HAKIKAT HIJRAH
Kita sekarang masih dalam suasana tahun baru Islam, Muharram 1430 H. Setiap tahun baru islam memori kita akan dibawa mengingat peristiwa bersejarah yang pernah terjadi di zaman Rasulullah SAW. Yaitu Nabi dan para sahabat melakukan hijrah dari Makkatal mukarramah menuju Madinatul Munawwarah. Hijrah ini di perintahkan Allah SWT. Kepada Nabi dan para sahabat setelah melihat kondisi kaum muslimin pada saat itu sangat memprihatinkan. Dimana kaum kuffar semakin gencar melakukan tindakan-tindakan yang orientasinya menaklukkan agama baru yang dibawa oleh Muhammad SAW. Kaum muslimin dicaci, dihina, dirampas hak-hak mereka, dikurung atau dipenjara yang kemudian disiksa dan dipakasa untuk kembali berpegang kepada agama nenek moyang, agama menyembah berhala.

Tidak hanya itu, kaum muslim yang tetap bersikukuh mempertahankan akidah islam dan tidak mau kembali kepada agama berhala akan diperlakukan tidak manusiawi dan dibunuh seperti yang dialami keluarga Amar bin Yasir RA. Kedua orang tua Amar diperlakukan tidak manusiawi yang akhirnya dibunuh karena mempertahankan iman yang telah tertambat erat dihati mereka berdua. Hal senada hampir juga dialami anak semata wayang, Amar RA. Untung saja beliau berhasil mengelabuhi kaum kafir quraisy dengan mengatakan kembali kepada agama nenek moyang. Padahal sebenarnya beliau menyembunyikan keimanan dihati dan masih berpegang kepada agama baru yang menjadi rahmatan lil-‘alamiin (Islam red.).

Hakikat Hijarah
Secara bahasa hijrah bisa kita artikan bergerak, pindah, emigrasi, atau eksodus. Berubah dari satu keadaan kepada keadaan lain, berjalan dari rumah ke kuliyah , atau melewati tangga-tangga imarah bisa dikatakan “proses hijrah”. Selanjutnya kita ingin tahu apa hakikat hijrah itu sebanarnya?. Imam Abu Zakariyah dalam syarhul Arbain Nawawi, mengatakan : “hijrah adalah meninggalkan segala larangan Allah SWT”. Yang juga berarati mengerjakan semua perintah-Nya. Dalam makna yang lebih luas, hijrah dipahami sebagai perubahan dari keadaan yang tidak atau kurang baik kepada keadaan yang lebih baik.

Pada asasnya, peristiwa hijrah tidak hanya dialami oleh Nabi SAW dan para sahabat. Akan tetapai pernah juga terjadi pada beberapa nabi sebelumnya. Nabi Ibrahim misalnya, diperintahkan oleh Allah SWT. Melakukan hijrah ke tempat lain. Sesuai yang tercantum dalam alquran; Maka luth membenarkan (keimanan)nya. Dan berkatalah Ibrahim: “sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang di perintahkan) Tuhanku (kepadaku).sesungguhnya dialah yang maha perkasa lagi maha bijaksana” .(al-ankabut : 26). Selain nabi Ibrahim AS. Nabi Musa juga melakukan hijrah ke Madyan setelah mendapat ancaman Fir’aun yang akan membunuh Beliau. Begitu juga dengan Nabi Nuh AS, Beliau dan para pengikut setianya hijrah dengan menaiki kapal .
Hijarah Nabi Muhammad SAW. bersama para sahabat dari Makkatal Mukarramah menuju Madinatil Munawwarah mengambarkan suatu perjuangan yang pantang menyerah atau mengaku kalah. Disamping ia menjadi garis pemisah anatara yang haq dan yang bathil, juga diibaratkan sebagai satu jembatan yang menghubungkan anatara dua tahap masa perjuangan Nabi SAW. Tahap pertama di Makkah selama 13 tahun dan kedua di Madinah selama 10 tahun.

