Pengertian Arasy Dalam Islam PDF Print E-mail
Nov 13, 2008 at 09:58 PM

Kitab Suci Al-Qur’an sudah menjelaskan bahwa pada satu sisi dikatakan Tuhan memiliki kedekatan dengan para makhluk-Nya dan bahwa Dia merupakan ruh kehidupan dan pendukung semua makhluk, sedangkan di sisi lain dinyatakan kalau Dia itu berada di atas segalanya dan berada di luar jangkauan apa pun serta berkedudukan di Arasy (singgasana) agar tidak ada yang menyalah¬artikan kedekatan-Nya sehingga menyekutukan manusia dengan wujud-Nya, bahkan Tuhan dianggap sebagai manusia itu sendiri sesuai anggapan kaum pengikut kitab Veda.

Kitab Suci Al-Qur’an sudah menjelaskan bahwa pada satu sisi dikatakan Tuhan memiliki kedekatan dengan para makhluk-Nya dan bahwa Dia merupakan ruh kehidupan dan pendukung semua makhluk, sedangkan di sisi lain dinyatakan kalau Dia itu berada di atas segalanya dan berada di luar jangkauan apa pun serta berkedudukan di Arasy (singgasana) agar tidak ada yang menyalah¬artikan kedekatan-Nya sehingga menyekutukan manusia dengan wujud-Nya, bahkan Tuhan dianggap sebagai manusia itu sendiri sesuai anggapan kaum pengikut kitab Veda.

