Berita Duka kepergian salah seorang Ulama Rabbani
Sumber : AUDIOSALAF
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un Telah meninggal dunia pada 19 Rajab 1429 H atau bertepatan dengan 23 Juli 2008 pagi hari, Asy Syaikh Al Allamah Al Muhadits Ahmad bin Yahya An Najmi-Rahimahullah
Telah datang pada kami khabar bahwa Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya binMuhammad An-Najmi salah seorang ulama ahlussunnah pengibar benderasunnah, telah wafat pada hari rabu sore, 23 Juli 2008. Semoga Allohsubhanahu wa ta'ala merahmatinya dan mengumpulkan dirinya kepada orang-orang yang dikasihi Robb jalla wa'ala.Diriwayatkan Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash, katanya: Aku mendengarRasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Allahtidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapiDia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allahtidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkatpemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya,mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat danmenyesatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)~~~~~~~~~~~~~~~~~Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya bin Muhammad An-Najmi Mufti Daerah JizaanPenulis: Asy-Syaikh Muhammad bin Hadi bin Ali Al-MadkhaliKedudukan ulama rabbani sangatlah tinggi dalam Dien yang mulia ini.Allah Ta'ala telah mengangkat derajat mereka dan memuji mereka dalamTanzil-Nya. Demikian pula pujian datang lewat lisan Rasul-Nya dalammutiara-mutiara hikmah yang beliau tuturkan. Dan tidak ada yang tahukadar ulama dan memuliakannya sesuai dengan apa yang berhak merekadapatkan kecuali orang-orang yang mulia. Karena itu, sepantasnyalahbagi orang yang ingin mendapatkan kemuliaan untuk mengagungkan merekalewat lisan dan tulisan, tidak melanggar kehormatan mereka dan tidakmerendahkan mereka.Kedudukan ulama rabbani sangatlah tinggi dalam Dien yang mulia ini.Allah Ta'ala telah mengangkat derajat mereka dan memuji mereka dalamTanzil-Nya. Demikian pula pujian datang lewat lisan Rasul-Nya dalammutiara-mutiara hikmah yang beliau tuturkan. Dan tidak ada yang tahukadar ulama dan memuliakannya sesuai dengan apa yang berhak merekadapatkan kecuali orang-orang yang mulia. Karena itu, sepantasnyalahbagi orang yang ingin mendapatkan kemuliaan untuk mengagungkan merekalewat lisan dan tulisan, tidak melanggar kehormatan mereka dan tidakmerendahkan mereka. Telah datang ayat-ayat Qur`an, hadits-haditsnabawiyah dan atsar-atsar pilihan yang berisi larangan dari perbuatantersebut. Satu dari ulama rabbani yang memiliki hak untuk kitamuliakan adalah As-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi, seorang alim yangsekarang menjadi mufti di daerah Jizaan. Salah seorang murid beliau,As-Syaikh Muhammad bin Hadi bin Ali Al-Madkhali menuturkan secararingkas cerita hidup beliau sebagaimana dinukilkan dalam Ibrah kaliini. Semoga semangat ilmiah dan amaliyah beliau dapat menjadi ibrahbagi kita.NAMA DAN NASAB BELIAUBeliau adalah Asy-Syaikh Al-Fadlil Al-Allamah, Al-Muhaddits, Al-Musnad, Al-Faqih, mufti daerah Jizaan, pembawa bendera sunnah danhadits di sana. As-Syaikh Ahmad bin Yahya bin Muhammad bin Syabir An-Najmi dari keluarga Syabir dari Bani Hummad, salah satu kabilah yangterkenal di daerah Jizaan.Terlahir di Najamiyah pada tanggal 26 Syawwal 1346 hijriyah, beliautumbuh dalam asuhan dua orang tua yang shalih. Keduanya bahkanbernadzar untuk Allah dalam urusan putranya ini, yaitu mereka berduatidak akan membebani Ahmad An-Najmi kecil dengan satu pun daripekerjaan dunia. Dan sungguh Allah telah merealisasikan apa yangdiinginkan pasangan hamba-Nya ini.Ayah dan ibu yang shalih ini menjaga beliau dengan