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda;”laa hijrata ba’dal fathi”. Hadist ini pada dzohir nya mengindikasikan hijrah tidak berlaku lagi setelah Fathu Makkah. Tapi pada hakikatnya hijrah senantiasa terbuka dan dibutuhkan sampai hari kiamat. Dan hijrah yang dimaksudkan disini bukanlah kita mesti selalu berpindah dari satu tempat ketempat lain (emigrasi) atau semua satu warga negara harus pindah secara besar-besaran keluar negri (eksodus) seperti yang pernah dilakukan Nabi SAW dan para sahabat. Hijrah yang dituntut saat ini adalah perubahan dari keadaan yang kurang atau tidak baik kepada keadaan yang lebih baik.
Dalam konteks Islam hari ini kita mesti bisa menuangkan nilai-nilai hijrah di semua lini kehidupan kita. Sebagaimana manusia adalah organisme (makhluk Allah SWT) yang terus berkembang baik secara kualitatif atau kuantitatif, maka saatnya lah setiap individu berusaha berubah dari yang sebelumnya tidak atau kurang baik kepada keadaan yang lebih baik. Dan perubahan disini bukan hanya berlaku pada aspek-aspek kehidupan yang berorientasi ukhrawy, akan tetapi mesti bisa juga kita cipatakan pada aspek-aspek kehidupan yang orientasinya duniawy, selama praktek-praktek hijrah tidak kontradiktif dengan hukum Allah SWT.

Jika kita menoleh kebelakang sejenak (flash back). Keadaan wanita sebelum Islam sangat memperihatinkan. Pada peradaban Yunani kuno misalnya, wanita dipandang hina dan dijadikan qurban yang kemudian dipersembahkan sebagai cara pendekatan diri kepada tuhan-tuhan mereka. Pandangan seperti inilah yang kemudian diusung oleh Aristoteles dan kanti-kantinyo. Dalam peradaban Romawi, nasib wanita lebih memperihatinkan lagi. Wanita dilarang makan daging, tertawa, bahkan berbicara sekalipun. Wanita harus mengabdikan seluruh hidupnya kepada berhala dan mengurus suaminya. Beda lagi yang berlaku dalam peradaban persi. Wanita dalam pandangan mereka legal untuk diperjual belikan. Mereka juga melegalkan pernikahan dengan ibu kandung, anak kandung, bibi, dan saudara perempuan. Bagi wanita yang sedang mengalami menstruasi harus diasingkan dan bahkan di isolisi ke tempat terpencil dan dilarang bergaul sampai selesai masa haidh.
Islam datang membawa perubahan besar bagi kemashlahatan lil-alamiin.Harkat dan martabat manusia diangkat dengan tidak mendikotomi anatara laki-laki dan perempuan. Wanita tidak lagi dijadikan qurban yg dipersembahkan untuk berhala-berhala. Wanita tidak lagi di perlakukan layaknya barang yang legal diperjualbelikan. Inilah salah satu bentuk hijrah besar yang pernah terjadi didunia ini. Hijrah besar ini dipelopori oleh agama rahamatan lil-alamin, agama islam.

Hijrah, seperti yang kita pahami di atas adalah berubah kepada keadaan yang lebih baik. Dan tentunya makna ‘baik’ di sini adalah baik dalam pandangan Allah SWT. Yang berarti perubahan-perubahan yang kita realisasikan di lapangan tidak berseberangan dengan ketentuan-ketentuan hukum Allah SWT. Atas dasar modernisme, libralisme dan idealisme terkadang manusia melakukan perubahan-perubahan yang keluar dari lingkaran hukum-Nya. Dan lebih para lagi satu golongan tertentu yang manganggap tidak ada hukum tuhan, yang ada hukum manusia sehingga mereka melakukan perubahan-perubhan yang kontradiktif dengan hukum Allah SWT. Mereka menganggap jilbab tidak pantas lagi di pakai oleh wanita saat ini. Jilbab dalam pandangan mereka hanya sebuah ekspresi lokal particular islam di arab. Atau ada juga yang menganggap bahwa sholat tidak wajib dilakukan karena bersandar kepada firman Allah :“sesungguhnya sholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar”. Maka ketika seorang muslim menghindari perbuatan yang dilarang Allah, secara tidak langsung dia telah melakukan sholat. Ada lagi yang beranggapan bahwa sholat itu cukup dengan mengingat Allah SWT tanpa harus mempraktekkan sholat yang kita kenal sampai hari ini Perubahan-perubahan tersebut bukan dikatagorikan kedalam “hijrah” karena sangat kontradiktif dengan hukum Ilahi. Wallahu ‘alam bil-shawwab.

