Judul asli : 52 Su'alan 'an Ahkamil Haidh fis Shalat was Shiyam wal Hajj
Penulis : Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin
Edisi Indonesia : 52 Persoalan Sekitar Hukum Haid
Penerjemah : Muhammad Yusuf Harun
Penerbit : Darul Haq - Jakarta
Cetakan : VII, Maret 2006
Halaman : vii + 72


Buku ini cukup ringkas, memuat persoalan persoalan darah kebiasaan wanita. Yang dibagi dalam tiga pembahasan, yaitu:
- Hukum Hukum Haid dalam Shalat dan Puasa
- Hukum Hukum Kesucian dalam Shalat
- Hukum Hukum Haid dalam Haji dan Umrah

Kesemuanya disusun dalam bentuk soal jawab.
Mengingat ringkasnya pembahasan, saya kira dapat selesai dibaca dalam sekali duduk saja.

Berikut saya kutipkan sebagian yang ada dari buku tersebut sebagai gambaran isi bukunya. Dan saya kira juga bermanfaat buat kaum muslimin yang membaca ringkasan buku ini. Pertanyaan dan jawaban tidak saya ringkas tetapi saya kutip seperti apa yang ada di buku tersebut.




[2]
Soal:
Bagi wanita nifas, bila telah suci sebelum empat puluh hari, apakah wajib baginya berpuasa dan shalat?

Jawab:
Ya, bilamana wanita nifas telah suci sebelum 40 hari maka wajib baginya berpuasa bila pada bulan Ramadhan, dan wajib shalat, serta boleh bagi suami untuk menggaulinya karena dia dalam keadaan suci, tidak ada lagi sesuatu yang mencegah dari kewajiban berpuasa maupun kewajiban shalat dan boleh digauli.


[4]
Soal:
Seorang wantia yang haid atau nifas bila suci sebelum fajar, tetapi belum mandi kecuali setelah fajar, apakah puasanya sah atau tidak?

Jawab:
Ya, sah puasa wanita haid yang suci sebelum fajar dan belum mandi kecuali setelah terbit fajar. Juga wanita nifas, karena pada saat itu dia termasuk wanita yang berhak ikut berpuasa, keadaannya serupa dengan orang yang wajib mandi jinabat, tatkala fajar terbit dia masih dalam keadaan junub dan belum mandi, maka puasanya adalah sah. Berdasarkan firman Allah subhanahu wa Ta'ala:

"Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar." (Al Baqarah: 187).

Jika Allah mengizinkan untuk menggaulinya hingga nyata fajar, berarti mandi tidak terjadi kecuali setelah terbit fajar. Dan berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu'anha:

"Bahwa Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam suatu pagi pernah dalam keadaan junub karena menggauli istrinya, sedangkan beliau pun berpuasa."

Artinya: bahwa Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam tidak mandi junub kecuali setelah terbit fajar.


[5]
Soal:
Apabila seorang wanita merasakan adanya darah tapi belum keluar sebelum terbenam matahari, atau merasakan sakitnya datang bulan, apakah sah puasanya pada hari itu atau wajib melakukan qadha?

Jawab:
Apabila seorang wanita yang masih dalam keadaan suci merasakan tanda tanda akan datangnya haid, sedang ia dalam keadaan puasa, tetapi belum keluar kecuali setelah terbenam matahari; atau merasakan sakitnya haid tetapi belum keluar kecuali setelah terbenam matahari, maka sah puasanya pada hari itu dan tidak wajib mengulangi jika puasa fardhu, atau tidak sia sia pahalanya jika puasa sunat.


[15]
Soal:
Apakah wanita haid harus mengganti pakaiannya setelah suci, padahal pakaiannya itu tidak terkena darah atau barang najis?

Jawab:
Tidak harus baginya hal tersebut karena haid tidak menjadikan badan najis, tetapi darah haid menjadikan najis bagian yang terkenanya saja. Karena itu Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam menyuruh wanita yang pakaiannya terkena darah haid agar mencuci darah itu dan shalat dengan pakaiannya tadi.


[16]
Soal:
Ada wanita yang ketika datang bulan Ramadhan berikutnya belum menyelesaikan tanggungan puasa dari bulan Ramadhan yang lalu. Apa yang mesti ia lakukan?

Jawab:
Wajib baginya bertaubat kepada Allah dari perbuatan ini. Karena tidak boleh bagi siapa saja yang mempunyai tanggungan qadha' puasa Ramadhan, mengerjakannya nanti sampai datang bulan Ramadhan berikutnya tanpa ada halangan. Berdasarkan hadits dari Aisyah radhiyallahu'anha:

"Pernah aku mempunyai tanggungan puasa Ramadhan aku tidak bisa menggantinya kecuali pada bulan Sya'ban."

Ini menunjukkan, tanggungan puasa tidak boleh dikerjakan nanti setelah bulan Ramadhan yang kedua. Maka, hendaklah ia bertaubat kepada Allah dari perbuatannya dan mengganti puasa yang ditinggalkannya sesudah Ramadhan yang kedua.


[17]
Soal:
Jika seorang wanita mengalami haid pada pk. 01.00 siang umpamanya dan dia belum mengerjakan shalat Zhuhur, apakah dia harus mengqadha' shalat Zhuhur ini setelah suci?

Jawab:
Terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama dalam masalah ini. Ada yang berpendapat, dia tidak harus mengqadha' shalat itu karena dia tidak meremehkan, juga tidak berdosa karena boleh baginya mengerjakan shalat sampai pada akhir waktunya. Ada lagi pendapat yang mengatakan, dia harus mengqadha' shalat itu, berdasarkan keumuman sabda Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam:

"Barangsiapa mendapatkan satu rakaat dari shalat, maka dia telah mendapatkan shalat itu."

Dan sikap yang hati hati ialah mengqadha' shalat itu, karena hanya satu shalat saja dan tidak ada kesulitan dalam mengqadha'nya.


[19]
Soal:
Apa pendapat Anda tentang penggunaan pil pencegah haid agar dapat berpuasa bersama orang lain?

Jawab:
Saya sarankan untuk menghindari penggunaan pil semacam ini, karena efek sampingnya yang besar. Ini saya ketahui dari para dokter. Perlu dikatakan pada kaum wanita, hal ini adalah takdir Allah untuk para puteri Adam, maka terimalah dengan hati rela apa yang telah ditakdirkan Allah subhanahu wa Ta'ala dan berpuasalah bilamana tidak ada halangan. Jika ada halangan, maka janganlah berpuasa sebagai penerimaan apa yang ditakdirkan Allah.


[25]
Soal:
Seorang wanita kedatangan haid setelah masuk waktu shalat, apakah wajib baginya mengqadha' shalat itu jika telah suci, demikian pula jika telah suci sebelum habis waktu shalat?