Arasy (singgasana) bukanlah sesuatu yang diciptakan. Arasy adalah kedudukan Ilahi yang berada di atas segala jangkauan. Arasy tidak berbentuk kursi tahta dimana manusia membayangkan Tuhan akan duduk di atasnya. Arasy adalah suatu posisi yang berada di luar segalanya dari para makhluk-Nya dan merupakan makam (pangkalan) transendental dan kesucian. Sebagaimana dinyatakan Al-Qur’an bahwa setelah menetapkan hubungan di antara sang Pencipta dengan semua ciptaan dan segala sesuatunya, Tuhan lalu bersemayam di atas singgasana (Arasy)17. Dengan kata lain, meskipun terdapat perhubungan namun Dia tetap terpisah dan tidak bercampur dengan makhluk ciptaan-Nya.
Dikatakan Tuhan itu beserta semua orang dan memahami segala hal adalah sebagai bagian dari sifat kedekatan. Dia telah menyebutkan sifat ini dalam Al-Qur’an untuk menunjukkan kedekatan-Nya kepada manusia. Bahwa Dia berada di luar ruang lingkup ciptaan-Nya, serta berada jauh di atas dan jauh di suatu makam transendental dan kesucian yang bernama Arasy adalah cerminan sifat transendental-Nya. Allah s.w.t. mengemukakan sifat ini dalam Al-Qur’an guna meneguhkan Ke-Esaan Wujud-Nya dan bahwa Dia itu tanpa sekutu serta tidak bercampur dengan ciptaan-Nya. Umat lain ada yang hanya melihat sifat transendental itu dan menyebut-Nya sebagai Nargan, atau mereka mengakui-Nya sebagai Sargan dimana Dia menjadi makhluk ciptaan-Nya sendiri. Mereka tidak menggabung¬kan kedua sifat tersebut sedangkan Allah yang Maha Kuasa dalam Al-Qur’an digambarkan sebagai cerminan dari kedua sifat tersebut dan inilah yang menjadi ciri Ke-Esaan-Nya. (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 23, hal. 97-99, London, 1984).
* * *
Dalam keyakinan umat Islam, Arasy bukanlah suatu benda fisik atau ciptaan sebagai tempat dimana Tuhan bertahta. Kalian bisa menelusuri Al-Qur’an dari awal sampai akhir dan kalian tidak akan menemukan bahwa Arasy (singgasana) merupakan benda ciptaan yang memiliki keterbatasan. Allah s.w.t. telah berulangkali mengungkapkan dalam Al-Qur’an bahwa Dia adalah Pencipta segala hal yang mempunyai eksistensi. Dia-lah pencipta langit dan bumi serta jiwa dengan segala sifatnya. Dia tegak dengan Dzat-Nya sendiri dan segala hal menjadi eksis karena Dia. Setiap zarah yang ada di alam semesta ini adalah ciptaan-Nya namun tidak pernah Dia mengatakan bahwa Arasy adalah sesuatu yang bersifat fisikal yang merupakan hasil ciptaan-Nya.
Setiap kali kata Arasy dikemukakan dalam Al-Qur’an, yang dimaksud adalah sifat Maha Besar, Maha Agung dan Maha Kuasa dari Allah s.w.t. Karena itulah Arasy tidak termasuk sebagai barang ciptaan. Ada empat manifestasi dari Kebesaran dan Keagungan dari Allah yang Maha Kuasa. Kitab Veda menyebut¬nya sebagai empat dewa-dewa, tetapi sejalan dengan istilah dalam Al-Qur’an, yang dimaksud adalah para malaikat. (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 19, hal. 453-456, London, 1984).
* * *
Dalam Kitab Suci Al-Qur’an yang dimaksud dengan Arasy (singgasana) adalah suatu derajat atau posisi yang jauh berada di atas dan yang tidak bisa dipadankan dengan apa pun serta jauh lebih sempurna daripada alam dan yang menjadi makam kesucian dan transendental. Singgasana itu tidak dibuat daripada batu atau bahan bangunan lainnya dimana Tuhan duduk bertahta. Karena itulah dikatakan bahwa Arasy bukanlah sesuatu yang diciptakan. Sebagaimana dikatakan bahwa Allah s.w.t. bersemayam di hati para muminin, begitu jugalah yang dimaksud dengan firman bahwa Dia bersemayam di Arasy. Allah s.w.t. telah menegaskan bahwa Dia-lah yang telah menopang segalanya dan tidak pernah dikatakan bahwa ada sesuatu yang perlu untuk menopang Wujud-Nya. Arasy adalah suatu makam atau posisi yang mengatasi semua alam semesta dan mencerminkan sifat transendental-Nya. Kami telah menjelaskan beberapa kali bahwa dari sejak awal mula keabadian, Tuhan memiliki dua sifat yaitu sifat kemiripan dan sifat transendental. Guna menjelaskan kedua sifat itu dalam Kalam Ilahi maka mengenai sifat kemiripan, Dia dinyatakan seolah-olah memiliki tangan, mata, rasa kasih sayang dan perasaan amarah, sedangkan untuk menjernihkan pengertian kemiripan tersebut Dia berfirman:
?????? ??????????? ?????? ?
“Tiada sesuatu apa pun seperti Dia”. (S.42 Asy-Sura:12).
Di tempat lain dinyatakan bahwa Dia bersemayam di Arasy seperti dikemukakan dalam ayat:
???? ??????? ?????? ????????????? ???????? ?????? ??????????? ? ???? ?????????? ????? ?????????? ?
“Allah, Dia-lah yang telah meninggikan seluruh langit tanpa suatu tiang pun yang dapat kamu lihat. Kemudian Dia bersemayam di atas Arasy”. (S.13 Ar-Rad:3).
Dari pengertian ayat ini secara harfiah, terbayang seolah-olah Allah tidak berada di Arasy sebelum adanya penciptaan alam. Yang perlu dipahami adalah bahwa Arasy itu bukan sesuatu benda yang bersifat material, melainkan suatu keadaan yang kenyataannya jauh berada di atas segalanya sebagai bagian dari sifat Allah s.w.t. Tuhan menciptakan langit, bumi dan segala hal yang ada di antaranya serta mengaruniakan cahaya kepada matahari, bulan dan bintang-bintang sebagai refleksi dari Nur-Nya sendiri. Lalu Dia menciptakan manusia yang secara metaforika dikatakan dalam citra-Nya dan meniupkan ruh sifat-sifat-Nya ke dalam dirinya. Dengan cara demikian dikatakan bahwa Dia telah menciptakan sesuatu yang mirik dengan Diri-Nya. Adapun penjelasan mengenai sifat transendental dikemukakan dalam ungkapan bahwa Dia bersemayam di Arasy. Meskipun Dia-lah yang menjadi pencipta segalanya tetapi Dia bukanlah hasil ciptaan Diri-Nya sendiri, dan Dia terpisah dari segalanya serta berada di suatu makam yang berada jauh di atas segalanya. (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 23, hal. 276-277, London, 1984).
* * *
Ada yang mungkin menyangkal dengan mengatakan bahwa dari Al-Qur’an dikatakan kalau nantinya pada Hari Penghisaban, akan ada delapan malaikat yang mengusung Arasy. Dari sana lalu disimpulkan bahwa di dunia ini sekarang ada empat malaikat yang mengusung Arasy tersebut. Dengan demikian lalu muncul penafsiran bahwa Allah yang Maha Kuasa berada di atas karena singgasana-Nya ada yang mengusung.

