Ustadz Abu Qotadah - Bekal Ibadah di Bulan Ramadhan.mp3direct atau via 4shared

Faidah-faidah yang dapat dipetik dari pembahasan:
  1. Syarat ibadah supaya diterima ada dua, yaitu: Ikhlas dan ittiba’ atau meneladani Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam, begitu juga halnya dengan puasa
  2. Dalam melaksanakan ibadah manusia dibagi menjadi empat: (1). Dia ikhlas dan ittiba’.(2). Dia ikhlas tetapi tidak ittiba’ dan ini tercela.(3). Dia Ittiba’ tetapi tidak ikhlas dan ini juga tercela. (4). dan yang paling tercela adalah dia tidak ikhlas dan tidak ittiba’.
  3. Ilmu itu sebelum berkata dan berbuat
  4. Perbedaan antara orang yang mengamalkan ibadah dengan ilmu dan yang mengamalkannya tanpa ilmu
  5. Cara menentukan awal puasa ada tiga, yaitu: Dengan rukyatul hilal, adanya kabar dari orang yang telah melihat hilal, menggenapkan bulan syaban menjadi 30 hari jika pada tanggal 29 syaban hilal tidak terlihat. Tidak ada cara yang keempat, yaitu Hisab.
  6. Jika terjadi khilaf tentang awal puasa Ramadhan, maka semuanya dikembalikan kepada ulil amri atau pemerintah, sehingga kaum muslimin tetap mengawali dan mengakhiri bersama-sama.
  7. Jika memang telah tgl 1 Ramadhan, namun kita pada tanggal tersebut belum mendengar adanya kabar bahwa hari ini adalah tgl 1 Ramadhan dikarenakan kita berada di tempat terpencil misalnya, maka kita cukup berpuasa di waktu sisa sampai maghrib walaupun sebelumnya kita sudah makan di pagi harinya dan tanpa mengqadha puasa hari tersebut dibulan lainnya. Namun jika kita mendengarnya pada waktu malam, dan paginya belum berpuasa maka hal ini wajib di qadha.
  8. Pentingnya menetapkan niat puasa pada malam harinya atau sebelum fajar.
  9. Barangsiapa yang meniatkannya setelah fajar maka tidak ada puasa baginya.
  10. Cara niat di dalam hati dan tidak perlu dilafadzkan, semisal: Nawaitu samaghodin …..dst
  11. Niat dilakukan setiap hari di bulan Ramadhan, bukan hanya di awal Ramadhan. Karena hati terkadang mudah berubah dari awal yang niatnya ikhlas hanya mengharap kepada Allah menjadi mengaharap pujian manusia. Oleh karena itu perlu adanya memperbaharui niat di setiap malam sebelum keesokannya puasa.
  12. Tawadhdhu’-nya para ulama salaf ketika ditanya mereka belajar hadist untuk apa….maka jawabnya “kami belajar hadist untuk manusia”, bukan menunjukkan bahwa mereka tidak ikhlas tetapi dikarenakan beratnya mereka mengatakan bahwa mereka belajar hadist dengan ikhlas mengaharap ridlo Allah.
  13. Pentingnya menjaga adab-adab berpuasa
  14. Meninggalkan hal-hal yang dapat mengurangi bahkan menghilangkan pahala puasa kita.
  15. Orang berpuasa ada tiga kelompok, yaitu: puasanya orang-orang awam (keumuman orang), puasa orang yang khusus, dan puasa orang yang khusus lebih khusus
  16. Puasanya keumuman orang adanya hanya menahan dari makan, minum dan jima’, padahal seorang yang berpuasa seharusnya menjaga mata dari melihat sesuatu yang haram, pendengaran dari perkataan atau nyanyian yang haram, lidah dari ucapan yang kotor, dusta, ghibah, namimah (adu domba), kaki dari berjalan ke tempat yang haram, tangan dari meraba atau menyentuh yang haram, hati dari khayalan-khayalan yang haram. Maka puasa yang tidak menjaga adab-adab diatas maka Allah hanya akan menjadikannya dahaga dan lapar tanpa adanya pahala baginya. Na’udzubillahi min dzalik.
  17. Puasa orang yang khusus, puasanya orang yang menahan dari dahaga, lapar, jima’ dan seluruh anggota tubuhnya. Maka puasa ini lebih tinggi derajatnya mendapat pahala dari Allah subahanahu wa ta’ala.
  18. Puasa orang yang khusus lebih khusus, puasanya orang yang menghilangkan setiap keinginan yang tidak diinginkan dan diridloi Allah, menjaga hatinya dari hasad, riya’, dengki, sum’ah. Maka ini adalah hakikatnya dari puasa, tidak hanya tarbiyah jasad saja tetapi juga tarbiyah hatinya.
  19. Hendaknya memperbanyak kebaikan dan memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan, semisal: memperbanyak membaca al-Qur’an, shalat malam, dan shodaqoh terlebih di sepuluh terakhir di bulan Ramadhan.
  20. Ada 5 sunnah dalam puasa yang mudah sesuai dengan fitrah atau keinginan kita tetapi masih banyak yang meninggalkan.
  21. Dua yang pertama adalah: sahur dan mengakhirkan sahur (ini sesuai dengan fitrah kita sebagai manusia, agar saat berpuasa keesokan harinya kuat. Dan Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa di dalam sahur ada barokah, sedangkan barokah yaitu tetapnya kebaikan dan bertambahnya kebaikan).
  22. Waktu sahur adalah sampai waktu adzan shubuh, bukan 5 menit atau 10 menit sebelum adzan shubuh seperti yang dinamakan imsyak. Justru kita sahur di waktu imsyak adalah lebih utama karena hal tersebut termasuk sahur diakhir waktu.
  23. Sunnah yang ketiga dan keempat adalah berbuka dan mempercepat berbuka jika telah memasuki waktunya.
  24. Sunnah yang kelima adalah berbuka dengan ruhtob (kurma yang belum matang, biasanya ada tangkainya), kurma, atau air. Dan sunnahnya makan kurma sebanyak bilangan ganjil.
  25. Sunnah yang keenam adalah berdo’a. Dan do’a yang hadistnya shahih adalah

    ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ.

    “Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah serta pahala akan tetap, insya Allah.”

  26. Sedangkan do’a yang lafadznya….”Allahumma laka sumtu wa bika amantu wa ‘ala rizqika afthortu ……dst” hadistnya tidak shahih.
  27. Dibolehkan mencumbui atau mencium istri ketika berpuasa dengan catatan si suami yakin mampu menahan syahwatnya.
  28. Orang yang berpuasa dibolehkan bersiwak, atau bersikat gigi, berkumur-kumur, atau menghirup air ke hidung walaupun jangan dalam-dalam.
  29. Orang yang berpuasa juga boleh mencicipi masakan selama tidak ditelan. Hal ini dilakukan selama ada hajat.
  30. Orang yang berpuasa juga dibolehkan mandi dengan membasahi kepala kita.
  31. Suntikan bukan merupakan suatu hal yang membatalkan puasa, namun bukan suntikan yang merupakan ganti sebagai makanan seperti infus.
  32. Yang dapat membatalkan puasa dan ini adalah ijma’ (kesepakatan) ulama adalah makan, minum, jima’, haid, dan nifas.
  33. Barangsiapa yang lupa makan dan atau minum ketika berpuasa, maka saat dia ingat hendaknya dia melanjutkan puasanya tanpa menqadha-nya puasa di bulan lain. Dan makanan yang telah dia makan karena lupa itu adalah rezeki dari Allah.
  34. Barangsiapa yang lupa jima’ maka menurut jumhur hukumnya sama dengan lupa makan dan minum walaupun hal yang semacam ini terjadinya sangat jarang, tetapi mungkin saja terjadi.
  35. Barangsiapa yang jima’ dengan sengaja maka wajib bayar kafaroh, yaitu memerdekakan hamba sahaya, kalau tidak mampu berpuasa dua bulan berturut-turut, kalau tidak mampu memberi makan 60 orang miskin.
  36. Keluar air mani karena tidak sengaja yaitu mimpi di siang hari pada bulan ramadhan maka hal ini tidak membatalkan puasa.
  37. Jika keluar mani karena mencium atau mencumbui istri atau karena melakukan dosa besar yang dalam bahasa kita adalah onani maka hukumnya adalah membatalkan puasa dan ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama.
  38. Berbekam tidak membatalkan puasa
  39. Muntah (menurut pendapat yang benar dengan berbagai khilafnya) tidak membatalkan puasa. Wallahu’alam
  40. Apabila dia berniat untuk memutuskan berbuka, maka hal ini dapat membatalkan puasa.
  41. Orang yang safar atau dalam perjalanan maka hukumnya diperbolehkan untuk tidak berpuasa.
  42. Bagi orang yang dalam perjalanan dan perjalanan tersebut sekiranya memberatkan dirinya bahkan dapat membinasakan atau menjadikan dia sakit maka wajib baginya untuk berbuka atau tidak berpuasa.
  43. Bagi orang yang dalam perjalanan dan perjalanan tersebut sekiranya memberatkan dirinya tetapi tidak sampai memudhorotkan atau menjadi sakit maka lebih utama baginya untuk berbuka atau tidak berpuasa.
  44. Bagi orang yang dalam perjalanan dan perjalanan tersebut tidak memberatkan dirinya semisal perjalanan dengan pesawat maka lebih utama untuk berpuasa.
  45. Safar atau perjalanan dimana kita boleh mengqashar sholat maka disitu juga kita batas diperbolehkan untuk berbuka atau tidak puasa.

