BERLEPAS DIRI DARI SISTEM KUFUR

Propaganda dan Berjuang untuk Ashabiyah, Haram !

Allah Swt. Telah memberikan kepada kita Dinul Islam, meliputi aqidah dan syariat yang menuntun dan mengatur umat manusia menuju kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat. Allah Swt telah memuji orang-orang yang mengajak (mendakwahkan) ajaran Allah (iaitu Islam) ini.

Sebagaimana firmanNya :
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru (mendakwahkan) kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata : 'Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslimun).” (QS. Fushshilat : 33)

Bahkan Allah Swt menempatkan kedudukan orang-orang yang berjuang bukan untuk Islam, tunduk kepada ideologi kufur (selain Dinul Islam), sebagai orang-orang yang merugi, dan seluruh aktiviti amalnya itu tertolak.

Firman Allah Swt :

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”
(QS. Ali Imran : 85)

Oleh kerana itu, kelompok manapun dari kaum Muslim, yang mempropagandakan ideologi dan ajaran selain islam, --seperti Demokrasi, Sekularisme, Pluralisme, Emansipasi, Kapitalisme, Sosialisme, Globalisasi-- yang bertentangan dengan ajaran Islam, dan nyata-nyata ajaran tersebut berasal dari bangsa-bangsa kafir, haram
hukumnya!

Begitu pula, propaganda yang memunculkan syi'ar-syi'ar jahiliyah, seperti fanatisme golongan, fanatisme individu, fanatisme kepartian, dan sejenisnya --yang dikenal dalam Islam dengan istilah ashabiyah-- juga diharamkan secara syar'i.

Rasulullah saw bersabda :

“Siapa saja yang menyeru kepada ashabiyah (fanatisme golongan) maka dia tidak termasuk golongan kami (kaum Muslim).” (HR. Abu Daud)

Islam juga menetapkan siapa saja yang mati kerana membela dan memperjuangkan ashabiyah, maka dia mati dalam keadaan mati jahiliyah.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, bersabda :

“Dan siapa saja yang berperang di bawah panji kejahilan, ia marah kerana ashabiyah, atau menyeru kepada ashabiyah, atau ikut menolong (membantu) kerana ashabiyah, kemudian ia terbunuh, maka matinya adalah mati jahiliyah.” (HR. Muslim)

Atau, mereka menyeru slogan-slogan yang dinisbahkan kepada Demokrasi, Reformasi, Sosialisme, Kapitalisme, dan sejenisnya yang nyata-nyata bertentangan dengan Islam dan jelas-jelas tidak memperjuangkan Islam ? Atau, diantara mereka secara buta membela, mempertahankan dan menyeru ashabiyah (fanatisme) terhadap kelompok mahupun tokoh-tokohnya? Perhatikanlah, termasuk kepada golongan mana mereka menuju ?

Berlepas diri dengan Sistem Kufur

Peperangan antara Haq dan Bathil tidak akan pernah berhenti, sama halnya juga peperangan antara Islam dan kekufuran tidak akan pernah padam. Begitu juga antara Islam dan kekufuran tidak akan pernah kompromi dan menjalankan kesepakatan melalui jalan tengah.

Kekufuran, dapat dimanifestasikan bukan saja dalam bentuk ajaran-ajaran atau ideologi kufur, tetapi juga dalam bentuk pelaksanaan sistem hukum kufur, yang dijaga dan dijalankan oleh para penguasa zalim.

Penguasa itu bermacam-macam. Ada penguasa yang adil, yang memerintah dengan syariat Allah. Ada juga penguasa yang jahat, zalim, fasik dan kafir. Kepada penguasa yang adil, kita diminta untuk membantu dan membelanya, serta mengikat hati masyarakat agar tetap berada di sekelilingnya. Sebaliknya, terhadap penguasa yang melakukan kesalahan dan penyelewengan, kita dituntut untuk menasihatinya. Sedangkan terhadap penguasa yang jahat, zalim, dan fasik, syariat Islam telah memerintahkan kepada kita untuk melakukan mufaroqoh (memisahkan diri/berlepas diri), tidak condong kepada mereka, tidak membantu mereka dalam menjalankan kejahatan serta tidak memberikan pengakuan dalam bentuk apapun terhadap sikap dan tindakan mereka di hadapan umum. Bahkan tidak cukup hanya dengan berlepas diri saja. Kita juga diharuskan melakukan usaha sungguh-sungguh untuk memperbaiki, atau mengubah mereka.

Namun, terhadap penguasa kafir, kaum Muslim tidak boleh rela dipimpin oleh orang-orang kafir di negeri mereka sendiri. Apabila hal itu terjadi, kaum Muslim harus melakukan usaha perubahan (taghyir), bukan sekadar berlepas diri.

