Ada orang-orang yang rela berpuasa, untuk bisa bersedekah. Sementara itu, ada yang tetap tidak bergeming dengan hartanya, padahal ada kesempatan bersedekah. Hartanya dipegangnya hanya gara-gara tidak ada uang cash. Dan pada ceritera yang laen, ada seorang hamba Allah yang kemudian tetap mencari jalan untuk bisa bersedekah meski keadaannya tidak bisa bersedekah.


Orang yang menolak halus untuk ikutan sedekah di Case 18 tadi, ga jadi soal. Apalagi kemudian dia mendoakan. Dengan doanya itu, sudah cukup menjadikannya bahagian dari rentengan amal sedekah yang 4,5jt tsb..

(-) He he he… Ini mah namanya bukan "Case".. Tapi langsung pendapat pribadi.

(+) Eh, iya. Oke dah. Ini sekedar menunjukkan Rahman Rahimnya Allah. Betapa Allah itu sayang sama hamba-Nya. Dia begitu murah membagi-bagikan pahala kebaikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

(-) Jadi, tanpa ikutan sedekah berjamaah, hanya sekedar mendoakan saja, sudah ikut mencicipi bahagian dari rentengan pahala sedekah berjamaah di atas?

(+) Iya. Tadi kan yang menolak tetap berdoa? Coba perhatikan ulang potongan Case 18 di atas:

Dari sekian orang yang ditelpon, untuk dikabarkan tentang ladang amal penghafal al Qur'an, ternyata ada seorang yang kira-kira bicara begini: Saya dah punya ladang sedekah sendiri. Maaf ya.

Kasus ini rada serupa meski tak sama, dengan kasus satu orang yang diajak berderma oleh seseorang untuk satu yatim. "Udah pada sedekah tuh kawan-kawan yang lain?", tanya si orang ini.

"Sudah. Barangkali antum mau nambahin."

"Sudah kumpul berapa?"

"Sudah 4,5jt."

"Ya, segitu sudah cukup. Saya ga ikutan dulu. Saya kasihkan sedekah saya kepada anak yatim yang lain saja ya. Salam sama kawan-kawan. Mudah-mudahan sedekah kita diterima Allah, dan mudah-mudahan kawan-kawan pengajak mendapat keberkahan dari amalan ajakannya".

Lihat, ada doa di sana. Mendoakan kawan-kawan yang bersedekah. Subhaanallaah, doa juga kan amal saleh dan termasuk sedekah. Sedekah doa minimal sebutannya.

(-) Case by case yang ditulis ini, sebenernya berseri ga sih?

(+) Engga. Boleh dibaca tanpa urut-urutan.

(-) Oh, kirain harus nyambung. Harus urut.

(+) Ga. Ga mesti urut. Ok ya, saya tulis case berikutnya.

(-) Silahkan.

***

Seorang jamaah menolak halus untuk diajak serta berderma di satu yatim. Dengan alasan, selain dia pandang sudah cukup dananya, juga dia memiliki yatim yang lain.

Tapi ada seorang lagi yang tidak menyia-nyiakan... Dia ada uang 100rb, tapi sungguh, ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya... "Duh, ada tawaran sedekah, tapi uangku hanya tinggal 100rb. Sedang uang ini untuk anak yatim asuhanku…", begitu desah di hatinya.

Tapi sejurus kemudian ia bilang begini kepada si pengajak, "Jadi, udah ada 4,5jt? Kapan dikumpulinnya, dan kapan dan itu dibawa ke si yatim tersebut?"

"Pengennya sih Jum'at besok nih. Jum'at kan Sayyidul Ayyam, seutama-utamanya hari. Termasuk buat sedekah. Di hari Jum'at sedekah bagus sekali. Sekalian kita sama-sama jalan ke sana. Ke rumah yatim tersebut sehabis pulang kerja di Jum'at sore…".

"Iya dah. Saya ikutan".

Orang ini tetap mengiyakan. Sebab ia lihat hari itu baru Rabu. Masih ada jeda sehari dua hari. Siapa tahu ada rizki. Bukankah kalo di urusan sedekah, niat saja bisa jadi sedekah? Dan kalo sudah jadi sedekah, maka siapa tahu baru berniat saja, sudah ada rizki yang bakal diantar Allah?