Jawab:
Pertama. Jika wanita kedatangan haid setelah masuk waktu shalat wajib baginya, jika telah suci, mengqadha' shalat pada waktu dia haid bila dia belum mengerjakannya sebelum datangnya haid. Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam:

"Barangsiapa mendapatkan satu rakaat dari shalat, maka dia telah mendapatkan shalat itu."

Jadi, seandainya seorang wanita bisa mengerjakannya sekadar satu rakaat dari waktu shalat kemudian dia kedatangan haid sebelum mengerjakannya, maka jika dia suci nanti, wajib mengqadha'nya.

Kedua, Jika wanita suci dari haid sebelum habis waktu shalat, wajib baginya mengqadha' shalat tersebut. Seandainya dia suci pada saat sekadar satu rakaat sebelum terbit matahari maka wajib baginya mengqadha' shalat subuh. Atau suci sebelum terbenam matahari sekadar satu rakaat, maka wajib baginya mengqadha' shalat Ashar. Atau suci sebelum tengah malam sekadar satu rakaat, wajib baginya mengqadha' shalat Isya'. Namun kalau suci setelah tengah malam, tidak wajib baginya shalat Isya', tetapi dia berkewajiban shalat subuh bila telah masuk waktunya.

Firman Allah:
"Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang orang yang beriman." (An Nisa': 103).

Berarti tidak boleh bagi seseorang mengerjakan shalat di luar waktunya atau memulai shalat sebelum masuk waktunya.


[31]
Soal:
Kapan akhir waktu shalat Isya'? Dan bagaimana dapat mengetahuinya?

Jawab:
Akhir waktu shalat Isya' yaitu pertengahan malam. Ini diketahui dengan membagi antara terbenam matahari dengan terbit fajar menjadi dua. Paruh pertama merupakan habisnya waktu Isya' dan paruh malam yang kedua bukan waktunya, tetapi merupakan batas antara Isya' dan Shubuh.


[41]
Soal:
Ada wanita yang datang mengerjakan umrah. Setelah tiba di Mekah dia mendapatkan haid padahal mahramnya harus segera berangkat dan tidak ada seorang pun yang dapat menemaninya di Mekah. Apa hukumnya?

Jawab:
Wanita itu berangkat bersama mahramnya dan tetap berada dalam keadaan ihram, kemudian kembali lagi nanti bila telah suci. Ini jika berada di Saudi Arabia, karena bisa dengan mudah kembali dan tidak merepotkan, juga tidak perlu adanya paspor maupun hal hal lainnya. Akan tetapi, jika berasal dari luar Saudi Arabia dan susah untuk kembali lagi, maka hendaklah dia menahan atau membalut darahnya lalu mengerjakan thawaf, sa'i dan tahallul serta menyelesaikan umrahnya ini pada hari keberangkatannya, karena thawafnya ketika itu menjadi darurat, sedangkan sesuatu yang darurat membolehkan apa yang terlarang.




[PERSONAL VIEW]
---------------
Buku ini disajikan dalam susunan yang berbeda dengan kebanyakan buku yang ada, yaitu dalam bentuk soal jawab. Dengan susunan seperti itu memudahkan pembaca untuk memahami permasalahan hukum hukum seputar haid. Karena ringkasnya buku ini, insya Allah bisa menjadi titik awal untuk mengetahui tentang masalah hukum hukum seputar haid.

Saya kira permasalahan haid perlu dipahami oleh para akhwat yang memang mengalaminya. Dari mulai menentukan awal dimulainya haid sampai berakhirnya haid. Dan hal hal yang menyertainya. Karena ini berkaitan dengan ibadah mereka kepada Allah Jalla wa 'Ala. Dan tidak tertutup juga buat para ikhwan untuk mempelajari masalah haid. Karena istri istri mereka adalah seorang wanita, dan mungkin Allah
menghendaki mereka mempunyai anak anak perempuan. Bila para ikhwan tidak mengetahui permasalahan ini, maka bagaimana bisa memberikan jawaban dan mengarahkan istri istri dan anak anak perempuan mereka? Sedangkan mereka adalah pemimpin bagi kaum wanita?

Ringkasan buku ini dibuat oleh Chandraleka
di Depok, 03 Januari 2007


Chandraleka
Independent IT Writer
Judul asli : Min Akhtha'i al Azwaj
Penulis : Muhammad bin Ibrahim Al Hamd
Edisi Indonesia : Agar Suami Disayang Istri
Penerjemah : Ahmad Syaikhu
Penerbit : Pustaka At Tazkia - Jakarta
Cetakan : I, Mei 2005
Halaman : xii + 229

Buku ini menyebutkan kekeliruan-kekeliruan yang biasa dilakukan oleh seorang suami. Dengan maksud sebagai bahan introspeksi agar rumah tangga menjadi lebih harmonis. Meski perlu diingat bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Tetapi alangkah baiknya bila suami tetap terus memperbaiki diri. Demikian juga dengan seorang istri. Harus terus memperbaiki diri.

Inilah kekeliruan kekeliruan yang disebutkan dalam buku tersebut. Saya sebutkan dengan meringkas penjelasannya.


1. Mengabaikan orang tua setelah menikah
2. Membiarkan hubungan antara istri dan mertua menjadi renggang
3. curiga terhadap istri

4. Miskin cemburu terhadap istri
Cemburu yang sehat sangat dianjurkan. Cemburu yang didasarkan pada akal sehat, cinta kasih dan saling percaya. Cemburu adalah perasaan mulia dari cinta sejati yang mendorong seorang hamba melindungi istrinya. Juga sebaliknya, mendorong istri untuk menjaga suaminya.

Cemburu adalah salah satu sifat pria yang mulia. Perasaan itu tidak boleh pudar dalam diri seorang pria, apa pun situasinya. Bahkan ketika ia tidak lagi mencintai istrinya. Kecemburuannya tetap kokoh, selama perempuan tersebut berstatus istrinya, dan karenanya jadi tanggung jawabnya. Perasaan cemburu membuat kedua belah pihak merasa dicintai. Masing masing lalu berusaha memperbarui, menumbuhkan, dan memelihara perasaan cinta.

5. Meremehkan istri

6. Menyerahkan komando rumah tangga pada istri
Suami adalah pemimpin. Mencintai bukan berarti mengikuti semua kemauan istri. Mencintai berarti bersama sama mengayuh sampan rumah tangga, dengan penuh cinta dan saling mengerti.

7. Merampas harta istri

8. Malas mengajari istri tentang Islam
Ini salah satu kekeliruan yang dilakukan oleh banyak suami. Suami malas mengajar, mendidik dan memahamkan istrinya dalam urusan agamanya. Jika istri bodoh dalam urusan agamanya, ia tidak mengetahui hak suaminya, tidak mampu mendidik anak anaknya dan merawat rumahnya dengan baik. Ia pun tidak beribadah pada Rabb nya dengan cara yang Dia ridhai.