Menjauhkan diri dari sistem kufur, kezaliman, dan berlepas diri dari ikatannya adalah perkara yang diwajibkan atas seorang Muslim. Dalam bentuk praktisnya sikap seorang Muslim untuk berlepas diri dari sistem kufur, dan kezaliman nampak dengan cara menolak kerja sama dengan sistem hukum kufur (iaitu sistem yang menjalankan hukum selain Islam).

Berdasarkan firman Allah Swt. :

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” (QS. Al-Maidah : 44)

“Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah : 45)

“Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Maidah ; 47)

Ketegasan al Quran dalam menyikapi kekufuran, kefasikan dan kezaliman, yang penampakannya di tengah-tengah masyarakat digambarkan dalam sistem kekuasaan/pemerintahan yang tidak menjalankan hukum berdasarkan apa yang diturunkan Allah, dipertegas oleh hadis Nabi saw, yang memerintahkan kita –kaum Muslim- untuk menjauhkan diri, tidak terlibat dengan aktiviti mereka, tidak mendokong, tidak mentaatinya, tidak meredhai keputusan-keputusannya.

Rasulullah saw bersabda :

“Akan datang kepada kamu para penguasa. Mereka mengucapkan (janji-janji) yang tidak mereka kerjakan, dan melakukan apa yang tidak mereka ketahui. Barangsiapa yang menjadi penasihat, pembantu, dan pemerkuat kekuasaan mereka, maka mereka akan binasa dan membinasakan (umat).” (HR. Thabrani)

“Sesungguhnya akan datang kepada kamu para penguasa yang mendekatkan orang-orang jahat (sebagai pembantu dan penasihat di sekitarnya) dan mengakhirkan waktu shalat. Oleh kerana itu, siapa saja diantara kamu yang menjumpai hal itu, janganlah menjadi wakil rakyat, polis, staf administrasi (penulis pendapatan negara), dan bendahari (penyimpan kas negara).”
(HR. Ibnu Hibban, yang sanadnya dishahihkan oleh al-Albani).

Dengan demikian, jika nash-nash diatas tadi mengharuskan kita –kaum Muslim- bersikap tegas dengan berlepas diri terhadap para penguasa mereka yang memelihara dan menjalankan sistem kufur, maka terhadap para penguasa Muslim yang menghalang-halangi dan memerangi usaha tegaknya sistem hukum Islam, menghalalkan apa yang diharamkan Allah, mengingkari janji-janji Allah, menyalahi sunah Rasul, memperkosa hak-hak hamba Allah, bersujud kepada hukum thaghut, dan bersahabat dengan musuh-musuh Allah (Yahudi dan bangsa-bangsa kafir Imperialis), terhadap mereka layak memperoleh sikap lebih keras lagi.

Maka, sayugianya kita hanya berpihak kepada Islam, kepada sistem hukum Islam, dan kepada penguasa Muslim yang adil, iaitu yang menjalankan pemerintahannya sesuai dengan apa yang diturunkan Allah, yang menjaga dan memberikan jaminan atas dilaksanakannya sistem hukum Islam secara total. Terhadap selainnya, ajaran Islam telah memberikan tuntunan kepada kita –kaum Muslim-, sebagaimana yang telah dipaparkan diatas.

Penutup

Saat ini, umat Islam dihadapkan dengan berbagai fenomena yang bermuara kepada kebimbangan dan kebingungan. Itu kerana, Islam sudah tidak dijadikan lagi sebagai rujukan, acuan dan tolok ukur dari sikap-sikap mereka.

Tatkala umat dihadapkan dengan idea-idea dan pemikiran yang bertentangan dengan Islam, mereka malah mengkompromikan dan menjadi bahagian dari pemikiran-pemikmiran kufur. Tatkala umat diuji dengan kewujudan para penguasanya yang zalim, yang tidak menjalankan aturan-aturan Allah, meninggalkan sunah RasulNya, sebahagian dari kita malah terlibat dengan putaran permainan politik dan kekuasaan mereka. Tatkala umat dihadapkan dengan perpecahan dan munculnya kelompok-kelompok, yang bahkan saling bermusuhan dan menghancurkan satu dengan yang lain, kita bahkan menjadi hujung-hujung tombak dari kelompok-kelompok semacam itu.

Sudah saatnya umat kembali mendalami ajaran-ajaran Islam, mengambil tuntunannya yang mulia, mengeratkan kembali ukhuwah kita, memperbaiki dan merubah sistem yang bertentangan dengan sistem hukum Islam, serta bersama-sama menghadapi kekufuran dan peradaban kufur sebagai musuh kaum Muslim.

