By Republika Newsroom
Muhammed Umar Rao, Islam Telah Memberinya PencerahanAwalnya membenci, namun akhirnya jatuh hati. Pemuda India ini siap berada di garda terdepan, menjadi pembela agama Allah ini.

Awalnya Muhammed Umar Rao sangat membenci umat Islam. Namun, setelah membaca kitab suci Alquran, pria India ini justru menemukan apa yang ia cari selama ini, yang akhirnya berujung pada suatu keputusan besar yang diambilnya. Rao memutuskan untuk memeluk Islam di usianya yang terbilang masih remaja, yakni sekitar 18 tahun. ''Saya merasa diberkati dengan agama Allah ini,'' ujarnya singkat.

Berasal dari keluarga kelas menengah berkasta Brahma, sejak kecil Rao sudah dididik dengan ajaran dan nilai-nilai Hindu. Pendidikan agama ini ia peroleh langsung dari bimbingan salah seorang pamannya dari pihak ibu. Sementara keluarga besarnya memang dikenal sebagai keluarga yang sangat membenci umat Islam. Karenanya, tak mengherankan jika ia tumbuh menjadi seorang pemeluk Hindu yang fanatik.

Di usianya yang masih belia, Rao bergabung dengan salah satu kelompok politik nasionalis Hindu terbesar di India, Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS). Di India, RSS dikenal sebagai kelompok Hindu garis keras yang sangat membenci umat Islam di sana. ''Saya selalu menebar kebencian terhadap Islam, termasuk di ruang publik sekalipun,'' ungkapnya. Salah satu contohnya adalah Rao kerap mengencangkan volume musik yang sedang dinikmatinya manakala terdengar suara azan.

Perkenalannya dengan Islam terjadi ketika sang ibu memintanya untuk bekerja pada sebuah perusahaan yang pemiliknya adalah seorang Muslim selama liburan musim panas. Tentu saja permintaan tersebut ditolak Rao, mengingat sejak usia kanak-kanak ia sudah benci dengan yang namanya Muslim. Agar tidak mengecewakan orang tuanya, ia kemudian memutuskan untuk mengisi liburan musim panas dengan bekerja di sebuah perusahaan yang dikelola oleh non-Muslim.

Namun, Rao tidak menyukai pekerjaan tersebut. Ia pun memutuskan untuk keluar dan lebih berkonsentrasi pada studinya agar setelah lulus nanti bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Berbeda dengan Rao, ibu serta saudara perempuannya justru memilih untuk bekerja paruh waktu di perusahaan Muslim tersebut selama dua bulan lamanya. Mereka, ungkapnya, sangat terkesan dengan pemilik perusahaan tersebut.

Melihat orang-orang dekatnya selalu memuji si pemilik perusahaan, membuat Rao semakin membenci orang Muslim. Akan tetapi, didorong oleh rasa bersalah karena tidak bisa menjadi orang yang berguna bagi keluarga, ia pun memutuskan untuk menerima tawaran pekerjaan yang diberikan oleh ibunya. Kebenciannya terhadap Islam semakin besar, manakala ia mengetahui banyak di antara karyawan non-Muslim yang bekerja di perusahaan tersebut memeluk Islam.

Kemarahannya terhadap pemilik perusahaan, ia lampiaskan dengan memberinya pelajaran bahwa agama yang dianutnya adalah yang paling benar. Dari situ kemudian Rao mulai melakukan studi mengenai perbandingan agama. Dan sejak saat itu, untuk mengetahui lebih banyak mengenai Islam, Rao pun mulai membaca terjemahan Alquran berbahasa Inggris.

Hal tersebut tentu saja membawa perubahan dalam kehidupannya. ''Setelah membacanya, saya seperti terjebak dalam ketakutan, keraguan, dan menyadari kenyataan bahwa yang selama ini saya perbuat adalah salah. Agama yang saya yakini selama ini ternyata hanyalah tentang imajinasi ataupun mitos dan kisah-kisah palsu,'' paparnya.