sumber ceramah: http://radiorodja.com

0 komentar:

Agenda Harian

Semoga kita senantiasa terpacu untuk mengukir prestasi amal yang akan memperberat timbangan kebaikan di yaumil akhir, berikut rangkaian yang bisa dilakukan

1. Agenda pada sepertiga malam akhir

a. Menunaikan shalat tahajjud dengan memanjangkan waktu pada saat ruku’ dan sujud di dalamnya,

b. Menunaikan shalat witir

c. Duduk untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah hingga azan subuh

Rasulullah saw bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Sesungguhnya Allah SWT selalu turun pada setiap malam menuju langit dunia saat 1/3 malam terakhir, dan Dia berkata: “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku berikan, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni”. (HR. Bukhari Muslim)


2. Agenda Setelah Terbit Fajar

a. Menjawab seruan azan untuk shalat subuh

” الَّلهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِي وَعَدْتَهُ “

“Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini, shalat yang telah dikumandangkan, berikanlah kepada Nabi Muhammad wasilah dan karunia, dan bangkitkanlah dia pada tempat yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan. (Ditashih oleh Al-Albani)

b. Menunaikan shalat sunnah fajar di rumah dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Dua rakaat sunnah fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya”. (Muslim)

وَ قَدْ قَرَأَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِي رَكْعَتَي الْفَجْرِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدَ

“Nabi saw pada dua rakaat sunnah fajar membaca surat “Qul ya ayyuhal kafirun” dan “Qul huwallahu ahad”.

c. Menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid –khususnya- bagi laki-laki.

Rasulullah saw bersabda:

وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الْعَتْمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Sekiranya manusia tahu apa yang ada dalam kegelapan dan subuh maka mereka akan mendatanginya walau dalam keadaan tergopoh-gopoh” (Muttafaqun alaih)

بَشِّرِ الْمَشَّائِيْنَ فِي الظّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّوْرِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berikanlah kabar gembira kepada para pejalan di kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat”. (Tirmidzi dan ibnu Majah)

d. Menyibukkan diri dengan doa, dzikir atau tilawah Al-Quran hingga waktu iqamat shalat

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ

“Doa antara adzan dan iqamat tidak akan ditolak” (Ahmad dan Tirmidzi dan Abu Daud)

e. Duduk di masjid bagi laki-laki /mushalla bagi wanita untuk berdzikir dan membaca dzikir waktu pagi

Dalam hadits nabi disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إَذَا صَلَّى الْفَجْرَ تَرَبَّعَ فِي مَجْلِسِهِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ الْحَسَنَاءُ

” Nabi saw jika selesai shalat fajar duduk di tempat duduknya hingga terbit matahari yang ke kuning-kuningan”. (Muslim)

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya waktu fajar itu disaksikan (malaikat). (Al-Isra : 78) Dan memiliki komitmen sesuai kemampuannya untuk selalu:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah lebih banyak dari itu semua, maka akan menuai kebaikan berlimpah insya Allah.