sebaik-baiknya,sampai-sampai keduanya tidak meninggalkan beliau bermain bersama anak-anak yang lain. Ketika mencapai usia tamyiz, ayah dan ibu yang muliaini memasukkan beliau ke tempat belajar yang ada di kampungnya. Disini beliau belajar membaca dan menulis. Demikian pula membaca Al-Qur`an, beliau pelajari di sini sampai tiga kali sebelum kedatangan As-Syaikh Abdullah Al-Qar'aawii rahimahullah pada tahun 1358 hijriyah.Pertama kali beliau membaca Al-Qur`an di bawah bimbingan As-SyaikhAbduh bin Muhammad Aqil An-Najmi tahun 1355 hijriyah. Kemudian beliaumembacanya di hadapan As-Syaikh Yahya Faqih Absi -seorang yangberpemahaman Asy'ari- yang semula merupakan penduduk Yaman lalu datangdan bermukim di Najamiyah. Tahun 1358, As-Syaikh Ahmad An-Najmi masihbelajar pada orang ini. Ketika datang As-Syaikh Abdullah Al-Qar'aawiiterjadi perdebatan antara keduanya (antara As-Syaikh Yahya Faqih Absidan As-Syaikh Al-Qar'aawii) dalam masalah istiwa. Dan Allah Ta'alaberkehendak untuk memenangkan Al-Haq hingga As-Syaikh Yahya yangAsy'ari ini kalah dan pada akhirnya meninggalkan Najamiyah.SEKITAR KISAH BELIAU DALAM BELAJAR ILMUPada tahun 1359, setelah perginya guru beliau yang berpemahamanAsy'ari, As-Syaikh Ahmad An-Najmi bersama kedua paman beliau, As-Syaikh Hasan dan As-Syaikh Husein bin Muhammad An-Najmi seringmenjumpai As-Syaikh Abdullah Al-Qar'aawi di kota Shaamithah. Kemudianpada tahun berikutnya beliau masuk ke Madrasah As-Salafiyah. Dan padakali ini beliau membaca Al-Qur`an dengan perintah As-Syaikh AbdullahAl-Qar'aawii rahimahullah di hadapan As-Syaikh Utsman bin Utsman Hamlirahimahullah. Beliau menghafal Tuhfatul Athfal, Hidayatul Mustafid,Ats-Tsalatsatul Ushul, Al-Arba'in An-Nawawiyah dan Al-Hisab. Beliaujuga memantapkan pelajaran khath.Di Madrasah As-Salafiyah, As-Syaikh Ahmad An-Najmi yang masih beliaini duduk di majlis yang ditetapkan oleh As-Syaikh Al-Qar'aawii sampaimurid-murid kecil pulang ke rumah masing-masing setelah shalat dhuhur.Namun As-Syaikh Ahmad An-Najmi tidak ikut pulang bersama mereka.Beliau malah ikut masuk ke halaqah yang diperuntukkan bagi orangdewasa / murid-murid senior yang diajari langsung oleh As-Syaikh Al-Qar'aawii. Beliau duduk bersama mereka dari mulai selesai shalatdhuhur sampai datang waktu Isya. Setelah itu baru beliau kembalibersama kedua paman beliau ke kediamannya.Hal demikian berlangsung sampai empat bulan hingga akhirnya As-SyaikhAl-Qar'aawii mengijinkan beliau untuk bergabung dengan halaqah kibaarini. Di hadapan As-Syaikh Al-Qar'aawii beliau membaca kitab Ar-Rahabiyah dalam ilmu Fara'id, Al-Aajurumiyah dalam ilmu Nahwu, KitabutTauhid, Bulughul Maram, Al-Baiquniyah, Nukhbatul Fikr dan syarahnyaNuzhatun Nadhar, Mukhtasharaat fis Sirah, Tashriful Ghazii,Al-'Awaamil fin Nahwi Mi'ah, Al-Waraqaat dalam Ushul Fiqih, Al-AqidahAth-Thahawiyah dengan syarah / penjelasan dari As-Syaikh Abdullah Al-Qar'aawii sebelum mereka diajarkan Syarah Ibnu Abil 'Izzi terhadapAqidah Thahawiyah ini. Beliau juga mempelajari beberapa hal dari kitabAl-Alfiyah karya Ibnu Malik, Ad-Durarul Bahiyah dengan syarahnya Ad-Daraaril Mudliyah dalam fiqih karya Al-Imam Syaukani rahimahullah. Danmasih banyak lagi kitab lainnya yang beliau pelajari, baik kitabtersebut dipelajari secara kontinyu -sebagaimana kitab-kitab yangdisebutkan di atas- maupun kitab-kitab yang digunakan sebagaiperluasan wawasan dari beberapa risalah-risalah dan kitab-kitab kecildan kitab-kitab yang dijadikan rujukan ketika diadakan pembahasanilmiyah seperti Nailul Authar, Zaadul Ma'aad, Nurul Yaqin, Al-Muwatha'dan kitab-kitab induk (Al-Ummahat).Pada tahun 1362 hijriyah, As-Syaikh Abdullah Al-Qar'aawii mengajarkandi halaqah kibar ini kitab-kitab induk yang ada di perpustakaan beliauseperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Daud, Sunan Nasa'idan Muwaththa' Imam Malik. Mereka yang membacakan kitab-kitab tersebutdi hadapan beliau. Namun mereka tidak sampai menyelesaikan kitab-kitabtersebut karena mereka harus berpisah satu dengan lainnya disebabkanpaceklik yang menimpa.Dan dengan keutamaan dari Allah, pada tahun 1364 mereka dapat kembalike tempat belajar mereka dan melanjutkan apa yang semula merekatinggalkan. As-Syaikh Abdullah kemudian memberi izin kepada As-SyaikhAhmad An-Najmi untuk meriwayatkan kitab induk yang enam (Al-Ummahat As-Sitt).Waktu berjalan hingga sampai pada tahun 1369. Beliau berkesempatanuntuk belajar kitab Ishlahul Mujtama' dan kitab Al-Irsyad ilaMa'rifatil Ahkam karya As-Syaikh Abdurrahman bin Sa'di rahimahullahdalam masalah fiqih yang disusun dalam bentuk tanya jawab. Dua kitabini beliau pelajari dari As-Syaikh Ibrahim bin Muhammad Al-'Amuudirahimahullah seorang qadli daerah Shaamith pada waktu itu. Beliauberkesempatan pula untuk belajar Nahwu pada As-Syaikh Ali bin SyaikhUtsman Ziyaad Ash-Shomaalii dengan perintah As-Syaikh Abdullah Al-Qar'aawii rahimahullah dengan membahas kitab Al-'Awwamil fin NahwiMi'ah dan kitab-kitab lainnya.Tahun 1384, beliau hadir dalam halaqah Syaikh Al-Imam Al-'AllamahMufti negeri Saudi Arabia As-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alus Syaikhrahimahullah selama hampir dua bulan untuk mempelajari tafsir dalamhal ini Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari dengan pembaca kitab Abdul AzizAsy-Syalhuub. Pada tahun yang sama beliau juga hadir dalam halaqahSyaikh Al-Imam Al-'Allamah As-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullahselama kurang lebih satu setengah bulan guna mempelajari ShahihBukhari. Majelis yang terakhir ini diadakan antara waktu Maghrib danIsya'.GURU-GURU BELIAUSyaikh Ahmad An-Najmi memiliki beberapa orang guru sebagaimana bisadibaca pada keterangan di atas. Guru-guru beliau adalah:1) As-Syaikh Ibrahim bin Muhammad Al-'Amuudi, seorang qadli di daerahShaamithah pada zamannya.2) As-Syaikh Hafidh bin Ahmad Al-Hakami3) As-Syaikh Al-Allamah Ad-Da'iyah Al-Mujaddid di daerah selatankerajaan Saudi Arabia Abdullah Al-Qar'aawii, beliau adalah guru yangpaling banyak memberikan faedah kepada As-Syaikh Ahmad An-Najmi.4) As-Syaikh Abduh bin Muhammad Aqil An-Najmi5) As-Syaikh Utsman bin Utsman Hamli6) As-Syaikh Ali bin Syaikh Utsman Ziyaad Ash-Shomaali7) As-Syaikh Al-Imam Al-Allamah Mufti negeri Saudi Arabia yang dahulu,Muhammad bin Ibrahim Alus Syaikh.8) As-Syaikh Yahya Faqih Absi Al-YamaniMURID-MURID BELIAUAs-Syaikh Ahmad An-Najmi hafidhahullah memiliki murid yang sangatbanyak, seandainya ada yang mencoba menghitungnya niscaya iamembutuhkan ribuan lembaran kertas. Namun di sini cukup disebutkantiga orang saja yang ketiganya masyhur dalam bidang keilmuan. Merekaadalah:1) As-Syaikh Al-Allamah Al-Muhaddits penolong Sunnah, As-Syaikh Rabi'bin Hadi Al-Madkhali.2) As-Syaikh Al-Allamah Al-Faqih Zaid bin Muhammad Hadi Al-Madkhali.3) As-Syaikh Al-Alim Al-Fadlil Ali bin Nashir Al-Faqiihi.KECERDASAN BELIAUAllah Ta'ala menganugerahkan kepada beliau kecerdasan yang tinggisekali. Berikut ini kisah yang menunjukkan kecerdasan dan kemampuanmenghafal beliau sejak kecil -semoga Allah menjaga beliau-:Berkata As-Syaikh Umar bin Ahmad Jaradii Al-Madkhali -semoga Allahmemberi taufik kepada beliau-: "Tatkala As-Syaikh Ahmad An-Najmi hadirbersama kedua pamannya Hasan dan Husein An-Najmi di Madrasah As-Salafiyah di Shaamithah, tahun 1359 hijriyah, umur beliau saat itu 13tahun namun beliau mampu mendengarkan dan memahami pelajaran-pelajaranyang disampaikan oleh As-Syaikh Abdullah Al-Qar'aawii kepada murid-murid seniornya. Dan beliau benar-benar