Dari situ kemudian muncul keraguan dalam diri Rao. Ia lantas bertanya kepada orang tuanya, orang-orang di sekitarnya yang ia ketahui pernah bertemu dengan Tuhan ataupun pernah membuat gambar serta lukisan Tuhan. Namun, orang-orang tersebut menjawab bahwa tak satu pun yang pernah melihat Tuhan sebagaimana banyak diungkapkan di dalam Alquran. Kenyataan ini justru semakin meruntuhkan keyakinannya terhadap ajaran Hindu. Kisah-kisah mengenai Ganesha, Chamundeswari, Rama, Sinta, dan lainnya tidak lagi masuk akal baginya. ''Aku tidak bisa lagi membayangkan mereka sebagai dewa.''

Berhenti menyembah berhala

Bahkan, ketika ia bertanya kepada orang tuanya mengapa ajaran dalam kitab Weda yang dengan jelas sekali bertentangan dengan para dewa masih tetap dijalankan, sang ibu justru memarahinya dan mengatakan seharusnya ia melakukan apa yang telah dicontohkan oleh para leluhur mereka. Keesokan harinya, Rao membaca sebuah ayat dalam Alquran Surah Al-Baqarah ayat 170 yang berbunyi: ''Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,' mereka menjawab: '(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami'. (Apakah mereka akan mengikuti juga, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?''

Pandangannya kemudian juga tertuju kepada ayat 134 dari Surah Al-Baqarah ini yang berbunyi: ''Itu adalah umat yang lalu, baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan.''

Ketika membaca kedua ayat tersebut, Rao merasa takjub karena penjelasan dalam kedua ayat Alquran ini sama persis seperti pertanyaan yang ia ajukan kepada ibunya. Ia merasa tertohok oleh kedua ayat ini. Ia menyadari bahwa untuk semua pertanyaan yang selama ini bersemayam dalam kepalanya, ternyata jawabannya ada di dalam Alquran.

Sejak saat itu secara perlahan-lahan, dia mulai menghentikan kebiasaan menyembah patung para dewa Hindu dan berhenti melakukan Pooja (ritual doa dalam agama Hindu--Red). ''Karena ini termasuk perbuatan syirik, dan itu merupakan satu-satunya dosa yang tidak akan diampuni.''

Selanjutnya Rao mulai mempraktikan ajaran Islam, meskipun hal tersebut masih dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi. Namun lambat laun, perihal keislamannya ini tidak bisa ia sembunyikan lagi dari keluarga besarnya. Mengetahui hal itu, keluarga Rao tidak bisa menerima keyakinan barunya ini. Beruntung dia masih memiliki saudara perempuan yang ternyata juga tertarik dengan Islam, dan pada akhirnya saudaranya pun memeluk Islam.

Bersama saudara perempuannya ini, Rao akhirnya memutuskan untuk keluar dari rumah, dan hidup terpisah dari keluarga besarnya. ''Selama lebih dari setahun kami berdua hidup tanpa pekerjaan maupun sumber penghasilan yang tetap. Namun, segala puji bagi Allah yang telah memudahkan kami untuk melalui semua masa-masa sulit itu,'' ujarnya.

Di saat masa sulit ini, ungkap Rao, Allah SWT telah membukakan pintu-pintu kesempatan kepadanya, sesuai dengan doa-doa yang selama ini ia panjatkan dalam setiap shalat lima waktu. Karenanya, ketika datang tawaran pekerjaan dari perusahaan industri mesin, ia pun menyampaikan lamaran. Namun, ia terpaksa meninggalkan pekerjaannya ini karena faktor jam kerja yang menganggu waktu beribadahnya.

Setelah menganggur selama hampir satu tahun lebih, akhirnya ia memutuskan untuk bekerja sebagai seorang pengajar. Profesi tersebut ia jalani hingga saat ini. Meski dengan pendapatan yang terbilang tidak begitu besar, ia merasa bersyukur karena Allah telah menjawab doa-doanya.

Sebagaimana Allah berfirman dalam Alquran Surah Al-Ankabut ayat 2: ''Apakah manusia menyangka bahwa mereka akan ditinggalkan sendirian karena mereka berkata: ''Kami beriman, dan tidak akan diuji.''

