kemiskinan dan kelaparan, telah menghiasi wajah dunia. Sudah saatnya dunia diatur secara profesional. Dan yang paling layak adalah ahli sains.

Edmond Leech kemudian menyusun sederet rencana. Pertama ia akan mengatur kelahiran manusia. Ia ingin manusia yang lahir adalah orang yang unggul, baik secara fisik, pikiran, maupun kejiwaan. Manusia yang cacat dan kurang cerdas tidak selayaknya lahir di dunia.

Menurut ahli sains ini, hanya orang tertentu yang telah memenuhi syarat-syarat sempurna saja yang boleh melahirkan anak. Sisanya harus rela tidak melahirkan jabang bayi. Karenanya semua ibu harus menjalani pemeriksaan ketat untuk menentukan layak tidaknya punya anak. Tidak hanya ibunya tapi juga bapaknya, sebab seorang anak akan mewarisi tabi'at dan gen dari orang tuanya. Seperti memilih padi varitas unggul, hanya dari bibit yang unggul saja yang diproses. Jumlah kelahirannyapun ditentukan sekalian, termasuk perbandingan lelaki dengan perempuannya.

Kini angan-angan atau lamunan Edmond Leech sudah dilupakan orang. Proyek ambisius itu gagal total. Yang tejadi justru sebaliknya. Di negara-negara Barat, tempat berkumpulnya para ahli sains, telah lahir jutaan bayi tanpa direncanakan. Semakin banyak saja bayi yang lahir tanpa diketahui siapa bapaknya. Masih untung jika diketahui siapa ibunya, karena banyak juga yang setelah melahirkan kemudian sang ibu minggat entah ke mana.

Entah sudah berapa teori yang dihasilkan manusia untuk menjadikan dunia ini aman, tenteram, sejahtera lahir dan batin. Berbagai cara telah mereka upayakan. Akan tetapi semua kandas di tengah jalan.
Kini kita bertanya-tanya, setelah sains dan teknologi berkembang secara revolusioner seperti sekarang, dunia damai seperti yang dicita-citakan semua orang kok belum juga terwujud? Kenapa peperangan terjadi silih berganti, tak pernah berhenti? Kenapa masih ada jutaan rakyat miskin terlunta-lunta, bahkan mati karena kelaparan?
Mana ahli filsafat? Mana ahli politik? Mana ahli ekonomi? Mana ahli sains? Kapankah mereka akan menggantikan tugas Tuhan? Mungkinkah?

Banyak orang yang menjadi besar kepala, sombong lagi membanggakan diri ketika beroleh ilmu. Mereka merasa bahwa dengan ilmunya akan mampu mengatasi segala problem di muka bumi. Orang-orang seperti ini jika menjadi ahli ekonomi akan berperan sebagai Qarun. Jika ahli politik akan berperan seperti Haman. Jika jadi pemimpin akan seperti Fir'aun.

Ilmu Dan Ulama

Berbeda dengan orang yang beriman. Bagi mereka ilmu adalah karunia Allah, sekaligus merupakan ujian. Ilmu adalah alat bagi manusia untuk menjalankan tugas dari Allah sebagai khalifah di muka bumi.
Keyakinan seperti itulah yang menjadikan mereka tidak sombong dan bangga diri. Justru sebaliknya mereka bertambah takut kepada Allah. Ibarat padi, semakin tua semakin merunduk. Demikian juga seorang mukimin yang berilmu, semakin banyak ilmunya, maka semakin merunduk kepalanya.
Allah berfirman: "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama (orang yang berilmu)." (QS. Faathir: 28)
Orang yang berilmu semakin tahu bahwa di balik rahasia alam ini adalah kebesaran Allah. Tidak ada daun kering yang tertiup angin, yang jatuh entah di mana, kecuali atas pengetahuan dan kehendak-Nya. Tidak ada semut hitam, berjalan di malam yang kelam, di atas batu hitam pula, kecuali Allah mengetahuinya.
Dengan pengetahuan seperti itu, maka seorang 'alim akan terus berusaha semakin mendekati Allah. Selain berfikir, ia selalu berdzikir, menyebut Asma-Nya. Orang-orang seperti ini bisa disebut sebagai Ulil Albaab. Kepada mereka Allah menyeru:
"Maka bertaqwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal, (yaitu) orang-orang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu." (QS. Ath-Thalaq: 10)