Syaikh Muhammad Rasyid Ridha mengatakan, "Kewajiban atas suami, sebagai pemimpin rumah tangga adalah mendidik istri istrinya semaksimal mungkin agar mereka melaksanakan kewajibannya."
Syaikh Ridha melanjutkan, "Bagaimana mungkin wanita dapat menunaikan kewajiban dan hak jika mereka tidak mengetahuinya, baik secara umum maupun rinci? ... "

Suami hendaknya berupaya mengokohkan dalam hati istrinya rasa cinta pada Allah, takut dan harapan kepada Nya, merasakan pengawasan Nya, bertawakal dan senantiasa bertaubat pada Nya. Ia ajarkan hukum hukum bersuci dengan berbagai ragamnya, jinabat, hadats, haid, nifas dan lainnya.

Selanjutnya yang juga patut diperhatikan, seorang istri sangat terpengaruh dengan perilaku suaminya. Jika ia melihat suaminya sangat menyukai auratnya tertutup, iffah (menjaga kesucian diri), berakhlak dan rajin beribadah, sang istri pun bersegera melakukannya. Ia terdorong oleh semangat memenuhi perintah Rabb nya dan mencari ridha suaminya. Sebaliknya jika ia melihat suaminya meninggalkan hukum hukum agama dan adab berkeluarga, ia pun mengikuti suaminya demi menyenangkan hatinya.

9. Pelit terhadap istri
Salah satu hak istri atas suaminya adalah diberi nafkah secara ma'ruf. Maksud nafkah disini adalah harta yang diwajibkan atas suami untuk diberikan pada istrinya, seperti tempat tinggal, makanan, pengasuhan, pakaian, dan lain lainnya. Dengan begitu, kehormatan istri selamat dari pelecehan, kesehatan pun terjaga. Semua itu hendaknya dilakukan dalam batas batas kesanggupan.

Ibnu Qudamah berkata, "Memberikan nafkah pada istri adalah kewajiban, berdasarkan Al Qur'an, As Sunnah, dan ijma'. Allah berfirman:

"Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya." (Ath Thalaq: 7).

As Sarakhsi berkata, "Suami wajib memberikan nafkah menurut kadar kecukupan dan dinilai ma'ruf, yakni tidak kikir dan tidak berlebih lebihan."

Memberikan nafkah kepada istri lebih didahulukan daripada memberi nafkah pada orang lain. Ini dilalaikan oleh banyak orang. Abu Hurairah menuturkan sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam:

"Satu dinar yang engkau nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau nafkahkan untuk membebaskan budak, satu dinar yang engkau nafkahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang kamu nafkahkan pada keluargamu; maka yang paling besar pahalanya adalah apa yang engkau nafkahkan pada keluargamu." (HR. Muslim no. 995).

Istri tidak boleh menuntut nafkah melebihi kebutuhannya, atau membebani suaminya di luar kesanggupannya. Itu berarti menyusahkan dan membebani. Ketika istri diuji oleh suami yang kikir terhadapnya, lalu ia bersabar dan mengharapkan pahala, maka ia akan mendapat pahala dari Allah.

10. Mengejutkan istri setelah lama bepergian
Berikan kesempatan kepada istri untuk bersolek setelah Anda bepergian lama. Niscaya hasrat dan kasih sayang lebih bertahan lama.

Dalilnya adalah hadits riwayat Jabir. "Kami bersama Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam dalam suatu peperangan. Ketika kami telah tiba di Madinah, kami pergi untuk menemui istri kami. Rasulullah bersabda,

"Perlahan, jangan masuk pada malam hari -yakni Isya'- hingga ia menyisir rambut yang kusut, dan agar wanita yang ditinggal bepergian itu bisa berdandan." (HR. Muslim, No. 715; Abu Daud No. 2776; dan At Tirmidzi no. 1172).

Hikmah dilarangnya perbuatan ini, adalah agar hasrat terhadap istri tetap kuat. Sebab, suami tidak melihat suatu aib pada istrinya atau sesuatu yang mengurangi keindahannya. Misalnya, rambut acak acakan, tidak berhias, dan lainnya. Dengan memberi tahu terlebih dulu, suami dapat melihat istrinya tetap cantik karena telah berhias. Hatinya pun tetap gembira. Hasratnya pun tetap terjaga.

Ringkasnya, suami tidak semestinya datang menjumpai istrinya secara tiba tiba setelah bepergian jauh. Hal ini dalam rangka mengikuti sunnah, ... Saat ini, berbagai sarana tersedia. Seorang suami bisa berkomunikasi lewat telepon dan memberitahu istrinya bahwa ia akan datang pada hari dan waktu tertentu. Setelah mengetahui waktu kedatangan suaminya, istri pun berkewajiban untuk berdandan dan bersiap siap dengan sempurna untuk menyambutnya.

11. Hobi mencela dan mengkritik istri
12. Kurang berterima kasih kepada istri
Apa ruginya jika Anda memuji istri Anda karena kecantikannya dan kerajinannya? Apa ruginya jika Anda berterima kasih padanya atas suguhan yang ia siapkan untuk tamu Anda? Apa pula ruginya jika Anda menyatakan terima kasih Anda karena telah mengurus rumah dan anak anakmu, walaupun itu merupakan tugasnya, walaupun ia melakukannya sebagai kewajibannya? Semua itu dapat memperkuat kasih sayang antara suami istri.

13. Sering bertengkar
14. Lama meninggalkan istri tanpa alasan
15. Terlalu sibuk hingga jarang menemani keluarga
16. Bersikap kasar terhadap istri
17. Malas berhias untuk istri
18. Mengabaikan sunnah sebelum bercinta
19. Mengabaikan kesantunan dan etika bercinta
20. Mengumbar rahasia ranjang

21. Buta terhadap kondisi kejiwaan istri
Suami dituntut peka terhadap kondisi psikis sang istri. Dengan memahami kondisi istri, membantu suami bersikap secara tepat.

Ada juga suami yang tidak tahu problem problem alamiah wanita, baik ketika mengandung, haidh, nifas, dan lainnya. Ketika mengalaminya, kadang ia merasakan kesulitan dan kegelisahan. Apalagi ketika mengandung dan mengidam. Pada saat itu, istri menginginkan banyak hal.

Kadang pula ia tidak menyukai sesuatu, sehingga tidak tahan melihatnya atau menciumnya. Terkadang ia tidak menyukai rumahnya, suaminya, atau hal hal lain. Jika suami tidak mengerti hal itu, ia bisa saja beranggapan bahwa istrinya telah membencinya dan bosan dengannya. Kadang pula, suami lantas bersikap keras, dengan menceraikan istrinya. Ia tidak tahu sikap istrinya itu di luar keinginannya.