Orang ini mengamini pendapat guru-gurunya, bahwa seseorang itu cukup berniat. Cukup pasang niat. Selanjutnya Allah yang akan melengkapi. Demikian dia meyakini.

Kalo nanti sekiranya sampe hari Jum'at dia ga bisa juga sedekah, dia udah niat pengen ikutan. Ya ikutan ke rumah yatim tersebut. Pengen ngelihat anak yatim yang dimaksud. Siapa tahu ada rizki di hari-hari ke depannya. Insya Allah niat sudah dicatat. Dan insya Allah, biasanya Allah berkenan memberikan rizki supaya ikutan bersedekah di hari Jum'at.

Kalaupun bener-bener ga ada uang yang kira-kira pantas, tetap saja mereka-mereka yang mau sedekah mah, ada saja jalannya. Toh ga usah harus selalu uang. Misalnya, menyediakan motor untuk boncengan dengan kawan menuju ke rumah yatim tsb. Atau sedekah doa sebagaimana disebut di atas.

Dan sekiranya ada rizki, maka dua keutamaan minimal didapat. Sedekah "berjamaah" tadi, dan sementara sedekah ke yatimnya sendiri selama ini tetap dapat bahagiannya.

(+) Stop dulu...!

(-) Apanya yang distop...?

(+) Bacanya.

(-) Wah, koq distop dulu...? Situ mah demennya nyetop materi terus, he he he.

(+) Ya, engga gitu lah. Lihat sisi baiknya.

(-) Ya, sisi baiknya, libur belajar Kuliah Online, ha ha ha. Ya udah, distop kenapa dan buat apa?

(+) Buat ngulangin dulu kalimat di atas sekali lagi. Nih saya cuplikkan paragrap-paragrap di atas. Ketika seseorang ditawarkan ladang amal sedekah berjamaah, ternyata dia ga ada duit. Tapi tetap ikutan. Berikut dialognya sebagaimana di atas tadi. Saya minta dibaca lagi:

"Iya dah.. Saya ikutan".

Kita akan bertanya, koq tetap ikutan? Kan ga ada duit? Berikut lanjutannya:

Orang ini tetap mengiyakan. Sebab ia lihat hari itu baru Rabu. Masih ada jeda sehari dua hari. Siapa tahu ada rizki. Bukankah kalo di urusan sedekah, niat saja bisa jadi sedekah? Dan kalo sudah jadi sedekah, maka siapa tahu baru berniat saja, sudah ada rizki yang bakal diantar Allah?

Orang ini mengamini pendapat guru-gurunya, bahwa seseorang itu cukup berniat. Cukup pasang niat. Selanjutnya Allah yang akan melengkapi. Demikian dia meyakini.

Kalo nanti sekiranya sampe hari Jum'at dia ga bisa juga sedekah, dia udah niat pengen ikutan. Ya ikutan ke rumah yatim tersebut. Pengen ngelihat anak yatim yang dimaksud. Siapa tahu ada rizki di hari-hari ke depannya. Insya Allah niat sudah dicatat. Dan insya Allah, biasanya Allah berkenan memberikan rizki supaya ikutan bersedekah di hari Jum'at.

Kalaupun bener-bener ga ada uang yang kira-kira pantas, tetap saja mereka-mereka yang mau sedekah mah, ada saja jalannya. Toh ga usah harus selalu uang. Misalnya, menyediakan motor untuk boncengan dengan kawan menuju ke rumah yatim tsb. Atau sedekah doa sebagaimana disebut di atas.

Dan sekiranya ada rizki, maka dua keutamaan minimal didapat. Sedekah "berjamaah" tadi, dan sementara sedekah ke yatimnya sendiri selama ini tetap dapat bahagiannya.

(+) Ok, sekarang lanjut lagi materinya...

(-) Bentar-bentar. Kalo misalnya bener-bener pengen sedekah ke anak yatim tersebut, tapi juga pengen sedekah ke yatim yang di sedekah berjamaah tadi, gimana?

