Saturday, 14 March 2009 12:55

Saat belajar Kristen ia justru dikeluarkan karena dianggap terlalu banyak tanya. Ia baru menemukan kedamaian setelah mengenal Islam  

 

Hidayatullah.com--Katlin Hommik nama gadis asal Estonia ini. Usia tiga tahunKatlin Hommik dia sudah banyak bertanya tentang Tuhan dan hidup setelah mati. Ketika Estonia masih dalam genggaman Sovyet, agama adalah hal tabu untuk dibicarakan. Begitupun, selepas Estonia merdeka Katlin mencoba belajar ajaran Kristen di sekolahnya. Tapi dia dikeluarkan karena dianggap terlalu banyak bertanya tentang keberadaan Tuhan. Akhirnya dia memutuskan keluar dari Kristen dan mencari agama lain. Begitulah, bertahun-tahun mempelajari berbagai ajaran diapun menemukan Islam. Menariknya, dia memeluk Islam selepas sebulan penuh ikut berpuasa. Dia mengaku puasa Ramadhan telah membimbingnya masuk Islam. Berikut cerita Katlin dalam bahasa bertutur.

0O0

"Saat masih berumur tiga tahun, aku pernah bertanya pada ayah: "Apa yang nanti aku lakukan setelah mati, Ayah?" Kala itu ayah sangat terkejut mendengar pertanyaan dari anaknya yang masih berusia tiga tahun. Dia terlihat bingung harus memberi jawaban apa. Itulah awal pencarianku akan keberadaan Tuhan.

Di Estonia, terutama ketika masih berada di bawah kekuasaan komunis Sovyet, agama adalah barang tabu dan tak seorang pun diijinkan untuk berbicara di depan umum masalah agama dan keyakinan. Waktu itu berlaku opini bahwa hanya orang gila saja yang percaya akan Tuhan. Bagaimana mungkin percaya pada sesuatu yang tidak bisa kita lihat? Astronot kami pergi ke angkasa luar dan mereka tidak melihat Tuhan duduk di atas awan. Karena itu Tuhan tidak ada! Begitulah opini yang berkembang saat itu.

Hidup dalam masyarakat serupa itu, tentu saja ayah tak mampu memberikan jawaban atas pertanyaan "aneh" yang kuajukan itu. Dia hanya menjawab ringan: "Anakku, ketika mati nanti kamu ya cuma tidur di dalam tanah..." Tak ada penjelasan lebih detil.

Selebih itu aku tidak pernah mendengar jawaban lain yang melawan pendapat ayahku. Sejak itulah aku berusaha mencari jawaban sendiri, meski baru berumur tiga tahun.. Tapi, ternyata jalannya sangat panjang sekali. Perlu waktu bertahun-tahun. Aku selalu merasa Tuhan itu pasti ada kendati aku tidak mampu menyebut nama-Nya. Aku juga seakan merasa Dia selalu "mengamati" tindak tandukku.

Saat mulai masuk sekolah dasar, pertanyaan-pertanyaanku makin membuat ayah pusing hingga aku dihantarkan kepada nenek. Nenekku sendiri lahir di masa Republik Estonia pertamakali dicetuskan. Jadi dia masih merasakan kehidupan gereja pada saat usianya masih muda.

Neneklah yang pertamakali mengenalkanku cara memanggil Tuhan. Dia mengajarkan cara berdoa ala Kristen dengan menyebut "kepada Bapa kami di surga". Uniknya, dia melarangku agar tidak mengucapkannya di depan khalayak ramai. Nanti ayah bisa dapat masalah besar.. Begitu pesan nenek kala itu. Sejak itulah aku berniat untuk terus belajar ajaran Kristen dari nenek secara diam-diam.

Begitulah. Waktu pun berjalan cepat. Tepat di usia 11 tahun , persis di hari kemerdekaan dari Sovyet, aku masuk sekolah Minggu. Tahu tidak, mereka justru menolak kehadiranku!

Mereka berdalih aku terlalu banyak tanya. Kata mereka, keimananku telah rusak. Aku merasa heran, padahal semua pertanyaanku itu tak ada yang salah. Pertanyaanku rasional. Bagaimana mungkin ada anak Tuhan yang pada saat yang sama sekaligus bertindak sebagai Tuhan. Hingga guruku pun bingung.

Memasuki usia 15 tahun, aku makin intensif belajar ajaran Kristen secara otodidak. Aku mencari sendiri melalui literatur yang ada. Waktu itu aku masih menganggap aku ini orang Kristen. Tapi entahlah, pada akhirnya aku tak mampu bertahan. Aku tidak bisa menerima hal-hal tak rasional dalam ajaran Kristen. Aku memutuskan untuk mencari "sesuatu" yang lain. Nah setelah mempelajari berbagai ajaran agama, akhirnya aku pun menemukan Islam.