Karena itu, suami sepatutnya memahami masalah masalah ini agar tidak jatuh dalam kekeliruan kemudian menyesal. Saat itu, penyesalan tak lagi berguna. Jika ia tidak paham hal hal seperti ini, semestinya ia bertanya. Sebab, obat kebodohan adalah bertanya.

22. Menggauli istri ketika haid
23. Menggauli istri lewat dubur
24. Memukul istri tanpa alasan
25. Poligami dengan niat buruk
26. Tidak adil pada para istri
27. Terburu buru memutuskan cerai
28. Enggan menceraikan setelah mustahil berdamai
29. Mencela mantan istri
30. Mengabaikan anak usai bercerai
31. Habis manis sepah dibuang
32. Memandang hijau kebun tetangga.


[PERSONAL VIEW]
---------------
Buku ini bagus dibaca agar kita bisa mengetahui bagaimana menjadi suami yang baik. Tetapi upaya memperbaiki rumah tangga bukan hanya dari sisi suami saja. Harus dibarengi juga dengan upaya memperbaiki diri istri. Dengan begitu, niatan untuk membentuk keluarga yang sakinah mawaddah wa rahma atas dasar aturan aturan Islam bisa dilakukan dari dua arah. Yaitu suami dan istri sekaligus.

Ketika membaca buku ini, saya terdiam dan berpikir. Untuk kesekian kalinya -Alhamdulillah- saya semakin yakin pentingnya ilmu agama dalam beramal. Bahkan untuk berumahtangga pun kita harus punya ilmunya agar tidak banyak kekeliruan kekeliruan yang kita buat. Contoh yang menarik adalah kekeliruan sebagian suami sebagaimana dijelaskan pada point 10, yaitu mengejutkan istri setelah lama bepergian. Sebagian dari para suami mungkin mengira akan membuat 'surprise' (kejutan) dengan tiba tiba hadir dihadapan istrinya. Maksudnya mungkin baik -menurut perkiraan mereka- yaitu agar semakin bertambah rasa cinta diantara keduanya. Tetapi ini malah suatu kekeliruan. Tidak semestinya seorang suami menjumpai istrinya secara tiba tiba setelah bepergian jauh. Hendaknya memberi kabar dulu tentang kedatangannya, bisa dengan menelpon atau sms. Dengan itu, seorang istri punya waktu yang cukup untuk bersiap siap menyambut suaminya dengan baik. Inilah yang bisa menambah rasa cinta diantara suami istri.

Semoga Anda semakin yakin bahwa menuntut ilmu agama itu penting dan memang perlu...

Ringkasan buku ini dibuat oleh Chandraleka
di Depok, 29 Desember 2006

Chandraleka
Independent IT Writer


GRAND MUFTI ATAU KHALIFAH

YANG KITA PERLUKAN?


Isu berkenaan mufti terus hangat diperkatakan rentetan dari perbezaan pendapat yang timbul berhubung dengan persoalan perbuatan mengintip, mengintai dan mencari pasangan untuk ditahan atas kesalahan khalwat dan juga penggunaan nada dering ayat al-Quran dan azan pada telefon bimbit. Lanjutan dari isu itu timbul cadangan dari Ketua Pengarah Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM) Dr. Syed Ali Tawfik Al-Attas agar diwujudkan jawatan Grand Mufti (Mufti Besar) yang bertujuan untuk menjelaskan isu-isu berkenaan agama Islam dengan berkesan kepada masyarakat umum serta mengelakkan ilmu agama diporak-perandakan mengikut kepentingan pihak tertentu. "Dengan adanya seorang Mufti Besar, isu-isu agama tidak lagi perlu didebatkan secara terbuka di dalam media kerana ia boleh dibincangkan secara tertutup di antara mereka yang berhak" katanya ketika ditemui mStar Online di pejabatnya ( mStar Online 26/12/06 ).




Cadangan ini dibantah oleh Mufti Perak seperti yang juga dilaporkan oleh mStar Online pada hari yang berikutnya – “Mufti Perak Datuk Seri Harussani Zakaria hari ini menolak mentah-mentah cadangan supaya ditubuhkan jawatan Mufti Besar kerana bimbang ia akan menghapuskan kuasa Raja-raja ke atas perkara-perkara melibatkan agama Islam” ( mStar Online 28/12/06 ). Cadangan ini juga dilihat oleh Timbalan Perdana Menteri Datuk Seri Najib Razak sebagai sesuatu yang tidak mungkin dapat dilaksanakan berdasarkan peruntukan Perlembagaan negara. “Saya lihat tak mungkin cadangan ini boleh dilaksanakan berdasarkan kepada peruntukan Perlembagaan sedia wujud”, katanya ( Berita Harian 30/12/06 ). Persoalannya kini ialah apakah cadangan mewujudkan jawatan Mufti Besar ini selaras dengan kehendak Islam itu sendiri? Apakah ia (jika wujud) akan menjadi penyelesaian kepada masalah umat Islam atau hanya akan mengekalkan ‘trend’ yang sedia ada? Apakah tidak boleh ada perbezaan pendapat di dalam Islam dan apakah hanya ulama yang berhak bercakap tentang Islam sehingga perbincangan mengenainya pun perlu dilakukan secara tertutup? Sautun Nahdhah akan mengupas serba sedikit tentang isu ini.




KEDUDUKAN MUFTI DAN FATWA DI DALAM ISLAM




Apabila kita membicarakan persoalan mufti maka ianya tidak boleh dipisahkan dengan fatwa kerana secara umumnya mufti itu adalah pihak yang diminta fatwanya oleh seseorang berkenaan dengan sesuatu isu samaada yang menyentuh persoalan aqidah mahupun hukum syara’. Orang yang memberikan fatwa atau yang menjelaskan hukum sesuatu persoalan kepada yang memintanya dipanggil mufti dan orang yang meminta fatwa disebut sebagai mustafti. Mufti juga boleh menjadi mustafti apabila mereka meminta fatwa dari mujtahid (jauh lebih faqih dari mufti) atau dari ulama lain. Fatwa adalah merupakan produk hukum Islam yang berlandaskan wahyu (al-Qur’an dan al-Hadis) untuk menghukumi sesuatu fakta tertentu. Sehubungan dengan itulah Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam telah memberikan peringatan kepada mereka yang memberikan fatwa sebagaimana yang disabdakan oleh baginda yang maksudnya,




“Siapa sahaja yang memberikan fatwa tanpa didasarkan pada ilmu maka ia berdosa atas apa yang difatwakannya” (Hadis Riwayat Ahmad).