Firman Allah :

“Maka menjadilah kamu kerana nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara.”
(QS.Ali Imran: 103)

Rasulullah saw bersabda :

“Seorang muslim adalah saudara sesama muslim (yang lainnya), dia tidak boleh menzalimi, dan tidak boleh menyerahkannya kepada musuh.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sungguh amat nista, seorang muslim yang menyerukan seruan jahiliyah (berupa fanatisme golongan, kelompok, mazhab, tokoh), mahupun menyerukan idea-idea kufur (seperti Demokrasi, Pluralisme, Sekularisme, Sosialisme, Kapitalisme), terlebih lagi satu dengan yang lain saling menyerang dan membunuh, demi ashabiyah (fanatisme golongan) nya mahupun membela seruan-seruan kufur.

Ingatlah seruan Rasulullah saw :

“Seorang mukmin tidak boleh membunuh seorang mukmin (lainnya) kerana (membela) seorang kafir. Seorang mukmin tidak boleh menolong seorang kafir untuk (melawan) seorang mukmin. Dan sesungguhnya jaminan perlindungan Allah adalah satu, yang akan menjangkau orang terendah dari mereka. Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah penolong bagi sebahagian lainnya. Mereka berbeza (memiliki ciri khas) dengan manusia lainnya.”
(lihat Sirah Ibnu Hisyam, jld I/501)

Maka, kita semua sesungguhnya berjuang untuk apa dan kerana siapa ?

Wahai kaum muslimin, Renungkanlah !

Allah Swt. berfirman:
“Janganlah orang-orang Mukmin menjadikan orang-orang kafir sebagai wali (kawan/penolong).” (QS Ali Imran [3]: 28).

0 komentar:

Agenda Harian

Semoga kita senantiasa terpacu untuk mengukir prestasi amal yang akan memperberat timbangan kebaikan di yaumil akhir, berikut rangkaian yang bisa dilakukan

1. Agenda pada sepertiga malam akhir

a. Menunaikan shalat tahajjud dengan memanjangkan waktu pada saat ruku’ dan sujud di dalamnya,

b. Menunaikan shalat witir

c. Duduk untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah hingga azan subuh

Rasulullah saw bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Sesungguhnya Allah SWT selalu turun pada setiap malam menuju langit dunia saat 1/3 malam terakhir, dan Dia berkata: “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku berikan, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni”. (HR. Bukhari Muslim)


2. Agenda Setelah Terbit Fajar

a. Menjawab seruan azan untuk shalat subuh

” الَّلهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِي وَعَدْتَهُ “

“Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini, shalat yang telah dikumandangkan, berikanlah kepada Nabi Muhammad wasilah dan karunia, dan bangkitkanlah dia pada tempat yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan. (Ditashih oleh Al-Albani)

b. Menunaikan shalat sunnah fajar di rumah dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Dua rakaat sunnah fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya”. (Muslim)

وَ قَدْ قَرَأَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِي رَكْعَتَي الْفَجْرِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدَ

“Nabi saw pada dua rakaat sunnah fajar membaca surat “Qul ya ayyuhal kafirun” dan “Qul huwallahu ahad”.

c. Menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid –khususnya- bagi laki-laki.

Rasulullah saw bersabda:

وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الْعَتْمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Sekiranya manusia tahu apa yang ada dalam kegelapan dan subuh maka mereka akan mendatanginya walau dalam keadaan tergopoh-gopoh” (Muttafaqun alaih)

بَشِّرِ الْمَشَّائِيْنَ فِي الظّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّوْرِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berikanlah kabar gembira kepada para pejalan di kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat”. (Tirmidzi dan ibnu Majah)

d. Menyibukkan diri dengan doa, dzikir atau tilawah Al-Quran hingga waktu iqamat shalat

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ

“Doa antara adzan dan iqamat tidak akan ditolak” (Ahmad dan Tirmidzi dan Abu Daud)

e. Duduk di masjid bagi laki-laki /mushalla bagi wanita untuk berdzikir dan membaca dzikir waktu pagi

Dalam hadits nabi disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إَذَا صَلَّى الْفَجْرَ تَرَبَّعَ فِي مَجْلِسِهِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ الْحَسَنَاءُ

” Nabi saw jika selesai shalat fajar duduk di tempat duduknya hingga terbit matahari yang ke kuning-kuningan”. (Muslim)

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya waktu fajar itu disaksikan (malaikat). (Al-Isra : 78) Dan memiliki komitmen sesuai kemampuannya untuk selalu:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah lebih banyak dari itu semua, maka akan menuai kebaikan berlimpah insya Allah.