Kini, pemuda India ini, tergolong seorang Muslim yang sangat taat beribadah. Ia yang awalnya menjadi kelompok pembenci Islam, kini setelah mempelajari Islam secara seksama, ia mencintai agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW ini. Bahkan, ketika ada sentimen negatif terhadap Islam dari kalangan non-Muslim, Rao senantiasa berada di garda terdepan dan menjadi pembelanya. Ia meyakini, agama Islam adalah agama yang damai dan cinta kasih, serta untuk kemuliaan umat manusia. islamreligion/dia

Biodata
Nama : Muhammad Umar Rao
Masuk Islam : Usia 18 tahun
Negara : India
Agama Terdahulu : Hindu

0 komentar:

Agenda Harian

Semoga kita senantiasa terpacu untuk mengukir prestasi amal yang akan memperberat timbangan kebaikan di yaumil akhir, berikut rangkaian yang bisa dilakukan

1. Agenda pada sepertiga malam akhir

a. Menunaikan shalat tahajjud dengan memanjangkan waktu pada saat ruku’ dan sujud di dalamnya,

b. Menunaikan shalat witir

c. Duduk untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah hingga azan subuh

Rasulullah saw bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Sesungguhnya Allah SWT selalu turun pada setiap malam menuju langit dunia saat 1/3 malam terakhir, dan Dia berkata: “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku berikan, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni”. (HR. Bukhari Muslim)


2. Agenda Setelah Terbit Fajar

a. Menjawab seruan azan untuk shalat subuh

” الَّلهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِي وَعَدْتَهُ “

“Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini, shalat yang telah dikumandangkan, berikanlah kepada Nabi Muhammad wasilah dan karunia, dan bangkitkanlah dia pada tempat yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan. (Ditashih oleh Al-Albani)

b. Menunaikan shalat sunnah fajar di rumah dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Dua rakaat sunnah fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya”. (Muslim)

وَ قَدْ قَرَأَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِي رَكْعَتَي الْفَجْرِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدَ

“Nabi saw pada dua rakaat sunnah fajar membaca surat “Qul ya ayyuhal kafirun” dan “Qul huwallahu ahad”.

c. Menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid –khususnya- bagi laki-laki.

Rasulullah saw bersabda:

وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الْعَتْمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Sekiranya manusia tahu apa yang ada dalam kegelapan dan subuh maka mereka akan mendatanginya walau dalam keadaan tergopoh-gopoh” (Muttafaqun alaih)

بَشِّرِ الْمَشَّائِيْنَ فِي الظّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّوْرِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berikanlah kabar gembira kepada para pejalan di kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat”. (Tirmidzi dan ibnu Majah)

d. Menyibukkan diri dengan doa, dzikir atau tilawah Al-Quran hingga waktu iqamat shalat

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ

“Doa antara adzan dan iqamat tidak akan ditolak” (Ahmad dan Tirmidzi dan Abu Daud)

e. Duduk di masjid bagi laki-laki /mushalla bagi wanita untuk berdzikir dan membaca dzikir waktu pagi

Dalam hadits nabi disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إَذَا صَلَّى الْفَجْرَ تَرَبَّعَ فِي مَجْلِسِهِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ الْحَسَنَاءُ

” Nabi saw jika selesai shalat fajar duduk di tempat duduknya hingga terbit matahari yang ke kuning-kuningan”. (Muslim)

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya waktu fajar itu disaksikan (malaikat). (Al-Isra : 78) Dan memiliki komitmen sesuai kemampuannya untuk selalu:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah lebih banyak dari itu semua, maka akan menuai kebaikan berlimpah insya Allah.