Seperti yang kita ketahui bahawa sumber hukum yang disepakati di dalam Islam ada empat iaitu Al-Quran, Al-Sunnah, Ijmak Sahabat dan Qiyas. Untuk menetapkan suatu hukum, sumber inilah yang wajib dirujuk, bukan yang lain seperti aqal manusia atau undang-undang kufur. Secara ringkasnya, proses dari awal sehinggalah ke peringkat akhir sesuatu hukum itu diamalkan oleh umat Islam adalah seperti berikut,




Sumber Hukum (Al-Qur’an, Al-Sunnah, Ijmak Sahabat dan Qiyas) - Di gali (istinbat) oleh Mujtahid - Mengeluarkan hukum syara’ tentang sesuatu - Diambil dan diikuti oleh Muqallid - Mufti - Menyebarkan hukum (fatwa) - Applikasi (diamalkan) dalam kehidupan (Mustafti).




Imam Al-Ghazali telah membuat satu perumpamaan yang menarik tentang proses ini. Beliau telah menganalogkan sumber hukum sebagai pokok dan hukum syara’ adalah buahnya. Manakala, jalan/cara untuk memetik buahnya adalah petunjuk (indikasi) dari nas iaitu empat teknik memahami nas. Mujtahid merupakan orang yang memetik buah tersebut dan memberinya kepada Muqallid (orang yang mengambil hukum dari Mujtahid) (Al-Mustashfa Fi ‘ilm Al-Usul, ms 7-8 ). Syeikh Taqiyuddin Al-Nabhani menjelaskan bagaimana seorang Mujtahid melakukan proses itjtihadnya dalam tiga peringkat “mujtahid mengkaji kejadian-kejadian (realiti) yang baru sehingga betul-betul menguasainya, kemudian mengkaji nas-nas syara’ berkaitan dengan perkara tersebut. Kemudian meyimpulkan hukum untuk permasalahan itu berasaskan nas-nas syara’ tadi” (Nizham Al-Islam, ms 106 ). Inilah secara ringkas bagaimana sesuatu hukum syara’ itu boleh digali oleh Mujtahid, dan terpakai untuk dirinya dan orang lain.




Seorang mujtahid boleh sahaja berbeza pendapat dengan mujtahid yang lain selama mana mereka masih tidak lari dari keempat-empat sumber tadi. Dengan kata lain, Islam menerima perbezaan pendapat yang wujud di kalangan umatnya selagi ianya berada di dalam lingkungan pemikiran yang Islami. Perbezaan pendapat di kalangan sahabat pernah terjadi di zaman Rasulullah dan dibenarkan oleh baginda. Sejarah kegemilangan Islam turut mencatatkan betapa perbezaan pendapat yang pernah berlaku di zaman sahabat dan zaman selepasnya tidak pernah meruntuhkan kesatuan mereka, kerana mereka masih berpegang kepada sumber asas yang sama. Cara berfikir mereka hanya diwarnai oleh Islam semata-mata. Mereka hidup di dalam Daulah Islam dan tidak pernah mengamalkan atau mengambil undang-undang kufur di dalam kehidupan dan pemerintahan.




Berbeza dengan kedudukan hari ini di mana umat Islam berbeza pendapat di dalam lingkungan persekitaran dan sistem pemerintahan yang didominasi oleh undang-undang kufur. Justeru, cara berfikir mereka turut didominasi oleh cara berfikir orang-orang kafir. Contohnya umat Islam dahulu pernah berbeza pendapat di dalam masalah hukuman zina, samada disebat sahaja sebanyak 100 kali (bagi penzina yang belum berkahwin) atau disebat dan dibuang daerah (kedua-duanya berdasarkan nas Al-Qur’an dan perbuatan Rasulullah). Tetapi mereka tidak pernah berbeza pendapat samada seseorang penzina itu perlu disebat 100 kali atau 50 kali ataupun 6 kali sahaja. Atau cukup sekadar dipenjara setahun atau maksima 3 tahun atau denda tidak melebihi lima ribu. Ini kerana para sahabat masih berpegang dengan sumber yang benar dari Allah dan RasulNya, tidak sebagaimana hari ini dimana umat Islam berpegang kepada sumber hukum yang dibuat oleh Lord Reid ataupun aqal manusia yang membuat hukum berdasarkan undi angkat tangan secara majoriti.




Para salafus soleh memang sering berbeza pendapat tetapi mereka tidak pernah keluar dari ruang lingkup yang tidak dibenarkan oleh syara’. Apapun perbezaan yang timbul, segala persoalan adalah berkisar tentang hukum-hukum syara’ semata-mata yang diistinbat dari sumber yang benar. Seperti kata Imam Syafi'i dan inilah yang sepatutnya kita patut renungi di dalam menanggapi isu perbezaan pendapat yang bersifat Islami ini iaitu, "ra'yuna shawab yahtamilu khata' wa ra'yu ghairina khata' yahtamilu shawab (pendapat kami benar tetapi ada kemungkinan salah dan pendapat selain kami salah tetapi ada kemungkinan benar).




Satu perkara yang pasti dan perlu diingati bahawa imam Syafie dan imam-imam yang lain tidak pernah mengambil sumber hukum dari Perlembagaan atau undang-undang kufur untuk mengeluarkan sesuatu pendapat. Dengan kata lain, ucapan beliau mesti difahami di dalam konteks perbezaan pendapat yang wujud berdasarkan ijtihad yang digali dari sumber hukum yang sahih sahaja. Oleh yang demikian, baik seseorang itu mujtahid, muqallid, mufti atau mustafti atau sesiapa sahaja yang mengucap syahadah, maka mereka semua adalah terikat kepada sumber hukum yang sama dan haram bagi kita umat Islam mengeluarkan pendapat berkenaan sesuatu hukum berdasarkan sumber hukum dan undang-undang selain dari Islam. Dalam hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,




”Maka demi Tuhanmu (wahai Muhammad), mereka itu tidak beriman sehingga mereka menjadikanmu sebagai pemutus di dalam apa jua yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada pada diri mereka sedikit keberatan pun dari apa yang engkau putuskan, mereka pasrah dengan sepenuhnya” (Surah an-Nisa’ (4) : 65).




BERFATWA ATAU BERPOLEMIK?