3. Menunaikan shalat Dhuha walau hanya dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

“Setiap ruas tulang tubuh manusia wajib dikeluarkan sedekahnya, setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah, menolong orang dengan membantunya menaiki kendaraan atau mengangkat kan barang ke atas kendaraannya adalah sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, tiap-tiap langkahmu untuk mengerjakan shalat adalah sedekah, dan membersihkan rintangan dari jalan adalah sedekah”. (Bukhari dan Muslim)

4. Berangkat kerja atau belajar dengan berharap karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمِلِ يَدِهِ، وَكَانَ دَاوُدُ لا يَأْكُلُ إِلا مِنْ عَمِلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan makanan, lebih baik dari yang didapat oleh tangannya sendiri, dan bahwa nabi Daud makan dari hasil tangannya sendiri”. (Bukhari)

Dalam hadits lainnya nabi juga bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang berjalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. (Muslim)

d. Menyibukkan diri dengan dzikir sepanjang hari

Allah berfirman :

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah maka hati akan menjadi tenang” (Ra’ad : 28)

Rasulullah saw bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهَ أَنْ تَمُوْتَ ولسانُك رَطْبٌ من ذِكْرِ الله

“Sebaik-baik perbuatan kepada Allah adalah saat engkau mati sementara lidahmu basah dari berdzikir kepada Allah” (Thabrani dan Ibnu Hibban) .

5. Agenda saat shalat Zhuhur

a. Menjawab azan untuk shalat Zhuhur, lalu menunaikan shalat Zhuhur berjamaah di Masjid khususnya bagi laki-laki

b. Menunaikan sunnah rawatib sebelum Zhuhur 4 rakaat dan 2 rakaat setelah Zhuhur

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang shalat 12 rakaat pada siang dan malam hari maka Allah akan membangunkan baginya dengannya rumah di surga”. (Muslim).

6. Agenda saat dan setelah shalat Ashar

a. Menjawab azan untuk shalat Ashar, kemudian dilanjutkan dengan menunaikan shalat Ashar secara berjamaah di masjid

b. Mendengarkan nasihat di masjid (jika ada)

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ

“Barangsiapa yang pergi ke masjid tidak menginginkan yang lain kecuali belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya ganjaran haji secara sempurna”. (Thabrani – hasan shahih)

c. Istirahat sejenak dengan niat yang karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

وَإِنَّ لِبَدَنِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ

“Sesungguhnya bagi setiap tubuh atasmu ada haknya”.

Agenda prioritas:

Membaca Al-Quran dan berkomitmen semampunya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan, maka akan menuai kebaikan yang berlimpah insya Allah.

7. Agenda sebelum Maghrib

a. Memperhatikan urusan rumah tangga – melakukan mudzakarah – Menghafal Al-Quran

b. Mendengarkan ceramah, nasihat, khutbah, untaian hikmah atau dakwah melalui media

c. Menyibukkan diri dengan doa

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah”

8. Agenda setelah terbenam matahari

a. Menjawab azan untuk shalat Maghrib

b. Menunaikan shalat Maghrib secara berjamaah di masjid (khususnya bagi laki-laki)

c. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Maghrib – 2 rakaat

d. Membaca dzikir sore

e. Mempersiapkan diri untuk shalat Isya lalu melangkahkan kaki menuju masjid

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa yang bersuci/berwudhu kemudian berjalan menuju salah satu dari rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban dari kewajiban Allah, maka langkah-langkahnya akan menggugurkan kesalahan dan yang lainnya mengangkat derajatnya”. (Muslim)

9. Agenda pada waktu shalat Isya

a. Menjawab azan untuk shalat Isya kemudian menunaikan shalat Isya secara jamaah di masjid

b. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Isya – 2 rakaat

c. Duduk bersama keluarga/melakukan silaturahim

d. Mendengarkan ceramah, nasihat dan untaian hikmah di Masjid

e. Dakwah melalui media atau lainnya

f. Melakukan mudzakarah

g. Menghafal Al-Quran

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran dengan berkomitmen sesuai dengan kemampuannya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan bacaan maka telah menuai kebaikan berlimpah insya Allah.


Apa yang kita jelaskan di sini merupakan contoh, sehingga tidak harus sama persis dengan yang kami sampaikan, kondisional tergantung masing-masing individu. Semoga ikhtiar ini bisa memandu kita untuk optimalisasi ibadah insya Allah. Allahu a’lam

Jazaakillah

Sedikit revisi dari : http://www.al-ikhwan.net/agenda-harian-ramadhan-menuju-bahagia-di-bulan-ramadhan-2989/

Isi Blog

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.