Selepas mengenal Islam, aku butuh waktu hingga tiga tahun untuk "mengenal" siapa aku ini sebenarnya. Aku selalu bertanya pada diri sendiri apa aku sudah benar-benar yakin jadi muslim. Apa aku sudah siap? Begitulah, akhirnya di usia yang ke-21 aku pun bersyahadah.

Aku memeluk Islam tepat beberapa hari selepas Ramadhan 2001. Ramadhan sangat menginspirasiku. Bulan puasa itu kurasakan begitu indah. Menjalankan ibadah puasa berarti sekaligus berempati kepada mereka yang tak berpunya. Jauh sebelum aku mengenal Islam, perasaan kasih antar sesama telah hadir dalam hatiku.

Aku sendiri masih bingung, kenapa aku bersyahadah setelah Ramadhan. Bukannya sebelum atau selama Ramadhan. Yang kuingat, aku berpuasa sebulan penuh. Aku berharap hal itu bisa menghapus segala "kotoran" dalam diriku dan masuk Islam dalam keadaan suci bersih. Begitu pemahamanku waktu itu.

Karena itu, tiap kita puasa jangan hanya memikirkan kapan datangnya waktu berbuka. Kapan waktunya bisa makan dan minum lagi. Kapan bisa merasakan enaknya masakan sang istri di rumah, dan lain-lainnya. Tapi seharusnya kita juga memikirkan nasib orang lain yang menderita, bukan hanya karena kekurangan makanan, tapi juga karena menderita "batin"  akibat belum mendapatkan petunjuk-Nya. Itulah esensi puasa.

Sebagai seorang muslim, kita harusnya benar-benar bersyukur sebab diberi waktu untuk berpuasa sekali dalam setahun. Harus kita yakini hal itu sebagai upaya untuk memperbaiki diri kita secara personal, jasmani dan rohani serta yang maha penting lagi untuk berbagi kasih sayang dengan sesama. Terutama kepada mereka-mereka yang sedang dalam perjalanan mencari kebenaran Islam, semoga mereka cepat mendapatkan hidayah Allah. Amiin." [Zulkarnain Jalil/www.hidayatullah.com]


0 komentar:

Agenda Harian

Semoga kita senantiasa terpacu untuk mengukir prestasi amal yang akan memperberat timbangan kebaikan di yaumil akhir, berikut rangkaian yang bisa dilakukan

1. Agenda pada sepertiga malam akhir

a. Menunaikan shalat tahajjud dengan memanjangkan waktu pada saat ruku’ dan sujud di dalamnya,

b. Menunaikan shalat witir

c. Duduk untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah hingga azan subuh

Rasulullah saw bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Sesungguhnya Allah SWT selalu turun pada setiap malam menuju langit dunia saat 1/3 malam terakhir, dan Dia berkata: “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku berikan, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni”. (HR. Bukhari Muslim)


2. Agenda Setelah Terbit Fajar

a. Menjawab seruan azan untuk shalat subuh

” الَّلهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِي وَعَدْتَهُ “

“Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini, shalat yang telah dikumandangkan, berikanlah kepada Nabi Muhammad wasilah dan karunia, dan bangkitkanlah dia pada tempat yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan. (Ditashih oleh Al-Albani)

b. Menunaikan shalat sunnah fajar di rumah dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Dua rakaat sunnah fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya”. (Muslim)

وَ قَدْ قَرَأَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِي رَكْعَتَي الْفَجْرِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدَ

“Nabi saw pada dua rakaat sunnah fajar membaca surat “Qul ya ayyuhal kafirun” dan “Qul huwallahu ahad”.

c. Menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid –khususnya- bagi laki-laki.

Rasulullah saw bersabda:

وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الْعَتْمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Sekiranya manusia tahu apa yang ada dalam kegelapan dan subuh maka mereka akan mendatanginya walau dalam keadaan tergopoh-gopoh” (Muttafaqun alaih)

بَشِّرِ الْمَشَّائِيْنَ فِي الظّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّوْرِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berikanlah kabar gembira kepada para pejalan di kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat”. (Tirmidzi dan ibnu Majah)

d. Menyibukkan diri dengan doa, dzikir atau tilawah Al-Quran hingga waktu iqamat shalat

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ

“Doa antara adzan dan iqamat tidak akan ditolak” (Ahmad dan Tirmidzi dan Abu Daud)

e. Duduk di masjid bagi laki-laki /mushalla bagi wanita untuk berdzikir dan membaca dzikir waktu pagi

Dalam hadits nabi disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إَذَا صَلَّى الْفَجْرَ تَرَبَّعَ فِي مَجْلِسِهِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ الْحَسَنَاءُ

” Nabi saw jika selesai shalat fajar duduk di tempat duduknya hingga terbit matahari yang ke kuning-kuningan”. (Muslim)

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya waktu fajar itu disaksikan (malaikat). (Al-Isra : 78) Dan memiliki komitmen sesuai kemampuannya untuk selalu:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah lebih banyak dari itu semua, maka akan menuai kebaikan berlimpah insya Allah.