(+) Ya itu dia. Makanya saya mau ngelanjutin. Bila ada pertanyaan, boleh ga dibagi dua? Yatimnya dan yatim yang akan dikunjungi di hari Jum'at? Jawabannya macem-macem. Bisa saja jawabannya: Terserah saja. Koq terserah? Kan namanya juga contoh kasus. Kalo saya, ga usah dibagi dua. Ga usah mengurangi jatah yatim yang biasa. Tambahin saja sedekahnya.

(-) Lah, kalau uangnya ga ada lagi?

(+) Ada. Kalo mau usaha mah.

(-) Iya ya. Misalnya jual-jual HP gitu, atau yang lainnya. Toh nanti akan diganti yang lebih banyak dan lebih baik. Gitu kan?

(+) Betul. Bahkan kita bisa berpuasa di hari kamisnya. Misalnya informasinya hari rabu, maka ancer-ancer saja supaya sekeluarga berpuasa di hari Kamis. Supaya jatah belanja di hari kamis, bisa disedekahin.. Dengan menghemat pengeluaran, bisa tuh sedekah. Harusnya beli bensin di hari kamis, beli seperlunya. Harusnya naik ojek begitu sampe di mulut komplek tempat kita tinggal, ini jalan kaki. Harusnya ngasih anak jajan di hari kamis dan Jum'atnya, ajak anak untuk prihatin dan berhemat. Insya Allah tadinya ga ada jatah sedekah, jadi ada jatah sedekah.

(-) Kalo misalnya, kalo nih. Kalo sampe Jum'at bener-bener ga ada.. Boleh ga minjem sama kawan? Pinjam dulu 100rb misalnya. Ntar kalo udah ada, diganti?

(+) Sampe ketemu kalo gitu di Case 20.

(-) Oalaaaahhh... Koq demennya ngegantung terus siy...?

(+) He he he, nikmatin dulu dah. Ini kan habis nerima ilmu. Supaya berkah ilmunya, coba ambil wudhu, gelar sajadah, dan shalat dah.

(-) Shalat apaan?

(+) Shalat sunnah. Shalat sunnah mutlak saja. Ga pake embel-embel niat shalat sunnah ini itu. Cukup dengan nawaitu: Saya niat shalat sunnah. Dua rakaat. Lillaahi ta'aalaa. Atau dalam bahasa Arabnya, Usholli sunnatan, rok'ataini, lillaahi ta'aalaa.

(-) Buat apa shalat?

(+) Buat terima kasih, dah dapet ilmu. Terus buat berdoa. Berdoa kalo habis shalat, manteb. Berdoa dah, supaya bisa bersedekah, di saat lapang maupun sempit. Berdoa supaya dikasih jalan-jalan untuk bisa bersedekah. Insya Allah, Jalan-jalan sedekah itu punyanya Allah. Kita minta jalan karir, jalan sehat, jalan anak saleh, jalan pengabulan hajat dan doa, salah satunya dengan meminta Allah menghadirkan kesempatan untuk bisa bersedekah.

(-) Wuah, menarik juga ya. Situ juga shalat dong...

(+) Buat apa?

(-) He he he, yang shalat jangan hanya "muridnya" doang. Gurunya juga dong. Doain kita-kita yang belajar, supaya bisa ngamalin. Kan kalo pada ngamalin, situ sebagai guru juga dapat pahalanya.

(+) Iya ya. Iya dah.

(-) Lah iya lah, masa ya iya dong...

(+) Betul. Saya kudu shalat juga sehabis ngajar. Nulis ini kan termasuknya ngajar ya? Ocre. Sebelum ngajar, sebelom nulis, apalagi materinya nyangkut-nyangkut tauhid, harus shalat. Minta tolong sama Allah supaya dimudahin dalam mengajar, dan supaya mengajarnya sesuatu yang berguna. Dan sehabis shalat, berdoa dan shalat lagi. Termasuk minta ampun jika ada kesombongan dalam mengajar, dalam menulis. Dan seraya meminta kepada Allah, agar apa yang diajar dan ditulis, tidak mendatangkan kesombongan. Makasih ya. Ayo, sama-sama shalat ya.