3. Menunaikan shalat Dhuha walau hanya dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

“Setiap ruas tulang tubuh manusia wajib dikeluarkan sedekahnya, setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah, menolong orang dengan membantunya menaiki kendaraan atau mengangkat kan barang ke atas kendaraannya adalah sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, tiap-tiap langkahmu untuk mengerjakan shalat adalah sedekah, dan membersihkan rintangan dari jalan adalah sedekah”. (Bukhari dan Muslim)

4. Berangkat kerja atau belajar dengan berharap karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمِلِ يَدِهِ، وَكَانَ دَاوُدُ لا يَأْكُلُ إِلا مِنْ عَمِلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan makanan, lebih baik dari yang didapat oleh tangannya sendiri, dan bahwa nabi Daud makan dari hasil tangannya sendiri”. (Bukhari)

Dalam hadits lainnya nabi juga bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang berjalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. (Muslim)

d. Menyibukkan diri dengan dzikir sepanjang hari

Allah berfirman :

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah maka hati akan menjadi tenang” (Ra’ad : 28)

Rasulullah saw bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهَ أَنْ تَمُوْتَ ولسانُك رَطْبٌ من ذِكْرِ الله

“Sebaik-baik perbuatan kepada Allah adalah saat engkau mati sementara lidahmu basah dari berdzikir kepada Allah” (Thabrani dan Ibnu Hibban) .

5. Agenda saat shalat Zhuhur

a. Menjawab azan untuk shalat Zhuhur, lalu menunaikan shalat Zhuhur berjamaah di Masjid khususnya bagi laki-laki

b. Menunaikan sunnah rawatib sebelum Zhuhur 4 rakaat dan 2 rakaat setelah Zhuhur

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang shalat 12 rakaat pada siang dan malam hari maka Allah akan membangunkan baginya dengannya rumah di surga”. (Muslim).

6. Agenda saat dan setelah shalat Ashar

a. Menjawab azan untuk shalat Ashar, kemudian dilanjutkan dengan menunaikan shalat Ashar secara berjamaah di masjid

b. Mendengarkan nasihat di masjid (jika ada)

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ

“Barangsiapa yang pergi ke masjid tidak menginginkan yang lain kecuali belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya ganjaran haji secara sempurna”. (Thabrani – hasan shahih)

c. Istirahat sejenak dengan niat yang karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

وَإِنَّ لِبَدَنِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ

“Sesungguhnya bagi setiap tubuh atasmu ada haknya”.

Agenda prioritas:

Membaca Al-Quran dan berkomitmen semampunya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan, maka akan menuai kebaikan yang berlimpah insya Allah.

7. Agenda sebelum Maghrib

a. Memperhatikan urusan rumah tangga – melakukan mudzakarah – Menghafal Al-Quran

b. Mendengarkan ceramah, nasihat, khutbah, untaian hikmah atau dakwah melalui media

c. Menyibukkan diri dengan doa

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah”

8. Agenda setelah terbenam matahari

a. Menjawab azan untuk shalat Maghrib

b. Menunaikan shalat Maghrib secara berjamaah di masjid (khususnya bagi laki-laki)

c. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Maghrib – 2 rakaat

d. Membaca dzikir sore

e. Mempersiapkan diri untuk shalat Isya lalu melangkahkan kaki menuju masjid

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa yang bersuci/berwudhu kemudian berjalan menuju salah satu dari rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban dari kewajiban Allah, maka langkah-langkahnya akan menggugurkan kesalahan dan yang lainnya mengangkat derajatnya”. (Muslim)

9. Agenda pada waktu shalat Isya

a. Menjawab azan untuk shalat Isya kemudian menunaikan shalat Isya secara jamaah di masjid

b. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Isya – 2 rakaat

c. Duduk bersama keluarga/melakukan silaturahim

d. Mendengarkan ceramah, nasihat dan untaian hikmah di Masjid

e. Dakwah melalui media atau lainnya

f. Melakukan mudzakarah

g. Menghafal Al-Quran

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran dengan berkomitmen sesuai dengan kemampuannya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan bacaan maka telah menuai kebaikan berlimpah insya Allah.


Apa yang kita jelaskan di sini merupakan contoh, sehingga tidak harus sama persis dengan yang kami sampaikan, kondisional tergantung masing-masing individu. Semoga ikhtiar ini bisa memandu kita untuk optimalisasi ibadah insya Allah. Allahu a’lam

Jazaakillah

Sedikit revisi dari : http://www.al-ikhwan.net/agenda-harian-ramadhan-menuju-bahagia-di-bulan-ramadhan-2989/

Isi Blog

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.