3. Menunaikan shalat Dhuha walau hanya dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

“Setiap ruas tulang tubuh manusia wajib dikeluarkan sedekahnya, setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah, menolong orang dengan membantunya menaiki kendaraan atau mengangkat kan barang ke atas kendaraannya adalah sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, tiap-tiap langkahmu untuk mengerjakan shalat adalah sedekah, dan membersihkan rintangan dari jalan adalah sedekah”. (Bukhari dan Muslim)

4. Berangkat kerja atau belajar dengan berharap karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمِلِ يَدِهِ، وَكَانَ دَاوُدُ لا يَأْكُلُ إِلا مِنْ عَمِلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan makanan, lebih baik dari yang didapat oleh tangannya sendiri, dan bahwa nabi Daud makan dari hasil tangannya sendiri”. (Bukhari)

Dalam hadits lainnya nabi juga bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang berjalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. (Muslim)

d. Menyibukkan diri dengan dzikir sepanjang hari

Allah berfirman :

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah maka hati akan menjadi tenang” (Ra’ad : 28)

Rasulullah saw bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهَ أَنْ تَمُوْتَ ولسانُك رَطْبٌ من ذِكْرِ الله

“Sebaik-baik perbuatan kepada Allah adalah saat engkau mati sementara lidahmu basah dari berdzikir kepada Allah” (Thabrani dan Ibnu Hibban) .

5. Agenda saat shalat Zhuhur

a. Menjawab azan untuk shalat Zhuhur, lalu menunaikan shalat Zhuhur berjamaah di Masjid khususnya bagi laki-laki

b. Menunaikan sunnah rawatib sebelum Zhuhur 4 rakaat dan 2 rakaat setelah Zhuhur

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang shalat 12 rakaat pada siang dan malam hari maka Allah akan membangunkan baginya dengannya rumah di surga”. (Muslim).

6. Agenda saat dan setelah shalat Ashar

a. Menjawab azan untuk shalat Ashar, kemudian dilanjutkan dengan menunaikan shalat Ashar secara berjamaah di masjid

b. Mendengarkan nasihat di masjid (jika ada)

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ

“Barangsiapa yang pergi ke masjid tidak menginginkan yang lain kecuali belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya ganjaran haji secara sempurna”. (Thabrani – hasan shahih)

c. Istirahat sejenak dengan niat yang karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

وَإِنَّ لِبَدَنِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ

“Sesungguhnya bagi setiap tubuh atasmu ada haknya”.

Agenda prioritas:

Membaca Al-Quran dan berkomitmen semampunya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan, maka akan menuai kebaikan yang berlimpah insya Allah.

7. Agenda sebelum Maghrib

a. Memperhatikan urusan rumah tangga – melakukan mudzakarah – Menghafal Al-Quran

b. Mendengarkan ceramah, nasihat, khutbah, untaian hikmah atau dakwah melalui media

c. Menyibukkan diri dengan doa

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah”

8. Agenda setelah terbenam matahari

a. Menjawab azan untuk shalat Maghrib

b. Menunaikan shalat Maghrib secara berjamaah di masjid (khususnya bagi laki-laki)

c. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Maghrib – 2 rakaat

d. Membaca dzikir sore

e. Mempersiapkan diri untuk shalat Isya lalu melangkahkan kaki menuju masjid

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa yang bersuci/berwudhu kemudian berjalan menuju salah satu dari rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban dari kewajiban Allah, maka langkah-langkahnya akan menggugurkan kesalahan dan yang lainnya mengangkat derajatnya”. (Muslim)

9. Agenda pada waktu shalat Isya

a. Menjawab azan untuk shalat Isya kemudian menunaikan shalat Isya secara jamaah di masjid

b. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Isya – 2 rakaat

c. Duduk bersama keluarga/melakukan silaturahim

d. Mendengarkan ceramah, nasihat dan untaian hikmah di Masjid

e. Dakwah melalui media atau lainnya

f. Melakukan mudzakarah

g. Menghafal Al-Quran

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran dengan berkomitmen sesuai dengan kemampuannya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan bacaan maka telah menuai kebaikan berlimpah insya Allah.


Apa yang kita jelaskan di sini merupakan contoh, sehingga tidak harus sama persis dengan yang kami sampaikan, kondisional tergantung masing-masing individu. Semoga ikhtiar ini bisa memandu kita untuk optimalisasi ibadah insya Allah. Allahu a’lam

Jazaakillah

Sedikit revisi dari : http://www.al-ikhwan.net/agenda-harian-ramadhan-menuju-bahagia-di-bulan-ramadhan-2989/

Isi Blog

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.