0 komentar:

Agenda Harian

Semoga kita senantiasa terpacu untuk mengukir prestasi amal yang akan memperberat timbangan kebaikan di yaumil akhir, berikut rangkaian yang bisa dilakukan

1. Agenda pada sepertiga malam akhir

a. Menunaikan shalat tahajjud dengan memanjangkan waktu pada saat ruku’ dan sujud di dalamnya,

b. Menunaikan shalat witir

c. Duduk untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah hingga azan subuh

Rasulullah saw bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Sesungguhnya Allah SWT selalu turun pada setiap malam menuju langit dunia saat 1/3 malam terakhir, dan Dia berkata: “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku berikan, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni”. (HR. Bukhari Muslim)


2. Agenda Setelah Terbit Fajar

a. Menjawab seruan azan untuk shalat subuh

” الَّلهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِي وَعَدْتَهُ “

“Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini, shalat yang telah dikumandangkan, berikanlah kepada Nabi Muhammad wasilah dan karunia, dan bangkitkanlah dia pada tempat yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan. (Ditashih oleh Al-Albani)

b. Menunaikan shalat sunnah fajar di rumah dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Dua rakaat sunnah fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya”. (Muslim)

وَ قَدْ قَرَأَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِي رَكْعَتَي الْفَجْرِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدَ

“Nabi saw pada dua rakaat sunnah fajar membaca surat “Qul ya ayyuhal kafirun” dan “Qul huwallahu ahad”.

c. Menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid –khususnya- bagi laki-laki.

Rasulullah saw bersabda:

وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الْعَتْمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Sekiranya manusia tahu apa yang ada dalam kegelapan dan subuh maka mereka akan mendatanginya walau dalam keadaan tergopoh-gopoh” (Muttafaqun alaih)

بَشِّرِ الْمَشَّائِيْنَ فِي الظّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّوْرِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berikanlah kabar gembira kepada para pejalan di kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat”. (Tirmidzi dan ibnu Majah)

d. Menyibukkan diri dengan doa, dzikir atau tilawah Al-Quran hingga waktu iqamat shalat

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ

“Doa antara adzan dan iqamat tidak akan ditolak” (Ahmad dan Tirmidzi dan Abu Daud)

e. Duduk di masjid bagi laki-laki /mushalla bagi wanita untuk berdzikir dan membaca dzikir waktu pagi

Dalam hadits nabi disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إَذَا صَلَّى الْفَجْرَ تَرَبَّعَ فِي مَجْلِسِهِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ الْحَسَنَاءُ

” Nabi saw jika selesai shalat fajar duduk di tempat duduknya hingga terbit matahari yang ke kuning-kuningan”. (Muslim)

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya waktu fajar itu disaksikan (malaikat). (Al-Isra : 78) Dan memiliki komitmen sesuai kemampuannya untuk selalu:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah lebih banyak dari itu semua, maka akan menuai kebaikan berlimpah insya Allah.