Peringatan Allah selain dalam al-Qur'an, juga bisa diketahui melalui gejala alam. Semua peristiwa alam ini adalah ayat-ayat Allah, sekaligus merupakan sinyal-sinyal bagi orang yang beriman dan berilmu pengetahuan. Orang-orang seperti inilah yang akan diangkat derajatnya oleh Allah beberapa derajat di atas yang lain. Allah berfirman:
"Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Mujadalah: 11)

0 komentar:

Agenda Harian

Semoga kita senantiasa terpacu untuk mengukir prestasi amal yang akan memperberat timbangan kebaikan di yaumil akhir, berikut rangkaian yang bisa dilakukan

1. Agenda pada sepertiga malam akhir

a. Menunaikan shalat tahajjud dengan memanjangkan waktu pada saat ruku’ dan sujud di dalamnya,

b. Menunaikan shalat witir

c. Duduk untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah hingga azan subuh

Rasulullah saw bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Sesungguhnya Allah SWT selalu turun pada setiap malam menuju langit dunia saat 1/3 malam terakhir, dan Dia berkata: “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku berikan, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni”. (HR. Bukhari Muslim)


2. Agenda Setelah Terbit Fajar

a. Menjawab seruan azan untuk shalat subuh

” الَّلهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِي وَعَدْتَهُ “

“Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini, shalat yang telah dikumandangkan, berikanlah kepada Nabi Muhammad wasilah dan karunia, dan bangkitkanlah dia pada tempat yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan. (Ditashih oleh Al-Albani)

b. Menunaikan shalat sunnah fajar di rumah dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Dua rakaat sunnah fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya”. (Muslim)

وَ قَدْ قَرَأَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِي رَكْعَتَي الْفَجْرِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدَ

“Nabi saw pada dua rakaat sunnah fajar membaca surat “Qul ya ayyuhal kafirun” dan “Qul huwallahu ahad”.

c. Menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid –khususnya- bagi laki-laki.

Rasulullah saw bersabda:

وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الْعَتْمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Sekiranya manusia tahu apa yang ada dalam kegelapan dan subuh maka mereka akan mendatanginya walau dalam keadaan tergopoh-gopoh” (Muttafaqun alaih)

بَشِّرِ الْمَشَّائِيْنَ فِي الظّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّوْرِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berikanlah kabar gembira kepada para pejalan di kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat”. (Tirmidzi dan ibnu Majah)

d. Menyibukkan diri dengan doa, dzikir atau tilawah Al-Quran hingga waktu iqamat shalat

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ

“Doa antara adzan dan iqamat tidak akan ditolak” (Ahmad dan Tirmidzi dan Abu Daud)

e. Duduk di masjid bagi laki-laki /mushalla bagi wanita untuk berdzikir dan membaca dzikir waktu pagi

Dalam hadits nabi disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إَذَا صَلَّى الْفَجْرَ تَرَبَّعَ فِي مَجْلِسِهِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ الْحَسَنَاءُ

” Nabi saw jika selesai shalat fajar duduk di tempat duduknya hingga terbit matahari yang ke kuning-kuningan”. (Muslim)

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya waktu fajar itu disaksikan (malaikat). (Al-Isra : 78) Dan memiliki komitmen sesuai kemampuannya untuk selalu:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah lebih banyak dari itu semua, maka akan menuai kebaikan berlimpah insya Allah.