menghafal pelajaran-pelajarantersebut."Aku katakan (yakni As-Syaikh Muhammad bin Hadi bin Ali Al-Madkhali):"Inilah yang menyebabkan As-Syaikh Abdullah Al-Qar'aawiimenggabungkannya pada halaqah kibaar yang beliau tangani sendiripengajarannya. Beliau melihat bagaimana kepandaiannya, kecepatanhafalannya dan kecerdasannya."KESIBUKAN BELIAU DALAM MENYEBARKAN ILMUAs-Syaikh Ahmad An-Najmi menyibukkan dirinya dengan mengajar dimadrasah-madrasah milik gurunya As-Syaikh Al-Qar'aawii rahimahullahsemata-mata karena mengaharapkan pahala. Pada tahun 1367 hijriyahbeliau mengajar di kampungnya An-Najamiyah. Lima tahun kemudian (tahun1372) beliau pindah ke tempat yang bernama Abu Sabilah di Hurrats. Disana beliau menjadi imam dan guru. Pada tahun berikutnya ketika dibukaMa'had Ilmi di Shaamithah, beliau menjadi guru di sana sampai tahun1384 hijriyah. Saat itu beliau memutuskan untuk safar ke Madinah gunamengajar di Jami'ah Al-Islamiyah di sana, namun ternyata beliaumendapat tugas yang lain sehingga beliau harus kembali ke daerahJaazaan. Di sini Allah menghendaki agar beliau menjadi seorangpenasehat dan pemberi bimbingan, dan beliau menjalankan tugas beliaudengan sebaik-baiknya.Tahun 1387, beliau mengajar di Ma'had Ilmi di kota Jazaan sesuaidengan permintaan beliau. Pada awal pengajaran tahun 1389 beliaukembali mengajar di Ma'had Shaamithah dan beliau tinggal di sanasebagai guru hingga tahun 1410.Sejak saat itu sampai ditulisnya biografi ini, beliau menyibukkan diridengan mengajar di rumahnya dan di masjid yang berdekatan dengan rumahbeliau serta di masjid-masjid lain dengan tetap menjalankan tugasbeliau sebagai mufti.Beliau -hafidhahullah- dengan semua aktifitas ilmiahnya telahmenjalankan wasiat gurunya untuk terus mengajar dan menjaga /memperhatikan para pelajar, khususnya pelajar asing dan mereka yangterputus bekal / nafkahnya dalam penuntutan ilmu. Dan kita dapatkanbeliau -semoga Allah menjaganya- memiliki kesabaran yang menakjubkan.Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan atas apa yang telah diaberikan kepada kita.Dengan wasiat As-Syaikh Al-Qar'aawii juga, beliau terus melakukanpembahasan ilmiyah dan mengambil faedah, khususnya dalam ilmu haditsdan fiqih serta ushul ilmu hadits dan ushul fiqih, hingga beliaumencapai keutamaan dengannya melebihi teman-temannya. Semoga Allahmemberkahi umur beliau dan ilmu beliau, dan semoga Allah memberimanfaat dengan kesungguhan beliau.KARYA ILMIAH BELIAUBeliau banyak memiliki karya-karya tulis ilmiah, sebagiannya sudahdicetak dan sebagian lagi belum dicetak. Semoga Allah memudahkandicetaknya seluruh karya beliau agar kemanfaatannya tersampaikan padaummat. Di antara karya beliau:1) Awdlahul Irsyad fir Rad 'ala Man Abaahal Mamnuu' minaz Ziyaarah2) Ta'sisul Ahkam Syarah Umdatul Ahkam, telah dicetak dari karya inisatu juz yang kecil / tipis sekali.3) Tanzihusy Syari'ah 'an Ibaahatil Aghaanil Khali'ah.4) Risalatul Irsyaad ila Bayanil Haq fi Hukmil Jihaad.5) Risalah fi Hukmil Jahri bil Basmalah6) Fathur Rabbil Waduud fil Fatawa war Ruduud.7) Al-Mawridul 'Udzbuz Zalaal fiimaa Intaqada 'ala Ba'dlil ManaahijidDa'wiyah minal 'Aqaaid wal A'maal.Dan masih banyak lagi dari tulisan-tulisan beliau yang bermanfaat yangbeliau persembahkan untuk kaum muslimin, semoga Allah membalas beliaudengan sebaik-baik pahala dan semoga Allah menjadikannya bermanfaatbagi Islam dan muslimin.Demikian akhir biografi beliau yang dapat kami haturkan pada parapembaca, walhamdulillah ***
(Diterjemahkan secara ringkas oleh Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari dari mukaddimah kitab Al-Mawridul 'Udzbuz Zalaal fiimaaIntaqada 'ala Ba'dlil Manaahijid Da'wiyah minal 'Aqaaid wal A'maal,hal 3-10).
0 komentar:
Posting Komentar