Sistem Federasi yang diamalkan di Malaysia telah memberikan kuasa-kuasa tertentu kepada negeri. Agama Islam adalah salah satu perkara yang termasuk di bawah bidangkuasa negeri dengan Sultan-sultan merupakan ketua agama di negeri masing-masing. Dalam pada ini, di peringkat nasional terdapat pula Majlis Fatwa Kebangsaan yang mempunyai bidangkuasa untuk menyelaraskan fatwa terhadap isu-isu yang berlaku di dalam negara. Dari sini sebenarnya telah timbul banyak kekeliruan dan kepincangan. Terdapat beberapa fatwa yang dikeluarkan oleh mufti tidak dipersetujui oleh Majlis Fatwa Kebangsaan dan beberapa fatwa yang dikeluarkan oleh Majlis Fatwa tidak dipersetujui oleh beberapa orang mufti. Tambah merumitkan keadaan, setiap mufti di negeri masing-masing mengeluarkan fatwa yang berbeza-beza, walaupun membincangkan isu yang sama. Terdapat situasi di mana, satu pihak menyatakan boleh (halal), satu lagi pihak menyatakan haram. Akibat dari semua ini, umat Islam berada di dalam kekeliruan dan kebingungan, mana satukah hukum yang hendak dipegang?

Malangnya tiada pihak yang ’nampak’ bahawa yang menjadi punca kepada masalah ini adalah sistem Federasi itu sendiri, yang menghadkan ’sempadan’ untuk setiap mufti berfatwa. Justeru, sepatutnya satu perbincangan di kalangan mufti diadakan bagi menyelesaikan perkara asas ini dulu. Yang menyedihkan ialah, kita tidak pernah mendengar samada Majlis Fatwa atau mufti mengeluarkan fatwa bahawa Sistem Federasi yang menjadi dalang kepada ’perbalahan’ ini adalah haram dan wajib diganti dengan sistem pemerintahan Islam yang sebenar. Hakikatnya dari dulu hingga sekarang, pihak-pihak yang mengeluarkan fatwa ini hanya sibuk berbincang masalah cabang sehingga masalah pokok (usul) ditinggalkan (atau sengaja tidak dibincangkan?).


Disebabkan golongan yang diiktiraf sebagai ulama ini sibuk bertikam lidah di dalam masalah ranting, maka umat Islam pun turut terjerat di dalam polemik yang sama. Umat Islam sudah hilang arah, kerana orang yang memandu mereka telah tersesat dari peta perjalanan yang sebenar. Pemandu mereka hanya berlegar dan berpusing-pusing di roundabout (bulatan) yang dibina oleh penjajah sehingga mereka telah ’pening’ dan tidak lagi nampak jalan yang lurus. Sebahagian dari pemandu itu pula memang telah diberi upah agar berpusing di jalan yang sama dan mereka telah selesa dengan upah tersebut. Selalunya upah tersebut telah mengikat dan melalaikan mereka dari berada di jalan yang lurus.




Inilah yang menyedihkan kita dan kita teramat kecewa dengannya. Pada masa mereka sibuk berpolemik dengan hukum-hukum cabang, kita menyaksikan bahawa kita tidak pernah mendengar seorang pun dari kalangan mufti ini yang berfatwa bahawa sistem pemerintahan yang diamalkan sekarang adalah sistem Demokrasi kufur ciptaan penjajah dan undang-undang yang diamalkan sekarang adalah undang-undang kufur, yang jelas-jelas haram. Juga, tidak ada mufti yang mengeluarkan fatwa bahawa undang-undang yang dibuat oleh manusia di Parlimen atau Dewan Undangan Negeri adalah tidak sah kerana merupakan produk tangan-tangan manusia yang keji dan bertentangan dengan undang-undang Allah. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,




”Sesungguhnya (hak membuat) hukum hanya pada Allah” (Surah Yusuf (12) : 40).




Juga, jarang sekali mufti yang mengeluarkan fatwa bahawa kita wajib berhukum dengan hukum Islam dan wajib ke atas pemerintah untuk menerapkan Islam secara kaffah. Tidak menerapkan hukum Islam di dalam pemerintahan adalah jelas-jelas satu keharaman yang nyata dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi peringatan yang keras di dalam hal ini, di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,




”Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, maka mereka itulah orang-orang yang kafir” (Surah al-Mai’dah (5) : 44).




”Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (Surah al-Mai’dah (5) : 45).




”Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, maka mereka itulah orang-orang yang fasiq” (Surah al-Mai’dah (5) : 47 ).




Kita hairan kenapa tidak pernah ada fatwa dikeluarkan tentang ayat-ayat di atas. Kita turut sedih dan kecewa kenapa tidak ada fatwa dikeluarkan mengharamkan riba yang telah mendarah daging di dalam tubuh umat Islam pada hari ini. Juga, tidak kedengaran fatwa yang mengharamkan institusi perbankan yang menjalankan riba dan haram serta dosa besar atas pemerintah yang membenarkan sistem riba dipraktikkan. Kenapa tidak ada fatwa yang menjelaskan bahawa sistem ekonomi Malaysia adalah berdasarkan sistem ekonomi kapitalis, bukannya sistem ekonomi Islam dan ini adalah haram. Ada yang menyatakan bahawa tidak salah mengambil sistem ekonomi kapitalis. Kami ingin bertanya, adakah Allah tidak menurunkan satu sistem ekonomi yang lengkap dan sempurna untuk kita, sehingga kita perlu mengambil atau mencampur-adukkan sistem Islam dengan sistem kufur dari Barat ini?




Kenapakah tidak ada fatwa dikeluarkan bahawa Islam mewajibkan pemerintah memenuhi tiga keperluan asas (basic needs) kepada rakyatnya berupa makanan, pakaian dan tempat tinggal. Pemerintah akan berdosa apabila ada di kalangan rakyatnya yang tidak cukup makan, pakaian dan tidak mempunyai tempat tinggal, walhal pada masa yang sama pemerintah hidup dilimpahi segala kesenangan dan kekayaan. Kenapa tidak ada fatwa dari mana-mana mufti menjelaskan kewajipan ke atas pemerintah memberikan hak asas (basic rights) kepada rakyat berupa pendidikan dan kesihatan yang percuma. Saban hari kita melihat dan mendengar penderitaan dan keluhan dari rakyat kerana terpaksa memikul kos pembiayaan persekolahan dan kos rawatan kesihatan yang tinggi, terutama bagi yang mempunyai anak yang ramai dan pengidap penyakit-penyakit kronik. Dalam masa yang sama, pemerintah menghabiskan berbillion ringit untuk sambutan perayaan, kempen-kempen, kursus-kursus yang tidak berfaedah, projek-projek atas nama pembangunan dan banyak lagi. Di manakah mufti di dalam menegur pemerintah dan mengeluarkan fatwa untuk semua ini?