3. Menunaikan shalat Dhuha walau hanya dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

“Setiap ruas tulang tubuh manusia wajib dikeluarkan sedekahnya, setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah, menolong orang dengan membantunya menaiki kendaraan atau mengangkat kan barang ke atas kendaraannya adalah sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, tiap-tiap langkahmu untuk mengerjakan shalat adalah sedekah, dan membersihkan rintangan dari jalan adalah sedekah”. (Bukhari dan Muslim)

4. Berangkat kerja atau belajar dengan berharap karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمِلِ يَدِهِ، وَكَانَ دَاوُدُ لا يَأْكُلُ إِلا مِنْ عَمِلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan makanan, lebih baik dari yang didapat oleh tangannya sendiri, dan bahwa nabi Daud makan dari hasil tangannya sendiri”. (Bukhari)

Dalam hadits lainnya nabi juga bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang berjalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. (Muslim)

d. Menyibukkan diri dengan dzikir sepanjang hari

Allah berfirman :

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah maka hati akan menjadi tenang” (Ra’ad : 28)

Rasulullah saw bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهَ أَنْ تَمُوْتَ ولسانُك رَطْبٌ من ذِكْرِ الله

“Sebaik-baik perbuatan kepada Allah adalah saat engkau mati sementara lidahmu basah dari berdzikir kepada Allah” (Thabrani dan Ibnu Hibban) .

5. Agenda saat shalat Zhuhur

a. Menjawab azan untuk shalat Zhuhur, lalu menunaikan shalat Zhuhur berjamaah di Masjid khususnya bagi laki-laki

b. Menunaikan sunnah rawatib sebelum Zhuhur 4 rakaat dan 2 rakaat setelah Zhuhur

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang shalat 12 rakaat pada siang dan malam hari maka Allah akan membangunkan baginya dengannya rumah di surga”. (Muslim).

6. Agenda saat dan setelah shalat Ashar

a. Menjawab azan untuk shalat Ashar, kemudian dilanjutkan dengan menunaikan shalat Ashar secara berjamaah di masjid

b. Mendengarkan nasihat di masjid (jika ada)

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ

“Barangsiapa yang pergi ke masjid tidak menginginkan yang lain kecuali belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya ganjaran haji secara sempurna”. (Thabrani – hasan shahih)

c. Istirahat sejenak dengan niat yang karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

وَإِنَّ لِبَدَنِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ

“Sesungguhnya bagi setiap tubuh atasmu ada haknya”.

Agenda prioritas:

Membaca Al-Quran dan berkomitmen semampunya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan, maka akan menuai kebaikan yang berlimpah insya Allah.

7. Agenda sebelum Maghrib

a. Memperhatikan urusan rumah tangga – melakukan mudzakarah – Menghafal Al-Quran

b. Mendengarkan ceramah, nasihat, khutbah, untaian hikmah atau dakwah melalui media

c. Menyibukkan diri dengan doa

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah”

8. Agenda setelah terbenam matahari

a. Menjawab azan untuk shalat Maghrib

b. Menunaikan shalat Maghrib secara berjamaah di masjid (khususnya bagi laki-laki)

c. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Maghrib – 2 rakaat

d. Membaca dzikir sore

e. Mempersiapkan diri untuk shalat Isya lalu melangkahkan kaki menuju masjid

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa yang bersuci/berwudhu kemudian berjalan menuju salah satu dari rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban dari kewajiban Allah, maka langkah-langkahnya akan menggugurkan kesalahan dan yang lainnya mengangkat derajatnya”. (Muslim)

9. Agenda pada waktu shalat Isya

a. Menjawab azan untuk shalat Isya kemudian menunaikan shalat Isya secara jamaah di masjid

b. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Isya – 2 rakaat

c. Duduk bersama keluarga/melakukan silaturahim

d. Mendengarkan ceramah, nasihat dan untaian hikmah di Masjid

e. Dakwah melalui media atau lainnya

f. Melakukan mudzakarah

g. Menghafal Al-Quran

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran dengan berkomitmen sesuai dengan kemampuannya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan bacaan maka telah menuai kebaikan berlimpah insya Allah.


Apa yang kita jelaskan di sini merupakan contoh, sehingga tidak harus sama persis dengan yang kami sampaikan, kondisional tergantung masing-masing individu. Semoga ikhtiar ini bisa memandu kita untuk optimalisasi ibadah insya Allah. Allahu a’lam

Jazaakillah

Sedikit revisi dari : http://www.al-ikhwan.net/agenda-harian-ramadhan-menuju-bahagia-di-bulan-ramadhan-2989/

Isi Blog

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.