Peserta KuliahOnline, bener loh... Sudahkah di setiap urusan, kita shalat? Coba sekarang terapkan. Sesibuk apapun, ketika saudara membaca tulisan ini dan jika diterima sebagai pengajaran, shalat ya. Shalat sunnah. Kemudian berdoa. Mau kan? Insya Allah bukan hanya mau, tapi juga sempat. Manteb dah.


Salam Yusuf Mansur



Coba Yahoo! Messenger 10 Beta yang baru
Kini dengan update real-time, panggilan video, dan banyak lagi!

0 komentar:

Agenda Harian

Semoga kita senantiasa terpacu untuk mengukir prestasi amal yang akan memperberat timbangan kebaikan di yaumil akhir, berikut rangkaian yang bisa dilakukan

1. Agenda pada sepertiga malam akhir

a. Menunaikan shalat tahajjud dengan memanjangkan waktu pada saat ruku’ dan sujud di dalamnya,

b. Menunaikan shalat witir

c. Duduk untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah hingga azan subuh

Rasulullah saw bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Sesungguhnya Allah SWT selalu turun pada setiap malam menuju langit dunia saat 1/3 malam terakhir, dan Dia berkata: “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku berikan, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni”. (HR. Bukhari Muslim)


2. Agenda Setelah Terbit Fajar

a. Menjawab seruan azan untuk shalat subuh

” الَّلهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِي وَعَدْتَهُ “

“Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini, shalat yang telah dikumandangkan, berikanlah kepada Nabi Muhammad wasilah dan karunia, dan bangkitkanlah dia pada tempat yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan. (Ditashih oleh Al-Albani)

b. Menunaikan shalat sunnah fajar di rumah dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Dua rakaat sunnah fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya”. (Muslim)

وَ قَدْ قَرَأَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِي رَكْعَتَي الْفَجْرِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدَ

“Nabi saw pada dua rakaat sunnah fajar membaca surat “Qul ya ayyuhal kafirun” dan “Qul huwallahu ahad”.

c. Menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid –khususnya- bagi laki-laki.

Rasulullah saw bersabda:

وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الْعَتْمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Sekiranya manusia tahu apa yang ada dalam kegelapan dan subuh maka mereka akan mendatanginya walau dalam keadaan tergopoh-gopoh” (Muttafaqun alaih)

بَشِّرِ الْمَشَّائِيْنَ فِي الظّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّوْرِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berikanlah kabar gembira kepada para pejalan di kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat”. (Tirmidzi dan ibnu Majah)

d. Menyibukkan diri dengan doa, dzikir atau tilawah Al-Quran hingga waktu iqamat shalat

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ

“Doa antara adzan dan iqamat tidak akan ditolak” (Ahmad dan Tirmidzi dan Abu Daud)

e. Duduk di masjid bagi laki-laki /mushalla bagi wanita untuk berdzikir dan membaca dzikir waktu pagi

Dalam hadits nabi disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إَذَا صَلَّى الْفَجْرَ تَرَبَّعَ فِي مَجْلِسِهِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ الْحَسَنَاءُ

” Nabi saw jika selesai shalat fajar duduk di tempat duduknya hingga terbit matahari yang ke kuning-kuningan”. (Muslim)

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya waktu fajar itu disaksikan (malaikat). (Al-Isra : 78) Dan memiliki komitmen sesuai kemampuannya untuk selalu:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah lebih banyak dari itu semua, maka akan menuai kebaikan berlimpah insya Allah.