Yang harus dipahami adalah Arasy itu bukan suatu benda material yang bisa atau mungkin diusung atau diangkat ke atas. Arasy adalah posisi transendental dan kesucian, sehingga pengertiannya adalah bukan sesuatu yang diciptakan. Sebuah benda fisik atau material tidak mungkin berada di luar ruang lingkup hasil ciptaan Tuhan. Pokoknya segala hal yang diungkapkan mengenai Arasy agar diartikan secara metaforika. Karena itu para penyangkal di atas itu mestinya menyadari bahwa pandangan mereka itu tidak ada dasarnya. Yang jelas adalah ketika Allah yang Maha Agung dikatakan bersemayam di Arasy maka sifat transendental-Nya lalu menutupi semua sifat-sifat-Nya yang lain dan menjadikan Dia sebagai wujud yang berada jauh di luar jangkauan serta tersembunyi, sedemikian rupa sehingga Dia juga berada di luar jangkauan penalaran manusia. Kemudian setelah itu, keempat sifat-Nya yang disebut sebagai empat malaikat yang dimanifestasikan di dunia akan mengungkapkan Wujud-Nya yang tersembunyi tersebut.
Sifat yang pertama adalah Rabubiyat yaitu yang menyempurnakan fitrat manusia secara jasmani dan ruhani. Manifestasi daripada jasmani dan ruhani merupakan akibat dari berfungsinya sifat Rabubiyat. Begitu pula wahyu samawi dan penampakan tanda-tanda yang luar biasa merupakan hasil dari penampakan sifat Rabubiyat.
Sifat yang kedua yang dimanifestasikan adalah Rahmaniyat-Nya, melalui mana Dia telah menyediakan karunia tak terbilang bagi manusia tanpa sebelumnya dipohonkan. Sifat ini pun mengungkapkan Wujud-Nya yang tersembunyi.
Sifat ketiga adalah Rahimiyat. Pada awalnya melalui sifat Rahmaniyat, Dia akan mengaruniakan kemampuan melakukan amal saleh kepada mereka yang bertakwa, lalu melalui sifat Rahimiyat-Nya Dia membantu mereka melakukan amal saleh tersebut dan memelihara mereka dari segala bencana. Sifat ini juga telah mengungkapkan Wujud-Nya yang tersembunyi.
Sifat keempat adalah Maliki Yaumiddin. Sifat ini juga telah mengungkapkan Wujud-Nya yang tersembunyi melalui tindakan pengganjaran mereka yang saleh dan penghukuman mereka yang berdosa.
Keempat sifat inilah yang mengusung Arasy Allah s.w.t. Dengan kata lain dikemukakan bahwa pengenalan Wujud-Nya yang tersembunyi adalah melalui pengamatan keempat sifat tersebut. Pengamatan itu akan digandakan di akhirat sehingga dikatakan bahwa ada delapan malaikat yang akan mengusung Arasy-Nya nanti. (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 23, hal. 278-279, London, 1984).
* * *
Ketauhidan Ilahi merupakan Nur yang menerangi hati manusia setelah ia berhasil memupuskan sepenuhnya sesembahan atau pujaan internal atau eksternal dirinya, dimana Nur ini akan meresap ke seluruh partikel wujud dirinya. Kesadaran akan Ketauhidan Ilahi ini tidak bisa begitu saja diperoleh sendiri oleh seorang manusia karena hanya didapat melalui perkenan Tuhan dan bimbingan Rasul-Nya. Untuk itu manusia harus memfanakan egonya dan menanggalkan kesombongan Syaitan yang menyatakan bahwa ia adalah seorang yang terpelajar. Ia harus menganggap dirinya sepenuhnya bodoh dan menyibukkan dirinya dengan bersujud. Barulah nanti Nur Ketauhidan akan turun dari Tuhan kepada dirinya dan Nur ini akan mengaruniakan suatu kehidupan baru baginya. (Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 22, hal. 148, London, 1984).
* * *
Sejak awal diciptakannya dunia, pengakuan akan keberadaan wujud Tuhan selalu dikaitkan dengan pengakuan kepada seorang Nabi. Adalah suatu hal yang mustahil bisa memperoleh pemahaman Ketauhidan kecuali melalui bimbingan seorang Nabi. Seorang Nabi merupakan cermin untuk pemahaman wujud Tuhan. Hanya melalui cermin ini saja wujud Tuhan bisa dilihat. Saat Allah yang Maha Kuasa ingin memanifestasikan Diri-Nya kepada dunia maka Dia akan mengutus seorang Nabi sebagai manifestasi Kekuasaan-Nya serta kepada siapa Dia memperlihatkan sifat Rabubiyat-Nya. Barulah dunia akan menyadari bahwa Tuhan itu ada. Adalah bagian dari Ketauhidan Ilahi untuk beriman kepada mereka yang telah ditunjuk sejalan dengan kaidah abadi Allah s.w.t. sebagai sarana untuk mengenal Tuhan. Tanpa keimanan demikian maka keyakinan kepada Ketauhidan Ilahi tidak akan bisa disempurnakan. Tidak akan mungkin mencapai keimanan murni mengenai Ke-Esaan Tuhan jika tidak menyadari mukjizat dan tanda-tanda samawi yang diperlihatkan seorang Nabi dalam usahanya membimbing manusia ke arah pemahaman yang sempurna. Para Nabi ini merupakan kelompok manusia yang berorientasi kepada Tuhan dan melalui siapa kemudian Tuhan memanifestasikan Wujud-Nya yang tidak kelihatan dan tersembunyi tersebut. Khazanah yang tersembunyi yang bernama Tuhan selalu ditemukan hanya melalui para Nabi. Memperoleh keimanan pada Ketauhidan Ilahi tanpa melalui seorang Nabi merupakan hal yang bertentangan dengan logika dan berlawanan dengan pengalaman semua mereka yang mencari Tuhan. (Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 22, hal. 115-116, London, 1984).