Kita juga tidak pernah mendengar Majlis Fatwa atau para mufti mengeluarkan fatwa bahawa haram bagi kita untuk berbaik-baik dengan Amerika Syarikat (AS) dan menjalin hubungan diplomatik dengan mereka. Juga haram untuk kita tunduk kepada musuh Allah ini. Ini kerana AS adalah sebuah negara kafir harbi fi’lan (negara kafir yang sedang memerangi Islam). Sebaliknya, golongan ulama ini diam membisu dengan perbuatan para pemimpin yang masih boleh bersama dan berjabat tangan dengan Presiden AS, walaupun sudah terang lagi bersuluh bahawa ia adalah pembunuh umat Islam. Semua persoalan ini dan banyak lagi persoalan lain yang tidak dapat diungkapkan di sini mengheret kita untuk bertanya, apakah tugas sebenar mufti, adakah hanya ingin memberi fatwa terhadap perkara-perkara yang dipilih oleh mereka sahaja atau menjalankan fatwa atas arahan tertentu? Atau ada yang berfatwa untuk mencari nama atau populariti? Atau apakah mereka sebenarnya takut kehilangan jawatan jika mengeluarkan fatwa di dalam isu-isu sebegini? Wahai mereka yang digelar ulama! Apakah dunia yang kalian cari.....?




Jika kalian benar-benar takutkan Allah dan kalian memegang jawatan bukan mengharapkan habuan dunia, kenapakah kalian tidak mengeluarkan fatwa bahawa kita wajib berjuang menegakkan deenullah, bahawa umat Islam wajib bersatu di bawah satu pemerintahan dan kalian wajib berjuang bersama, bukannya hanya sibuk berpolemik. Jika kalian benar-benar bertaqwa kepada Allah, kenapakah kalian tidak berfatwa bahawa umat Islam wajib menegakkan Daulah Khilafah dan kesemua negeri kaum Muslimin wajib bergabung di dalamnya. Kenapakah kalian tidak mengeluarkan fatwa bahawa para pemerintah wajib menyeru dan berusaha menggabungan keseluruhan umat Islam di bawah satu payung pemerintahan?




Inilah tugas kalian wahai para ulama! Janganlah kalian mengharapkan upah yang sedikit, lalu hanyut tenggelam dan menjadikan status mufti kalian sebagai ’jawatan dunia’, tanpa memandang bahawa mufti adalah status yang syara’ letakkan sebagai ’tugas akhirat’. Jika kalian benar-benar menyedari akan hakikat kenapa Allah menghidupkan kalian di dunia dan kalian memahami dan sedar akan amanah yang ada di bahu kalian, maka persoalan ’Mufti Besar’ bukanlah persoalan yang sepatutnya menjadi polemik kalian dan kalian patut sedar bahawa ia bukannya penyelesai kepada masalah umat Islam. Tetapi yang menjadi persoalan kita semua adalah kewajipan mewujudkan seorang Khalifah (bukannya seorang Mufti Besar) yang akan memerintah berdasarkan Kitabullah dan Sunnah RasulNya serta akan menyelamatkan umat ini dari segala perselisihan dan perpecahan dan seterusnya membawa rahmat Allah ke seluruh penjuru alam.




KHATIMAH




Wahai Kaum Muslimin! Islam telah melalui sejarah pemerintahan yang panjang. Di sepanjang perjalanannya, hubungan antara pemerintah dan ulama mempunyai satu sejarah yang tersendiri dan amat mengagumkan. Sejarah mencatatkan bahawa ramai di kalangan para ulama salaf yang tidak pernah lekang menasihati dan memuhasabah penguasa sehingga ada di antara mereka yang dipenjara, disiksa, malah dibunuh di dalam melakukan amar ma’ruf nahi mungkar ini. Nama-nama seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad Bin Hanbal, Imam Syafie, Ibnu Taimiyah senantiasa mekar harum dan terabadi dalam sejarah Islam sebagai ulama yang benar-benar ikhlas memperjuangkan agama Allah hingga ke hembusan nafas yang terakhir. Mereka adalah orang-orang yang dekat dengan pemerintah, selalu diugut dan disiksa, tetapi tidak pernah gentar menghadapi segala macam ancaman dan tentangan dari pemerintah, walupun nyawa menjadi taruhan. Mereka yakin dan bertawakkal bahawa hanya Allah satu-satunya Penolong dan Pelindung mereka dan mereka sentiasa memohon kepada Allah agar kelak kembali ke sisiNya dalam keadaan syahid.




Inilah sikap ulama yang kita ingini dan kita harap-harapkan. Semoga akan lahirlah ulama di zaman ini yang hanya takutkan Allah, bukannya takut kepada pemerintah, cintakan Allah, bukan cinta dunia dan takutkan mati. Seorang ulama pernah mengingatkan kita,




”Bahawa ulama itu ada tiga macam, iaitu (pertama) ulama yang membinasakan dirinya dan orang lain dengan mengejar kesenangan dunia. Dan (kedua) ulama yang menyelamatkan dirinya dan orang lain dengan menyeru dan memanggil manusia untuk berbakti kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala secara lahir dan batin. Dan (ketiga) ulama yang membinasakan dirinya tetapi menyelamatkan orang lain, pada zahirnya dia memanggil manusia untuk mengerjakan kebaikan, tetapi secara diam-diam dia sendiri hanya mengejar harta untuk mencari kekayaan dan kedudukan dunia. Maka hendaklah kita memeriksa diri masing-masing, ke dalam golongan manakah kita termasuk? (Imam Ghazali, Ihya’ Ulumuddin)




Akhir kata, semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan yang hanya pandai berkata-kata, tetapi tidak dikota. Renungilah sabda Junjungan kita dan ambillah peringatan agar kita tidak bertemu dengan Allah dalam keadaan menyesal yang tiada gunanya lagi,




”Akan datang pada hari kiamat seseorang, lalu dia dicampakkan ke dalam neraka jahanam, maka berhamburanlah isi perutnya dan dia berputar-putar sebagaimana keldai memutari kincir. Maka datanglah penghuni jahanam dan bertanya kepadanya, ’Hai Fulan, apakah yang telah terjadi atas dirimu? Bukankah kamu dahulu menyuruh yang makruf dan mencegah yang mungkar?’ Dia berkata, ’memang aku dahulu menyuruh yang makruf tetapi aku sendiri tidak melaksanakannya dan aku mencegah perbuatan mungkar, tetapi aku sendiri melakukannya” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim).

Agenda Harian

Semoga kita senantiasa terpacu untuk mengukir prestasi amal yang akan memperberat timbangan kebaikan di yaumil akhir, berikut rangkaian yang bisa dilakukan

1. Agenda pada sepertiga malam akhir

a. Menunaikan shalat tahajjud dengan memanjangkan waktu pada saat ruku’ dan sujud di dalamnya,

b. Menunaikan shalat witir

c. Duduk untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah hingga azan subuh

Rasulullah saw bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Sesungguhnya Allah SWT selalu turun pada setiap malam menuju langit dunia saat 1/3 malam terakhir, dan Dia berkata: “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku berikan, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni”. (HR. Bukhari Muslim)


2. Agenda Setelah Terbit Fajar

a. Menjawab seruan azan untuk shalat subuh

” الَّلهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِي وَعَدْتَهُ “

“Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini, shalat yang telah dikumandangkan, berikanlah kepada Nabi Muhammad wasilah dan karunia, dan bangkitkanlah dia pada tempat yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan. (Ditashih oleh Al-Albani)

b. Menunaikan shalat sunnah fajar di rumah dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Dua rakaat sunnah fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya”. (Muslim)

وَ قَدْ قَرَأَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِي رَكْعَتَي الْفَجْرِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدَ

“Nabi saw pada dua rakaat sunnah fajar membaca surat “Qul ya ayyuhal kafirun” dan “Qul huwallahu ahad”.

c. Menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid –khususnya- bagi laki-laki.