3. Menunaikan shalat Dhuha walau hanya dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

“Setiap ruas tulang tubuh manusia wajib dikeluarkan sedekahnya, setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah, menolong orang dengan membantunya menaiki kendaraan atau mengangkat kan barang ke atas kendaraannya adalah sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, tiap-tiap langkahmu untuk mengerjakan shalat adalah sedekah, dan membersihkan rintangan dari jalan adalah sedekah”. (Bukhari dan Muslim)

4. Berangkat kerja atau belajar dengan berharap karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمِلِ يَدِهِ، وَكَانَ دَاوُدُ لا يَأْكُلُ إِلا مِنْ عَمِلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan makanan, lebih baik dari yang didapat oleh tangannya sendiri, dan bahwa nabi Daud makan dari hasil tangannya sendiri”. (Bukhari)

Dalam hadits lainnya nabi juga bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang berjalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. (Muslim)

d. Menyibukkan diri dengan dzikir sepanjang hari

Allah berfirman :

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah maka hati akan menjadi tenang” (Ra’ad : 28)

Rasulullah saw bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهَ أَنْ تَمُوْتَ ولسانُك رَطْبٌ من ذِكْرِ الله

“Sebaik-baik perbuatan kepada Allah adalah saat engkau mati sementara lidahmu basah dari berdzikir kepada Allah” (Thabrani dan Ibnu Hibban) .

5. Agenda saat shalat Zhuhur

a. Menjawab azan untuk shalat Zhuhur, lalu menunaikan shalat Zhuhur berjamaah di Masjid khususnya bagi laki-laki

b. Menunaikan sunnah rawatib sebelum Zhuhur 4 rakaat dan 2 rakaat setelah Zhuhur

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang shalat 12 rakaat pada siang dan malam hari maka Allah akan membangunkan baginya dengannya rumah di surga”. (Muslim).

6. Agenda saat dan setelah shalat Ashar

a. Menjawab azan untuk shalat Ashar, kemudian dilanjutkan dengan menunaikan shalat Ashar secara berjamaah di masjid

b. Mendengarkan nasihat di masjid (jika ada)

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ

“Barangsiapa yang pergi ke masjid tidak menginginkan yang lain kecuali belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya ganjaran haji secara sempurna”. (Thabrani – hasan shahih)

c. Istirahat sejenak dengan niat yang karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

وَإِنَّ لِبَدَنِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ

“Sesungguhnya bagi setiap tubuh atasmu ada haknya”.

Agenda prioritas:

Membaca Al-Quran dan berkomitmen semampunya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan, maka akan menuai kebaikan yang berlimpah insya Allah.

7. Agenda sebelum Maghrib

a. Memperhatikan urusan rumah tangga – melakukan mudzakarah – Menghafal Al-Quran

b. Mendengarkan ceramah, nasihat, khutbah, untaian hikmah atau dakwah melalui media

c. Menyibukkan diri dengan doa

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah”

8. Agenda setelah terbenam matahari

a. Menjawab azan untuk shalat Maghrib

b. Menunaikan shalat Maghrib secara berjamaah di masjid (khususnya bagi laki-laki)

c. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Maghrib – 2 rakaat

d. Membaca dzikir sore

e. Mempersiapkan diri untuk shalat Isya lalu melangkahkan kaki menuju masjid

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa yang bersuci/berwudhu kemudian berjalan menuju salah satu dari rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban dari kewajiban Allah, maka langkah-langkahnya akan menggugurkan kesalahan dan yang lainnya mengangkat derajatnya”. (Muslim)

9. Agenda pada waktu shalat Isya

a. Menjawab azan untuk shalat Isya kemudian menunaikan shalat Isya secara jamaah di masjid

b. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Isya – 2 rakaat

c. Duduk bersama keluarga/melakukan silaturahim

d. Mendengarkan ceramah, nasihat dan untaian hikmah di Masjid

e. Dakwah melalui media atau lainnya

f. Melakukan mudzakarah

g. Menghafal Al-Quran

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran dengan berkomitmen sesuai dengan kemampuannya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan bacaan maka telah menuai kebaikan berlimpah insya Allah.


Apa yang kita jelaskan di sini merupakan contoh, sehingga tidak harus sama persis dengan yang kami sampaikan, kondisional tergantung masing-masing individu. Semoga ikhtiar ini bisa memandu kita untuk optimalisasi ibadah insya Allah. Allahu a’lam

Jazaakillah

Sedikit revisi dari : http://www.al-ikhwan.net/agenda-harian-ramadhan-menuju-bahagia-di-bulan-ramadhan-2989/

Isi Blog

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.