3. Menunaikan shalat Dhuha walau hanya dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

“Setiap ruas tulang tubuh manusia wajib dikeluarkan sedekahnya, setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah, menolong orang dengan membantunya menaiki kendaraan atau mengangkat kan barang ke atas kendaraannya adalah sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, tiap-tiap langkahmu untuk mengerjakan shalat adalah sedekah, dan membersihkan rintangan dari jalan adalah sedekah”. (Bukhari dan Muslim)

4. Berangkat kerja atau belajar dengan berharap karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمِلِ يَدِهِ، وَكَانَ دَاوُدُ لا يَأْكُلُ إِلا مِنْ عَمِلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan makanan, lebih baik dari yang didapat oleh tangannya sendiri, dan bahwa nabi Daud makan dari hasil tangannya sendiri”. (Bukhari)

Dalam hadits lainnya nabi juga bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang berjalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. (Muslim)

d. Menyibukkan diri dengan dzikir sepanjang hari

Allah berfirman :

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah maka hati akan menjadi tenang” (Ra’ad : 28)

Rasulullah saw bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهَ أَنْ تَمُوْتَ ولسانُك رَطْبٌ من ذِكْرِ الله

“Sebaik-baik perbuatan kepada Allah adalah saat engkau mati sementara lidahmu basah dari berdzikir kepada Allah” (Thabrani dan Ibnu Hibban) .

5. Agenda saat shalat Zhuhur

a. Menjawab azan untuk shalat Zhuhur, lalu menunaikan shalat Zhuhur berjamaah di Masjid khususnya bagi laki-laki

b. Menunaikan sunnah rawatib sebelum Zhuhur 4 rakaat dan 2 rakaat setelah Zhuhur

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang shalat 12 rakaat pada siang dan malam hari maka Allah akan membangunkan baginya dengannya rumah di surga”. (Muslim).

6. Agenda saat dan setelah shalat Ashar

a. Menjawab azan untuk shalat Ashar, kemudian dilanjutkan dengan menunaikan shalat Ashar secara berjamaah di masjid

b. Mendengarkan nasihat di masjid (jika ada)

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ

“Barangsiapa yang pergi ke masjid tidak menginginkan yang lain kecuali belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya ganjaran haji secara sempurna”. (Thabrani – hasan shahih)

c. Istirahat sejenak dengan niat yang karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

وَإِنَّ لِبَدَنِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ

“Sesungguhnya bagi setiap tubuh atasmu ada haknya”.

Agenda prioritas:

Membaca Al-Quran dan berkomitmen semampunya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan, maka akan menuai kebaikan yang berlimpah insya Allah.

7. Agenda sebelum Maghrib

a. Memperhatikan urusan rumah tangga – melakukan mudzakarah – Menghafal Al-Quran

b. Mendengarkan ceramah, nasihat, khutbah, untaian hikmah atau dakwah melalui media

c. Menyibukkan diri dengan doa

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah”

8. Agenda setelah terbenam matahari

a. Menjawab azan untuk shalat Maghrib

b. Menunaikan shalat Maghrib secara berjamaah di masjid (khususnya bagi laki-laki)

c. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Maghrib – 2 rakaat

d. Membaca dzikir sore

e. Mempersiapkan diri untuk shalat Isya lalu melangkahkan kaki menuju masjid

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa yang bersuci/berwudhu kemudian berjalan menuju salah satu dari rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban dari kewajiban Allah, maka langkah-langkahnya akan menggugurkan kesalahan dan yang lainnya mengangkat derajatnya”. (Muslim)

9. Agenda pada waktu shalat Isya

a. Menjawab azan untuk shalat Isya kemudian menunaikan shalat Isya secara jamaah di masjid

b. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Isya – 2 rakaat

c. Duduk bersama keluarga/melakukan silaturahim

d. Mendengarkan ceramah, nasihat dan untaian hikmah di Masjid

e. Dakwah melalui media atau lainnya

f. Melakukan mudzakarah

g. Menghafal Al-Quran

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran dengan berkomitmen sesuai dengan kemampuannya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan bacaan maka telah menuai kebaikan berlimpah insya Allah.


Apa yang kita jelaskan di sini merupakan contoh, sehingga tidak harus sama persis dengan yang kami sampaikan, kondisional tergantung masing-masing individu. Semoga ikhtiar ini bisa memandu kita untuk optimalisasi ibadah insya Allah. Allahu a’lam

Jazaakillah

Sedikit revisi dari : http://www.al-ikhwan.net/agenda-harian-ramadhan-menuju-bahagia-di-bulan-ramadhan-2989/

Isi Blog

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.