0 komentar:

Agenda Harian

Semoga kita senantiasa terpacu untuk mengukir prestasi amal yang akan memperberat timbangan kebaikan di yaumil akhir, berikut rangkaian yang bisa dilakukan

1. Agenda pada sepertiga malam akhir

a. Menunaikan shalat tahajjud dengan memanjangkan waktu pada saat ruku’ dan sujud di dalamnya,

b. Menunaikan shalat witir

c. Duduk untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah hingga azan subuh

Rasulullah saw bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Sesungguhnya Allah SWT selalu turun pada setiap malam menuju langit dunia saat 1/3 malam terakhir, dan Dia berkata: “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku berikan, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni”. (HR. Bukhari Muslim)


2. Agenda Setelah Terbit Fajar

a. Menjawab seruan azan untuk shalat subuh

” الَّلهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِي وَعَدْتَهُ “

“Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini, shalat yang telah dikumandangkan, berikanlah kepada Nabi Muhammad wasilah dan karunia, dan bangkitkanlah dia pada tempat yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan. (Ditashih oleh Al-Albani)

b. Menunaikan shalat sunnah fajar di rumah dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Dua rakaat sunnah fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya”. (Muslim)

وَ قَدْ قَرَأَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِي رَكْعَتَي الْفَجْرِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدَ

“Nabi saw pada dua rakaat sunnah fajar membaca surat “Qul ya ayyuhal kafirun” dan “Qul huwallahu ahad”.

c. Menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid –khususnya- bagi laki-laki.

Rasulullah saw bersabda:

وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الْعَتْمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Sekiranya manusia tahu apa yang ada dalam kegelapan dan subuh maka mereka akan mendatanginya walau dalam keadaan tergopoh-gopoh” (Muttafaqun alaih)

بَشِّرِ الْمَشَّائِيْنَ فِي الظّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّوْرِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berikanlah kabar gembira kepada para pejalan di kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat”. (Tirmidzi dan ibnu Majah)

d. Menyibukkan diri dengan doa, dzikir atau tilawah Al-Quran hingga waktu iqamat shalat

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ

“Doa antara adzan dan iqamat tidak akan ditolak” (Ahmad dan Tirmidzi dan Abu Daud)

e. Duduk di masjid bagi laki-laki /mushalla bagi wanita untuk berdzikir dan membaca dzikir waktu pagi

Dalam hadits nabi disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إَذَا صَلَّى الْفَجْرَ تَرَبَّعَ فِي مَجْلِسِهِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ الْحَسَنَاءُ

” Nabi saw jika selesai shalat fajar duduk di tempat duduknya hingga terbit matahari yang ke kuning-kuningan”. (Muslim)

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya waktu fajar itu disaksikan (malaikat). (Al-Isra : 78) Dan memiliki komitmen sesuai kemampuannya untuk selalu:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah lebih banyak dari itu semua, maka akan menuai kebaikan berlimpah insya Allah.