Rasulullah saw bersabda:

وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الْعَتْمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Sekiranya manusia tahu apa yang ada dalam kegelapan dan subuh maka mereka akan mendatanginya walau dalam keadaan tergopoh-gopoh” (Muttafaqun alaih)

بَشِّرِ الْمَشَّائِيْنَ فِي الظّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّوْرِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berikanlah kabar gembira kepada para pejalan di kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat”. (Tirmidzi dan ibnu Majah)

d. Menyibukkan diri dengan doa, dzikir atau tilawah Al-Quran hingga waktu iqamat shalat

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ

“Doa antara adzan dan iqamat tidak akan ditolak” (Ahmad dan Tirmidzi dan Abu Daud)

e. Duduk di masjid bagi laki-laki /mushalla bagi wanita untuk berdzikir dan membaca dzikir waktu pagi

Dalam hadits nabi disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إَذَا صَلَّى الْفَجْرَ تَرَبَّعَ فِي مَجْلِسِهِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ الْحَسَنَاءُ

” Nabi saw jika selesai shalat fajar duduk di tempat duduknya hingga terbit matahari yang ke kuning-kuningan”. (Muslim)

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya waktu fajar itu disaksikan (malaikat). (Al-Isra : 78) Dan memiliki komitmen sesuai kemampuannya untuk selalu:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah lebih banyak dari itu semua, maka akan menuai kebaikan berlimpah insya Allah.

3. Menunaikan shalat Dhuha walau hanya dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

“Setiap ruas tulang tubuh manusia wajib dikeluarkan sedekahnya, setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah, menolong orang dengan membantunya menaiki kendaraan atau mengangkat kan barang ke atas kendaraannya adalah sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, tiap-tiap langkahmu untuk mengerjakan shalat adalah sedekah, dan membersihkan rintangan dari jalan adalah sedekah”. (Bukhari dan Muslim)

4. Berangkat kerja atau belajar dengan berharap karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمِلِ يَدِهِ، وَكَانَ دَاوُدُ لا يَأْكُلُ إِلا مِنْ عَمِلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan makanan, lebih baik dari yang didapat oleh tangannya sendiri, dan bahwa nabi Daud makan dari hasil tangannya sendiri”. (Bukhari)

Dalam hadits lainnya nabi juga bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang berjalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. (Muslim)

d. Menyibukkan diri dengan dzikir sepanjang hari

Allah berfirman :

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah maka hati akan menjadi tenang” (Ra’ad : 28)

Rasulullah saw bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهَ أَنْ تَمُوْتَ ولسانُك رَطْبٌ من ذِكْرِ الله

“Sebaik-baik perbuatan kepada Allah adalah saat engkau mati sementara lidahmu basah dari berdzikir kepada Allah” (Thabrani dan Ibnu Hibban) .

5. Agenda saat shalat Zhuhur

a. Menjawab azan untuk shalat Zhuhur, lalu menunaikan shalat Zhuhur berjamaah di Masjid khususnya bagi laki-laki

b. Menunaikan sunnah rawatib sebelum Zhuhur 4 rakaat dan 2 rakaat setelah Zhuhur

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang shalat 12 rakaat pada siang dan malam hari maka Allah akan membangunkan baginya dengannya rumah di surga”. (Muslim).

6. Agenda saat dan setelah shalat Ashar

a. Menjawab azan untuk shalat Ashar, kemudian dilanjutkan dengan menunaikan shalat Ashar secara berjamaah di masjid

b. Mendengarkan nasihat di masjid (jika ada)

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ

“Barangsiapa yang pergi ke masjid tidak menginginkan yang lain kecuali belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya ganjaran haji secara sempurna”. (Thabrani – hasan shahih)

c. Istirahat sejenak dengan niat yang karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

وَإِنَّ لِبَدَنِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ

“Sesungguhnya bagi setiap tubuh atasmu ada haknya”.

Agenda prioritas:

Membaca Al-Quran dan berkomitmen semampunya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan, maka akan menuai kebaikan yang berlimpah insya Allah.

7. Agenda sebelum Maghrib

a. Memperhatikan urusan rumah tangga – melakukan mudzakarah – Menghafal Al-Quran

b. Mendengarkan ceramah, nasihat, khutbah, untaian hikmah atau dakwah melalui media

c. Menyibukkan diri dengan doa

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah”

8. Agenda setelah terbenam matahari

a. Menjawab azan untuk shalat Maghrib

b. Menunaikan shalat Maghrib secara berjamaah di masjid (khususnya bagi laki-laki)

c. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Maghrib – 2 rakaat

d. Membaca dzikir sore

e. Mempersiapkan diri untuk shalat Isya lalu melangkahkan kaki menuju masjid

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa yang bersuci/berwudhu kemudian berjalan menuju salah satu dari rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban dari kewajiban Allah, maka langkah-langkahnya akan menggugurkan kesalahan dan yang lainnya mengangkat derajatnya”. (Muslim)

9. Agenda pada waktu shalat Isya

a. Menjawab azan untuk shalat Isya kemudian menunaikan shalat Isya secara jamaah di masjid

b. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Isya – 2 rakaat

c. Duduk bersama keluarga/melakukan silaturahim

d. Mendengarkan ceramah, nasihat dan untaian hikmah di Masjid

e. Dakwah melalui media atau lainnya

f. Melakukan mudzakarah

g. Menghafal Al-Quran

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran dengan berkomitmen sesuai dengan kemampuannya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan bacaan maka telah menuai kebaikan berlimpah insya Allah.


Apa yang kita jelaskan di sini merupakan contoh, sehingga tidak harus sama persis dengan yang kami sampaikan, kondisional tergantung masing-masing individu. Semoga ikhtiar ini bisa memandu kita untuk optimalisasi ibadah insya Allah. Allahu a’lam

Jazaakillah

Sedikit revisi dari : http://www.al-ikhwan.net/agenda-harian-ramadhan-menuju-bahagia-di-bulan-ramadhan-2989/

Isi Blog

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.