3. Menunaikan shalat Dhuha walau hanya dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

“Setiap ruas tulang tubuh manusia wajib dikeluarkan sedekahnya, setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah, menolong orang dengan membantunya menaiki kendaraan atau mengangkat kan barang ke atas kendaraannya adalah sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, tiap-tiap langkahmu untuk mengerjakan shalat adalah sedekah, dan membersihkan rintangan dari jalan adalah sedekah”. (Bukhari dan Muslim)

4. Berangkat kerja atau belajar dengan berharap karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمِلِ يَدِهِ، وَكَانَ دَاوُدُ لا يَأْكُلُ إِلا مِنْ عَمِلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan makanan, lebih baik dari yang didapat oleh tangannya sendiri, dan bahwa nabi Daud makan dari hasil tangannya sendiri”. (Bukhari)

Dalam hadits lainnya nabi juga bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang berjalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. (Muslim)

d. Menyibukkan diri dengan dzikir sepanjang hari

Allah berfirman :

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah maka hati akan menjadi tenang” (Ra’ad : 28)

Rasulullah saw bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهَ أَنْ تَمُوْتَ ولسانُك رَطْبٌ من ذِكْرِ الله

“Sebaik-baik perbuatan kepada Allah adalah saat engkau mati sementara lidahmu basah dari berdzikir kepada Allah” (Thabrani dan Ibnu Hibban) .

5. Agenda saat shalat Zhuhur

a. Menjawab azan untuk shalat Zhuhur, lalu menunaikan shalat Zhuhur berjamaah di Masjid khususnya bagi laki-laki

b. Menunaikan sunnah rawatib sebelum Zhuhur 4 rakaat dan 2 rakaat setelah Zhuhur

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang shalat 12 rakaat pada siang dan malam hari maka Allah akan membangunkan baginya dengannya rumah di surga”. (Muslim).

6. Agenda saat dan setelah shalat Ashar

a. Menjawab azan untuk shalat Ashar, kemudian dilanjutkan dengan menunaikan shalat Ashar secara berjamaah di masjid

b. Mendengarkan nasihat di masjid (jika ada)

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ

“Barangsiapa yang pergi ke masjid tidak menginginkan yang lain kecuali belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya ganjaran haji secara sempurna”. (Thabrani – hasan shahih)

c. Istirahat sejenak dengan niat yang karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

وَإِنَّ لِبَدَنِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ

“Sesungguhnya bagi setiap tubuh atasmu ada haknya”.

Agenda prioritas:

Membaca Al-Quran dan berkomitmen semampunya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan, maka akan menuai kebaikan yang berlimpah insya Allah.

7. Agenda sebelum Maghrib

a. Memperhatikan urusan rumah tangga – melakukan mudzakarah – Menghafal Al-Quran

b. Mendengarkan ceramah, nasihat, khutbah, untaian hikmah atau dakwah melalui media

c. Menyibukkan diri dengan doa

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah”

8. Agenda setelah terbenam matahari

a. Menjawab azan untuk shalat Maghrib

b. Menunaikan shalat Maghrib secara berjamaah di masjid (khususnya bagi laki-laki)

c. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Maghrib – 2 rakaat

d. Membaca dzikir sore

e. Mempersiapkan diri untuk shalat Isya lalu melangkahkan kaki menuju masjid

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa yang bersuci/berwudhu kemudian berjalan menuju salah satu dari rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban dari kewajiban Allah, maka langkah-langkahnya akan menggugurkan kesalahan dan yang lainnya mengangkat derajatnya”. (Muslim)

9. Agenda pada waktu shalat Isya

a. Menjawab azan untuk shalat Isya kemudian menunaikan shalat Isya secara jamaah di masjid

b. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Isya – 2 rakaat

c. Duduk bersama keluarga/melakukan silaturahim

d. Mendengarkan ceramah, nasihat dan untaian hikmah di Masjid

e. Dakwah melalui media atau lainnya

f. Melakukan mudzakarah

g. Menghafal Al-Quran

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran dengan berkomitmen sesuai dengan kemampuannya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan bacaan maka telah menuai kebaikan berlimpah insya Allah.


Apa yang kita jelaskan di sini merupakan contoh, sehingga tidak harus sama persis dengan yang kami sampaikan, kondisional tergantung masing-masing individu. Semoga ikhtiar ini bisa memandu kita untuk optimalisasi ibadah insya Allah. Allahu a’lam

Jazaakillah

Sedikit revisi dari : http://www.al-ikhwan.net/agenda-harian-ramadhan-menuju-bahagia-di-bulan-ramadhan-2989/

Isi Blog

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.