3. Menunaikan shalat Dhuha walau hanya dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

“Setiap ruas tulang tubuh manusia wajib dikeluarkan sedekahnya, setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah, menolong orang dengan membantunya menaiki kendaraan atau mengangkat kan barang ke atas kendaraannya adalah sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, tiap-tiap langkahmu untuk mengerjakan shalat adalah sedekah, dan membersihkan rintangan dari jalan adalah sedekah”. (Bukhari dan Muslim)

4. Berangkat kerja atau belajar dengan berharap karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمِلِ يَدِهِ، وَكَانَ دَاوُدُ لا يَأْكُلُ إِلا مِنْ عَمِلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan makanan, lebih baik dari yang didapat oleh tangannya sendiri, dan bahwa nabi Daud makan dari hasil tangannya sendiri”. (Bukhari)

Dalam hadits lainnya nabi juga bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang berjalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. (Muslim)

d. Menyibukkan diri dengan dzikir sepanjang hari

Allah berfirman :

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah maka hati akan menjadi tenang” (Ra’ad : 28)

Rasulullah saw bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهَ أَنْ تَمُوْتَ ولسانُك رَطْبٌ من ذِكْرِ الله

“Sebaik-baik perbuatan kepada Allah adalah saat engkau mati sementara lidahmu basah dari berdzikir kepada Allah” (Thabrani dan Ibnu Hibban) .

5. Agenda saat shalat Zhuhur

a. Menjawab azan untuk shalat Zhuhur, lalu menunaikan shalat Zhuhur berjamaah di Masjid khususnya bagi laki-laki

b. Menunaikan sunnah rawatib sebelum Zhuhur 4 rakaat dan 2 rakaat setelah Zhuhur

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang shalat 12 rakaat pada siang dan malam hari maka Allah akan membangunkan baginya dengannya rumah di surga”. (Muslim).

6. Agenda saat dan setelah shalat Ashar

a. Menjawab azan untuk shalat Ashar, kemudian dilanjutkan dengan menunaikan shalat Ashar secara berjamaah di masjid

b. Mendengarkan nasihat di masjid (jika ada)

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ

“Barangsiapa yang pergi ke masjid tidak menginginkan yang lain kecuali belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya ganjaran haji secara sempurna”. (Thabrani – hasan shahih)

c. Istirahat sejenak dengan niat yang karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

وَإِنَّ لِبَدَنِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ

“Sesungguhnya bagi setiap tubuh atasmu ada haknya”.

Agenda prioritas:

Membaca Al-Quran dan berkomitmen semampunya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan, maka akan menuai kebaikan yang berlimpah insya Allah.

7. Agenda sebelum Maghrib

a. Memperhatikan urusan rumah tangga – melakukan mudzakarah – Menghafal Al-Quran

b. Mendengarkan ceramah, nasihat, khutbah, untaian hikmah atau dakwah melalui media

c. Menyibukkan diri dengan doa

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah”

8. Agenda setelah terbenam matahari

a. Menjawab azan untuk shalat Maghrib

b. Menunaikan shalat Maghrib secara berjamaah di masjid (khususnya bagi laki-laki)

c. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Maghrib – 2 rakaat

d. Membaca dzikir sore

e. Mempersiapkan diri untuk shalat Isya lalu melangkahkan kaki menuju masjid

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa yang bersuci/berwudhu kemudian berjalan menuju salah satu dari rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban dari kewajiban Allah, maka langkah-langkahnya akan menggugurkan kesalahan dan yang lainnya mengangkat derajatnya”. (Muslim)

9. Agenda pada waktu shalat Isya

a. Menjawab azan untuk shalat Isya kemudian menunaikan shalat Isya secara jamaah di masjid

b. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Isya – 2 rakaat

c. Duduk bersama keluarga/melakukan silaturahim

d. Mendengarkan ceramah, nasihat dan untaian hikmah di Masjid

e. Dakwah melalui media atau lainnya

f. Melakukan mudzakarah

g. Menghafal Al-Quran

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran dengan berkomitmen sesuai dengan kemampuannya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan bacaan maka telah menuai kebaikan berlimpah insya Allah.


Apa yang kita jelaskan di sini merupakan contoh, sehingga tidak harus sama persis dengan yang kami sampaikan, kondisional tergantung masing-masing individu. Semoga ikhtiar ini bisa memandu kita untuk optimalisasi ibadah insya Allah. Allahu a’lam

Jazaakillah

Sedikit revisi dari : http://www.al-ikhwan.net/agenda-harian-ramadhan-menuju-bahagia-di-bulan-ramadhan-2989/

Isi Blog

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.